Zat Kebahagiaan: Serotonin

Hidup Bahagia

Setelah kita membahas dua zat kimia dalam tubuh yang menciptakan kebahagiaan, yaitu Endorphin dan Dophamine, maka zat ketiga adalah Serotonin.

Serotonin adalah zat yang menimbulkan rasa bangga, penting, dan pengenalan oleh masyarakat luas. Ini adalah perasaan bahagia manakala orang lain memberikan penghargaan kepada kita.

Dalam hubungan manusia, maka memberikan penghargaan atau menerima ucapan terima kasih adalah satu kondisi yang menyenangkan, bukan? Pada kondisi demikian, Serotonin dikeluarkan oleh tubuh.

Serotonin memiliki manfaat yaitu untuk meningkatkan hubungan dan kesetiaan. Sebagai contoh pada hubungan antara orang tua dengan anak atau antara guru dengan murid-muridnya. Manakala orang tua menganggap anak adalah sosok yang terpenting, atau ketika guru memberikan penghargaan kepada murid, maka di situlah Serotonin berperan.

Serotonin juga sering disebut sebagai zat kepemimpinan. Misalnya kita merasa baik-baik saja ketika seorang pemimpin atau atasan kita menerima gaji yang lebih tinggi. Demikian juga manakala mereka mendapatkan berbagai fasilitas yang lebih daripada yang kita terima. Guna menggambarkan secara lebih jelas, maka ilustrasi berikut ini disajikan.

Pada sekawanan singa, kita mengenal beberapa singa jagoan yang disebut Alpha. Sebagai pemimpin kawanan, Alpha ini memiliki beberapa kelebihan daripada singa-singa lainnya. Misalnya saja dia berhak untuk menikmati hasil buruan terlebih dahulu, dia pun berhak untuk memilih Alpha dari lawan jenis sebagai pasangannya untuk menghasilkan Alpha baru. Namun, kita pun tahu bahwa beberapa hak itu menuntut tanggung jawab yang lebih dari seekor Alpha. Ini terjadi manakala kawanan itu menghadapi ancaman atau bahaya, maka Alpha inilah yang berdiri paling depan untuk menghadapi tantangan itu.

Dengan demikian, Serotonin pada pemimpin mengalir ketika mereka bertanggung jawab dan mempedulikan bawahannya. Ini terkadang tidak mudah untuk dilakukan sebab seringkali memerlukan pengorbanan diri. Namun, mereka tetap melakukan sebab itu menimbulkan kebahagiaan saat dipandang penting dan orang lain mengakui serta berterima kasih.

Tanda-tanda seseorang mengalami kekurangan Serotonin di antaranya adalah manakla dia merasa kesepian atau depresi. Tak jarang untuk memenuhi rasa dianggap penting dan diterima oleh lingkungannya, maka dia memicu keluarnya serotonin dengan bergabung ke grup atau gerombolan tidak jelas. Di grup ini, seseorang menemukan tempat yang bisa memicu keluarnya serotonin. Selain itu, seseorang yang haus perhatian, maka akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan perhatian itu. Barangkali dari sinilah istilah ‘caper’ muncul.

Kemudian, bagaimana cara untuk memicu keluarnya Serotonin?

Saat kita penat atau sedang sendirian dan mungkin mengalami depresi, maka refleksi ke masa lalu bisa dilakukan. Kita bisa merenungi keberhasilan dan kemenangan yang terjadi di masa lalu. Asal jangan berlanjut ke perenungan berbagai kegagalan yang justru akan memperhebat depresi dan kesepian. Selain itu, dengan berlatih mensyukuri dan berterima kasih atas berbagai rezeki, anugerah, hadiah, dan lain-lain yang kita terima juga bisa menjadi salah satu cara untuk melepaskan zat Serotonin.

Langkah kongkritnya, kita bisa memberikan ucapan selamat atau berterima kasih secara langsung kepada seseorang yang sedang merayakan kegembiraan atau memberikan satu kesenangan kepada kita. Dalam melakukannya, disarankan untuk secara fisik terlibat langsung, artinya tidak melalui surat elektronik (email) atau Whatsapp. Datanglah langsung, hampiri, dan ulurkan tangan untuk memberikan selamat atau berterima kasih. Tindakan ini akan memicu lepasnya Serotonin di kedua belah pihak.

Demikian sekelumit penjelasan mengenai Serotonin dan silakan ditunggu ulasan zat selanjutnya, yaitu Oksitosin.


 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *