Pesawat Parkir

Syukurlah, akhirnya pesawatku pun mendarat dengan sempurna kendati kondisi cuaca mengkhawatirkan. Kucoba bersabar tetap duduk di kursiku yang di pinggir dekat dengan jendela. Sabuk pengaman pun masih tetap kukenakan, seperti instruksi dari awak pesawat.

Kulihat penumpang lain sudah tak sabar. Biarpun pesawat belum berhenti, mereka sudah melepaskan sabuknya, bahkan sudah ada yang berdiri dan mengambil tas di kabin. Diam-diam aku menertawakan ketidakpatuhan mereka ini, antara lucu dan miris. Continue reading

Mudik dan Pilihan Moda Transportasi

Menurut Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komarudin Hidayat, sifat manusia termasuk ke dalam homo festivus,  suka berfestival. Dalam festival tersebut terdapat tiga misi. Pertama, mengenang budaya dan tradisi lama. Kedua, mengenalkan tradisi (lama) kepada generasi baru. Ketiga, memperhadapkan tradisi lama pada situasi hari esok berupa penguatan budaya.

Mudik termasuk ke dalam acara festival, yang dalam mudik ada upaya mengenalkan tradisi lama kepada anak-anak oleh orangtua, keinginan mengenang masa lalu, dan mengembangkan nilai tradisi. Tidak hanya itu Continue reading

Di Tengah Laju Kereta Ekonomi Progo

Syukur yang hadir tak terduga-duga….

Banyak moda yang bisa saya pilih untuk perjalanan bolak-balik saya dari Jakarta ke kampung halaman. Sebut saja kereta api, bus dan pesawat terbang.

Kereta akhirnya menjadi pilihan karena berbagai pertimbangan. Pertama-tama menyangkut harga tiketnya. Apabila dibandingkan dengan pesawat terbang, tentu saja fluktuasi harga tiket kereta paling logis bagi saya yang penghasilannya pas-pasan begini. Belum lagi bila mengingat frekuensi pulang kampung saya yang relatif sering, tentu akan sangat tak bijak bila saya memaksakan diri menggunakan pesawat terbang.

Sejatinya, antara kereta api dan bus tak jauh berbeda harga tiketnya. Lebih lagi mengingat dengan bus saya bisa turun dekat dengan rumah. Namun, menggunakan bus berarti juga mengkorupsi waktu sejenak. Pasalnya ialah, keberangkatan bus yang lebih awal dari kereta dan pada saat masih berada di jam kantor tak memungkinkan saya untuk mengejarnya.berjejal ada yang bisa tidur

Sawunggalih, akhirnya menjadi pilihan utama saya. Kelas bisnis menjadi pertimbangan perjalanan yang relatif nyaman. Belum lagi mengingat harga tiketnya yang terjangkau dan mendukung keberlangsungan kondisi keuangan saya, maka kloplah apabila kereta ini yang saya pilih.

Mula-mula tidak ada masalah menggunakan Sawunggalih dua kali sebulan. Namun di sisi lain, kebutuhan untuk pulang tiap minggu sekali karena satu dan lain urusan harus mengubah keputusan itu. Lagi-lagi soal biaya yang menjadi alasannya. Akhirnya, saya pun harus berdamai dengan diri saya sendiri, mengorbankan kenyamanan dan memilik kereta yang lebih murah.

Lantas apa pilihan saya? Tentu saja kereta kelas ekonomi menjadi jawaban kebutuhan saya tersebut. Progo atau Bengawan adalah kereta ekonomi yang bisa saya pilih untuk mengantar saya kembali ke rumah. Fakta lain yang mendorong memilih kedua kereta tersebut ialah, banyak teman saya yang setiap minggu sudah terlebih dahulu menggunakannnya. Akhirnya, jadilah saya memilih Progo bersama dengan teman-teman saya. Kami berombongan memesan tiket dan naik kereta tersebut. Continue reading