Wrap Up Discussion 2: Tugas Ulama

Sebenarnya apa tugas ulama?

Perdebatan antara ulama satu dengan yang lain dalam beberapa hari belakangan ini telah mengundang berbagai reaksi di kalangan netizen Indonesia. Sebagian pihak mendukung jagoannya, di pihak lain pun tak mau kalah dengan memilih untuk berdiri di belakang tokoh idolanya. Apa yang terjadi kemudian cukup membuat sedih. Manakala di antara ulama justru sibuk berdebat dan tak lama umat pun terseret dalam pusaran perdebatan itu.

Serangkaian pertanyaan pun kemudian mengemuka, ‘Apa sejatinya peran dan tugas ulama? Apakah perdebatan menjadi kewajiban beliau juga?’

Setelah mengetahui tugas ulama, lalu apa tugas umat? Apakah umat harus mengikuti apa saja kelakuan ulamanya? Misalnya, kalau ulama melotot, maka umat pun melotot; pun manakala ulama menangis, maka umat pun harus tersedu-sedu?

Tulisan ini mencoba untuk menyelidiki apa saja tugas ulama dan umat. Hal ini penting dilakukan agar mereka yang kebingungan melihat tingkah polah ulama dan umatnya akhir-akhir ini menjadi paham bagaimana mereka harus menempatkan diri. Dalam mengidentifikasi topik persoalan, maka telah dilakukan diskusi di Facebook bersama beberapa orang kawan.

Siapakah Ulama Itu?

Guna menjawab pertanyaan tersebut, maka silakan disimak berikut ini tulisan Herry Mardian yang dibagikan oleh Wulandari. Dalam tulisannya, Mardian menyimpulkan bahwa tidak semua penceramah atau yang bersorban adalah ulama. Ulama sejatinya adalah mereka yang takut pada (zat) Allah (khasya’). Khasya’ sendiri adalah tingkatan tertinggi dari tiga tingkat ketakutan seorang hamba kepada Allah, yaitu takut kepada azab Allah (khauf), takut jika Allah tidak ridha padanya (rahbah), dan kemudian khasya’.

Mengutip dari tulisan Mardian, “’Ulama’ adalah segolongan khusus insan yang tidak mengumbar gelarnya. Mereka membiarkan dirinya diidentifikasi hanya oleh orang yang butuh saja, sebagaimana sumur yang diam, membiarkan dirinya dicari orang yang haus.”

Haus di sini adalah satu karunia dari Tuhan kepada orang yang sangat membutuhkan minum. Rasa haus yang dimaksud adalah sebuah panggilan untuk meminum air dari sumur. Sebagaimana sumur yang diam, ulama menunggu mereka yang kehausan.

Sejarah Ulama

Pada diskusi yang sangat menarik tersebut, Leksa menyampaikan sedikit sejarah ulama. Menurutnya, pada zaman keemasan, ulama adalah mereka yang berilmu. Mereka bukan saja memegang teguh tauhid, namun mereka juga bekerja untuk peradaban. Dalam melakukannya, tak jarang terjadi perdebatan di antara para ulama. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perdebatan bukanlah hal yang aneh di antara para ulama.

Namun, Leksa mengingatkan, bahwa saat ini perdebatan di antara para ulama perlu dipertanyakan kandungan isi dan ilmunya. Sebab, saat ini ulama yang ada cenderung menutup mata pada pandangan atau ilmu yang berbeda dari yang dianutnya sendiri. Pada gilirannya, hal ini menyebabkan terjadinya penghakiman, etika yang hilang, dan timbul kebencian.

Tugas Ulama

Dalam diskusi, Tika membagikan beberapa tugas ulama yang disadur dari buku karya Achmad Chodjim, ‘Tafsir Surat Al Ikhlas’. Disebutkan di sana, bahwa ulama bertugas untuk membimbing umat. Kehadiran ulama diperlukan untuk mendidik, mengajarkan, dan memberi contoh kepada umat bagaimana kehidupan beragama dijalankan. Mereka hadir bukan untuk menghakimi kepercayaan dan pandangan yang berbeda. Mereka berperan sebagai dokter yang menyembuhkan penyakit ruhani umat. Ulama bukan pemilik otoritas keagamaan, sebab pemilik otoritas keagamaan hanya Tuhan semata.

Senada dengan Chodjim, Zamzami menyampaikan bahwa ulama adalah orang yang memiliki ilmu lebih dan bukan otoritas keagamaan. Menurutnya, fatwa bukanlah hal yang mesti ditaati, fatwa adalah pendapat ulama.

Zamzami dalam diskusi juga mengutip nasihat ayahnya, seorang ahli tafsir. Kata beliau, ulama yang sebaiknya diikuti adalah mereka yang murni akademisi. Ulama dalam kategori ini cirinya adalah tidak memiliki kepentingan politik dan ekonomi secara langsung.

Tugas Umat

Setelah tugas ulama dipahami, maka apa sejatinya tugas umat? Zamzami menyampaikan, bahwa di dalam Islam, tidak terdapat pemisahan antara umat dan ulama. Sebab, Alquran tidak melulu milik ulama, siapa saja bisa mempelajarinya.

Dengan demikian, maka tugas utama umat adalah belajar. Di dalam Alquran pun disebutkan, bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi muslim dan musimah. Zamzami menandaskan, ‘Dalam konteks Islam yang ideal, semua orang adalah ulama.’

Penutup

Demikianlah ringkasan diskusi mengenai tugas ulama. Kini, Anda sudah memahami siapa itu ulama, apa tugas beliau, dan bagaimana sejarahnya. Selain itu, Anda pun sudah paham bahwa sebagai umat tugas kita adalah belajar untuk kemudian menjadi ulama. Pertanyaannya kemudian, kepada siapa Anda harus belajar?

Silakan tuliskan jawaban atau pandangan Anda mengenai topik ini di kolom komentar atau bisa juga berpartisipasi dalam diskusi di Facebook.

Salam hangat,

Goop


Narasumber:

  • Medina Wulandari
  • Tikabanget
  • Fakhrizal Leksa
  • Fitriyan Zamzami
  • Syaeful Bangsari
  • Dobelden Sofi

Credit Picture: Pixabay


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *