Tag Archives: Rindu

Belajar Berubah pada Jogja

Capture_sampah_visual

Bertahun yang lalu kususuri jalanan kota ini. Terkadang mampir di angkringan atau warung burjo sekadar memesan intel goreng atau rebus.

Malam ini kembali aku menyusuri jalanan di sini. Banyak tempat yang berubah, yang dulu ada di sana kini tak ada lagi.

Entah kenapa, namun kota ini begitu cepat berubah. Maka, bila dahulu kau pernah punya kenangan di suatu tempat, mungkin tak akan bisa kau kenang-ulang kembali. Tempat yang dahulu begitu kau kenal bisa saja kini telah berganti menjadi lapangan futsal.

Di jalan, mungkin kau akan bingung dengan sampah visual yang mewarnai langit Jogja. Semua informasi visual yang berlebihan sekarang ini di jalanan Jogja sungguh membuat tak nyaman, rasanya seperti terhimpit dan ingin segera keluar. Tak hanya itu, terkadang juga menyusahkan. Misalnya saja, satu kedai yang ingin kau cari tak bisa lagi ditemukan hanya karena papan namanya kalah gede atau sudah pindah lokasi.

Soal pindah lokasi ini kerap juga terjadi, kudengar dari seorang kawan, warung penyedia steak yang dulu ada di Jalan Kaliurang telah bergeser digantikan warung donat dengan jaringan internasional. Lalu, kalau aku datang dan ingin makan di sana, ke mana aku harus mencari?

Aku bersyukur punya warung nasi langganan agak di pinggir. Ada juga warung soto kesukaan yang berada di luar lingkar kota. Di sana, relatif tak berubah. Kendati khawatir itu tentu ada, bagaimana kalau nanti kota terus berkembang dan menggusur warung-warung idolaku itu?

Kawan, bila kau ingin belajar ‘move on’, maka bergurulah pada Jogja. Dia tak berlama-lama meratapi masa lalu dan secepat mungkin ganti yang baru. Misalnya saja bioskop yang terbakar itu kini dengan cepat sudah jadi yang baru. Jogja yang terus menggeliat dan bergerak, meskipun juga menyebabkan kekhawatiran tersendiri.

Bagiku, Jogja sudah tak seperti dulu. Tiap kali ke sini ada lagi yang baru. Kemudian hati pun harus kembali memendam rindu pada kenanganku dulu.

Gambar dipinjam dari sini

Layang-layang

“Kamu benar. Ternyata kita sama, Che. Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu menunggu.”

Kata itu diucapkan dengan lirih oleh Starla kepada Christian, dua tokoh dalam cerita pendek ‘Menunggu Layang-layang’ yang ada dalam ‘Madre’ karya Dee.

Christian atau Che adalah sahabat karib Starla. Dia seperti robot, bangun tepat saat jam wekernya berbunyi pada pukul 05.45. Dia mandi dengan campuran air dingin dan panas yang suhunya sama bertahun-tahun. Agak menggelikan Continue reading

Di Ruang Tunggu

Perlahan aku melangkah, menyusuri tangga pesawat yang licin karena hujan. Di bawah sana, genangan tipis air di permukaan aspal. Aku harus berjingkat agar sepatuku tak basah, tasku pun aman dari air.

Cukup lama juga aku melangkah di bawah terpaan gerimis yang menerpa kepala. Ah, kenapa juga aku tak bawa topi kesukaanku itu?

Langkahku menyusuri aspal itu semakin mendekatkan kita, kendati sampai sekarang aku tak tahu apakah dirimu sudah berada di pintu kedatangan atau belum. Continue reading