Tentang Kebablasan

Beberapa waktu yang lalu Presiden Joko Widodo mengeluhkan tentang demokrasi kita yang sudah kebablasan. Kompas pun menuliskan isu ini cukup panjang dan berseri dalam beberapa hari. Tak ketinggalan ulasan dari beberapa orang pakar pun mewarnai diskusi tentang demokrasi yang kebablasan tersebut. Tulisan ini pun tak ketinggalan ingin membahas mengenai kebablasan, tapi tenang, tidak seserius demokrasi yang kebablasan.

Saya hanya ingin berbagi mengenai beberapa hal yang menyebabkan saya kebablasan tidak menulis di blog ini.

Beberapa waktu yang lampau, tahun 2016 agak di akhir, saya gandrung dengan berbagai hal yang berbau SEO. Tujuannya adalah agar blog saya makin banyak dilirik orang.

Guna menuntaskan rasa penasaran saya mengenai SEO, maka berbagai blog keren milik tokoh-tokoh terkenal macam Neil Patel atau Peggy Fitzpatrick menjadi langganan untuk saya baca. Diam-diam saya pun mengikuti tips-tips yang disajikan di sana, misalnya, ada sub-heading, ada tulisan yang di-bolt, paragraf yang pendek-pendek dan juga menerapkan kata kunci.

Beberapa hal yang paling saya ingat pada saat itu adalah menulis blog menjadi tidak mengasyikkan. Banyak sekali tuntunan yang harus diikuti dan tuntutan yang mesti dipenuhi. Akhirnya, alih-alih rajin menulis, saya malah sibuk belajar. Hasil akhirnya tentu mudah ditebak, tidak ada tulisan yang dihasilkan, haha.

Sebenarnya sayang juga kondisi tersebut terjadi karena saat itu beberapa pihak mulai menawarkan tulisan untuk dimuat di blog sederhana ini. Hasilnya memang tidak banyak, namun lumayan untuk membantu membeli pulsa listrik seminggu.

Melihat berbagai tawaran itu, saya pun mulai agak bergaya. Saya pilih-pilih, misalnya mulai pasang harga, mulai menentukan tema dan gaya tulisan serta berbagai persyaratan lain yang barangkali sulit dipenuhi oleh pengiklan. Tapi, begitulah yang saya inginkan di blog ini.

Prinsipnya, kendati tidak banyak yang memasang iklan, namun memenuhi standar yang saya terapkan untuk blog ini. Sebagai contoh, saya mencoba sebisa mungkin untuk menggunakan EYD dalam setiap tulisan di blog.

Bisa jadi karena berbagai gabungan kondisi tersebut di atas, yaitu sedang sibuk belajar SEO, mulai ada yang pasang iklan, mulai pakai standar harga dan juga gaya, maka justru makin sedikit tulisan yang dihasilkan di blog ini.

Pendek kata, saya kebablasan untuk tidak menulis di blog.

Kondisi tersebut sangat merugikan bagi saya pribadi. Kerugian di sini bukan dari sisi materi yang boleh dikata lumayan. Saya rugi karena menulis adalah salah satu cara bagi saya untuk belajar dan mengingat.

Periode tanpa tulisan seperti sebuah episode kosong yang tidak terisi. Sekarang saya kebingungan apa saja yang terjadi pada periode kosong tersebut. Padahal, banyak hal yang bisa diceritakan.

Sekadar contoh kecil, cerita tersebut adalah bagaimana selama tiga bulan saya sibuk mencari rumah, mendampingi anak-anak, mendampingi Bapak Mertua yang sakit, mendampingi adik bungsu menikah dan lainnya masih banyak lagi.

Sekarang, apabila saya ingin menuliskannya, maka tentu agak lebih repot karena harus mengingat-ingat setiap peristiwa. Bisa jadi proses mengingat itu mengurangi banyak nuansa yang timbul pada saat peristiwa yang sama terjadi.

Dari situ, saya pun mulai merasa bahwa ‘kebablasan’ sungguh tidak enak rasanya. Kebablasan di sini bisa diterapkan untuk berbagai hal. Misalnya, kebablasan saat parkir di gedung bertingkat, maka bisa saja mobil jatuh. Kebablasan saat berhenti di lampu merah, maka bisa saja berujung pada tilang dari Pak Polisi.

Kenapa contohnya tidak berhubungan dengan menulis?

Sengaja, saya mengambil contoh-contoh yang ekstrem untuk menekankan betapa berbahayanya kebablasan. Bila Anda ingin mencari contoh, maka boleh juga diambil dari peristiwa yang Anda alami sehari-hari. Rasanya, semua peristiwa kebablasan tidak menyenangkan, bukan?

Kebablasan menunjukkan kita kehilangan kontrol. Lebih parah lagi, kebablasan juga menyampaikan pesan gagalnya perencanaan yang kita bikin. Akibatnya tentu tidak mudah untuk dikoreksi dan seringkali merugikan.

Oleh sebab itu, saya kira setiap kita memerlukan rem yang pakem agar tidak sampai kebablasan. Setelah itu, barangkali kita juga memerlukan perencanaan yang matang. Tidak lupa, agaknya kita pun memerlukan langkah antisipasi manakala kita tidak bisa lagi menghindari kebablasan.

Paragraf di atas mengindikasikan kita memerlukan upaya antisipasi sebelum kegagalan terjadi, langkah yang harus diambil saat kegagalan terjadi, dan tindakan yang perlu dilakukan manakala kita sudah berada di posisi bablas.

Saya belum mengecek di KBBI, apakah ‘kebablasan’ itu kata baku dalam Bahasa Indonesia?

3 thoughts on “Tentang Kebablasan”

  1. Aku juga pengen blogku semakin banyak yang melirik, tapi aku gak tahan kalau harus mempraktekkan hal-hal seperti yang Mas lakukan. Aku pengennya tetap menulis dengan gayaku tanpa harus pusing dengan SEO dll, tapi blog semakin ramai. Hahaha…

  2. @Ranger Kimi
    Iya itu semacam harga yang harus dibayar, ingin dilirik, maka harus akrab dengan SEO dll.
    Tapi, bagaimana kalau tujuan menulis lebih untuk diri sendiri?
    Semacam alat bantu untuk mengingat dan merekam kisah. Kita sendiri yang menulis, dibaca sendiri, dilirik sendiri, maka tidak peduli saat orang lain mau baca atau tidak hehehe.
    Tetap semangat yaaa….

  3. Makanya blogku jarang dilirik karena aku kalau ngeblog ya semau-mau. Karena memang tujuan utamanya untuk pemenuhan kepuasan pribadi. Halah, bahasanya. Berat pisan. Aku juga mikirnya ya dibawa santai saja lah. Nanti yang lain-lain menyusul Iya kan? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *