Tentang Jawaban Menunggu

Menunggu itu, seperti sebentuk tanya tanpa jawab.
Dan jawaban, terkadang berupa berita yang berakhir dengan titik atau perintah yang ditutup dengan tanda seru. Ah, itu ternyata belum seberapa, karena satu ketika kamu akan bertemu dengan tanda tanya lagi, begitu berulang-ulang.
Namun, tahukah apa yang paling menyedihkan? Yaitu bila elipsis yang kamu jumpai, hanya bentukan sunyi yang harus […]

Menunggu itu, seperti sebentuk tanya tanpa jawab.

Ini ellipsis penanda menunggu
Ellipsis

Dan jawaban, terkadang berupa berita yang berakhir dengan titik atau perintah yang ditutup dengan tanda seru. Ah, itu ternyata belum seberapa, karena satu ketika kamu akan bertemu dengan tanda tanya lagi, begitu berulang-ulang.

Namun, tahukah apa yang paling menyedihkan? Yaitu bila elipsis yang kamu jumpai, hanya bentukan sunyi yang harus kamu isi sendiri.


 

Tips Menulis dari Sapardi

Writing_pen

Sapardi Djoko Damono selalu memikat banyak orang dengan karya-karyanya. Ia melahirkan puisi-puisi dengan bahasa sederhana tetapi magis. Satu tahun lalu, dalam Pesta Literasi Jakarta 2013, sastrawan ini membagikan langkah-langkahnya dalam menulis.

Dalam menulis, Sapardi menyarankan untuk jangan terlalu banyak berpikir. Jeda waktu terlalu panjang untuk berpikir sama saja dengan menunda menulis. Hal lain yang perlu dihindari adalah perasaan takut atau minder. Perasaan takut akan membawa kita pada hilangnya keinginan untuk menulis.

Sapardi tidak pernah menentukan akhir cerita ketika mulai menulis. Hal tersebut ditemukan ketika proses menulis berlangsung. Cerita akan mengalir dengan sendirinya. Sapardi menekankan, ketika menulis yang berkuasa adalah tulisan itu sendiri. Bukan si penulis.

Sastrawan ini juga tak selalu langsung menyelesaikan tulisannya dalam satu periode waktu tertentu. Ia memiliki banyak tulisan yang belum dilanjutkan, tetapi yakin suatu saat pasti menyelesaikannya. Jika bosan mendera, ia akan beralih ke tulisan yang lain kemudian masuk lagi ke tulisan sebelumnya sewaktu-waktu. Kemahiran menulis bukan semata-mata bakat, melainkan hasil latihan tekun dan terus menerus.

Galeria, Klasika, Kompas, 26 Mei 2014

Sumber gambar

But You Didn’t

Capture_Twit

Seorang wanita tak dikenal menemukan belahan jiwanya bertahun yang lalu. Ia kemudian menulis puisi yang menceritakan kebahagiaan kehidupan mereka berdua. Waktu berselang dan kemudian anak gadis wanita tadi menemukan puisi itu:

Ingatkah hari itu, ketika aku pinjam mobil barumu dan langsung membuatnya penyok?

Kukira kamu akan membunuhku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, saat aku memuntahkan pie strowberry di karpet barumu?

Kukira kamu akan membenciku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, ketika aku memaksamu ke pantai dan kemudian hujan turun sesuai prediksimu?

Kukira kamu akan berkata, “Nah, kan… apa kubilang?”

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, ketika aku menggoda banyak cowok untuk membuatmu cemburu?

Aha, kemudian kamu memang cemburu hebat.

Kukira kamu akan meninggalkanku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, saat kamu pakai jeans dan kaos karena aku lupa kasih tahu untuk pakai pakaian resmi di pesta dansa?

Kukira kamu akan acuhkan aku

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ya, banyak sekali yang tak kamu lakukan.

Tapi, kamu ada untukku, mencintaiku, melindungiku.

Kemudian, ada banyak hal yang ingin kulakukan untukmu saat kamu kembali dari Vietnam.

Tapi, kamu tak melakukannya.

===

Penulis dari puisi tersebut adalah wanita Amerika yang suaminya bergabung dengan tentara dan pergi ke medan perang di Vietnam ketika anak mereka berusia empat tahun.

Semenjak saat itu, wanita tadi hanya memiliki putrinya.

Di medan perang, suaminya meninggal. Wanita itu pun menjanda dan kemudian meninggal di usia lanjut.

Ketika putrinya merapikan barang-barang peninggalan wanita itu, ia menemukan puisi dari ibu untuk ayahnya itu yang berjudul ‘But You Didn’t’

Diterjemahkan dari sini:

http:/listarama.com/one-knew-love-poem-till-died-turned-something-will-never-forget/

Kartini dan Puisi

Orang dengan perasaan halus, dengan perabaan tajam dan daya cipta besar tidak boleh tidak pastilah seniman/seniwati, tak peduli di bidang apapun. Dan tiada ayal lagi, Kartini adalah seniwati—dan di berbagai bidang pula. Katanya:

Pikiran adalah puisi, pelaksanaannya seni! Tapi mana bisa ada seni tanpa puisi? Segala yang baik, yang luhur, yang keramat, pendeknya segala yang indah di dalam hidup ini, adalah puisi! (Surat, 2 April 19…)

Panggil Aku Kartni Saja, halaman 179