Tag Archives: pesan

Pesan Bapak: Usaha Mencapai Kesuksesan

bunga_padma

Hari-hari ini, kita disuguhi aneka berita yang kurang sedap dipandang mata pun tak enak didengar telinga. Mendadak ada orang yang begitu ingin menjadi presiden, ada bupati yang ditangkap, seorang ustad menjadi tersangka, banyak anak yang dilecehkan oleh orang yang lebih tua.

Kenapa semua hal itu terjadi?

Mungkin banyak sekali alasannya, namun barangkali karena pamrih. Pamrih pada kekayaan, kekuasaan, , jabatan, hasrat seksual. Pamrih itu telah memerangkap manusia ke dalam pusaran keinginan yang barangkali bermuara pada penjara yang sebenarnya.

Di ujung sana, di belahan dunia yang lain, pada masa-masa yang lebih awal, nenek moyang telah mengajarkan sebuah kebijaksanaan yang tak lekang oleh waktu. Ujaran itu berbunyi ‘sepi ing pamrih, rame ing gawe’.

Arti mudah dari ungkapan itu adalah: bekerja sebaik-baiknyanya tanpa mengharapkan pamrih/imbalan.

Berikut ini penjabaran dari ‘Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe’

Sepi ing Pamrih

Pamrih adalah usaha yang dilakukan untuk memenuhi kepentingan-kepentingan pribadi. Akibatnya muncullah sifat egois, sombong, rakus, dan lainnya. Ujung dari sifat ini dalam konteks kehidupan bernegara, bahkan bisa mengancam persatuan bangsa. Strategi dari pemenuhan pamrih sebanyak-banyaknya adalah menghalalkan segala macam cara.

Pamrih ini meliputi harta, jabatan, kekuasaan, wanita, dan lainnya.

Sepi ing Pamrih berarti menghindari upaya-upaya yang mengutamakan kepentingan pribadi. Menghindari imbalan kecuali dari pahala dan berkat Tuhan.

Rame ing Gawe

Arti dari rame ing gawe adalah melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya. Bekerja dengan hati untuk mencapai hasil maksimal dan tidak sibuk mengurusi kekurangan atau kelemahan hasil kerja orang lain.

Memayu Hayuning Bawono

Dalam bahasa agama islam, maka ungkapan ini lebih dikenal dengan rahmatan lil alamin, memberi rahmat kepada seluruh alam. Pelaksanaan dari pesan ini adalah berbuat baik terhadap sesama, lingkungan, dan makhluk lain.

Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe dalam berbagai agama *)

Dalam Bhagavad Gita disampaikan: “Tindakan-tindakan persembahan, pengabdian dan pelayanan tanpa pamrih, tidak dilepaskan oleh para bijak, karena tindakan-tindakan demikian membantu pembersihan jiwa. Namun, tindakan-tindakan semacam itu pun harus dilakukan tanpa pamrih dan keterikatan pada hasilnya.” (Bhagavad Gita 18:5/6)

“Bagaikan daun bunga teratai yang berada di atas air dan tidak dapat dibasahi oleh air, begitu pula ia yang berkarya tanpa keterikatan dan menganggapnya sebagai persembahan, hidup tanpa noda dan tidak tercemar oleh dunia ini. Ia yang bijak melepaskan segala macam keterikatan dan bekerja dengan raga, pikiran, intelek serta panca inderanya, hanya untuk membersihkan dirinya.” (Bhagavad Gita 5:10/11)

Dalam Al Qur’an Surat Al-Araaf ayat 113, disampaikan……… “Tukang-tukang sihir itu datanglah menghadap Firaun, seraya sembahnya: Adakah kami akan menerima upah jika kami menang?”

Disebutkan dalam Alkitab Matius 10:8: “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah (bersihkanlah) orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma”…………

Dalam Kitab Tao Teh Ching digambarkan sifat ketidakpamrihan atau ketidakterikatan seperti air…….. “Yang keras, yang kukuh, sangat terbatas gerakannya. Kekukuhannya, kekerasannya sendiri menjadi penghalang utama bagi gerak-geriknya. Namun yang cair, yang seperti air, dapat mengalir ke mana-mana”………..

======

Siapa itu para bijak, bunga teratai, tukang sihir, yang seperti air?

*) Sumber Tulisan Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe dalam berbagai agama: Blog Mas Triwidodo

Sumber gambar dari sini

Nasihat Bapak 2

Manakala saya pulang ke rumah dan bertemu keluarga tentu banyak hal yang diperbincangkan. Terkadang, pembicaraan melantur ke mana-mana, diselingi tawa, cibiran, dan sendau gurau. Menemani obrolan itu, teh hangat khas yang khusus dan hanya bisa ditemukan di rumah menemani. Tak ketinggalan cemilan seadanya turut menggoyang lidah. Seru sekali biasanya obrolan berlangsung.

Seperti kemarin saat saya pulang karena istri mau memotong kambing qurban di kampung. Seperti biasa, perbincangan pun tergelar. Dimulai dari update informasi, yaitu mengabsen tetangga di kampung yang meninggal akhir-akhir ini. Barangkali aneh, tapi buat saya itu penting. Dengan pengetahuan itu, nanti saat lebaran, saya tak akan salah bicara saat sowan ke tetangga. Misalnya, saya masuk ke rumah orang, terus ketemu sama nyonya rumah, bisa-bisa saya menanyakan di mana tuan rumah berada. Apabila si tuan sudah meninggal dunia, tentu suasana yang tercipta akan terasa aneh, bukan?

Berdasarkan informasi kemarin, saya jadi tahu, bahwa Pak A meninggal dunia di Arab saat baru 10 hari menginjakkan kaki di sana untuk menunaikan ibadah haji. Pembicaraan pun berkembang membahas cerita-cerita yang dialami oleh jamaah haji di tanah suci sana.

Topik ganti lagi, sekarang mengenai stres yang berujung pada sakit. Oh, iya, jadi rupanya sakit itu ada dua macam. Satu, sakit memang karena penyakit, misalnya ya batuk pilek karena mimik es pas siang-siang atau kehujanan. Kedua, sakit karena stres. Ini aneh, biasanya ditandai dengan mumet alias pening yang tak kunjung sembuh biarpun sudah minum aneka macam obat.

pusinggggggg!

Jenis penyakit yang kedua itu, kalau menurut analisis Bapak yang terkadang sok tahu, tapi mungkin juga ada benarnya, disebabkan karena pikiran si sakit itu sendiri. Nah, guna mengatasi penyakit semacam itu, beliau memberikan nasihat, bahwa dalam menjalani kehidupan ini, seseorang hendaknya bisa melakukan tiga hal berikut ini:

Wening ing cipta

Bahasa inggris untuk wening ing cipta adalah positive thinking alias berprasangka baik. Kata beliau, dengan berprasangka baik, maka pikiran akan jauh lebih tenang. Tak risau pada apa yang akan terjadi, tak curiga, tak berandai-andai. Selalu berharaplah yang terbaik akan terjadi dan biasanya memang itu yang terjadi.

Sumeleh ing rasa

Arti bebas dari sumeleh ing rasa itu kurang lebih ya bersyukur. Bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini. Bagaimana caranya? Kata Bapak cara termudah untuk bersyukur adalah beribadah dengan sebaik-baiknya, berbagi dengan orang lain yang membutuhkan, yah, semacam itulah.

Pener ing pakarti

Hal terakhir, yakni pener ing pakarti artinya bekerja yang baik. Pada poin ini, Bapak mencontohkan kasus Pak Akil. Bermain-main, tak sungguh-sungguh, menyerempet bahaya, melanggar peraturan, mestinya jangan sekali-kali dilakukan atau kau akan tahu akibatnya.

Demikianlah, barangkali ada di antara kawan-kawan yang sering pusing tak kunjung sembuh, cobalah melakukan tiga hal di atas. Semoga sakit kepalamu itu akan hilang dan bahagia hidupmu. Amin….

Baca juga Nasihat Bapak sebelumnya di sini

Gambar meminjam dari sini

Membaca-Mencatat

Satu kesempatan yang jarang terjadi saat saya dan Bapak bisa bercakap-cakap berdua. Lebaran kemarin, sudah lama memang, haha, barulah kesempatan itu tiba.

Maka, bila saya dan Bapak berbincang, ada saja peluang bagi beliau untuk menyusupkan petuah bijak bagi putranya ini. :D

Cara beliau menyampaikan nasihat, terkadang suka membuat saya tak sadar kalau ia sedang menasihati. Pesan itu, kadang seperti membuka dirinya sendiri tanpa diminta.

Kurang lebihnya begini pembicaraan kami berdua berlangsung.

“Mas, ingat ngga apa firman Tuhan yang pertama diterima oleh Nabi?”

“Soal membaca, kan, Pak?”

“Ya, benar sekali. Setiap saat, bukankah kita selalu membaca? Pada apa saja, di mana saja.”

“Nggih, Pak,” sambil saya manggut-manggut.

“Setiap saat kita pun membaca orang-orang, teman kerja, sesama penumpang bus, pengendara sepeda motor atau mobil di jalan, dan lain-lain, bukan?”

Saya diam saja, Cuma menganggukkan kepala, membenarkan.

“Setelah membaca, lantas kita mencatat. Menjadikan bahan bacaan itu menjadi modal kita dalam bergaul.”

Saya masih diam, lagi-lagi hanya mengangguk saja. Tapi dalam hati, saya membatin, “Masa iya, sih, begitu?”

“Masalah baru muncul, Mas, kalau kita mengungkapkan catatan kita itu pada pribadi yang kita baca. Bila yang kita ungkapkan catatan yang baik, maka tentu akan senang orang itu. Di sisi lain, bila yang diungkapkan itu adalah keburukan, bisa jadi orang itu akan marah. Tak semua orang suka diungkapkan keburukannya oleh orang lain.”

Saya bingung, yang saya ingat hanyalah terbukanya mulut saya perlahan-lahan seperti hendak berbicara, namun kemudian, tak lama, mulut saya itu pun tertutup kembali.