Memahami Arti

Bertadarus di masjid artinya bertemu dengan beragam orang yang berbeda-beda kemampuannya dalam membaca Al Quran. Ada yang seperti baru belajar, di lain sisi ada yang tampaknya sudah hapal di luar kepala isi Al Quran.

Di mesjid tempat saya mengikut tadarus ramadhan kali ini, ada seorang ustad yang menarik perhatian saya. Kebetulan saat tarawih tadi beliau menjadi imam. Bacaan surat pendek pasca membaca Al Fatihahnya sungguh membuat saya terperangah. Jelas sekali apa yang beliau baca bukan jenis bacaan surat pendek yang biasa dibaca, atau yang ada di juz amma, atau di juz 30 dari Al Quran.

Apa yang beliau baca adalah bagian lain dari Al Quran selain surat-surat pendek yang biasa dan lazim dibaca. Sayangnya saya tak sempat bertanya, surat apa dan juz berapa bacaan beliau tersebut.

Nah, kemudian tiba saatnya bertadarus. Ustad tadi tak membaca, beliau menjadi pihak yang menyimak dan memberikan koreksi manakala terjadi kekeliruan. Cara beliau pun unik. Beliau tak perlu membawa Al Quran, cukup duduk sambil merokok dan pada saat yang sama mengoreksi bacaan orang lain saat kekeliruan terjadi.

Dari situ saya menduga, beliau hapal Al Quran. Lebih lanjut, pada kesempatan lain, ketika bacaan sampai pada satu ayat tertentu yang menarik, beliau akan menjelaskan arti ayat yang sedang dibaca. Tak hanya itu, bagaimana latar sejarah terbitnya ayat tersebut juga disampaikan.

Kemudian saya bertanya-tanya, adakah beliau membuka kelas mengaji? Saya ingin sekali belajar padanya.

Gambari pinjam dari sini

Bertadarus di Masjid

Saya termasuk golongan orang yang terbiasa membaca Al Quran sendiri di rumah atau di mana saja, mengingat sekarang dalam ponsel saya pun ada aplikasinya. Kemudian hal yang berbeda saya rasakan manakala saya mencoba ikut bertadarus di masjid.

Di sana seseorang yang sedang membaca akan didampingi atau disimak oleh beberapa orang lagi. Pada tahap ini terjadi koreksi bacaan, pembetulan tajwid atau hal lainnya.

Saya baru sadar, rupanya saya masih banyak melakukan kekeliruan. Saya abai pada panjang pendeknya bacaan Quran. Syukurlah dalam proses bertadarus tersebut, Bapak-bapak di masjid berkenan untuk mengoreksi. Kini, saya tak lagi mengacuhkan tanda-tanda atau huruf yang menandai sebuah bacaan panjang atau pendek.

Hal lain yang menarik saat bertadarus di masjid. Terutama saat proses menyimak itu, seorang kakek tua, saya tak tahu nama beliau, bersemangat sekali mengikuti tadarus. Beliau kerap berada di urutan awal dalam membaca bergirliran. Adapun bagaimana bacaan beliau? Menurut saya pribadi tak lancar-lancar amat. Masih terdapat kesalahan di sana sini dan seringkali orang lain membetulkan bacaannya.

Kemudian hal aneh terjadi saat beliau sudah selesai membaca dan ganti kini menjadi penyimak. Dalam hal ini beliau sangat piawai. Matanya sungguh jeli menangkap kekeliruan bacaan orang lain. Kemudian dengan suara lantang beliau akan membetulkan bacaan tersebut.

Apabila saat membaca beliau beberapa kali, bahkan mungkin kerap melakukan kesalahan, saat itu beliau tak sadar dan orang lain yang mengingatkannya. Namun, saat orang lain membaca, beliau cepat sadar kalau terjadi kesalahan dan segera membetulkan.

Dari situ, barangkali hikmahnya adalah, kita tak selalu mengerti kesalahan kita sendiri, namun orang lainlah yang justru lebih paham.

Gambar pinjam dari sini

Menunggu Berbuka

Saya kira bukan proses berbuka puasa yang menggoda, namun kemampuan bersabar untuk menunggu sampai saat berbuka itu tiba yang benar-benar diuji.

Sejujurnya, saya termasuk penunggu waktu berbuka yang khusuk. Bunyi adzan itu saya tunggu-tunggu, tentu dengan kurang sabar. Dalam menunggu tersebut, sudah barangtentu banyak sekali godaannya, namun saya tetap kukuh bersabar. Habis, mau bagaimana lagi? Apa mau makan atau minum? Hehe

Temperatur orang yang hendak berbuka puasa tidaklah bersahabat. Maksudnya mereka cenderung menjadi mudah marah. Bukti paling sahih pernyataan di atas adalah apa yang terjadi pada diri saya sendiri. Maka, bila waktu berbuka puasa menjelang, harap jaga jarak sedikit dengan saya.

Anehnya, kenapa ya, segala sesuatu menjelang buka itu terasa kurang beres. Misalnya, sudah tahu adzan yang kita tunggu, tapi televisi malah getol menyiarkan iklan, mana durasinya panjang-panjang pula, ya kan?

Ada lagi ustad yang kerap nongol menjelang waktu berbuka. Eh, sudah gitu kasih ceramahnya panjang lebar tak tentu arah. Mana yang disampaikan itu lagi dan itu lagi. Saya berharap mbok ya ada inovasi gitu. Saat itu orang kan nunggu adzan, bukan nunggu si ustad. Udah, dong, adzan magribnya buruan, jagan ngoceh aja!

Tadi kan saya sudah bilang, temperatur orang nunggu buka kurang mudah diprediksi. Begitu pun kalau tulisan ini jadi agak kurang asyik atau terkesan emosi, ini lagi-lagi Cuma bukti pernyataan menyangkut orang menunggu buka itu.

Kapan adzannya, sih?

Gambar pinjam dari sini

Ramadhan Pertama Bersama Istri

Sekadar catatan Ramadhan kali ini yang juga pertama kali dilalui bersama istri. Apa saja yang beda?

Tak Jajan

Dulu saya selalu membeli makanan untuk buka puasa dan sahur. Akibatnya adalah: pengeluaran membengkak. Bagaimana tidak bila setiap bulan puasa atau sahur saya selalu memilih menu yang istimewa. Pertimbangan saya saat membeli makanan itu adalah: ah, kan sudah seharian ngga makan, apa salahnya kalau untuk buka nanti dengan menu makanan yang enak-enak?

Nah, masalahnya yang enak itu biasanya mahal, bukan? Inilah pasal penyebab pengeluaran saya membengkak tak terkendali.

Menyiapkan buka sendiri, kendati sudah bersama istri justu menjadi kebiasaan sehari-hari kini. Manakala hari kerja, istri saya bekerja dari jam 2 siang sampai pukul 9 malam. Dengan kondisi ini, jarang kami berbuka bersama kecuali saat akhir pekan saja. Dengan kondisi ini, tak asing bagi saya untuk menyiapkan buka sendiri.

Sekarang saya sudah bisa membuat sup buah sederhana yang hanya berisi melon, saya juga bisa menggoreng tempe atau tahu yang dikasih garam dan bawang. Selanjutnya, saya juga piawai membuat sambal bawang.

Oya, sebelum berangkat kerja, istri sudah memasak terlebih dahulu. Maka, saat tiba buka puasa, tugas saya hanyalah menghangatkan masakan itu lalu… saya pun makan sendiri.

Tarawih Bersama

Sudah diketahui sebelumnya, bukan, istri saya pulangnya baru jam 9 malam. Itu berarti baru tiba di rumah pukul 21.30. Ini juga berarti ia akan melewatkan sholat isya dan tarawih di masjid. Guna mengatasi hal ini-halah-maka jalan keluarnya adalah: saya menunggunya pulang dan nanti kami akan tarawih bersama.

Sekadar sholat tentu tak masalah. Tapi masalahnya ini adalah tarawih. Sementara tarawih terdiri dari banyak rakaat (minimal 8). Nah, menghadapi kondisi seperti ini, maka mau ngga mau saya harus kembali mengulang hapalan surat-surat pendek yang saya punya. Kenapa memangnya itu harus dilakukan? Ya, iya, masa mau mengulang surat yang sama berulang-ulang?

Hal lain yang terjadi, saya penasaran setengah mampus apa doa yang dibaca selepas tarawih di masjid-masjid. Untuk mengatasi perkara ini, saya bela-belain bertanya ke milis perihal doa itu.

Hasil akhirnya, sekarang saya kembali hapal beberapa surat pendek, setidaknya ada 11 surat dan tahu doa setelah tarawih. Sesuatu banget, kan, berkah ramadhan bersama istri itu? :D :D :D