Review Film ’10 Years’

capture_10years

Seperti biasa, saat mengganti-ganti saluran televisi di rumah, saya temukan film yang menarik. Tentu saja sudah tak baru, tapi kendati bukan film baru, karena saya baru menonton film itu pertama kali, jadi tetap terasa baru buat saya.

Entah berapa malam yang lalu, saya temukan ’10 years’ di FX Channel. Saya baca sinopsisnya sekilas dan kemudian memutuskan untuk menonton film tersebut.

Sinopsis

Film ini ringan dan alurnya mudah ditebak. Namun, hal itu tak mengurangi ketertarikan saya menontonnya. Cerita yang disajikan mengenai sebuah kelas yang mengadakan reuni 10 tahun setelah mereka lulus.

Masing-masing pemeran punya kisah berkaitan dengan saat-saat mereka sekolah. Masing-masing juga punya misi dalam reuni 10 tahun itu. Namun, rupanya masing-masing pemeran juga punya persoalan dengan masa lalu yang hendak diselesaikan.

Misi-misi Lelaki

capture_10years2

  1. Jake sudah berpacaran dengan Jess, namun dia masih ingin bertemu dengan mantan pacarnya dulu, Mary.
  2. Sully telah menikah dengan anggota pemandu soraknya dulu, Sam. Dalam reuni itu, dia ingin meminta maaf pada teman-teman yang dahulu sering sekali diganggunya.
  3. Marty dan A.J bersaing sedari dulu dan dalam reuni itu, mereka berdua memperebutkan perhatian Susan, gadis paling seksi di kelas mereka.
  4. Reeves dahulu malu-malu mengakui kalau dia memerhatikan dan menyukai salah seorang temannya, Elise. Di reuni, dia kembali bertemu dengan Elise, setelah sepuluh tahun, apakah dia menemukan keberaniannya?

Yang Menarik

  • Realitas sesungguhnya.

Saya bayangkan, jika kelas di SMA dulu mengadakan reuni 10 tahun kemudian, tentu suasana yang tercipta tak akan jauh berbeda. Canggung yang muncul saat dua orang mantan saling bertemu. Situasi aneh saat korban dan pembuat onar saling berjabat tangan. Itu semua rasanya begitu nyata, bahkan penonton seperti dibiarkan menebak-nebak. Tak urung, saya pun tersenyum-senyum kegirangan karena tebakan saya benar atau saat dengan jahil otak saya mengingat teman masa SMA dulu yang mungkin saja mengalami situasi persis di film ini.

  • Seseorang tak pernah dewasa saat bertemu kawannya.

Hal ini terbukti dalam film ini. Kendati sudah beranak dua, Sully tetap saja badung dan alih-alih meminta maaf pada korbannya, dia justru kembali mengulang mengganggu mereka. Peristiwa ini sungguh membuat malu Sam, istri Sammy.

  • Kenakalan masa lalu akan diulang kembali.

Adalah A.J dan Marty yang dari dulu mengharapkan Susan menoleh ke arah mereka. Dalam reuni itu, harapan itu masih menyala-nyala kendati A.J sudah beristri. Niat awal sebenarnya dia ingin menjadi mak comblang antara Marty dengan Susan, namun justru dia pun terpikat. Mereka berdua kemudian membuntuti Susan pulang ke rumah. Di rumah itu dahulu mereka kerap berbuat jahil. Anehnya, setelah sepuluh tahun, ide mereka untuk menjahili Susan tetap sama.

  • Cinta pertama tak pernah padam.

capture_10years3

Adalah Reeves yang kini telah menjadi seorang penyanyi terkenal. Semua mata gadis di reuni pun memandang ke arahnya. Namun, dia tetap saja jengah saat Elise memasuki ruangan. Elise adalah cinta pertama Reeves yang tak bisa dimiliki. Apakah Elise masih sendiri dan mau bersama Reeves, bagaimana usaha Reeves untuk memikat Elise?

Jadi, kapan kita reuni? 😀

Sumber Gambar:

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

[Review] Peace, Love, & Misunderstanding

peace_love1
Zoe, Grace, dan Diane

Diane adalah pengacara yang, seperti biasa, keras kepala dan jagoan berdebat, haha. Ia tak pernah mau mengalah, dalam hal apa pun. Semua perdebatan seakan-akan harus dimenangkannya. Kalau pun tak bisa dimenangkan, maka ia memilih pergi.

Di awal cerita, Mark, suami Diane meminta cerai. Diane pun serta merta memilih untuk pergi, lebih tepat pulang kepada ibunya, Grace. Dia mengajak dua anak remajanya, Zoe dan Jake.

Grace adalah seorang hippie, tinggal di Woodstock, ia sudah 20 tahun tak bertemu dengan putrinya, Diane. Awal mula penyebabnya, karena Grace menjual ganja kepada tamu-tamu saat resepsi pernikahan Diane, hahaha.

Di Woodstock cerita kemudian dimulai.

Zoe dan Jake diajak oleh Grace untuk mengikuti demonstrasi menentang perang. Di lokasi demonstrasi, Jake yang sibuk dengan handycam-nya menemukan sesosok wajah rupawan, Tara.

Ajakan Grace kepada cucunya itu tentu saja ditentang oleh Diane. Diseret putra dan putrinya itu keluar dari arena demonstrasi… ke toko daging. Eh, di sana malah ada si ganteng Cole yang memikat hati Zoe.

“Kamu pasti ingin bercinta dengannya, bukan?” Begitu bisik Jake pada Zoe.

Hari berganti, kini di rumah Grace diadakan pesta. Pesertanya, siapa lagi kalau bukan para demonstran yang kemarin. Ini berarti, Jake bertemu lagi dengan Tara, dan Zoe bertemu dengan Cole. Kesalahpahaman pertama terjadi, saat Jake bersiap mendekati Tara, dia diajak keluar oleh seorang cowok lain. Jake pun urung melangkah, hal ini diketahui oleh neneknya, Grace, yang kemudian memberikan pelukan hangat pada Jake.

Cole sebenarnya datang agak terlambat, pesta sudah dimulai, dan dia baru datang. Pas, di teras dia bertemu dengan Zoe. Cole saat itu merokok, Zoe pun bertanya, “Adakah hal lain yang kau lakukan dan merendahkan kehidupan?” Cole dengan santai menjawab, “Apakah ini saat yang tepat bagiku untuk bilang ke kamu, kalau aku berburu?”

Di dalam rumah, hanya Diane yang tampaknya tak bersemangat. Ia seperti menghindari pesta para hippie itu. Hal ini direspon oleh Grace dengan memperkenalkan seorang pria, Jude, kepada Diane. Tak diragukan lagi, Jude jelas seorang yang menawan. Mereka berdua, Diane dan Jude lantas berjalan-jalan keluar dan sampai di tepi telaga. Dua orang yang sudah berumur itu pun kembali menjadi kanak-kanak, melucuti pakaiannya dan terjun ke telaga. Saking girangnya, mungkin, Diane lupa tak melepas gaunnya, hahaha.

Cerita mengalir dengan kesalahpahaman yang kerap muncul, seperti kekeliruan Jake terhadap Tara. Dia mengira Tara sudah mempunyai cowok, hal yang kemudian dibantah. “Ah, dia cuma teman,” demikian Tara bilang. Zoe salah menerka atas pilihan profesi Cole, baginya yang vegetarian, apa yang dilakukan Cole bekerja di tempat pemotongan hewan adalah tindakan yang sungguh kejam. Padahal, Cole punya alasan tersendiri akan profesinya itu. Zoe pun berseteru dengan ibunya sendiri, karena dia melihat Diane berciuman dengan Jude di panggung pada saat pertunjukan musik. Dia berpendapat itu tindakan yang sangat tak pantas, sementara Diane belum bercerai dari Mark. Diane gundah karena kemarahan anaknya, ia pun menemui Grace.

Diane: They hate me.

Grace: It’s difficult for kids to accept that their parents are human.

Saat purnama tiba, ini adalah masa ketika kaum wanita di Woodstock memuliakan dirinya. Mereka mempunyai ritual untuk menyambut purnama, lambang kehormatan wanita, begitulah menurut mereka. Saat itu Cole datang, Grace pun berkata, “Tak boleh ada energi maskulin di sini.” Kemudian, Zoe dan Cole pergi dari ritual itu. Mereka menghabiskan waktu berdua, kemudian bercinta. Nah, pulangnya, seekor rusa tertabrak mobil Cole. Rusa itu meregang nyawa, Zoe bilang mereka harus membawanya ke dokter, namun Cole, dengan telengas menembak rusa itu sampai mati. Keduanya kemudian tak saling bicara.

Sementara itu di tempat upacara menyambut purnama, Diane yang semula enggan terlibat dan menertawakan, akhirnya turut pula minum dan sibuk dalam permainan. Mereka saat itu memainkan sebuah permainan benar atau salah. Apabila seseorang salah menebak tentang suatu fakta, maka dia harus meminum segelas tequila. Ah, entah giliran siapa, namun terungkap kemudian bahwa Jude dulunya adalah kekasih Grace, padahal saat itu Diane baru saja tidur dengan Jude, haha….

Sudah barangtentu Diane marah besar. Keesokan harinya, ia bertengkar dengan Grace, ia merasa dibohongi. Ujungnya ia pun pergi lagi ke kota dengan membawa serta Zoe dan Jake. Di kota, ia menyelesaikan urusan pernikahannya dengan Mark. Di kota pula ia mendengar kabar bahwa Grace dipenjara lagi karena tertangkap menjual mariyuana. Diane marah besar akan ketidakdewasaan Grace, namun saat itu ia bertemu dengan Jude. Dan inilah perbincangan mereka berdua:

Diane: You want me to just let go of 40 years of irresponsibility, embarrassment, and her total refusal to grow up?

Jude: Yes, exactly.

Diane: [incredulous] Like a balloon that’ll just float away.

Jude: It’s not a balloon, Diane. It’s a sandbag you’ve got to drop for the balloon to get off the ground.

Apakah Diane bisa melepaskan karung pasir, sehingga dia menjadi balon yang bisa terbang tinggi? Bagaimana dengan Grace, bisakah ia lebih dewasa atau akankah ia tetap eksentrik? Kesalahpahaman itu tetap ada, sampai akhir cerita.

Ini kisah yang manis tentang perjalanan keluarga yang singkat, namun sebuah cerita kehidupan yang panjang. Tontonlah, Kawan, bila kau sempat.

Terima kasih.

Hal Sederhana dalam Rectoverso

rectoversoposter

“Cinta yang tak terucap.”

Itu adalah film Rectoverso dalam empat kata. Film ini mengenai beberapa kisah cinta yang menganut aliran kebatinan, alias tak terkatakan.

Barangkali sudah banyak yang bercerita mengenai betapa mengharu-birunya film ini sampai banyak yang menangis di dalam bioskop. Saya sendiri tak sampai berlinang air mata. Hanya, saya suka bagaimana hal sederhana bisa menjadi sebuah alasan seseorang jatuh cinta. Sesuatu yang sederhana itu menjadi satu cara bagi seseorang untuk menunjukkan cintanya. Continue reading “Hal Sederhana dalam Rectoverso”

Cerita Cantik, A Christmas Kiss

Laura Breckenridge sebagai Wendy Walton

Tak ada yang membosankan dari lagu-lagu natal, begitu juga dengan film-film yang biasa diputar di saat natal. Pas naik kereta menuju ke Semarang kemarin, di kereta diputar kembali ‘Home Alone’. Kebetulan karena ngga ada kerjaan, saya pun mengikuti benar film lawas ini. Saya tertawa, bahkan rasanya sampai dilihat oleh penumpang lain. Menjelang Kendal, tiba-tiba listrik mati, alhasil AC pun mati, dan yang paling parah film ‘Home Alone’ juga mati menjelang puncak penjebakan pada dua penjahat. Uh, saya sebal sekali.

Kemudian malam ini, saat saya menggangi-ganti saluran di tv, tak sengaja saya melihat di Diva Universal yang memutar ‘A Christmas Kiss’. Saya baca sinopsis singkatnya, begini bunyinya, “Setelah secara tak sengaja mencium kekasih atasannya, seorang perancang muda asal Boston mempertaruhkan kariernya saat ia mulai jatuh cinta pada kekasih sang atasan.” Hmm… sepertinya menarik.

Saya memang tertinggal acara mencium tak sengaja di dalam lift pada awal film. Namun, Continue reading “Cerita Cantik, A Christmas Kiss”

Flipped, Perayaan Cinta

Flipped-691973198-largeSeperti kebanyakan film yang saya tonton di televisi, Flipped pun saya lihat secara tak sengaja. Tak dari awal benar saya mengikuti film ini, namun sudah cukup memeroleh gambaran latar belakang bagaimana cerita akan berkembang.

Lagi-lagi sebuah kisah yang sederhana rupanya yang saya suka. Tentang bagaimana seorang remaja Julianna Baker dan Bryce Noski bertemu untuk kemudian saling jatuh cinta.

Keduanya tinggal berseberangan di sebuah lingkungan yang asri di Amerika pada medio 1960-an. Keluarga mereka sungguh berbeda, itulah kemudian Continue reading “Flipped, Perayaan Cinta”

Blast from The Past

Blast from the past

Adam

Adam dibesarkan di sebuah bunker. Awal mulanya adalah isu perang nuklir yang akan terjadi di tahun 1962.

Guna melindungi keluarganya, Ayah Adam pun membangun sebuah bunker. Proyek pembangunannya dan keberadaan bunker itu pun dirahasiakan oleh Ayah Adam yang seorang ilmuwan. Kemudian pada saat isu perang nuklir memuncak, Ayah, Ibu, dan Adam pun masuk ke dalam bunker.

Di sana sudah dipersiapkan segala macam keperluan. Memang sebenarnya Ayah adam sudah berencana untuk tinggal di dalam bunker selama 35 tahun.

Ketiganya pun hidup bersama dalam bunker. Continue reading “Blast from The Past”

Panggil Aku Kartini Saja

Pada suatu kali, Kartini ikut menghadiri “sembahyang istisqo” yang dilakukan oleh rakyat jelata, dan kemudian hujan pun turun. Menanggapi hal ini, Kartini pun menulis:

Rakyat-bocah kami yang naif itu menarik kesimpulan, kamilah yang telah memperkuat doa permohonan mereka itu dengan kekuatan kami, yang menyebabkan doa itu segera makbul. (Surat, 1 Februari 1903, kepada Mr. J.H. Abendanon).

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 258

Hal yang demikian itu dinamakan sentralisme magis. Suatu persoalan yang ditolak oleh Kartini sebagai bentuk feodalisme pribumi. Lebih jauh, penolakan ini dimanifestasikan Kartini dalam sebuah suratnya, di sana ia menulis:

Panggil aku Kartini saja—itulah namaku. (Surat, 25 Mei 1899, kepada Estelle Zeehandelaar).

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 258

Kartini yang menginginkan panggilan tanpa gelar, tanpa panggilan kebesaran adalah keluarbiasaan di kalangan feodal pada waktu itu. Hal ini bukan saja karena gelar-gelar itu justru merupakan ciri-ciri kedudukan seorang feodal dalam hierarki feodalisme, tata hidup, suasana dan organisasi sosial pada waktu itu, tetapi juga ciri-ciri kemartabatan dalam sistem sentralisme magis yang dianggap punya hubungan langsung dengan alam atas.

Review Buku: Bekisar Merah

Sedari mula Lasi sudah tercerabut dari akarnya di Karangsoga. Di desa tempat para penyadap kelapa hidup dan tinggal itu, Lasi menjadi orang asing. Ia yang memiliki kulit lebih putih dari yang lain, mata kaput sangat indah dan kecantikan lainnya telah membatasi dirinya sendiri dengan lingkungannya di Karangsoga.

Pak Ahmad Tohari memulai ‘Bekisar Merah’ dengan sosok Darsa yang sedang memandangi kebunnya. Cara bercerita beliau yang bisa menggambarkan keindahan sebuah tempat begitu detil telah membuat lupa. Terlena padahal ada sebuah masalah yang dialami Darsa dan penduduk Karangsoga lainnya. Masalah itu adalah harga gula kelapa yang sekilonya kadang tak cukup untuk membeli setengah kilo beras.

Karangsoga hidup dalam kemiskinan para penyadapnya. Meski kicauan burung, harum embun pagi dan lumut basah senantiasa tercium dari tebing-tebing di tepi kali. Continue reading “Review Buku: Bekisar Merah”

Tak Lelahkah Menderita?

http://photosthatchangedtheworld.com/wp-content/uploads/2008/07/afgangirl.jpg

“Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma sebuah cerita.” Hannah Arendt

Ara, aku tahu kamu sudah tidak asing dengan penderitaan. Lantas, kenapa aku masih juga memberikan sebuah bacaan mengenai penderitaan buatmu?

Ya, buku yang barangkali baru sempat kamu sentuh itu mengenai penderitaan Laila dan Mariam.

Tentang anak haram yang mendamba kasih sayang ayah yang tak pernah mengakuinya. Manakala kasih sayang itu didapat, harus ditebus dengan kematian ibunya. Tentang deritanya menjadi istri seorang lelaki yang tak pernah dicintai. Mengenai hujaman cambuk dan kepalan tangan yang senantiasa mendarat di tubuhnya. Yang semua derita itu dihadapinya dalam diam.

Mariam sedari mula sudah tahu, Nana—ibunya yang telah tiada—pernah berkata, “Camkan ini sekarang, dan ingatlah terus, anakku: Seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke utara, telunjuk laki-laki juga selalu teracung untuk menuduh perempuan. Selalu. Ingatlah ini, Mariam.”

Sepenggal kehidupan Mariam barangkali tak layak dikenang. Hanya menawarkan pahit dan getirnya menghadapi laki-laki; menerima setiap tuduhannya. Pada mulanya memang ibunya yang menerima tuduhan itu. Perbuatan dosanya bersama Jalil membuahkan Mariam. Nama baik dan kehormatan Jalil adalah alasan terpisahnya anak dengan bapak. Tinggal bersama menjadi sebuah kemustahilan.

Sampai pada satu ketika, saat keinginan berkumpul bersama bapaknya tak tertanggungkan. Disambangi rumah bapaknya, namun apa yang didapatnya? Hanyalah seraut muka yang mengintip di antara gorden jendela. Dia kemudian tidur di depan pintu gerbang dan diminta pulang lagi ke gubuk ibunya. Ibu yang membesarkannya, tak rela Mariam terluka, diancamnya bila dia ke rumah bapaknya, maka ibu itu akan bunuh diri. Dan benar kemudian tak ada sosok ibu yang ditemui Mariam di gubugnya di tepi sungai. Jasad ibunya yang tergantung di cabang pohonlah yang menanti. Duka lara dalam sendiri.

Kejadian itu, mau tidak mau telah memaksa Jalil untuk ‘sedikit’ bertanggung jawab atas nasib Mariam. Dibawanya anak malang itu ke rumahnya yang besar dengan tiga orang istri sahnya. Pandangan mencibir pun mesti Mariam terima. Sampai puncaknya sebuah pernikahan yang dipaksakan harus dijalaninya.

Adalah Rasheed, seorang duda yang ditinggal mati anak dan istrinya. Berselisih usia tiga puluh tahun dengan Mariam. Seorang yang selalu menguarkan bau rokok, kasar dan bukan penyayang. Meski, pernah pula masa indah dialami waktu Mariam mengandung anak Rasheed. Sayang, nasib sudah digariskan. Beberapa kali mengandung, beberapa kali pula keguguran dialami. Barangkali rahim Mariam terlampau lemah untuk persemaian janin benih dari Rasheed. Semenjak keguguran demi keguguran itu, maka peran Mariam tak lebih hanyalah seorang pembantu dan pemuas nafsu birahi pun amarah Rasheed. Tak jarang, sepulang Rasheed bekerja, diikuti dengan amarah yang meletup-letup hanya gara-gara makanan yang dimasak Mariam kurang asin. Bukan hal yang asing saat cambukan ikat pinggang Rasheed mendarat di tubuh Mariam.

Simaklah bagaimana Mariam menghadapi derita itu, seperti pada pasase berikut ini: Mariam berbaring di sofa, menjepit kedua tangannya di antara kedua lututnya, menyaksikan tarian salju di luar jendela. Dia teringat pada Nana, yang pernah mengatakan bahwa setiap kepingan salju adalah helaan napas seorang wanita terluka di suatu tempat di dunia ini. Setiap helaan napas itu terbang ke langit, berkumpul di awan, lalu dalam keheningan turun kembali dan menimpa orang-orang di bumi. Sebagai peringatan atas bagaimana wanita seperti kita menderita, kata Nana. Bagaimana kita menanggung semua beban dalam keheningan.

***

Laila di sisi yang lain adalah wanita yang memupuk berjuta harapan di dadanya. Dia dibesarkan di keluarga yang bahagia meski bayang-bayang kebesaran kakaknya tak lekang dari mata ibunya. Maka, bukan keluarga yang ideal memang, karena kematian kedua kakak laki-lakinya telah merenggut kewarasan ibunya. Meskipun demikian, kasih sayang ayahnya mampu membuka jalan Laila untuk belajar dan maju.

Harapan Laila akan kehidupan yang bahagia makin ditunjang oleh kedekatannya dengan Tariq, tetangga dan teman bermain yang kelak kemudian hari menjadi kekasihnya. Berciuman, sebuah hal yang sangat tabu di Afganistan pun pernah dua sejoli ini lakukan.

Laila besar dengan harapan. Dilengkapi dengan cita-cita besar ayahnya. Diiringi keinginan manis yang membayang penuh kebahagiaan bersama Tariq.

Sayang, negara tempatnya tumbuh bukanlah media yang bagus untuk menyemaikan harapan. Perang dan pergantian kepemimpinan yang terjadi berulang telah merenggut satu demi satu kebahagiaannya.

Tariq berpamitan padanya di sebuah siang yang lengas di tengah desingan peluru dan meriam. Dia berkata kedua orang tuanya tak mungkin lagi hidup dalam ketakutan dapat terbunuh dari hari ke hari. Sebuah perpisahan yang sudah bisa diduga itu pun tetap saja terasa menyakitkan. Maka, ketika dua insan yang dirundung kesedihan memadu kasih—walau dengan segudang perasaan takut yang bercampur dengan kebahagiaan dan kesedihan—bukanlah hal yang terlampau aneh. Tariq pergi dan Laila linglung sendiri.

Perang semakin hebat berkecamuk. Pun di rumah Laila manakala ibunya enggan meninggalkan rumah dan kenangannya akan kakak-kakak Laila. Sang ayah yang tak kenal putus asa sedikit demi sedikit berhasil pula membujuk ibu untuk mengungsi. Hari kepindahan pun ditentukan, sebuah hari yang nantinya juga berarti kepindahan kedua orang tua Laila dari alam dunia ke alam baka sebagai akibat hajaran meriam yang melanda rumah mereka.

Hal yang ajaib adalah Laila tetap hidup, meski luka melumuri sekujur tubuhnya. Datang rupanya sesosok malaikat penolong yang mengais tubuh Laila dari puing-puing reruntuhan. Dia adalah Rasheed.

Hutang budi, dan terutama janin—lagi-lagi haram, buah hubungannya dengan Tariq—yang mulai membuat perut Laila membesar memaksanya menerima pinangan Rasheed. Setengah alasan lain adalah agar ia tetap bisa hidup di tengah perang yang dimenangkan kaum yang sangat membatasi hak-hak perempuan.

***

Maaf, Ra, terlampau banyak kukira aku bercerita tentang buku yang sebaiknya kamu baca sendiri itu. Di sana, dalam setiap halamannya akan kamu temukan derita yang tak tertanggungkan berganti-ganti dengan kebahagiaan yang terpenggal-penggal.

Semua manusia kukira akan mengalaminya, bukan? Hanya, akankah manusia itu menempuh jalan sunyi Mariam atau melawan penderitaan itu seperti yang Laila lakukan?

Tak terlampau sukar menebak akhir buku itu. Yah, kematian memang merenggut Mariam saat dia membela satu-satunya sumber kebahagiaannya. Pembelaan yang terasa pantas untuk seseorang yang bersedia menerima Mariam tanpa syarat setelah semua penolakan di hampir sepanjang usianya.

Adapun Laila? Simaklah lagi kutipan berikut ini: Maka, Laila pun bertekad untuk terus maju. Demi dirinya sendiri, demi Tariq, demi anak-anaknya. Dan demi mimpi Mariam, yang masih mengunjungi Laila dalam mimpi, yang selalu bernapas di dalam kesadarannya. Laila terus maju. Karena, pada akhirnya, dia tahu bahwa hanya itulah yang bisa dia lakukan. Kemajuan dan harapan.

‘A Thousand Splendid Suns’ juga memberikan sebuah sajak dari Saib-e-Tabrizi berikut ini: “Siapa pun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar di atas atap, ataupun seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dinding.”

Aku kira, puisi itu mengamanatkan sebuah gerak; tindakan yang mesti diambil bila ingin merasakan kebahagiaan. Memang benar Mariam sepanjang usianya melewati penderitaan-penderitaan. Namun, bacalah bagaimana dia bahagia walaupun takut saat berhadapan dengan malaikat maut di hari di mana hukuman mati untuknya dijatuhkan. Jangan lupa pula saat Laila berjuang dengan bilur luka, dengan penyamaran yang tak selalu berhasil saat menyambangi anaknya yang terpisah darinya. Benar dia menderita, namun pertemuan-pertemuan singkat itu pun cukup untuk menyunggingkan senyum baginya, bukan?

Tentu kau pun masih ingat, Ara, manakala kita bersama membacai rumah putih tempat Mas Ia bercerita. Di mana kita temukan serangkum kata-kata begini bunyinya, “Jika hujan bisa lahir dari rahim kemarau, tawa pun pasti bisa terbit dari fajar airmata.” Bukankah menjadi benar sebuah lagu Peterpan yang berkata, “Tak ada yang abadi” itu?

Dan lagi-lagi sebuah sajak dari buku penuh cerita pengorbanan wanita itu barangkali layak pula dibaca dan direnungkan.

Yusuf ‘kan pulang ke Kanaan, jangan bersedih,

Gubuk ‘kan berganti taman mawar, jangan bersedih.

Jikalau banjir datang, semua yang hidup tenggelam,

Nuh ‘kan jadi pemandu dalam mata topan, jangan bersedih.

Selamat ulang tahun, Ara, jangan bersedih, ya. Meski air mata mungkin seperti fajar yang selalu datang esok hari, namun harapan akan terbitnya tawa masih boleh kita gantungkan, bukan? Oiya, sudahkah kamu mencoba saran Hannah Arendt seperti di awal tulisan ini? Jika belum, cobalah….