Tag Archives: pesan

Pesan Bapak: Usaha Mencapai Kesuksesan

Share in top social networks, email, translate, and more!

bunga_padma

Hari-hari ini, kita disuguhi aneka berita yang kurang sedap dipandang mata pun tak enak didengar telinga. Mendadak ada orang yang begitu ingin menjadi presiden, ada bupati yang ditangkap, seorang ustad menjadi tersangka, banyak anak yang dilecehkan oleh orang yang lebih tua.

Kenapa semua hal itu terjadi?

Mungkin banyak sekali alasannya, namun barangkali karena pamrih. Pamrih pada kekayaan, kekuasaan, , jabatan, hasrat seksual. Pamrih itu telah memerangkap manusia ke dalam pusaran keinginan yang barangkali bermuara pada penjara yang sebenarnya.

Di ujung sana, di belahan dunia yang lain, pada masa-masa yang lebih awal, nenek moyang telah mengajarkan sebuah kebijaksanaan yang tak lekang oleh waktu. Ujaran itu berbunyi ‘sepi ing pamrih, rame ing gawe’.

Arti mudah dari ungkapan itu adalah: bekerja sebaik-baiknyanya tanpa mengharapkan pamrih/imbalan.

Berikut ini penjabaran dari ‘Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe’

Sepi ing Pamrih

Pamrih adalah usaha yang dilakukan untuk memenuhi kepentingan-kepentingan pribadi. Akibatnya muncullah sifat egois, sombong, rakus, dan lainnya. Ujung dari sifat ini dalam konteks kehidupan bernegara, bahkan bisa mengancam persatuan bangsa. Strategi dari pemenuhan pamrih sebanyak-banyaknya adalah menghalalkan segala macam cara.

Pamrih ini meliputi harta, jabatan, kekuasaan, wanita, dan lainnya.

Sepi ing Pamrih berarti menghindari upaya-upaya yang mengutamakan kepentingan pribadi. Menghindari imbalan kecuali dari pahala dan berkat Tuhan.

Rame ing Gawe

Arti dari rame ing gawe adalah melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya. Bekerja dengan hati untuk mencapai hasil maksimal dan tidak sibuk mengurusi kekurangan atau kelemahan hasil kerja orang lain.

Memayu Hayuning Bawono

Dalam bahasa agama islam, maka ungkapan ini lebih dikenal dengan rahmatan lil alamin, memberi rahmat kepada seluruh alam. Pelaksanaan dari pesan ini adalah berbuat baik terhadap sesama, lingkungan, dan makhluk lain.

Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe dalam berbagai agama *)

Dalam Bhagavad Gita disampaikan: “Tindakan-tindakan persembahan, pengabdian dan pelayanan tanpa pamrih, tidak dilepaskan oleh para bijak, karena tindakan-tindakan demikian membantu pembersihan jiwa. Namun, tindakan-tindakan semacam itu pun harus dilakukan tanpa pamrih dan keterikatan pada hasilnya.” (Bhagavad Gita 18:5/6)

“Bagaikan daun bunga teratai yang berada di atas air dan tidak dapat dibasahi oleh air, begitu pula ia yang berkarya tanpa keterikatan dan menganggapnya sebagai persembahan, hidup tanpa noda dan tidak tercemar oleh dunia ini. Ia yang bijak melepaskan segala macam keterikatan dan bekerja dengan raga, pikiran, intelek serta panca inderanya, hanya untuk membersihkan dirinya.” (Bhagavad Gita 5:10/11)

Dalam Al Qur’an Surat Al-Araaf ayat 113, disampaikan……… “Tukang-tukang sihir itu datanglah menghadap Firaun, seraya sembahnya: Adakah kami akan menerima upah jika kami menang?”

Disebutkan dalam Alkitab Matius 10:8: “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah (bersihkanlah) orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma”…………

Dalam Kitab Tao Teh Ching digambarkan sifat ketidakpamrihan atau ketidakterikatan seperti air…….. “Yang keras, yang kukuh, sangat terbatas gerakannya. Kekukuhannya, kekerasannya sendiri menjadi penghalang utama bagi gerak-geriknya. Namun yang cair, yang seperti air, dapat mengalir ke mana-mana”………..

======

Siapa itu para bijak, bunga teratai, tukang sihir, yang seperti air?

*) Sumber Tulisan Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe dalam berbagai agama: Blog Mas Triwidodo

Sumber gambar dari sini