Bagaimana Cara Mencari ART?

Apakah Anda pernah merasakan kesulitan saat mencari asisten rumah tangga?

Saya bersama istri beberapa waktu yang lalu cukup khawatir saat harus mencari asisten karena sudah mencari sekian lama, namun tak kunjung mendapatkannya. Kami memerlukan dua orang untuk membantu momong anak-anak. Semua upaya sudah dilakukan untuk mendapatkan asisten, tapi rupanya sekarang ini sungguh sulit untuk memperolehnya.

Mula-mula saya meminta bantuan keluarga terdekat yang tinggal di kampung untuk mencarikan asisten. Bapak dan Ibu pun kelimpungan ke sana kemari dan sibuk bertanya ke tetangga barangkali ada yang bersedia ikut dengan saya ke Jakarta dan membantu momong serta beres-beres.

Sayangnya, semua upaya itu belum membuahkan hasil. Rata-rata alasannya adalah:

1. Bekerja di pabrik

Di sekitar kampung saya memang sedang marak dibangun pabrik yang tentu saja membutuhkan pekerja. Mereka itu rata-rata memilih untuk bekerja di pabrik daripada menjadi asisten rumah tangga. Apabila mereka bekerja di pabrik, maka masih ada kesempatan untuk dandan, main hape, punya banyak teman, jalan-jalan dan lain-lain.

2. Terlalu jauh

Mereka sebenarnya tartarik untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga, namun mereka keberatan kalau harus pergi ke Jakarta. Sebenarnya, keberatan ini tidak melulu datang dari si calon pekerja sendiri, namun bisa juga dari keluarganya, atau dia sudah memiliki tanggungan anak.

3. Jam kerja

Para calon asisten itu rata-rata keberatan kalau harus menginap. Mereka memilih untuk datang pagi dan sore hari pulang. Di Jakarta pun rata-rata sekarang meminta sistem pulang-pergi tersebut.

Lalu bagaimana caranya agar asisten tetap bisa didapatkan?

1. Bertanya

Anda dan keluarga harus tetap berusaha mencari dan tak lelah bertanya kepada siapa saja. Kegiatan ini superti menawarkan MLM, maka Anda harus aktif untuk bertanya kepada siapa saja dan di mana saja. Bisa jadi orang yang Anda temui itu memiliki informasi berkaitan degan asisten rumah tangga. Namun, apabila Anda sudah mendapatkan informasi dari orang-orang yang ditemui, langkah selanjutnya adalah melakukan survei dan yang paling penting adalah Anda tak boleh lupa untuk berhati-hati dan waspada saat menerima orang asing di rumah kita.

2. Internet

Selain bertanya kepada orang-orang yang kita temui, maka Anda pun bisa mencari informasi mengenai asisten di internet. Saya pribadi tidak terlalu mengandalkan cara ini. Pertama, karena alasan biaya administrasi yang cukup tinggi saat mendaftar di situs penyalur asisten dan juga manakala menjemput mereka di penyalur. Kedua, apa yang disajikan di internet seringkali tidak sesuai dengan kenyataan, misalnya sangat mudah untuk menulis review mengenai seorang asisten yang bisa jadi tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

3. Cara lain

Terkadang Anda harus mengubah kriteria asisten yang diinginkan. Bisa jadi Anda harus berkompromi untuk menerima asisten yang sudah berumur atau bahkan masih terlalu muda.

Mereka yang sudah dewasa menang pengalaman, namun kadang fisiknya sudah tidak sebagus yang muda. Artinya mereka kadang sakit apabila terlalu capek atau salah makan atau karena cuaca. Selain itu mereka juga memiliki komitmen yang lain, misalnya punya keluarga, harus menengok anak yang sakit, atau alasan lain semacam itu.

Di sisi lain, mereka yang masih muda memiliki kelebihan dari sisi fisik yang tidak mudah sakit dan tenaganya pun masih kuat. Namun, selain kelebihan tersebut, mereka masih kurang berpengalaman, sehingga Anda harus bersabar untuk membimbingnya. Selain itu, mereka juga mudah teralihkan perhatiannya seperti menonton televisi atau pun bermain hape.

Kemarin, syukurlah saya mendapatkan informasi mengenai seorang penyalur asisten dari rekan di tempat kerja. Sebelum saya menghubungi penyalur tersebut, saya bisa mendapatkan berbagai informasi pendahuluan seperti biaya administrasi, kisaran gaji, bagaimana kerja mereka, dan informasi-informasi lainnya.

Kepada rekan-rekan yang sedang sibuk mencari asisten tetap semangat ya….

Cermat Saat Akan Ambil Kredit Rumah

house_creditHari Senin (29/04) kemarin, harian Kompas menerbitkan rubrik Kompas Ekstra edisi April-Mei. Tema pada edisi tersebut adalah ‘Ada Tema di Rumah Kita’.

Di dalamnya saya menemukan artikel menarik mengenai perlunya kecermatan saat akan melakukan kredit.

Berikut ini beberapa hal yang perlu dicermati saat akan melakukan kredit kepemilikan rumah.

  • Total cicilan utang (termasuk KPR) maksimal 30 persen dari pendapatan.
  • Pilih properti layak huni, berjarak 30 menit-1 jam dari kantor.
  • Rumah yang jauh dari kantor memboroskan biaya, tenaga, dan waktu.

Sementara itu, apabila Anda menginginkan untuk membeli rumah baru, ingatlah beberapa hal berikut sebelum melakukannya:

  • Pahami, uang muka kredit ke bank adalah 30 persen plafon kredit.
  • Perhatikan kebijakan pengembang soal harga jual. Apakah termasuk PPN 10 persen, biaya IMB, pemasangan jaringan telepon, air, dan listrik.
  • Biaya lain yang disiapkan: akta perjanjian pengikatan jual-beli (PPJB), pemecahan sertifikat, akta jual-beli (AJB), balik nama, biaya notaris, bea perolehan hak atas tanah atau bangunan (BPHTB) sebesar 5 persen harga neto yang menurut peraturan pemerintah dibayat setelah dua atau tiga tahun.

Apakah rumah seken bisa dikredit? Tentu bisa, namun perlu memperhatikan hal-hal berikut:

  • Perhatikan fasilitas, seperti terali, pompa air, aliran listrik, serta air.
  • Perhitungan biaya renovasi rumah.
  • Periksa legalitas, apakah rumah bebas dari gugatan, sengketa.
  • Rumah yang KPR-nya belum lunas, sertifikatnya masih diagunkan di bank.
  • Mintalah fotokopi sertifikat rumah kepada pemilik.
  • Periksakan keaslian sertifikat ke notaris.
  • Periksa status rumah ke kantor pertanahan.
  • Pastikan nama penjual rumah sama dengan nama terakhir dalam sertifikat.
  • Jika pemilik dalam sertifikat sudah meninggal, nama penjual harus sesuai dengan nama ahli waris berdasarkan surat kematian atau keterangan waris.
  • Lengkapi surat dan administrasi transaksi.
  • Penjual: KTP, kartu keluarga suami istri, atau surat pernyataan belum menikah. Duda/janda perlu dokumentasi cerai hidup/mati, surat nikah, nomor pokok wajib pajak (NPWP).
  • Jika cerai hidup, pastikan sudah ada pembagian harga gana-gini. Jika belum, eks suami/istri harus bubuhkan tanda tangan persetujuan rumah boleh dijual.
  • Pembeli: KTP, KK, NPWP
  • Perhatikan tunggakan tagihan telepon, air, listrik, pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan, iuran kebersihan pemilik lama.
  • Tagihan itu perlu juga dibalik nama ke pemilik baru.
  • Dalam transaksi, hitung besar kredit ke bank dan harga yang dibayar kepada penjual.
  • Terakhir, dengan meminjam sertifikat dari bank, penjual-pembeli ke notaris untuk akta jual-beli dan alih kepemilikan.

Pesan:

Berikut tulisan lengkap dari artikel ini. Mohon maaf apabila sebelumnya sudah sempat ter-publish hanya sebagian. Semata-mata karena kekeliruan pada perangkat gerak saya.

Terima kasih

Sumber gambar dari sini

 

 

Polusi di Dalam Rumah

Selain polusi di jalan raya, rupanya polusi juga terjadi di dalam rumah kita. Berikut beberapa penyebabnya:

Asap Rokok

Partikel yang keluar dari rokok mengandung karsinogenik, penyebab kanker. Bahkan, asap rokok yang baru mati di asbak mengandung tiga kali lipat bahan pemicu kanker di udara dan 50 kali mengandung bahan yang membuat iritasi mata dan pernapasan. Continue reading “Polusi di Dalam Rumah”

Yuk, Hemat Listrik dari Rumah Kita

Sejatinya, bukankah kita tak pernah bisa terbebas dari listrik? Dunia modern menuntut kita untuk terus-menerus bergantung pada listrik. Peralatan pendukung kehidupan kita, sebagian besar ditenagai menggunakan listrik. Sementara di sisi lain, ketersediaan listrik pun makin lama makin terbatas seiring dengan terbatasnya bahan bakar untuk memproduksi listrik itu.

Kemudian pertanyaannya, bagaimana agar kita bisa menghemat listrik?

Keuntungan dari upaya penghematan listrik tentu pada penghematan sumber daya alam. Namun, lebih lagi dan paling utama alasannya adalah bisa menghemat pengeluaran bulanan kita.

Kemudian pertanyaannya, bagaimana agar kita bisa menghemat listrik?

Rupanya, jawaban pertanyaan ini bisa dimulai dari rumah kita. Coba perhatikan beberapa langkah berikut ini: Continue reading “Yuk, Hemat Listrik dari Rumah Kita”

Memasang Pagar

Saya beruntung kiranya tinggal di kontrakan yang dilengkapi dengan pagar. Di Jakarta, di mana keamanan menjadi barang mahal, maka pagar pun menjadi keniscayaan.

Sebenarnya saya penasaran, kalau di perumahan tipe cluster apakah juga terdapat pagar di tiap-tiap rumah, ataukah cukup pagar keliling kompleks?

Sebenarnya, bagaimana memilih pagar yang paling pas untuk rumah kita? Continue reading “Memasang Pagar”

Gorden, Manfaat dan Memilihnya

Teman saya senang sekali berolok-olok saat kami baku canda di kantor. Hal ini ada kaitannya dengan saya yang setelah lebih dari setahun menikah, namun masih belum dikaruniai keturunan. Mereka menyarankan agar saya mengganti gorden di rumah.

Ah, masa bisa dengan berganti gorden, maka keturunan akan hadir? Continue reading “Gorden, Manfaat dan Memilihnya”

Lapangan di Dekat Rumah

Tahukah kau, kawan, beberapa saat yang lalu di dekat rumahku terdapat sebuah lapangan bola.

Aku suka membayangkan diriku ini akan bermain bola di sana. Yah, memang sekadar membayangkan karena sampai dengan detik ini, tak pernah sekali pun aku bermain bola di sana.

Aku hanya tahu, setiap sore warga kampung bermain bola di lapangan itu. Saat aku pulang bekerja, sebagian dari mereka pun pulang ke rumah sambil menenteng sepatu bola dan kaos basah oleh keringat.

Ah, betapa ingin aku menjadi bagian dari mereka itu dan turut bermain bola.

Apabila hari minggu tiba, maka begitu riuh di lapangan itu saat pagi hingga tengah hari. Yah, di sana terdapat sebuah sekolah sepak bola yang memberikan latihan di minggu pagi. Anak-anak sebagai siswa sekolah itu pun berlari dengan penuh semangat mengejar bola. Para orang tua yang mengantar anaknya berdiri di pinggir lapangan mengawasi dengan was-was, khawatir kalau anaknya sampai cedera.

Aku suka melihat keriuhan itu, sayangnya aku hanya menjadi penonton, tak pernah terlibat langsung.

Di sebuah sore sekitar sebulan yang lalu, kebetulan aku harus mengantar istri berbelanja di toko waralaba dekat rumah. Aku hanya mengatarnya sampai di parkiran dan kubiarkan ia memasuki toko seorang diri agar ia lebih leluasa berbelanja.

Kuamati seorang tukang parkir berjaga di depan waralaba itu. Ia pun mengamatiku, barangkali ia kurang suka karena aku tak turun dari motor dan turut masuk ke dalam toko. Dengan aku menduduki motorku sendiri, maka lazimnya aku tak perlu membayar parkir. Tentu saja ini sebuah kerugian bagi tukang parkir itu, bukan?

Ah, dia malah mendekatiku, mengajakku mengobrol. Singkat cerita, kami pun terlibat dalam pembicaraan seru mengenai toko elektronik di seberang waralaba itu yang kini mulai ramai. Ia menanyakan di mana aku tinggal, ia pun menyarankan agar aku segera pindah dari tempatku mengontrak sekarang.

Kenapa, ya, batinku mulai merasa ada yang tak beres.

“Di sana itu, mas, sudah dibeli semua sama pengembang perumahan. Tahu lapangan sepak bola di deket rumah, mas itu, kan? Nah, di situ sebentar lagi akan dibangun perumahan yang baru.”

Ahhh, bahkan aku belum pernah sekalipun menendang bola di lapangan itu. Selama ini masih sekadar niat saja tak pernah kesampaian.

Sekarang ini, saat aku melintas di jalan samping lapangan itu dapat kulihat, peralatan berat sedang menggali tanah. Tumpukan hasil galian tanah yang menggunung mulai terbentuk di pinggir lapangan sisi timur, dan sebentar lagi tentu bergeser ke barat. Aku melihat hijau rerumputan yang masih tersisa di lapangan itu dengan masygul.

Mereka seperti memanggilku untuk menendang bola, untuk berlari bertelanjang kaki di sana.