Bagaimana kita memahami sekitar?

thinking_in_the_right_frame_of_mind_by_scramblesthedarklord-d5ra85v

Manusia memiliki kemampuan untuk mengenali sekitarnya melalui indera yang ada pada dirinya.

Apakah alam sekitar atau fakta yang kita dengar dan baca itu benar-benar perwakilan dari kenyataan sesungguhnya di alam nyata?

Sebenarnya manusia membuat dunia lain yang baru di dalam kepalanya, sebuah dunia khayalan dan terpisah dari lingkungan sekitarnya. Sebuah dunia yang tidak lengkap dan hanya sepotong-sepotong.

Manusia menggunakan bingkai untuk melihat lingkungan. Bingkai itu digunakan untuk memilih berbagai kenyataan dari alam nyata yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut, kepercayaan, atau memori. Semua hal ini berasal dari pengalaman manusia tersebut selama hidupnya. Keseluruhan proses ini dinamakan mental models.

Dalam bidang apa saja, maka bingkai ini menjadi penting saat Anda berbicara dengan orang lain. Sebab, berdasarkan bingkai ini, maka Anda bisa mengajak atau memengaruhi orang lain.

Seseorang dapat saja melakukan hal yang buruk dan tanpa menyadari keburukan yang dilakukannya itu. Hal ini terjadi karena hal yang sejatinya buruk tersebut dibingkai dengan kemasan yang bagus. Misalnya saja, Anda telah berperan penting bagi sekolah bila berhasil memenangkan sebuah perlombaan bagaimana pun caranya. Tujuan untuk nama baik sekolah ini bila tidak berhati-hati bisa berujung pada menghalalkan segala cara termasuk yang ilegal sekalipun untuk memenangkan satu perlombaan.

Kejadian di atas hanyalah contoh kecil dari berbagai hal besar yang terjadi di dunia dan disebabkan oleh pembentukan bingkai dan dunia khayalan di kepala manusia yang sejatinya tak lengkap.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana agar kita memahami dunia dan seisinya ini dengan utuh? Bagaimana agar kita tidak terjebak kepada satu bingkai yang ujungnya justru merugikan diri kita, orang lain, dan lingkungan sekitar?

Credit picture from here: http://scramblesthedarklord.deviantart.com/art/Thinking-in-the-right-frame-of-mind-348157651

Apa kehebatan atau kelemahan imajinasi?

Selain akal, satu hal yang istimewa dimiliki oleh manusia adalah imajinasi. Dengannya, manusia bisa mengambil berbagai manfaat dari lingkungan di sekitarnya, namun pada saat yang lain, manusia juga bisa jadi merugikan lingkungannya.

Binatang memahami realitas sekitar secara obyektif. Manusia di sisi lain memahami lingkungannya dengan pemahaman obyektif dan fiksi sekaligus. Kemampuan tersebut membuat manusia bisa bekerja sama, mengenali bahaya, merencanakan tindakan, dan lain-lain.

Banyak hal yang dikenal manusia saat ini adalah hasil dari imajinasi, termasuk blog yang sedang Anda baca ini. Saat binatang hanya melihat dunia sebagai satu kenyataan dan kemudian cerita berakhir, manusia juga melihat dunia sebagai satu hal yang nyata dan kemudian membuat cerita baru darinya.

Di antara beberapa hal berikut ini, manakah yang nyata dan mana yang hanya ada dalam imajinasi manusia saja?

  • Batas Negara
  • Politik
  • Perusahaan
  • Hak asasi
  • Agama, Tuhan, Surga, dan Neraka

Apakah Anda bisa menemukan garis batas negara, provinsi, dan kabupaten? Seperti apa wujud politik itu sebenarnya? Kenapa kita harus percaya pada perusahaan apakah dia benar-benar nyata atau kesepakatan kita semata?

Seperti apa agama itu? Bagaimana wujud Tuhan, Surga, dan Neraka?

Oh, satu lagi? Apakah uang itu nyata atau sekadar selembar kertas dengan gambar, warna, dang angka belaka?

Kenapa bila semua itu hanya ada dalam imajinasi kita, namun dampaknya begitu terasa?

Imajinasi manusia begitu memengaruhi tindakan seseorang, baik itu positif atau negatif, namun semuanya buah dari imajinasi. Imajinasi juga mewujud dalam bentuk koordinasi atau kerja sama antar manusia yang tidak bisa disaingi oleh makhluk apa pun di dunia. Hati-hati dalam berimajinasi karena seperti semua hal yang dilakukan manusia, dia bisa bermanfaat atau bisa juga merugikan.

Simak selengkapnya bagaimana imajinasi berperan dalam evolusi manusia dalam video berikut ini:

Bagaimana caranya agar orang lain paham?

96265234-680A-4D2E-8666-2326958E83F4

Dalam berkomunikasi, seringkali kita kesulitan memberikan pemahaman kepada orang lain. Misalnya saja saat kita membicarakan sebuah pohon A, orang lain menerima informasi tersebut   sebagai pohon B.

Terkadang, situasi tersebut benar-benar menyebalkan, bukan?

Guna memberikan pemahaman kepada orang lain, ada baiknya kita mengetahui bagaimana diri kita mengubah satu informasi mulai dari menerima informsi tersebut hingga menyampaikannya.

Pada awalnya adalah dunia di luar kita dan berbagai kejadian yang terjadi di sana. Menggunakan indera, terutama penglihatan dan digabung dengan berbagai indera lain kita menerima informasi awal dari luar tersebut.

Diam-diam, dari informasi itu kemudian otak atau diri kita melakukan penyaringan (filter). Akan disaring informasi tersebut menjadi diterima, dikelompok-kelompokkan atau dibuang. Semua ini dilakukan dengan berdasarkan pada nilai-nilai, pengalaman, kepercayaan, ingatan, dan berbagai hal lain yang sudah kita miliki sebelumnya.

Satu informasi yang lolos dari penyaringan ini akan diolah lagi menjadi pemahaman internal dan menjadi satu pernyataan. Perlahan-lahan, informasi tersebut akan terus mengendap dan menjadi satu sikap atau perilaku.

Dengan melihat proses tersebut di atas, maka sangat penting untuk menyampaikan satu hal sesuai dengan pemahaman lawan bicara kita. Agar apa yang kita sampaikan itu cocok dan sesuai dengan pemahaman yang sudah terlebih dahulu ada pada diri lawan bicara.

Memahami semua proses ini sangat penting apabila Anda adalah seorang pembicara, pengajar, penulis atau apa pun yang sering harus berada dalam situasi untuk berbagi ide dengan orang lain.

Bukan hanya itu, dengan memahami proses ini diharapkan Anda akan bersabar manakala menemui orang yang sangat sulit diberi pemahaman. Barangkali bukan informasi yang Anda sampaikan keliru, namun karena nilai-nilai yang ada dalam diri orang itu tidak sesuai dengan informasi baru tersebut dan kemudian ia akan mencoba untuk menyaring, bahkan menolaknya.

Pada akhirnya komunikasi rasa-rasanya adalah proses yang tidak mudah dan perlu kesabaran.

Selamat berkomunikasi dan jangan lupa untuk bersabar ya. Hehe

Sumber gambar dari sini

Bagaimana Pikiran (Seharusnya) Bekerja?

Parachute movement

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah: mestinya pikiran bekerja seperti parasut.

Parasut itu dalam bekerja mesti terbuka. Jika dia gagal terbuka, maka penggunanya akan jatuh bebas ke bumi.

Pun demikian halnya dengan pikiran, harus bisa menangkap berbagai anasir baik yang cocok atau pun yang tidak sesuai.

Jalan terbaik yang bisa dilakukan agar pikiran terbuka adalah dengan tidak pilih-pilih. Artinya tidak memilih segala sesuatu hanya yang sesuai dengan pikiran kita. Misalnya berita-berita yang sesuai dengan kita, paham-paham yang sesuai dengan kita, gaya yang sesuai dengan kita, suku yang sesuai dengan kita, bahasa yang sama dengan kita dan lain-lain.

Cara termudah untuk membuka pikiran adalah dengan membaca, mendengar, melihat dan merasakan berbagai hal yang selama ini tidak pernah kita rasakan. Contoh paling gampang adalah dengan mulai membaca media yang selama ini tidak pernah kita baca. Semakin kontroversial dan semakin bertentangan dengan kita semakin bagus.

Dengan begitu, diharapkan Anda akan memiliki pemahaman yang utuh baik itu yang sesuai dengan pemahaman kita atau pun yang berseberangan. Dengan begitu, diharapkan Anda akan sedikit bersabar agar tidak reaktif, agar mencerna segala informasi, agar tidak buru-buru emosi,  agar pada ujungnya menjadi pribadi yang lebih arif.

Bila Anda khawatir dengan membaca, mendengar, melihat dan merasakan berbagai hal yang berbeda, maka sebaiknya Anda tidak terjun karena Anda barangkali belum tahu bagaimana menggunakan parasut sehingga sebaiknya jangan sekali-kali mengambil risiko.

Selamar beraktivitas semoga parasut Anda terbuka lebar dan terjun Anda menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan.

Salam

Sumber gambar dari sini