Ketidaknyamanan, Guru, dan Pemimpin

‘Keluar dari zona nyaman bisa menjadi guru yang terbaik’.

Pada kondisi demikian, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi pada Anda. Kemungkinan pertama adalah Anda menjadi seseorang yang lebih baik. Kedua, Anda menyerah dan kemudian berhenti.

Manakala memilih sesuatu yang tidak nyaman dan menikmati tantangannya, maka Anda akan lebih mudah merasakan bahagia.

Seringkali kita ingin belajar dari yang terbaik di antara yang paling baik.. Namun, saat kita belajar dari yang bukan terbaik itu, maka ada akselerasi. 

Begitu juga dalam pekerjaan. Bisa jadi Anda berkesempatan untuk bekerja bersama pemimpin yang tidak diharapkan. Dalam kondisi tersebut, Anda tidak bisa memilih dan hanya bisa menganggapnya sebagai kesempatan.

Belajar kepada seseorang yang tidak peduli, pemarah, atau tidak kompeten adalah kesempatan untuk berlatih kepemimpinan yang paling baik di dunia. 

Anda dapat menggunakannya sebagai cermin, setiap kelemahan yang Anda lihat dicatat dan diperbaiki jika suatu saat nanti itu terjadi pada Anda sendiri. Manakala setiap ketidaknyamanan yang ditemui dalam hidup menjadi guru, maka Anda akan meraih kebahagiaan.

Apa pelajaran dari Ragnar Lothbrok?

Kita bisa belajar kepemimpinan, petualangan, dan mengelola konflik dari film seri Vikings. Sang tokoh utama, Ragnar Lothbrok menyajikan semua itu dalam satu paket yang komplit. Pemirsa hanya perlu mengupasnya sedikit demi sedikit.

Pemimpin adalah orang yang hadir manakala dibutuhkan. Ragnar sejatinya tidak berambisi untuk memimpin, namun kesempatan datang untuknya dan tanpa sungkan-sungkan diambillah kesempatan itu.

dc83384203935300fd45c551f01cc5fd

Perubahan Kepemimpinan

Sebagai seorang petani, Ragnar, muncul ke permukaan dengan mula-mula menjadi Earl. Earl Haraldson adalah yang pertama ditumbangkannya. Dia memiliki armada untuk melakukan perjalanan di laut, namun hanya ke arah timur Kategat, kampung Ragnar. “Kenapa kita tidak mencoba ke barat?” Tanya Ragnar suatu ketika. Earl Haraldson pun tidak setuju dengan ide dan petualangan baru itu. Namun, Ragnar tidak patah semangat, dibuatnya kapal sendiri dan dengan pengetahuan navigasi laut, dia pun memberanikan diri menuju ke barat. Singkat cerita, dirinya sampai ke biara di Lindisfarne, menguasai biara itu dan membawa barang rampasan serta tawanan. Sadar diri, sepulangnya dari petualangan pertama itu diserahkan semua harta rampasan kepada Earl Haraldson. Kendati sudah menunjukkan itikad baik, tetap saja Earl Haraldson tidak menyukai sepak terjang Ragnar dan menganggapnya sebagai ancaman. Diserbulah kampung Ragnar dan banyak korban yang jatuh, keluarga Ragnar pun harus mengungsi dan Ragnar sendiri mengalami luka terkena anak panah. Tidak terima dengan perlakuan itu, Ragnar menantang Earl Haraldson untuk duel dan dengan gemilang kemenangan pun digenggam. Ragnar menjadi seorang Earl.

Setelah menjadi Earl, kesempatan pun datang bagi Ragnar untuk menjadi Raja. Lagi-lagi ia tak mengharapkan kedudukan itu, namun berbagai kondisi menyebabkan dirinya harus memegang kekuasaan tersebut. Adalah King Horik dari Denmark yang ditumbangkannya. Mula-mula dia adalah seorang raja yang mendukung petualangan Ragnar ke barat. Namun, lambat laun hubungan mereka pun merenggang seiring dengan capaian-capaian dan nama besar yang diperoleh oleh Ragnar. Raja Horik merasa Ragnar menjadi saingannya, dan tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Diam-diam dia merencanakan sebuah aksi untuk menghukum dan membunuh Ragnar. Beruntung Floki, sahabat kepercayaan Ragnar bisa membuka rencana jahat itu dan justru membunuh Raja Horik. Dengan kematian Sang Raja, maka Ragnar pun naik jabatan dari Earl menjadi seorang Raja.

Petualangan Ragnar

tumblr_nk3edoXWaW1u3wveao1_1280

Ragnar memimpin kaumnya untuk melakukan petualangan ke barat, wilayah yang gelap bagi sebagian besar kaum Viking. Dia didukung oleh istrinya, Lagertha, saudaranya, Rollo, dan sahabat serta sang pembuat perahu, Floki, mewujudkan mimpinya untuk perjalanan ke barat. Selain sarana transportasi, yaitu kapal, Ragnar juga memiliki pengetahuan navigasi untuk mengarungi samudera luas. Pengetahuan inilah yang membuatnya berbeda dengan masyarakat Viking lain. Bisa dikatakan, pengetahuan navigasi itu adalah senjata rahasia Ragnar untuk melakukan petualangan ke barat.

Mula-mula Ragnar hanya membawa satu perahu penuh dengan pejuang Viking yang kebanyakan adalah teman-temannya untuk menjarah biara Lindisfarne di wilayah negara Northumbria. DI sini, dia berhasil mengumpulkan harta rampasan dan juga menawan beberapa pendeta. Dari seorang pendeta, Athlestan, berhasil dikorek keterangan mengenai kekayaan ibukota Northumbria yang jauh lebih banyak daripada harta yang dimiliki biara. Ragnar pun bersemangat untuk merebut ibukota Northumbria tersebut. Selang beberapa waktu, benar-benar dilakukan niatan Ragnar ke Northumbria, di sana King Aelle berhasil ditundukkan dan bersedia untuk memberikan harta kepada Ragnar asalkan rakyat dan ibukotanya tidak dirusak.

Berita keberhasilan petualangan Ragnar pun mulai menyebar ke seantero Bangsa Viking. Beberapa Earl dan King Horik pun terpincut hatinya untuk ikut berpetualang. Kini, Ragnar memimpin armada yang jauh lebih besar ke barat. Sasaran pun berpindah bukan lagi ke Kerajaan Northumbria, tetapi ke Wessex. King Ecbert, raja Wessex, rupanya jauh lebih pintar dari King Aelle raja Northumbria. Diajaklah Ragnar untuk berunding dan mencapai kesepakatan untuk mendukung Wessex merebut kerajaan tetangga Mercia. Sebagai gantinya, Ragnar mendapatkan lahan dan juga harta. Perjanjian kerja sama itu rupanya sudah diatur oleh King Ecbert sedemikian rupa agar keuntungan sebesar-besarnya untuk Wessex. Di sini, Ragnar menerima beberapa kerugian.

Ragnar bukan orang yang mudah terpuaskan rasa penasarannya, lagi-lagi dari Athlestan dia mendengar kabar mengenai Paris di Kerajaan West Francia. Dia tahu, bahwa Paris sangat sulit untuk ditaklukkan karena memiliki tembok pelindung di sekeliling kota. Kendati demikian, bukan Ragnar kalau tidak mencoba menaklukkannya. Armada kapal dan pejuang yang sangat besar pun dibawa serta untuk menyerbu Paris. Sangat sulit untuk menaklukkan kota itu dan ada hambatan lain, yaitu penyakit Ragnar yang melemahkannya. Apakah Ragnar berhasil dalam usahanya itu?

Dilema Ragnar

Sebagai seorang pemimpin, Ragnar mengalami berbagai konflik dengan para raja, kaumnya, dan yang paling menyedihkan adalah dengan beberapa orang terdekatnya. Pertama-tama adalah adiknya sendiri, Rollo, yang merasa hidup di bawah bayang-bayang Ragnar dan ingin mengubah peruntungan nasib. Guna mencapai misinya, Rollo pun berkhianat pada Ragnar dengan bergabung ke Jarl Brog, musuh dari Ragnar. Saat keduanya sudah saling berhadapan di satu pertempuran, Ragnar memberikan kesempatan kepada Rollo untuk menusukkan pedangnya. Namun, yang terjadi adalah Rollo justru bertekuk lutut di bawah kaki Ragnar. Dia tidak bisa membunuh kakak dan sekaligus patronnya itu. Rollo mengaku kepada Ragnar, “Aku seperti kehilangan matahari saat jauh darimu.” Dengan pengakuan tersebut, kendati pada awalnya sulit, namun Rollo kembali bergabung dan mendukung semua tindakan Ragnar. Dia adalah adik, sahabat pendukung, dan pelindung Ragnar.

life-of-a-fangirl-ships-364374

Ragnar juga berselisih paham dengan istrinya Lagertha. Semua itu terjadi karena Putri Aslaug yang pesonanya memikat hati Ragnar di satu petualangan. Keduanya terlibat hubungan asmara yang berujung dengan kehamilan Putri Aslaug. Mula-mula Ragnar tidak tahu perihal kehamilan itu, namun kemudian Sang Putri datang ke Kategat dengan perutnya yang sudah besar. Ragnar meminta istrinya Lagertha untuk menerima Putri Aslaug dan keduanya menjadi pendampingnya. Lagertha pun menolak mentah-mentah ide itu dan memilih untuk pergi. Kelak, keduanya akan kembali bertemu dengan kondisi yang jauh berbeda.

Masalah ketuhanan menjadi sumber perselisihan antara Ragnar dengan sahabatnya Floki. Ragnar bukan hanya bertualang ke tempat-tempat baru, namun rasa penasarannya pun menuntun dirinya ke Tuhan baru, Tuhan orang Kristen yang dibawa oleh tawanannya Athlestan. Perubahan ini dianggap sebagai penghinaan kepada Tuhan bangsa Viking, yaitu Loki, sosok yang begitu dipuja oleh Floki. Berbagai kegagalan, kekalahan, dan korban yang terjadi menurut Floki adalah buah dari perubahan kepercayaan yang terjadi pada diri Ragnar. Floki pun menudingkan jarinya kepada Athlestan sebagai sosok yang menyebabkan Ragnar berubah. Namun, Ragnar, bergeming dan tetap tertarik kepada Yesus, Tuhan dari Athlestan. Terlepas dari peran masing-masing, baik itu Floki maupun Athlestan, Ragnar menganggap keduanya sebagai sahabat dan saat salah seorang dari mereka meninggal, Ragnar pun terpuruk.

Tiga Hal Terpenting Bagi Pemimpin

Apakah tiga hal yang paling penting bagi seorang pemimpin?

Dalam tulisan berikut ini, Guy Kawasaki menjawab pertanyaan tersebut.

Menurut Kawasaki, tiga hal paling penting yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin adalah:

  • Empathy
  • Honesty
  • Humility

Empathy
Diartikan sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi atau memahami situasi yang harus dihadapi oleh orang lain, termasuk juga perasaan mereka. Empati adalah kemampuan khas yang dimiliki oleh seorang manusia.

Seorang pemimpin perlu mengetahui kebutuhan mereka yang dipimpin agar tercipta efektivitas.

Beliau juga harus dapat membedakan antara empati dan simpati. Empati dalam hal ini berarti bahwa seorang pemimpin dapat mengapresiasi, menghormati, dan memahami berbagai hal yang dialami oleh orang lain.

Sifat empati sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin karena saat Anda benar-benar paham kebutuhan orang lain, maka Anda dapat menyediakan dukungan yang mereka perlukan dalam mencapai kesuksesan. Pada akhirnya, hal ini akan meningkatkan produktivitas dan kerja sama.

Honesty
Pengertian dari honesty sangatlah sederhana, ini adalah kemampuan untuk berlaku jujur pada diri sendiri dan orang lain.

Saat ini, sangat sulit menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Berbagai informasi dapat dengan mudah diakses dan tersaji dalam jaringan (online). Tak ada lagi rahasia, saat ini kita hidup dalam dunia yang transparan.

Berlaku jujur dan terbuka, terutama pada kondisi yang sulit adalah langkah yang penting untuk membangun kepercayaan, kredibilitas dan reputasi yang positif sebagai seorang pemimpin. Sebagai pemimpin, Anda membutuhkan kepercayaan mereka yang di belakang Anda. Bila kepercayaan itu tak didapat, maka semua hal yang Anda lakukan menjadi tak berarti.

Humility
Seorang pemimpin hendaknya memiliki atau menunjukkan kesadaran pada kelemahan atau kekuarangan orang lain, tidak sombong, tidak egois, dan terutama adalah sosok yang sederhana.

Humility atau sifat rendah hati sangat penting bagi seorang pemimpin karena orang-orang akan mengikuti pribadi yang mereka sukai. Seorang pemimpin yang narsistis akan dapat memperoleh pengikut, namun pemimpin yang tetap bersahaja dan membumi adalah mereka yang dicintai dan dielu-elukan.

Seorang pemimpin hendaknya berfokus pada umpan balik dan pemenuhan kebutuhan orang lain. Anda harus dapat menerima masukan dan kritik, Anda pun harus bisa mengakui bahwa Anda tak sempurna dan sangat mungkin membuat kekeliruan.

Tulisan ini adalah hasil terjemahan dari paparan di slideshare yang dapat Anda lihat pada tautan berikut ini:

Simon Sinek: Kekuatan Kepercayaan

Thousands-expected-at-King-memorial-unveiling-BTA3U25-x-large

Pada musim panas tahun 1963, 200 ribu orang berkumpul di depan sebuah mall di Washington untuk mendengar pidato Dr. King. Saat itu tak ada undangan dan juga tak ada website untuk mengetahui kapan tanggal berkumpul. Jadi bagaimana mereka bisa melakukannya?

Dr. King tidak berkeliling Amerika untuk menyampaikan apa yang perlu dilakukan. Dia senantiasa bicara apa yang membuatnya percaya. “Saya percaya…. saya percaya….” dia terus berkata begitu kepada orang-orang. Kemudian para pioneer yang percaya kepada Dr. King menularkan kepercayaan tersebut kepada orang lain, yaitu mayoritas awal. Begitu seterusnya hingga akhirnya, dua ratus ribu orang berkumpul di hari dan waktu yang tepat.

Berapa orang di antara mereka yang alasan kehadirannya adalah untuk Dr. King?

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah: tak ada!

Mereka hadir untuk diri sendiri. Mereka percaya apa yang tepat untuk Amerika, sehingga bukanlah menjadi persoalan jarak yang jauh atau menempuh bis selama delapan jam. Saat itu bukan lagi soal kulit hitam dan putih karena di antara mereka yang hadir seperempatnya adalah orang kulit putih.

Orang-orang datang bukan untuk Dr. King, namun mereka mempercayai hal yang sama dengan beliau. Mereka hadir terutama untuk dirinya sendiri. Bahkan, ketika saat itu Dr. King bicara mengenai mimpi-mimpinya dan belum mewujud menjadi rencana-rencananya.

Tipe Pemimpin

Ada dua tipe pemimpin di dunia ini, yakni seorang pemimpin dan mereka yang memimpin. Pemimpin memegang kekuasaan atau otoritas. Namun, mereka yang memimpin dapat menginspirasi kita. Entah itu seseorang atau organisasi, kita mengikuti mereka yang memimpin bukan karena kita harus, namun karena kita ingin melakukannya. Kita mengikuti mereka yang memimpin bukan untuk mereka, namun untuk diri kita sendiri.

Mereka yang memimpin adalah yang memulai dengan bertanya ‘kenapa?’ Mereka memiliki kemampuan untuk menginspirasi orang di sekitarnya atau mencari inspirasi dari sekitar.

Sumber gambar dari sini

Sumber tulisan dari sini:

Pesta Rakyat (Opini Desi Anwar di The Jakarta Globe)

presiden_jokowi

Seorang menteri dari Partai Demokrat pada masa kabinet Mantan Presiden SBY mengomentari pesta rakyat untuk Presiden Jokowi sebagai bentuk manipulatif dan oportunis. Sebuah perayaan yang menghabiskan banyak dana dan waktu. Dulu, manakala SBY terpilih, lanjut menteri tersebut, tidak ada pesta atau perayaan besar, beliau langsung bekerja.

Dalam suasana gembira menyambut presiden baru, adalah lumrah untuk mengendalikan harapan dengan menghadapkannya pada kenyataan. Harapan adalah wajar, namun menyiapkan diri untuk yang terburuk juga sangat penting untuk mencegah kekecewaan berujung pada putus asa.

Secara pribadi, saya kira keinginan dan energi yang ditujukan pada Jokowi oleh masyarakat Indonesia, terlepas dari kemenangan tipisnya dalam pemilu, semakin menunjukkan kekuatan dan modal yang dimilikinya lebih besar dibandingkan dengan mandat yang diterima oleh SBY dulu pada saat beliau terpilih.

Adalah keliru bagi sebagian elit politik yang memandang sinis. Kendati sangat jelas, banyak politisi yang percaya, bahwa masyarakat yang ada di sana semata-mata dimanfaatkan.

Di samping kebutuhan kita untuk mengatur harapan, perasaan saya berkata, bahwa Jokowi lebih paham dari pendahulunya atau elit politik mengenai apa yang penting bagi rakyat. Beliau sangat jarang menggunakan istilah ‘memimpin’, namun lebih senang menggunakan ‘melayani’. Sinisme dan bahasa politik barangkali bisa mencitrakan beliau sebagai orang yang lemah dan terkepung, namun pemahamannya pada kehendak rakyat adalah kekuatan sejatinya.

Jokowi tidak mengesampingkan partai untuk rakyat, namun rakyat biasa yang bergerak dan menjadi relawan serta mengesampingkan partai, bukan hanya untuk Jokowi, namun terlebih lagi untuk diri mereka sendiri. Di Lapangan Monumen Nasional pada hari Senin, saat melihat rakyat yang berkumpul untuk mendengarkan presidennya berbicara langsung dengan mereka, hubungan dekat antara pemimpin dan rakyat itu sangat jelas terlihat.

Rakyat biasa berlari ke arah Jokowi. Namun, yang lebih penting dan sangat mencengangkan adalah manakala Jokowi berlari, mendekati rakyatnya, membuat pusing pasukan pengamanan presiden. Kita sudah terbiasa dengan kerumitan pengamanan terhadap SBY ke mana pun beliau pergi. Pasukan pengamanan SBY membuat semacam pulau yang steril dan jarak antara VIP dan rakyat, terlalu tinggi untuk dapat diraih oleh rakyat biasa yang ada di jalanan.

Namun Jokowi benar-benar terlihat aslinya, berbaur, memberi salam, bersalaman dan berfoto bersama dengan rakyat.

Rakyat adalah zona nyaman beliau., bukan protokoler yang kaku, formalitas dan ruangan ber-AC. Sepanjang upacara pelantikan, beliau tampak grogi dan tidak nyaman. Di atas panggung di Monas dan ketika bertemu dengan warga di istana beliau justru tampak begitu gembira.

Dalam pidatonya, beliau tak pernah lupa untuk secara khusus menyebut pedagang bakso, pedagang kaki lima, pedagang kecil, petani, pelayan toko, guru, buruh, dan banyak profesi lain. Beliau mendorong mereka untuk melakukan perannya masing-masing dan bekerja keras bersama-sama sehingga kapal besar yang sekarang dinahkodainya dapat menuju Indonesia yang lebih baik.

Hal tersebut, saya kira adalah inti dari kepemimpinan Jokowi. Namun, saat menemukan gaya tersebut, atau sekadar kehadiran Jokowi adalah satu persoalan bagi mereka yang merasa berhak mendapatkan sesuatu. Bagi mereka, hal itu justru membuat jengkel.

Sebab, bagi Jokowi, motivasi utamanya adalah Indonesia yang terdiri dari masyarakat dengan pendapatan kecil, rakyat biasa yang menjadi bagian terbesar dari rakyat. Mereka yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya dan telah lama merindukan seorang pemimpin yang memperlakukan mereka bukan sebagai obyek atau angka statistik belaka, namun sebagai individu-individu dengan harapan dan gairah yang nyata serta dapat membuat hidup dan negaranya lebih baik.

Itulah kiranya yang menyebabkan rakyat bersuka cita. Bukan semata untuk makanan gratis dan hiburan. Namun, lebih daripada itu, sekali dalam sejarah negeri ini, ada seseorang yang jujur dan bersemangat merentangkan tangannya dan meyakinkan, bahwa dia di sana untuk rakyat.

Jika suatu hari nanti beliau gagal dalam usahanya, itu semua lebih disebabkan karena orang-orang di sekitarnya tidak menginginkan beliau meraih keberhasilan.

Tulisan ini adalah terjemahan bebas dari sini

Sumber gambar dari sini

Enam Belas Opini Jokowi

capres_jokowi

Berikut ini ringkasan opini calon presiden Joko Widodo berjudul ‘Revolusi Mental’ yang tulisan lengkapnya dimuat di Koran Kompas (10/05/2014). Ringkasan ini dibuat untuk menyederhanakan pokok-pokok pikiran yang ditawarkan oleh calon presiden, seperti halnya rangkuman opini Anies Baswedan yang pernah dimuat blog ini beberapa waktu lalu (klik untuk membaca).

Tanpa panjang lebar dengan pengantar, silakan dibaca ringkasan ‘Revolusi Mental’ semoga bermanfaat.

  1. Revolusi mental dilakukan untuk menciptakan paradigma, budaya politik, dan pendekatan nation building baru yang lebih manusiawi, sesuai dengan budaya Nusantara, bersahaja, dan berkesinambungan.
  2. Revolusi mental beda dengan revolusi fisik karena ia tidak memerlukan pertumpahan darah.
  3. Trisakti (Soekarno, 1963) terdiri dari tiga pilar, yaitu, ”Indonesia yang berdaulat secara politik”, ”Indonesia yang mandiri secara ekonomi”, dan ”Indonesia yang berkepribadian secara sosial-budaya”.
  4. Negara dan pemerintahan yang terpilih melalui pemilihan yang demokratis harus benar-benar bekerja bagi rakyat dan bukan bagi segelintir golongan kecil.
  5. Harus diciptakan sebuah sistem politik yang akuntabel, bersih dari praktik korupsi dan tindakan intimidasi.
  6. Struktur birokrasi yang bersih, andal, dan kapabel, yang benar-benar bekerja melayani kepentingan rakyat dan mendukung pekerjaan pemerintah yang terpilih.
  7. Penegakan hukum demi menegakkan wibawa pemerintah dan negara, menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdasarkan hukum.
  8. Penegakan kedaulatan politik dengan peran TNI yang kuat dan terlatih untuk menjaga kesatuan dan integritas teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
  9. Di bidang ekonomi, Indonesia harus berusaha melepaskan diri dari ketergantungan yang mendalam pada investasi/modal/bantuan dan teknologi luar negeri dan juga pemenuhan kebutuhan makanan dan bahan pokok lainnya dari impor.
  10. Ketahanan pangan dan ketahanan energi merupakan dua hal yang sudah tidak dapat ditawar lagi.
  11. Kegiatan ekspor dan impor untuk menggerakkan roda ekonomi.
  12. Meneliti ulang kebijakan investasi karena ternyata sebagian besar investasi diarahkan ke sektor ekstraktif yang padat modal, tidak menciptakan banyak lapangan kerja, tetapi mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya.
  13. Bidang kebudayaan, tidak boleh membiarkan Indonesia larut dengan arus budaya yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa kita.
  14. Pendidikan harus diarahkan untuk membantu membangun identitas bangsa Indonesia yang berbudaya dan beradab, yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral agama yang hidup di negara ini.
  15. Akses ke pendidikan dan layanan kesehatan masyarakat yang terprogram, terarah, dan tepat sasaran oleh nagara dapat membantu kita membangun kepribadian sosial dan budaya Indonesia.
  16. Revolusi mental harus menjadi sebuah gerakan nasional. Usaha kita bersama untuk mengubah nasib Indonesia menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, adil, dan makmur.

Opini keseluruhan bisa dibaca di sini

Opini Anies Baswedan bisa dibaca di sini

Delapan Opini Anies Baswedan

anies_baswedan

Saat membaca Koran Kompas hari ini (23/04/2014), saya tertarik dengan Opini Pak Anies Baswedan. Opini tersebut berjudul ‘Memenangkan Indonesia’. Berikut ini delapan poin yang saya catat dari buah pemikiran beliau.

  1. Indonesia harus diurus oleh orang baik: bersih dan kompeten. Republik ini didirikan oleh para pemberani: kaum terdidik yang sudah selesai dengan dirinya.
  2. Pemilu harus jadi ajang kompetisi orang tak bermasalah, orang baik lawan orang bermasalah.
  3. Harus dipastikan, bahwa orang yang terpilih akan hadir untuk mengurus bukan menguras negara.
  4. Ini pemilu keempat dalam era demokrasi, sudah saatnya menjadi ajang kebangkitan wong waras, kebangkitan orang bersih dan jadi penghabisan orang bermasalah.
  5. Panjang deretan nama orang bersih dan kompeten yang terpanggil dan mau turun tangan mengurus negeri. Namun, mereka hanya bisa menang jika orang baik lainnya bersedia untuk terlibat dan membantu.
  6. Jika orang-orang baik hanya mau jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang akan mengatur penggunaan uang pajak kita?
  7. Korupsi dalam politik itu merajalela bukan semata-mata karena orang jahat berjumlah banyak, melainkan karena orang-orang baik memilih diam, mendiamkan, dan bahkan menjauhi.
  8. Tak semua harus ikut partai politik, tetapi saat pemilu jangan pernah diam, membiarkan orang-orang bermasalah melenggang tak diatantang, tak dihentikan.

Gambar dipinjam dari sini

Saat Pemimpin Belajar dari Artis

Sore itu seperti biasa saya sedang tekun membuka-buka halaman koran langganan ketika sampai pada sebuah halaman yang menampilkan pasangan Cagub-Wagub Jokowi dan Ahok. Pada saat itu memang sedang masa kampanye Pilkada DKI Jakarta putaran kedua.

Menurut saya, yang menarik dari gambar Jokowi dan Ahok adalah bagaimana gaya Jokowi. Beliau menggunakan baju kotak-kotak legendarisnya itu, sepatu kanvas, dan celana jeans. Batin saya, ini orang kok ngga mengikuti pakem, sih, bukankah biasanya pasangan cagub-wagub akan berpose separuh badan, berdampingan, kemudian menggunakan busana-busana resmi, semacam jas, atau busana daerah?

Melihat gambar Jokowi tersebut, saya baru sadar, ini justru seperti pasangan penyanyi. Haha.

Busana nyeleneh seperti yang sudah disebutkan di atas, pose seluruh badan, posisi yang tak berdampingan, dan kalau tak salah ia bersedekap. Pendek kata, apa yang disajikan benar-benar beda. Barangkali, Jokowi dan Ahok atau tim suksesnya memang belajar dari artis-artis kala membuat poster pertunjukan. Bisa jadi, kan? Continue reading “Saat Pemimpin Belajar dari Artis”

Invictus, Inspirasi

Di tengah merosotnya kepercayaan kepada pemimpin. Barangkali perlu kita tengok sebentar pesan-pesan dalam film ‘Invictus.’

Alkisah, Afrika Selatan di masa-masa awal perubahannya. Transisi dari berhentinya politik apartheid ke demokrasi. Kegentingan terjadi di mana-mana, karena euforia kebebasan yang dialami warga kulit hitam. Mereka baru saja terbebas dari kungkungan kekuasaan yang membelenggu selama bertahun-tahun.

Kegembiraan dan kemerdekaan itu bahkan dilengkapi dengan terpilihnya seorang di antara warga kulit hitam, Nelson Mandela, sebagai presiden kulit hitam pertama. Jadilah sebuah suasana yang serba tak enak tercipta. Warga kulit hitam baru saja memeroleh kemerdekaannya. Di sisi lain, warga kulit putih belum siap melepaskan kenangannya saat berkuasa.

Tugas berat harus diemban Madiba Continue reading “Invictus, Inspirasi”