Zat Kehabagiaan: Dopamine

Setelah kita membahas zat Endhorphin di tulisan berikut, maka zat selanjutnya yang menentukan kebahagiaan seseorang adalah Dopamine.

Apa manfaat dopamine? 

Zat dopamine memotivasi kita untuk melakukan tindakan guna meraih cita-cita atau tujuan. Selain itu, zat ini juga menyuntikkan kesenangan manakala kita berhasil meraih apa yang dicita-citakan.

Sebagai contoh, setiap hari kita memiliki berbagai daftar pekerjaan yang harus diselesaikan (to do list). Saat kita menyelesaikan satu pekerjaan dan berhasil menandai/mencentang bahwa pekerjaan itu selesai di to do list, maka kita akan merasa bahagia. Nah, itulah saat ketika dopamine dikeluarkan oleh tubuh.

Apa tanda-tanda kekurangan dopamine? 

Cukup mudah menandai kurangnya suntikan dopamine di tubuh kita. Sebagai contoh yaitu manakala perhatian kita sering teralihkan (proscrastination) dari tugas yang seharusnya kita selesaikan. Selain itu juga ketika kita mulai meragukan proses atau tujuan yang ingin dicapai. Kekurangan dopamine juga terjadi ketika kita kehilangan semangat untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Kondisi-kondisi tersebut adalah masa ketika suntikan dopamine di tubuh kita rendah.

Lalu, bagaimana cara meningkatkan dopamine? 

Agar suntikan dopamine tetap ajek, maka kita bisa mengatur tujuan atau cita-cita kita. Alih-alih membuat cita-cita yang besar, maka kita bisa memecah mimpi besar tersebut menjadi tujuan-tujuan yang lebih kecil. Langkah praktisnya adalah dengan membuat satu tujuan baru saat kita hampir menyelesaikan satu tujuan tertentu.

Apabila Anda seorang pemimpin, maka dengan mengakui capaian kerja bawahan bisa menjadi pemicu keluarnya dopamine. Anda bisa mengirimkan penghargaan, bonus, atau sekadar surat elektronik. Tindakan ini akan memicu keluarnya dopamine ke pegawai Anda dan berujung pada meningkatnya minat, kinerja, serta produktivitas di tim yang Anda pimpin.

Apa yang perlu diperhatikan?

Kendati sangat bermanfaat, namun dopamine memiliki efek samping karena zat ini menimbulkan kecanduan. Kondisinya persis saat kita mencandu rokok, alkohol, atau judi.

Dalam bidang pekerjaan, kecanduan ini bisa menjadi berbahaya. Katakanlah Anda ingin mendapatkan bonus atau promosi, maka bisa jadi dorongan dopamine membuat lupa diri. Contohnya adalah ketika ada seseorang yang tega menginjak kawan seiring atau menyikut rekan seperjalanan demi meningkatkan kinerjanya atau menggapai cita-citanya.

Selain contoh di atas, dopamine juga berperan besar dalam menentukan keberadaan generasi milenial. Salah satu ciri generasi ini adalah kecanduan pada telepon pintar dan media sosial.

Saat ini, banyak orang yang mencandu telepon pintar dan aplikasi media sosial di dalamnya. Ketika Anda membuat status di Facebook, misalnya, kemudian ada teman yang berkomentar atau klik ‘like’, maka akan terasa menyenangkan, bukan? Kesenangan yang sama juga terjadi ketika ada ‘follower’ baru di akun Twitter Anda. Akibatnya, Anda tak henti-hentinya untuk selalu mengecek, membuat status, dan berbagai aktivitas lainnya karena semua itu menimbulkan kesenangan.

Kecanduan pada telepon pintar dan media sosial itu pun berakibat cukup fatal karena bisa melemahkan hubungan seseorang dengan pasangannya. Selain itu, kecanduan ini juga mengurangi penghargaan pada lawan bicara atau pada pembicara pada satu acara atau pertemuan. Kecanduan ini menurut seorang ahli menyebabkan kita kehilangan kemampuan untuk mendengar, serta meningkatkan perdebatan dan konflik di antara pengguna telepon genggam dan pemilik akun media sosial yang akhir-akhir ini tampaknya senang sekali berdebat.

Melihat berbagai manfaat dan bahayanya, maka dopamine sangat bermanfaat jika dosisnya tepat, namun menjadi berbahaya bila terlampau berlebihan sebab zat ini sangat egois. Semburan dopamine memang menyenangkan, kebahagiaan itu pun dirasakan, namun biasanya tidak berlangsung lama.

Credit picture: Pixabay


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *