melintas batas
Posts tagged sendiri
Membincangkan Tata
Jul 23rd
Jauh jalan yang harus kau tempuh
Mungkin samar bahkan mungkin gelap
Minggu sore itu, Bapak dan Ibu baru saja pulang dari penjahit di desa sebelah. Satu stel baju seragam SMA baru saja selesai dijahit. Di rumah Tata telah menunggu dengan antusias. Tanpa menunggu lama, segera dipakai baju seragam itu lengkap dengan dasi dan topi. Lucu sekali melihat di sore yang cerah itu ada anak yang begitu bersemangat memakai baju seragam. Sudah hari Minggu, sore pula. Sepatu baru yang dari kemarin hanya diletakkan di atas kardusnya, kini pindah ke kaki. Lengkap sudah seragam baru, topi baru, dasi baru, sabuk baru. Ah, gagah sekali adik saya itu.
Di antara kekanakannya yang menjengkelkan dan kebandelan remajanya yang mulai nampak. Saya teringat sepuluh tahun yang lalu. Saat itu, mungkin saya juga sama bersemangatnya dengan Tata. Tidak peduli bahwa saat itu hari Minggu, sore hari, atau alasan dan pembenaran yang lain. Di lain pihak saya juga teringat bahwa saat itu saya mulai berkenalan dengan kenakalan khas remaja. Mencoba merokok, ikut tawuran, sesekali membolos dan jatuh cinta.
Tajam kerikil setiap saat menunggu
Engkau lewat dengan kaki tak bersepatu
Saya merasa berbangga juga melihat Tata sudah berganti seragamnya dari kemarin putih biru menjadi putih abu-abu. Hari yang lalu dia terlihat culun dengan celana pendek dan sepatu kumal yang tak jarang berdebu, kini dia terlihat tampan dengan celana panjang dan sepatu baru. Ini bukan masalah penampilan tentu, tetapi rasa yang lain, ah apa ya? Mungkin tiada kata yang pas untuk menggambarkannya.
Saya jadi bertanya-tanya bagaimana “rasa” yang dirasakan oleh Bapak dan Ibu, lahirnya senyum-senyum, batinnya siapa tahu? Di antara bangga dan haru, mungkin terselip juga kekhawatiran. Bagaimana langkah adik saya itu? Akan benarkah dia melangkah, apakah sedikit tersesat seperti kakaknya yang pertama?
Saya jengkel saat tahu adik saya itu pada hari-hari pertama masih diantar ke sekolah. Mungkin saya teringat saat saya masuk SMA semua hal dilakukan sendiri. Harapan saya tentu dia juga melakukan sendiri semuanya. Tetapi kehendak dan perlakuan orang tua tentu tidak sama terhadap putra-putranya.
Duduk sini nak, dekat pada Bapak
Jangan kau ganggu ibumu
Saya selalu percaya, apa yang dikatakan dan dilakukan orang tua adalah baik. Pengalaman yang dilalui menjadi cermin dan pelajaran. Langkah yang beliau tempuh, tentu tidak sama dengan saya yang sukanya main tabrak. Barangkali beliau ini belajar dari tingkah polah saya dan adik yang satu lagi. Si bungsu ini, mungkin lebih mendapat pengawasan dan perhatian.
Sebenarnya agak kasihan juga karena bentuk pengawasan ini terkadang berupa bentakan dan hardikan. Sedikit cercaan dari kakak-kakaknya yang sok tahu pun sering dia terima. Selama ini, Tata telah berhasil melaluinya. Kini sebelah kakinya telah menginjak tempat yang berbeda, mencari jati dirinya. Entah perubahan macam apa yang akan terjadi. Saya harap semoga semuanya berjalan dengan baik dan arah yang benar.
Turunlah cepat dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak sendiri
Sepuluh tahun yang lalu tentu berbeda tantangan yang dihadapi dengan saat ini. Langkah saya dahulu, tentu tidak bisa lagi diterapkan untuk masa kini. Biarlah Tata belajar melangkah, mungkin sesekali terperosok dan kami akan berdiri di belakangnya mengulurkan tangan menariknya. Keluarga layaknya sebuah tim yang bahu membahu, saling mengingatkan dan bergandengan tangan.
Bapak sibuk dengan urusannya sendiri. Ibu sibuk di dapur dan mencuci. Kakak-kakaknya sok sibuk dengan perkaranya masing-masing. Pada akhirnya dia akan sendiri, mencoba-coba, belajar menyelesaikan masalah. Barangkali dengan itu, pengalaman akan datang menghampiri, menjadi bekal melalui jalan terjal yang menghadang. Semoga…
Semua quote : Iwan Fals “Nak”

dan tak lupa “Selamat Hari Anakâ€
Sendiri
Jun 3rd
Setiap hari lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Bangun tidur, tidak ada siapapun yang ditemukan saat membuka mata. Hal biasa yang dilakukan di kamar mandi, juga tak ada yang menemani. Jok belakang sepeda motor yang lega lebih sering kosong, sehingga batas kecepatan dapat dicapai dengan mudah.
Kesendirian menjadi sahabat karib, menemani ke manapun kaki melangkah. Pada akhirnya, justru nyaman dengan itu semua. Terganggu bila banyak orang, bising dan ramai ditemui. Merasakan kesendirian, seperti menikmati teh hangat, dicecap pelan, dirasakan dengan penuh kenikmatan.
Pada teh hangat, tidak ada kejutan berarti yang ditemui, sedikit pahitnya adalah kewajaran. Bila gula terlalu banyak dibubuhkan, menjadi terlalu manis, maka tinggal ditambahkan air. Tak jarang, beberapa jenis teh memberikan keharuman yang berbeda. Sedikit kejutan memang, tapi tak lama.
Segelas teh kemudian begitu personal. Saya memiliki takaran gula sendiri, kadar panas air sendiri, jenis atau mungkin merk teh sendiri. Bila itu tidak terpenuhi, kemudian saya akan kecewa, kurang nyaman dan serasa ada yang kurang.
Egois
Ah ya, benar sekali! Saya menjadi begitu egois dan terobsesi dengan kesendirian. Alih-alih berjamaah ke masjid, saya malah akan lebih nyaman di rumah. Entahlah, barangkali beberapa saat lagi akan berdiri agama dengan saya sebagai nabinya.
Saya merasa merdeka bila sendirian. Tak ada batasan, bebas terbang seperti burung di angkasa. Mengepakkan sayap yang terentang di antara gemawan. Menelusup di balik mega-mega. Mencumbui pucuk-pucuk rembulan dan ketiak matahari.
Sayang, dunia ini tidak pernah saya miliki sendiri. Tidak pernah menjadi sebenarnya egois dan merdeka seutuhnya. Seperti camar yang kaget dengan hadirnya rajawali, mengecil, mendadak merasa tidak berarti. Awan-awan harus dibagi, mega-mega dipecah. Rembulan pun sembunyi-sembunyi dilihat, dan hangat mentari hanya sedikit bisa dirasakan.
Orang lain selalu ada, lengkap dengan kemerdekaan mereka sendiri. Menjadi saling bersinggungan, tak jarang berbenturan. Mungkin akan tiba suatu masa saat benturan-benturan itu bersatu padu, menjadi ledakan dahsyat. Lubang hitam terbentuk, dengan sejuta kali gaya gravitasi.
Alangkah indah bila camar terbang beriringan dengan rajawali. Saling membimbing, berkelok di antara awan. Menunjukkan jalan bila rajawali lupa, dan camar sok tahu. Menuju ke batas, saat matahari mulai terbenam dan bulan berganti memainkan perannya.
Saat besar tak selalu benar, ketika kecil tak selalu salah. Bilakah?
