Tag Archives: senja

Lelaki Tua dan Rembang Petang

an_evenfall

Dia baru saja pulang dari tempat kerjanya. Dilepas baju dan hanya berkaus dalam dinikmati semilir udara di teras rumahnya.

Sambil menikmati rokok kretek kegemarannya, dia mengamati tiga pot bunga yang tumbuh enggan di beranda. Suka cita, diamati daun bunga yang meliuk tertiup angin.

Hari menjelang magrib.

Delapan pengeras suara dari musholla di sekitarnya berbunyi. Ada suara anak kecil yang berteriak, remaja yang melengking, lelaki yang merdu dan banyak lagi lainnya. Mendadak dia pusing.

Dengan sedih dikenang kampung halamannya. Ketika rembang petang dan hanya satu pengeras suara yang berbunyi. Suara seorang kakek yang parau itu menampari perbukitan, menelusup di lembah, kemudian hinggap di telinganya, menjadi pengingat saatnya pulang dari ladang.

Senja itu, dia di beranda. Dihisapnya rokok dalam-dalam, terdengar suara anak perempuannya memanggil. Pengingat saatnya mandi.

Sumber gambar dari sini

Di Perjalanan Hari

Kita tak pernah tahu akhir sebuah hari….

Manakala pagi hadir di hari baru, hal yang sering saya perhatikan adalah status teman-teman baik di mukabuku maupun twitter. Dari sekadar ucapan, “Selamat Pagi,” sampai dengan status yang berima semacam, “Kamis, menangis; Rabu, kelabu; Minggu, merindu.” Selain itu, tentu saja masih banyak yang lain.

Saya perhatikan, selain ucapan salam banyak juga yang menaruh harapan di pagi itu. Hal ini ditandai dengan kata-kata, “semoga” yang berada di awal status.

Hari yang baru, pagi baru, matahari baru, benarkah baru? Continue reading

Pulang Senja

Senja datang lagi. Di pucuk-pucuk gedung aku bisa melihat semburat mentari memanggang langit. Memoleskan nuansa merah saga ditingkahi kuning hampir orange yang terpantul di dinding gedung. Aku kurang suka bicarakan senja dan gedung. Kau tahu, kan, apa alasannya?

Buatku jelas lebih nyaman bila menyusuri sepanjang jalan, seperti hendak mengejar matahari yang hampir tenggelam itu. Lalu, berhenti di sebuah sudut yang sepi memandangi burung yang beriring terbang, pulang ke kandang. Dan kamu, kupeluk erat. Terkadang kupukul kalau lupa dan terlampau laju mengendarai motormu.

Terkadang kamu pun sering jahil, manakala aku lupa memeluk, maka kamu mainkan gas agar aku yang hampir terpelanting dengan sigap gerakkan tanganku Continue reading