Bagaimana kita kehilangan kemampuan mendengar?

Kita telah kehilangan kemampuan untuk mendengar, dari 60 persen pembicaraan, rupanya kita hanya bisa mendengarkan 25 persennya saja.

Mendengar adalah mengartikan satu hal dari suara-suara. Kita mengembangkan kemampuan mental ini dengan memecah berbagai suara yang didengar menjadi satu bunyi yang bermakna.

Kita dapat melakukan hal itu salah satunya dengan mengenali pola. Bayangkan Anda sedang berada dalam satu lingkungan yang bising; bisa di pinggir jalan, di dalam mall, atau di sebuah restauran. Tiba-tiba, nama Anda dipanggil dan Anda pun akan bisa mendengar panggilan itu kendati di tengah keriuhan.

Kita juga dapat mendengar hal-hal tertentu karena kemampuan kita untuk membedakan. Di pinggir pantai dengan debur ombak yang nyaring, kita tetap dapat mendengar bebunyian lain. Sebab, kita memiliki kemampuan untuk mengabaikan bunyi-bunyi yang mirip dan didengar berulang-ulang.

Selain kedua hal tersebut, saat kita mendengar, banyak sekali saringan yang terlibat di dalamnya. Beberapa hal sebagai penyaring adalah: budaya, bahasa, nilai-nilai, kepercayaan, sikap, harapan, dan minat. Kebanyakan manusia tidak menyadari saringan ini karena terjadi begitu saja dan saat itu juga.

Suara juga membuat kita sadar mengenai waktu dan tempat. Sekali waktu saat berada di sebuah ruangan, cobalah Anda pejamkan mata. Melalui suara-suara, kita bisa menyadari berapa luas ruangan itu, berapa banyak orang yang bersama kita dan lain-lain. Semua itu terjadi karena pantulan, dengung, atau bebunyian lain yang kita dengarkan dengan lebih seksama.

Selain tempat, suara membuat kita sadar mengenai waktu. Kita tidak dapat menghitung waktu tanpa bantuan gerakan jarum jam di dinding atau di arloji, maka suara seringkali menjadi pengingat berjalannya waktu.

Bagaimana kita kehilangan kemampuan mendengar? 

Pertama karena penemuan alat perekam. Entah itu perekam suara atau perekam gambar yang dilengkapi suara telah membuat hilangnya kemampuan kita untuk mendengar dengan penuh perhatian.

Kedua, dunia saat ini begitu berisik. Bukan hanya menyangkut suara, namun juga berbagai hal yang mengganggu pandangan kita. Pada kondisi yang demikian itu, mendengar menjadi begitu sulit dan melelahkan. Banyak orang kemudian melarikan diri pada earphone atau headphone, tapi kemudian dia tak mendengarkan apa-apa….

Kehilangan kemampuan mendengar juga membuat kita menjadi tidak sabar. Seni berbicara atau bercerita satu sama lain dengan bertukar kata dan mendengar telah digantikan oleh siaran pribadi. Kita mudah menemuinya di facebook, twitter, atau blog yang seakan-akan berteriak-teriak di ruang hampa….

Lebih dari itu, bila kita menengok ke berbagai pemberitaan di media yang berisi: sensasi, kejutan, pengungkapan, skandal, kemarahan, atau pemaparan aib seseorang, yang semua itu bertujuan untuk menarik perhatian kita, maka kita menjadi makin sukar untuk mendengarkan bunyi yang tersembunyi, bisikan, atau suara-suara di bawah permukaan.

Kehilangan kemampuan mendengar sangatlah berbahaya karena ‘mendengar’ adalah satu jalan bagi kita agar paham. Saat Anda mendengarkan dengan penuh kesadaran, maka di situlah pemahaman akan didapat. 

Di sisi lain, ketika kita mendengarkan tanpa kesadaran, maka yang terjadi adalah kesalahpahaman. Dunia yang kehilangan kemampuan mendengar adalah wilayah yang menakutkan karena di situlah lahan subur bagi konflik, protes, dan tindakan butral lainnya.

Menghadapi berbagai situasi di atas, apa yang dapat kita lakukan? Berikut ini lima langkah untuk kembali berlatih mendengar. 

Pertama, adalah diam…. Lakukan setidaknya tiga menit setiap hari karena ini sangat penting sebagai satu cara untuk me-reset telinga Anda sehingga bisa mendengar bunyi-bunyi yang begitu samar sekalipun.

Kedua adalah ‘mixer’. Saat Anda berada di tempat yang ramai, maka cobalah untuk memilah suara-suara yang ada. Mana suara sepeda motor, anak menangis, penjual bakso, gesekan langkah orang berjalan dan lainnya. Latihan ini sangat bagus untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas mendengar.

Ketiga adalah ‘savoring’, yaitu mendengarkan keindahan dari berbagai bunyi yang biasanya justru kita anggap mengganggu. Bisa bunyi mesin penggiling kopi, kulkas, atau mesin cuci.

Keempat, adalah posisi mendengar. Ini berhubungan dengan saringan dalam mendengar yang sudah dijelaskan di bagian awal. Bagaimana Anda mendengarkan dan kemudian bersikap pada bunyi-bunyi tertentu yang sesuai atau tidak sesuai dengan diri Anda.

Kelima adalah acronym RASA—Receive, Appreciate, Summarise, Ask. Receive adalah menerima informasi. Appreciate adalah memberikan penghargaan kepada lawan bicara, yakni bisa dengan bunyi, “oke”, “hmmm”, atau sekadar mengangguk-anggukkan kepala. Summarise adalah ketika kita mengulang berbagai poin penting dari lawan bicara, biasanya diawali dengan “Jadi…. “. Ask adalah mengajukan pertanyaan sekiranya ada hal-hal yang masih kurang jelas.

Seseorang perlu mendengar dengan penuh kesadaran agar terhubung dengan ruang dan waktu, dengan sekitar kita, dan kemudian agar saling memahami.

Ingat, Dalai Lama pernah berkata, “Saat berbicara, kita hanya mengulang-ulang apa yang sudah kita ketahui. Namun, saat mendengar, banyak hal baru yang bisa kita pelajari.”

Anda bisa mendengarkan perihal ‘mendengar’ ini dari ahlinya di video berikut ini:

Review Buku: WORK LOVE PLAY WHEN NO ONE HAS THE TIME

work_love_play

Pada tahun 1930, John Maynard Keynes memprediksi bahwa dalam abad ini, kita akan bekerja selama 15 jam saja per hari. Dua dekade kemudian, Wakil Presiden Richard Nixon mengemukakan, bahwa pada tahun 1990, warga Amerika akan pensiun pada usia 38 tahun. Namun, tak peduli dengan banyaknya gadget baru yang semestinya dapat memudahkan kita, seperti mesin pencuci piring, popok sekali pakai, skype, dsb, banyak orang di negara maju justru merasa saat ini mereka bekerja lebih keras dari generasi sebelumnya.

Brigid Schulte memberi istilah pada kondisi ini sebagai ‘the overwhelm’. Sementara itu, dalam buku yang ditulis oleh reporter The Washington Post mencoba menjelaskan kenapa di antara kita selalu merasa bahwa waktu yang kita miliki dalam sehari kurang. Dia bersimpati pada kita yang merasa bersalah karena bingung harus memilih antara karier atau keluarga, dia juga merasa lelah karena merasa sudah bekerja terlampu banyak, namun merasa harus bekerja lebih banyak lagi.

Hal tersebut adalah perasaan yang umum, terutama pada ibu yang bekerja. Baru-baru ini saya duduk dalam satu ruangan bersama dengan bos-bos wanita dari suatu media, kami berdiskusi bagaimana mereka bisa mencapai level tinggi tersebut. Jawabannya selalu bekerja paruh waktu pada saat anak-anak mereka masih muda, namun dalam satu kasus karena punya suami yang berada di rumah sebagai bapak rumah tangga. Mereka telah membuktikan, bahwa kita tak dapat memiliki semua, jika itu berarti bekerja 60 jam seminggu dan pada saat yang sama harus menjaga keluarga kecil Anda.

Berdasarkan diagnosis dari Schulte, sejauh ini kelompok yang tak punya waktu untuk bersenang-senang adalah ibu, terutama bila ia adalah orang tua tunggal. Kesimpulan tersebut didapatkan dari penelitian selama bertahun-tahun, karena mulanya mereka (terutama pria) mengira bahwa mengurus anak dan pekerjaan rumah sebagai waktu bersantai. Ini bukanlah buku yang akan menyadarkan Anda dengan pesan feminis yang kuat, namun tak bisa dipungkiri bahwa ada aspek gender dalam pandangan kita mengenai ‘bekerja’.

Biarpun makin banyak jumlah wanita yang bekerja secara penuh, namun pendapat kolot kita pada aspek gender sangatlah sulit diubah. Ibu tetap mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah dan mengurus anak daripada seorang bapak, meskipun bila keduanya bekerja. Sementara waktu bapak untuk anaknya biasanya hanya tambahan saja, sebagai orang tua pembantu atau orang tua yang menyenangkan. Ibu di sisi lain adalah orang tua utama dan karenanya tak bisa benar-benar bersantai. Pada pasangan gay, peran tersebut justru kurang lebih seimbang. Seorang ibu hanya punya sedikit waktu luang sementara pada saat yang sama masih mengkhawatirkan tentang email penting yang belum dibaca atau ada bau aneh di bawah tangga yang bisa jadi bangkai kucing.

Melawan ‘the overwhelm’ berarti mengidentifikasi masalah, dalam buku ini dijelaskan adanya tiga persoalan: pekerjaan, harapan, dan diri kita. Anda boleh senang bila hidup di Eropa, karena di Amerika, terlihat sekali kebencian pada warganya dan ingin mereka tak bahagia. “Amerika adalah satu-satunya negara maju yang tidak memberikan waktu istirahat pada pekerja.” Tulis Schulte. “Hampir seperempat pekerja di Amerika tak mendapat kesempatan berlibur, kebanyakan adalah pekerja rendah atau paruh waktu.” Di sana juga tak ada pertimbangan ‘maternity’ karena tak ada aturan mengenai hal itu. Semua hal tersebut adalah hasil dari dominasi agama di tahun 1970-an, penghasut seperti Pat Buchanan menduga bahwa pengasuhan anak adalah media untuk mendoktrin anak dan membuat mereka menjadi kelompok-kelompok kecil. Schulte cemburu pada negara-negara di Skandinavia yang memiliki kebijakan bersahabat untuk keluarga, namun di Amerika situasinya sangat berbeda.

Penyebab berikutnya dari ‘the overwhelm’ adalah konstruksi yang disebut oleh Schulte sebagai ‘ideal worker’. Seorang pekerja ideal adalah bagian paling sempurna dari mesin kapitalis, tak pernah izin atau bahkan mogok kerja, selalu siap untuk bekerja lembur atau dinas ke luar kota, termasuk tak pernah izin untuk mengurus anak atau orang tua yang sakit. Banyak bisnis yang terpengaruh oleh ‘paham kehadiran’, mereka percaya ada korelasi yang kuat antara waktu yang dihabiskan di kursi kantor dan produktivitas. Sesuatu yang tak benar, karena penelitian menunjukkan, bahwa seseorang hanya bisa bekerja delapan jam sehari. Setelah itu, mereka hanya duduk di meja, bermain game di komputernya, atau sudah melamunkan menu makan malam. Budaya bekerja dalam waktu yang lama berpengaruh baik pada pria maupun wanita, manakala seorang pria meminta waktu bekerja yang fleksibel, dia diasumsikan sebagai pekerja pemalas atau banci.

Kendati begitu, kita tak dapat menyalahkan pekerja tanpa hati tersebut. Kemakmuran relatif telah memaksa pekerja untuk menyembah altar kerja lembur, sebuah sikap yang oleh Schulte disebut sebagai ‘lebih sibuk daripada kau’. Memiliki kulit yang kehitaman–bagi orang asing–adalah lambang bahwa Anda bisa berlibur ke kawasan tropis, jadi bekerja lembur adalah penghormatan bagi pekerja di kalangan menengah. Tak memiliki waktu luang menandakan Anda punya pekerjaan, karier dan Anda akan bepergian ke suatu tempat.

Resep dari Schulte sangat sederhana, yaitu memutuskan untuk mencintai bualan tentang kesibukan dan badai pekerjaan. Namun, jika Anda tak mencintainya, barangkali Anda bisa memilih untuk pergi bermain alat musik atau berolah raga. Berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga, seorang peneliti memiliki pesan sederhana bagi para ibu, yaitu agar tak takut untuk terlihat jelek. Para Ibu tak akan melakukan bedah jantung di lantai dapur, bukan? Lagi pula, bila Anda dituntut untuk cantik, para pria juga mesti mengurangi berat badannya.

Kelebihan buku ini adalah gabungan antara penelitian dan anekdot sehari-hari yang dialami dan disajikan melalui mata seorang reporter yang mencatat dengan detil. Adapun kritik yang disampaikan adalah, pesan Schulte lebih banyak ditujukan pada pekerja di bidang kreatif dan ide untuk meminta empat hari kerja atau pulang pada pukul empat tak berlaku untuk pekerja rendah atau pekerja kontrak. Penulis buku ini juga mengetahui, bahwa rata-rata jam kerja antara bos yang sangat sibuk dengan pekerja rendah sangatlah jauh bedanya, dengan demikian ia telah melakukan generalisasi. Namun, tentu saja buku semacam ini tak dapat mengatasi semua persoalan yang demikian rumit, dan kalau pun buku ini dapat melakukannya, tak seorang pun dapat membaca hasilnya. Kita benar-benar kekurangan waktu dalam sehari.

Tulisan ini bersumber dari sini

Mimpi yang Mengawali

Auto-2000

Jadi begini, dua tahun lalu saya ngekos di sekitar Stasiun Juanda. Itu lho, yang dekat Masjid Istiqlal dan Katedral. Kalau dari Istana Merdeka ngga jauh-jauh amat, paling seperempat jam jalan kaki. Kalau ke Monas malah lebih dekat lagi, ya kurang lebih juga seperempat jam kurang dikit.
Cukup soal kos saya.
Sekarang tempat kerja. Nah, tempat saya mengabdi kepada juragan itu letaknya di belakang istana. Ga jauh dari halte busway harmoni.

Continue reading “Mimpi yang Mengawali”

Karier atau Keluarga

Sering sekali saya melihat ibu rumah tangga yang juga getol mengejar kariernya. Memanglah menjadi sebuah kebanggaan bagi siapa saja apabila ia berhasil dalam kariernya. Kebanggaan bagi dirinya sendiri, keluarga dan di hadapan masyarakat.

Namun, pada saat yang sama barangkali keluarga akan terabaikan. Lantaran sibuk mengejar karier, tak jarang hubungan dengan anggota keluarga, putra-putri, suami, justru bermasalah.

Tentunya menjadi harapan setiap orang untuk mencapai keberhasilan baik di keluarga maupun kariernya. Namun, Continue reading “Karier atau Keluarga”

Tato dan Tindik

Tato

Hiasan tubuh berupa tato pun rupanya bisa digunakan untuk menandai apa yang telah lewat. Dari sebuah buku—saya tak ingat betul judulnya—tertulis bahwa satu di antara alasan orang untuk merajah tubuh ialah meniru sifat alamiah binatang. Hal ini dilakukan guna menandai perjalanan hidup yang dialami tubuhnya, hingga digunakan sebagai penanda visual.

Di masa lalu, bahkan mungkin juga seakarang. Tato digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi kriminal. Pada akhirnya, tato bukanlah masalah gambar, namun apa arti gambar tersebut.

“Kita adalah apa adanya kita. Tidak ada Continue reading “Tato dan Tindik”

Waktu

Waktu

Ketika waktu berubah, manusia mesti menyesuaikan diri denganya. Tempora mutanthur nis et mutamur in illis. (Aku Mata Hari, Remy Silado)

Karena waktu tak pernah berhenti, maka perubahan pun niscaya terus terjadi. Dengan perubahan itu, manusia akan mencoba menyesuaikan diri dengan waktu yang harus dihadapinya. Bagaimana ia menyesuaikan caranya berbicara, berpindah tempat, menyampaikan pesan.

Di tengah perjalanan dan proses perubahan itu, terjadi upaya untuk mempertahankan kenangan. Usaha gigih untuk melawan lupa. Karena barangkali sebuah perstiwa tak hendak dilupa, memberikan arti yang mendalam.

gambar