<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>unclegoop[dot]com &#187; Salam</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.com/tag/salam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.com</link>
	<description>melintas batas ruang dan waktu</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 02:43:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Salamku Untukmu</title>
		<link>http://unclegoop.com/2008/08/24/salamku-untukmu/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2008/08/24/salamku-untukmu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 11:08:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Salam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Dear Ibu, Janggal sekali kurasakan, bukan padanan yang pas. Di samping itu, kau pasti akan memerintahku, â€œCarikan di kamus nak, apa arti dear!â€ Aku tak beranjak kemudian, biasanya begitu. Diam, masih asyik dengan kesibukan semula. Kau â€˜kan mengulang perintah sekali lagi, beberapa kali lagi, hingga nadamu meninggi. Salahku juga, kenapa harus menggunakan kata itu. Kau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2008/08/106.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-194" title="mami mami" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2008/08/106-283x300.jpg" alt="" width="283" height="300" /></a><strong>Dear</strong><em><strong> Ibu</strong></em><strong>,</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Janggal sekali kurasakan, bukan padanan yang pas. Di samping itu, kau pasti akan memerintahku, â€œCarikan di kamus nak, apa arti <em>dear</em>!â€</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tak beranjak kemudian, biasanya begitu. Diam, masih asyik dengan kesibukan semula. Kau â€˜kan mengulang perintah sekali lagi, beberapa kali lagi, hingga nadamu meninggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Salahku juga, kenapa harus menggunakan kata itu. Kau tidak mengerti artinya, itu alasan pertama. Kau perlu kamus, sementara tulisan yang kecil akan menyiksamu. Selanjutnya, kau akan membuatku repot, padahal kau pun tahu aku tak suka repot.</p>
<p style="text-align:justify;">Lupa mungkin nama tengahku, atau tak tahu diri? Betapa dulu bila aku berbunyi, â€œOoooeeekkkk!!!â€  seperti sebuah alarm bagimu. Kau akan tergopoh; melihat apakah aku ngompol, berak atau haus.  Tak perlu ketiganya datang sekaligus, cukup salah satu saja, maka kerepotanmu kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Andaikan kau menganut para pebisnis dan menghitung semua kerepotanmu sebagai hutang. Tak terbayangkan kemudian, berapa hutangku?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Hallo Ibu,</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apa iya aku harus menggunakan yang ini? Seperti sapaanku kepada teman-temanku, padahal tentu kau lebih dari seorang teman.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi, seringkali kau pun menjadi teman terbaik untukku. Aku tak akan ragu berbagi rahasia yang paling rahasia padamu. Kau diam kemudian; mengangguk-angguk, berbinar, mencandaiku, tapi sering juga menghardikku.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua itu, bisa juga berlaku sebaliknya. â€œTetangga kita si anu â€¦â€ itu awalan bila kau akan bercerita tentang tetangga yang mengganggu pikiranmu. Bila adik meminta uang saku, lagi dan lagi, â€œAhh, adikmu itu!â€. Bapak yang nakal, â€œmBok Bapakmu, itu dikasih tahu!â€</p>
<p style="text-align:justify;">Hahaha, banyak memang keluhanmu. Tetapi, kok rasa-rasanya masih banyak keluhanku. Kita saling mengeluh, kita terbahak kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tak selalu ada di sampingmu. Adik-adik mungkin bisa membantumu. Kau tak selalu di sampingku. Teman-temanku akan ada di sana saat itu. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, kecuali rasa amanku. Karena aku tahu, saat tak ada seorangpun yang mendengarku, kau bahkan akan mendengar bisik paling halusku.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ibu sayang,</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tak pernah kukatakan padamu, bahkan sekali. Tak mungkin aku menggunakan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">â€œAku sayang padamuâ€ beribu kali bisa kukatakan pada gadis-gadis manis itu. Tak jarang lengkap dengan pemanis lainnya. Sedikit gombal barangkali, salah sendiri gadis-gadis itu suka digombali, bahkan berbinar, hihihi.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang tak pernah berlaku untukmu. Ingin mengucapkannya, tapi lidahku kelu. Padamu, aku tak perlu semua ungkapan gombal itu. Aku tak perlu menjaga hubungan, tak khawatir kau tinggalkan dan berpaling ke orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahasa kita, adalah bahasa rasa. Tak perlu kita bermanis bibir. Aku tak perlu bohong padamu, karena kau tahu kebohonganku yang paling jujur sekalipun.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Buâ€™e,</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tak pernah kutahu dari mana asal muasal panggilan jelek ini. Pengubahan Ibuke menjadi Buâ€™e mungkin untuk mempermudah lidah kecilku dahulu. Sebagai anak pertama, kenapa aku dulu tak memilih â€œmamaâ€, â€œbundaâ€, â€œmamiâ€ yang kelihatannya lebih keren?</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi, panggilan itu tak mengubah artimu sebagai ibu. Kau tak memerlukan panggilan yang keren untuk menghidangkan deretan teh hangat di atas meja pada rembang petang. Tempe goreng dan sambal akan tetap tersedia di piring-piring pada setiap pagi, dengan dan tanpa aku mengubah panggilan itu. Semua otomatis, begitu saja, kau memang tahu apa yang kami mau.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Apa <em>sih</em> maksudku ini? Sebenarnya, aku ingin membuat sebuah surat untukmu Buâ€™. Namun, bahkan untuk sebuah salam pembuka aku kebingungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tunggulahâ€¦</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="mami mami" href="http://www.crisalis.co.uk/uploads/images_categories/106.jpg" target="_blank">asal gambar</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2008/08/24/salamku-untukmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
