Menunggu
Pukul 18.15 sebuah sms baru saja terkirim “lima belas menit lagi, aku akan tiba sayang!”. Semua telah siap, bersama dengan sepeda motor kesayangan, mulai dijalankan aksi malam ini.
Pagar rumahmu telah terbuka separo, tidak perlu susah payah untuk membukanya. Rerumputan bergoyang pelan, seperti menyambutku. Jangkrik bernyanyi riang di balik semak, seakan mendengungkan nyanyian selamat datang. Ah! Sebuah rembang petang yang sempurna.
Di teras rumahmu, bangku-bangku yang biasa kita duduki di sabtu malam, tertata rapi. Tak ada perubahan berarti, hanya beberapa kuntum bunga yang ada di atas meja sepertinya baru saja diganti. Pintu dari kayu Mahagoni yang gagah itu menunggu kuketuk. Tanpa menunggu lebih lama lagi, kuketuk pelan. Aku tahu, di antara derik jangkrik kamu masih bisa mendengar sentuhan pelan itu di daun pintu.
Aku menunggu.
Di dalam sana, tentu kau sedang bingung, aku tahu itu. Rambut yang masih setengah basah, tentu sedang kau keringkan. Sembari menyisir tiap helai, beragam rencana di kepalamu. Haruskah kau membiarkannya tergerai lepas, perlukah disanggul? Jepit di bagian atas, atau mengenakan bandana? Bermacam rencana, berkelebat di rongga kepalamu. Belum juga menentukan pilihan.
Debar, menemani penantianku.
Leher jenjangmu, tiba-tiba saja ikut merepotkan. Beragam pilihan dapat kau ambil. Seuntai kalung hadiah ulang tahun dariku dapat ikut mempercantiknya. Syal, sepertinya pilihan yang tepat untuk menangkal angin jahat yang akan membelai lehermu. Aduh! Bagaimana dengan warnanya? Tentu tidak elok bila tidak selaras dengan baju yang akan kau pakai.
Nada nadi, menjadi melodi kawan sepi.
Argh, baju! Hampir seluruh isi almari kau aduk. Di antara jas panjang, silk organdi, atau terusan belum juga kau putuskan. Sederet tipe kerah, juga menunggu kau pilah-pilah. Cutting kerah terbuka, kerah model a-morf, v-neck, helter neck ataukah sabrina? Fuhh! Kenapa desainer wanita begitu kreatif membuat model baru setiap hari?
Lagi-lagi warna, kau tentu akan berpikir warna baju apa yang kupakai. Seingatku, selama ini kita berjalan bersama, busanamu tidak pernah tidak sesuai dengan warna bajuku. Itu saja baru satu pertimbangan. Belum kau padukan dengan syal, celana, sepatu dan tasmu. Wuah! Pasti kau akan menggigit-gigit bibirmu, tanda sedang berpikir.
Desah dihela lambat-lambat.
Hey! Aku tahu kau jarang berdandan. Tube-tube warna-warni di dekat cermin itu, toh kau timang-timang juga. Foundation perlahan kau sapukan, diikuti dengan bedak. Tanganmu seperti menari, menorehkan lipgloss pada bibirmu. Menggambarkan mascara di kelopak matamu dengan komposisi warna serasi. Blush ikut berperan mengawani shading, tapi tetap saja lesung pipitmu begitu menarik kurasa. Kau bimbang nantinya, perlukah liquid lipstick, lip liner dan eye liner?
Goyangan rumput dan nyanyian jangkrik menggodaku.
Lha?! Bagaimana dengan kakimu? Relakah betismu dibelai cahaya lampu merkuri yang usil, mengabarkan indahnya? Basic, hipster ataukah stocking yang beruntung kali ini?
Telapak mungilmu, apa yang akan membungkusnya? Sandal biasa yang membuat buku-buku jarimu menyembul cantik. Stilleto yang membuatmu susah berjalan, ataukah wadge yang akan membebani langkahmu?
Lampu teras, ditiup angin malam.
Saat itu, berkas cahaya lain mengganggu; menambah terangnya. Itulah berkas cahaya dari lampu di ruang tamu, menjadi penanda kau telah membuka pintu. Diiringi senyum, dan pertanyaan “cantikkah aku malam ini?”
Lidahku kelu, sayang! Ke mana perginya umpatan yang kusiapkan karena penat menunggu tadi? Aku lupa dengan semua rambut basah, segala baju dan pernak-perniknya. Kamu telah berdiri di depanku, menjadi satu paket. Paket yang cantik, seperti senja yang tak lelah kupandang.
__________________________________________________________
Hanya bait pertama dari “Wondeful Tonight” bait selanjutnya, ada yang tertarik?
it’s late in the evening; she’s wondering what clothes to wear.
She puts on her make-up and brushes her long blonde hair.
And then she asks me, “Do I look all right?”
And I say, “Yes, you look wonderful tonight.”
We go to a party and everyone turns to see
This beautiful lady that’s walking around with me.
And then she asks me, “Do you feel all right?”
And I say, “Yes, I feel wonderful tonight.”
I feel wonderful because I see
The love light in your eyes.
And the wonder of it all
Is that you just don’t realize how much I love you.
It’s time to go home now and I’ve got an aching head,
So I give her the car keys and she helps me to bed.
And then I tell her, as I turn out the light,
I say, “My darling, you were wonderful tonight.
Oh my darling, you were wonderful tonight.”
Terima Kasih untuk mbak Ulan, atas semua istilah pakaian dan hal-hal aneh yang lain, penyangga itu apa mbak kemaren
[adsenseyu1]