<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>unclegoop[dot]com &#187; tujuan</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.com/tag/tujuan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.com</link>
	<description>melintas batas ruang dan waktu</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 15:16:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Meniti Tangga</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/05/15/meniti-tangga/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/05/15/meniti-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 17:58:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[pintu jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[meniti]]></category>
		<category><![CDATA[tangga]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=551</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah kebalikan dari lift yang tempo hari saya tulis. Jadi, bila Anda sudah bisa menerka-terka apa yang akan saya tulis ya silakan saja kalau akan melanjutkan blogwalking Anda. Eh, Anda bandel dan tetap mau membaca? Itu pun juga silakan, barangkali tidak benar-benar berkebalikan; saya pun belum tahu saat saya menulis kata ini. Ah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tulisan ini adalah kebalikan dari <a href="http://unclegoop.com/2009/04/30/pencet-tombol-lift/" target="_blank">lift</a> yang tempo hari saya tulis. Jadi, bila Anda sudah bisa menerka-terka apa yang akan saya tulis ya silakan saja kalau akan melanjutkan <em>blogwalking</em> Anda. Eh, Anda bandel dan tetap mau membaca? Itu pun juga silakan, barangkali tidak benar-benar berkebalikan; saya pun belum tahu saat saya menulis kata ini. Ah, gaya benar saya ini, “Siapa juga yang mau baca, Goop?” Hahaha. Saya tahu, lho, ada yang berkata begitu di belakang sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti kemarin yang tertulis, <span id="more-551"></span>terkadang saya tidak begitu beruntung mendapatkan lift dalam kondisi kosong. Banyak pengguna lain yang sudah datang lebih dulu daripada saya dan sedang berdiri nyaman, tersenyum-senyum di dalam lift. Bila saya masuk dan bergabung dengan mereka, bisa saja saya keluar lagi karena beban sudah melebihi batas dan lift tidak mau bergerak. Akhirnya saya memilih tangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu saat lain, adalah ketika saya tidak sabar menunggu. Lift itu ketika saya tiba di lantai satu, tepat di depan pintunya. Eh, dia malah sedang berada di lantai paling atas, lantai lima. Ketidaksabaran saya menunggui lampu berpendar dari lantai ke lantai memaksa saya kembali untuk menggunakan tangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Terkadang saya juga sok aksi mau mempraktekkan hidup sehat dengan meniti tangga, alih-alih menggunakan lift. Saya berpikir sederhana ketika itu. Waktu saya banyak dihabiskan dengan duduk diam di depan monitor dalam waktu yang lama. Gerakan sangat kurang dan akibatnya beberapa bagian tubuh saya menjadi ‘aduhai’ diperindah oleh tumpukan lemak. Maka, sedikit menggerakkan kaki dengan menaiki satu demi satu anak tangga sudah saya anggap sebagai olah raga. “<em>Mbok</em> ikut <em>fitness</em>.” Ada teman saya yang bilang begitu. “Duh, ngga ada waktu.” Jawab saya seenaknya. Nah, saya bergaya lagi, kan? Padahal sebenarnya saya lebih asyik memelototi blog tetangga dengan <em>update</em> terbaru atau mengomentari status dan foto-foto teman di facebook.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa orang teman yang usil namun sebenarnya perhatian juga bilang, “Percuma saja kamu naik turun lift, kalau pola makanmu masih seperti itu.” Atau ada juga yang nyinyir berkata, “Ah, tak ada gunanya kamu sok olah raga, <em>wong</em> tiap hari kamu masih saja <em>ngerokok</em>.” Ah, bagaimana lagi? Saya pun hanya mesam-mesem seperti monyet mau minta pisang, sok tahu lagi nih, terang saja saya asal, orang saya tidak tahu bagaimana mesemnya monyet, kok.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi kenapa saya memilih tangga ketimbang lift? Ya begitu, apa dari tadi <em>ndak</em> <em>mbaca</em>? Hehehe, maaf saya bercanda. Karena saya tertinggal dan lift sudah kelebihan beban, karena saya ini bukan termasuk orang yang sabar kalau disuruh menunggu dan terkadang saya mau sok aksi menerapkan pola hidup sehat dengan berolahraga di mana pun dan kapan pun.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi, ketika saya meniti satu demi satu anak tangga itu. Saya malah sering merenung-renung. Saya bersyukur sekali saya tidak tersandung dan menggelundung jatuh di tangga. Maka, sebaiknya apa yang saya lakukan dengan merenung-renung saat berjalan di tangga jangan ditiru kecuali oleh yang sudah ahli—halah!</p>
<p style="text-align: justify;">Semenjak dari kecil saya sudah harus menaiki tangga. Saat masuk ke rumah, ada tiga buah anak tangga yang memisahkan teras dengan halaman. Pernah juga saya mengalami hari yang naas saat menaiki tangga. Saat itu, buah durian di halaman sedang berbuah. Belum terlampau matang namun sudah menggoda mata. Bapak berinisiatif mengikat buah-buah itu ke dahannya dengan tali plastik agar ketika nanti matang dan tanggal dari dahan dia menggantung, kami sekeluarga bisa mengambilnya dan tidak dijarah oleh tangan teman-teman kecil saya yang kelewat aktif. Sebagai putra Bapak yang baik, saya pun semangat membantu. Namun, karena masih kecil saya tidak diijinkan ikut memanjati batang-batang pohon. Saya hanya berdiri di bawah di dekat tangga dari bambu, mengambilkan Bapak beberapa hal dan mengangsurkannya dengan menaiki tangga hanya beberapa anak tangga saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu ketika saya sedang berdiri di anak tangga ke tiga kalau saya tidak salah ingat. Tiba-tiba Bapak berteriak dari atas, “AWAS!!” Dengan bingung dan ternganga saya melihat sebutir buah durian terjatuh dari tempat Bapak berpijak. Amboy, saya kaget dan menjadi saksi bagaimana buah itu melayang dengan anggun ke bawah, jatuh di sebuah dahan di bawahnya. Kemudian berputar dan menggelinding di dahan itu, sampai pada satu titimangsa kembali terjatuh dan tidak perlu menempuh waktu lama buah itu jatuh tepat di bahu saya. Untunglah saat itu saya sudah cukup lihai menghindar, sehingga bukan kepala saya yang menjadi korban buah durian kurang ajar. Serta merta saya turun dari tangga ke tanah. Pegal sekali rasanya bahu, ada darah memercik sedikit ke baju saya yang ternyata sudah berlubang-lubang.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah sekelumit kisah saya yang layak diberi judul ‘Tangga dan Durian’ hehehe.</p>
<p style="text-align: justify;">Di SMA, gedung sekolah saya adalah bangunan tiga tingkat. Tidak ada lift hanya tangga dari besi yang bunyinya gaduh sekali bila masa istirahat dan pulang sekolah tiba. Di masa inilah saya tahu bagaimana aturan ketika naik dan turun tangga. Saat naik, maka siswa lebih dahulu dari siswi. Kemudian kondisi yang berkebalikan bila kita sedang menuruni tangga, di mana siswi lebih dahulu dari siswa. Nah, bukan hal yang sederhana, kan, untuk menaiki dan menuruni tangga-tangga itu. Apakah saya tidak pernah melanggar aturan itu? Sering jujur ini jawaban saya. Kerap kali saya melanggarnya bersama-sama teman saya yang usil. Kenapa saya melanggar? Ah, masa tidak tahu alasannya, sobat? Hahahaha</p>
<p style="text-align: justify;">Sedari dulu banyak hal lain yang menarik perhatian saya lebih daripada tangga itu sendiri. Pernah satu ketika saat dirundung cinta monyet saya tidak memerhatikan tangga-tangga itu. Kaki rasa-rasanya memiliki indera tersendiri, mata pun begitu. Jadi, mata saya berpindah-pindah: menerawang ke langit-langit, melirik ke gadis itu, menunduk ke bawah, melirik lagi. Terus begitu berulang-ulang. Dan kaki saya? Tenang sekali dia menginjak satu demi satu anak tangga. Oiya, hati saya pun sukses berdebar-debar sepanjang meniti tangga itu bersamanya dan kelegaan ketika dia masuk ke kelasnya dan saya melanjutkan menaiki tangga ke kelas saya sendiri. PR yang seabrek juga memaksa saya menaiki tangga cepat-cepat saat pagi agar bisa mengerjakan PR dengan meminjam dari teman lain yang sudah mengerjakan. Sehabis mengganggu kelas lain dengan mengetuk pintunya sampai guru terganggu dan dilanjutkan dengan <em>ngibrit</em> juga membuat saya abai terhadap tangga.  Cepat-cepat menuruni tangga untuk menemui gadis pujaan sepulang sekolah juga membuat saya kerap lalai pada tangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana bila tangga itu tiada? Dahulu, mana pernah saya memikirkan hal ini. Padahal bila dirunut akibatnya banyak sekali, seperti: saya ketahuan sebagai anak badung yang mengganggu kelas lain. Saya pemalas karena PR saya cuma mencontek. Saya barangkali sudah tidak bernyawa saat ini karena terus menerus berdebar saat berjalan bersama cinta monyet saya dan jantung saya tidak kuat berdebar lagi. Pulaa, saya tidak akan pernah tahu rasanya cinta monyet karena saya tidak bisa menepati janji saya dengannya sepulang sekolah. Saya telah jahat bukan, pada tangga? Sudah setiap hari menginjak-injaknya, tak pernah sedikit pun saya memedulikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi berubah saat saya membaca sebuah novel detektif Sherlock Holmes. Di suatu kisah, sang detektif bertanya kepada sahabatnya, “Tahukah kau berapa anak tangga yang kita lewati tadi?” Temannya hanya geleng-geleng kepala, merasa aneh dengan pertanyaan itu. Padahal Sherlock tahu betul jumlah anak tangga yang mereka daki. Beliau sangat teliti terhadap detil yang tidak penting—menurut beberapa orang—seperti itu. Semenjak itu, saya mencoba tidak abai dan ternyata susah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebiasaan, barangkali karena hal itu kita mudah lupa pada hal-hal yang kecil. Seperti saya yang tak perlu memerhatikan anak tangga saat menaikinya di waktu SMA dahulu. Seperti saya yang bisa sambil berlari menaiki tangga sempit dan di atasnya ada tembok rendah jaman saya kos di sebuah kota kecil dulu. Tetapi, terkadang kebiasaan mengkhianati juga. Demikian terburu-burunya sehingga kepala saya pun tak jarang suka terantuk tembok rendah itu. Demikian bersemangatnya, pernah juga terjerembab atau terpeleset ketika SMA tidak berhati-hati meniti tangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang ternyata masih tak jauh berubah. Meski kini saya pun tahu jumlah anak tangga yang menghubungkan masing-masing lantai di kantor. Saya hafal, antara lantai dua dan tiga, di anak tangga ke enambelas ada sebuah keramik yang rusak, tidak utuh dan berbahaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Meniti tangga kemudian seperti melatih kesabaran. Tidak elok bila kita melompat-lompati anak tangga. Bukannya tidak boleh, namun risiko jatuh dan terpeleset besar. Lebih mudah bila satu demi satu anak tangga didaki, diperhatikan setiap langkah, dinikmati dan tujuan ternyata tidak akan pernah ke mana, kok. Seperti halnya lantai empat, lantai tujuan saya. Bagaimana pun cara saya menuju ke sana, entah dengan menaiki satu demi satu anak tangga, entah dengan melompati beberapa anak tangga sekaligus atau naik lift. Tujuan saya tetap sama, lantai itu juga, kaca-kacanya yang besar, udara dingin karena AC-nya yang itu juga dan kursi serta meja saya yang menunggu khusus dan hanya untuk saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Meniti tangga seperti berjuang meraih impian. Tak jarang harus saya akui, saat sampai di tengah-tengah saya akan melirik ke atas, masih jauhkah tujuan saya? Namun, sekadar lirikan tak akan mengubah apa pun. Kaki harus terus melangkah dan tujuan akan dicapai, karena seperti saya bilang, dia tidak ke mana-mana, tetap dan menunggu di sana. Menunggu kita meraihnya melalui usaha kita, entah itu meniti satu demi satu anak tangga, melompati beberapa anak tangga sekaligus atau menggunakan lift.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan meniti tangga satu demi satu tidaklah menawarkan kejutan yang mencengangkan. Tidak seperti menggunakan lift saat Anda tidak tahu apa yang akan dihadapi di depan Anda begitu pintu membuka. Meniti tangga satu demi satu anak tangga adalah satu demi satu langkah yang hati-hati, cermat dan penuh perhitungan. Kita masih bisa melihat apa yang tersaji di depan kita, bisa mengantisipasi bila ada halangan dan rintangan sedari dini. Di akhirnya pun, meniti tangga memberikan kelegaan yang lebih meski barangkali lelah, barangkali debar, barangkali nafas terengah, barangkali keringat mengucur. Namun, hei, Anda telah di sana, di tujuan Anda dengan—kalau meminjam istilah <a title="pejalan jauh" href="http://pejalanjauh.com/" target="_blank">seorang teman</a>—segenap-ganjil usaha Anda. Selamat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/05/15/meniti-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
