Lelaki Tua dan Rembang Petang

an_evenfall

Dia baru saja pulang dari tempat kerjanya. Dilepas baju dan hanya berkaus dalam dinikmati semilir udara di teras rumahnya.

Sambil menikmati rokok kretek kegemarannya, dia mengamati tiga pot bunga yang tumbuh enggan di beranda. Suka cita, diamati daun bunga yang meliuk tertiup angin.

Hari menjelang magrib.

Delapan pengeras suara dari musholla di sekitarnya berbunyi. Ada suara anak kecil yang berteriak, remaja yang melengking, lelaki yang merdu dan banyak lagi lainnya. Mendadak dia pusing.

Dengan sedih dikenang kampung halamannya. Ketika rembang petang dan hanya satu pengeras suara yang berbunyi. Suara seorang kakek yang parau itu menampari perbukitan, menelusup di lembah, kemudian hinggap di telinganya, menjadi pengingat saatnya pulang dari ladang.

Senja itu, dia di beranda. Dihisapnya rokok dalam-dalam, terdengar suara anak perempuannya memanggil. Pengingat saatnya mandi.

Sumber gambar dari sini

Cerita Tentang Ainun

Jakarta, menjelang Tahun 1962….

Semburat senja merona kemerahan di langit barat. Angin bertiup lembut menerbangkan dedaunan yang telah jatuh dan terserak di jalan. Berkas sinar matahari yang berhasil menerobos gerumbul awan jatuh di tembok rumah sakit itu. Tembok yang warnanya putih pun kemudian bagaikan tersapu kuas berubah warna menjadi kekuningan.

Tidak semua bagian tembok terkena sinar matahari. Memang, meskipun sudah berhasil menerobos awan, namun ada pula di antaranya yang tertahan pepohonan. Hasilnya ialah bayang-bayang yang tercetak di tembok, yang bergerak, seirama dengan gerakan pohon yang dihembus angin.

Ahai, rupanya bukan hanya bayangan pohon saja yang jatuh di tembok itu. Di sana, di tembok itu, ada pula bayangan kaki jenjang, sesosok tubuh dan kibaran rambut. Empunya tubuh sendiri memang saat itu sedang tenang-tenang berdiri menunggu.

Ainun nama perempuan itu, ia seorang dokter anak. Sosoknya tak begitu tinggi, senyumnya ramah kepada siapa saja, lagaknya anggun dan terkendali. Dan sore itu, ia sedang menunggu kedatangan Rudy kekasihnya datang menjemput. Sudah beberapa lama ia berdiri seperti itu, setia menunggu.

Dari ujung jalan, nampaklah becak yang mendatangi Ainun perlahan-lahan. Ainun hapal betul siapa penumpang di becak itu, ialah Rudy yang duduk tak tenang. Di benak Ainun terbayang bagaimana Rudy akan meminta kepada tukang becak, “Ayo, Pak, kayuhlah lebih cepat. Kasihan bila Ainun mesti menunggu.”

Tak berapa lama kemudian, masih dengan kecepatannya semula, perlahan-lahan becak itu pun mulai mendekat. Sementara penumpang di dalamnya sudah hendak meloncat tak sabar lagi.

Senja pun kemudian menjadi saksi, bagaimana dua pasang kekasih yang saling peduli itu bertemu. Sesosok pria dengan bola mata bundar yang berkerjap-kerjap bahagia dan wanita dengan matanya yang seteduh telaga. Dua pasang mata itu pun baku pandang, waktu terhenti.

Ainun pun dituntun Rudy memasuki becak yang setia menunggu dengan tukangnya yang menyusut peluh karena bingung hendak melakukan apa saat menatap dua sejoli yang dilanda asmara begitu. Plastik penutup becak pun ditutup kendati hari tak hujan, barangkali khawatir angin nakal mengusik ketenangan mereka berdua. Sementara keduanya berasyik masyuk memadu kasih, becak itu pun berjalan perlahan-lahan.