Bagaimana caranya agar kita paham hal yang sulit?

Sore itu saya duduk-duduk di pondok di belakang asrama.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, namun di bumi bagian selatan ini matahari terlambat tenggelam. Langit masih terang, suhu relatif hangat dan angin bersahabat.

Seorang kawan dari Brasil menjadi teman berbincang. Kawan itu masih relatif baru dikenal dan dia pun bukan pelajar di sekolah ini.

Dia seorang dosen yang belajar matematika untuk komputer di negaranya dan sedang mengadakan kerja sama penelitian di sini.

Saya cukup terkesima saat mengetahui keahlian dan bidang studi beliau, sungguh tak masuk di otak saya bagaimana matematika dan computer digabung. Namun, konon kata dia, semua program yang ada di computer dasarnya adalah matematika.

Serta merta saya pun pusing. Pertama, saya tak paham dengan matematika. Kedua, saya tidak suka dengan matematika.

Kawan saya itu pun kemudian berkata, “Kamu tidak paham karena tidak meluangkan waktu untuk mencoba memahaminya. Kalau ingin paham, kamu harus duduk dan memperhatikan beberapa saat, berkonsentrasi, dan niscaya kamu pun akan paham sedikit demi sedikit”.

Sore itu pun berakhir saat matahari tenggelam di ufuk barat kira-kira pukul delapan.

Bagaimana kita kehilangan kemampuan mendengar?

Kita telah kehilangan kemampuan untuk mendengar, dari 60 persen pembicaraan, rupanya kita hanya bisa mendengarkan 25 persennya saja.

Mendengar adalah mengartikan satu hal dari suara-suara. Kita mengembangkan kemampuan mental ini dengan memecah berbagai suara yang didengar menjadi satu bunyi yang bermakna.

Kita dapat melakukan hal itu salah satunya dengan mengenali pola. Bayangkan Anda sedang berada dalam satu lingkungan yang bising; bisa di pinggir jalan, di dalam mall, atau di sebuah restauran. Tiba-tiba, nama Anda dipanggil dan Anda pun akan bisa mendengar panggilan itu kendati di tengah keriuhan.

Kita juga dapat mendengar hal-hal tertentu karena kemampuan kita untuk membedakan. Di pinggir pantai dengan debur ombak yang nyaring, kita tetap dapat mendengar bebunyian lain. Sebab, kita memiliki kemampuan untuk mengabaikan bunyi-bunyi yang mirip dan didengar berulang-ulang.

Selain kedua hal tersebut, saat kita mendengar, banyak sekali saringan yang terlibat di dalamnya. Beberapa hal sebagai penyaring adalah: budaya, bahasa, nilai-nilai, kepercayaan, sikap, harapan, dan minat. Kebanyakan manusia tidak menyadari saringan ini karena terjadi begitu saja dan saat itu juga.

Suara juga membuat kita sadar mengenai waktu dan tempat. Sekali waktu saat berada di sebuah ruangan, cobalah Anda pejamkan mata. Melalui suara-suara, kita bisa menyadari berapa luas ruangan itu, berapa banyak orang yang bersama kita dan lain-lain. Semua itu terjadi karena pantulan, dengung, atau bebunyian lain yang kita dengarkan dengan lebih seksama.

Selain tempat, suara membuat kita sadar mengenai waktu. Kita tidak dapat menghitung waktu tanpa bantuan gerakan jarum jam di dinding atau di arloji, maka suara seringkali menjadi pengingat berjalannya waktu.

Bagaimana kita kehilangan kemampuan mendengar? 

Pertama karena penemuan alat perekam. Entah itu perekam suara atau perekam gambar yang dilengkapi suara telah membuat hilangnya kemampuan kita untuk mendengar dengan penuh perhatian.

Kedua, dunia saat ini begitu berisik. Bukan hanya menyangkut suara, namun juga berbagai hal yang mengganggu pandangan kita. Pada kondisi yang demikian itu, mendengar menjadi begitu sulit dan melelahkan. Banyak orang kemudian melarikan diri pada earphone atau headphone, tapi kemudian dia tak mendengarkan apa-apa….

Kehilangan kemampuan mendengar juga membuat kita menjadi tidak sabar. Seni berbicara atau bercerita satu sama lain dengan bertukar kata dan mendengar telah digantikan oleh siaran pribadi. Kita mudah menemuinya di facebook, twitter, atau blog yang seakan-akan berteriak-teriak di ruang hampa….

Lebih dari itu, bila kita menengok ke berbagai pemberitaan di media yang berisi: sensasi, kejutan, pengungkapan, skandal, kemarahan, atau pemaparan aib seseorang, yang semua itu bertujuan untuk menarik perhatian kita, maka kita menjadi makin sukar untuk mendengarkan bunyi yang tersembunyi, bisikan, atau suara-suara di bawah permukaan.

Kehilangan kemampuan mendengar sangatlah berbahaya karena ‘mendengar’ adalah satu jalan bagi kita agar paham. Saat Anda mendengarkan dengan penuh kesadaran, maka di situlah pemahaman akan didapat. 

Di sisi lain, ketika kita mendengarkan tanpa kesadaran, maka yang terjadi adalah kesalahpahaman. Dunia yang kehilangan kemampuan mendengar adalah wilayah yang menakutkan karena di situlah lahan subur bagi konflik, protes, dan tindakan butral lainnya.

Menghadapi berbagai situasi di atas, apa yang dapat kita lakukan? Berikut ini lima langkah untuk kembali berlatih mendengar. 

Pertama, adalah diam…. Lakukan setidaknya tiga menit setiap hari karena ini sangat penting sebagai satu cara untuk me-reset telinga Anda sehingga bisa mendengar bunyi-bunyi yang begitu samar sekalipun.

Kedua adalah ‘mixer’. Saat Anda berada di tempat yang ramai, maka cobalah untuk memilah suara-suara yang ada. Mana suara sepeda motor, anak menangis, penjual bakso, gesekan langkah orang berjalan dan lainnya. Latihan ini sangat bagus untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas mendengar.

Ketiga adalah ‘savoring’, yaitu mendengarkan keindahan dari berbagai bunyi yang biasanya justru kita anggap mengganggu. Bisa bunyi mesin penggiling kopi, kulkas, atau mesin cuci.

Keempat, adalah posisi mendengar. Ini berhubungan dengan saringan dalam mendengar yang sudah dijelaskan di bagian awal. Bagaimana Anda mendengarkan dan kemudian bersikap pada bunyi-bunyi tertentu yang sesuai atau tidak sesuai dengan diri Anda.

Kelima adalah acronym RASA—Receive, Appreciate, Summarise, Ask. Receive adalah menerima informasi. Appreciate adalah memberikan penghargaan kepada lawan bicara, yakni bisa dengan bunyi, “oke”, “hmmm”, atau sekadar mengangguk-anggukkan kepala. Summarise adalah ketika kita mengulang berbagai poin penting dari lawan bicara, biasanya diawali dengan “Jadi…. “. Ask adalah mengajukan pertanyaan sekiranya ada hal-hal yang masih kurang jelas.

Seseorang perlu mendengar dengan penuh kesadaran agar terhubung dengan ruang dan waktu, dengan sekitar kita, dan kemudian agar saling memahami.

Ingat, Dalai Lama pernah berkata, “Saat berbicara, kita hanya mengulang-ulang apa yang sudah kita ketahui. Namun, saat mendengar, banyak hal baru yang bisa kita pelajari.”

Anda bisa mendengarkan perihal ‘mendengar’ ini dari ahlinya di video berikut ini:

Bagaimana caranya agar orang lain paham?

96265234-680A-4D2E-8666-2326958E83F4

Dalam berkomunikasi, seringkali kita kesulitan memberikan pemahaman kepada orang lain. Misalnya saja saat kita membicarakan sebuah pohon A, orang lain menerima informasi tersebut   sebagai pohon B.

Terkadang, situasi tersebut benar-benar menyebalkan, bukan?

Guna memberikan pemahaman kepada orang lain, ada baiknya kita mengetahui bagaimana diri kita mengubah satu informasi mulai dari menerima informsi tersebut hingga menyampaikannya.

Pada awalnya adalah dunia di luar kita dan berbagai kejadian yang terjadi di sana. Menggunakan indera, terutama penglihatan dan digabung dengan berbagai indera lain kita menerima informasi awal dari luar tersebut.

Diam-diam, dari informasi itu kemudian otak atau diri kita melakukan penyaringan (filter). Akan disaring informasi tersebut menjadi diterima, dikelompok-kelompokkan atau dibuang. Semua ini dilakukan dengan berdasarkan pada nilai-nilai, pengalaman, kepercayaan, ingatan, dan berbagai hal lain yang sudah kita miliki sebelumnya.

Satu informasi yang lolos dari penyaringan ini akan diolah lagi menjadi pemahaman internal dan menjadi satu pernyataan. Perlahan-lahan, informasi tersebut akan terus mengendap dan menjadi satu sikap atau perilaku.

Dengan melihat proses tersebut di atas, maka sangat penting untuk menyampaikan satu hal sesuai dengan pemahaman lawan bicara kita. Agar apa yang kita sampaikan itu cocok dan sesuai dengan pemahaman yang sudah terlebih dahulu ada pada diri lawan bicara.

Memahami semua proses ini sangat penting apabila Anda adalah seorang pembicara, pengajar, penulis atau apa pun yang sering harus berada dalam situasi untuk berbagi ide dengan orang lain.

Bukan hanya itu, dengan memahami proses ini diharapkan Anda akan bersabar manakala menemui orang yang sangat sulit diberi pemahaman. Barangkali bukan informasi yang Anda sampaikan keliru, namun karena nilai-nilai yang ada dalam diri orang itu tidak sesuai dengan informasi baru tersebut dan kemudian ia akan mencoba untuk menyaring, bahkan menolaknya.

Pada akhirnya komunikasi rasa-rasanya adalah proses yang tidak mudah dan perlu kesabaran.

Selamat berkomunikasi dan jangan lupa untuk bersabar ya. Hehe

Sumber gambar dari sini

Bagaimana Pikiran (Seharusnya) Bekerja?

Parachute movement

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah: mestinya pikiran bekerja seperti parasut.

Parasut itu dalam bekerja mesti terbuka. Jika dia gagal terbuka, maka penggunanya akan jatuh bebas ke bumi.

Pun demikian halnya dengan pikiran, harus bisa menangkap berbagai anasir baik yang cocok atau pun yang tidak sesuai.

Jalan terbaik yang bisa dilakukan agar pikiran terbuka adalah dengan tidak pilih-pilih. Artinya tidak memilih segala sesuatu hanya yang sesuai dengan pikiran kita. Misalnya berita-berita yang sesuai dengan kita, paham-paham yang sesuai dengan kita, gaya yang sesuai dengan kita, suku yang sesuai dengan kita, bahasa yang sama dengan kita dan lain-lain.

Cara termudah untuk membuka pikiran adalah dengan membaca, mendengar, melihat dan merasakan berbagai hal yang selama ini tidak pernah kita rasakan. Contoh paling gampang adalah dengan mulai membaca media yang selama ini tidak pernah kita baca. Semakin kontroversial dan semakin bertentangan dengan kita semakin bagus.

Dengan begitu, diharapkan Anda akan memiliki pemahaman yang utuh baik itu yang sesuai dengan pemahaman kita atau pun yang berseberangan. Dengan begitu, diharapkan Anda akan sedikit bersabar agar tidak reaktif, agar mencerna segala informasi, agar tidak buru-buru emosi,  agar pada ujungnya menjadi pribadi yang lebih arif.

Bila Anda khawatir dengan membaca, mendengar, melihat dan merasakan berbagai hal yang berbeda, maka sebaiknya Anda tidak terjun karena Anda barangkali belum tahu bagaimana menggunakan parasut sehingga sebaiknya jangan sekali-kali mengambil risiko.

Selamar beraktivitas semoga parasut Anda terbuka lebar dan terjun Anda menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan.

Salam

Sumber gambar dari sini

Memahami Wanita

What Women WantDi antara negeri-negeri pembuat film, saya jarang-jarang menonton film produksi Bollywood dan Hongkong. Sabtu kemarin, sepulang dari mengantar istri, tak sengaja saya mendapati di Celestial sedang memutar ‘What Women Want’.

Film ini dibintangi oleh Andy Lau sebagai Sun Zigang dan Gong Li sebagai Li Yilong. Dua orang itu masing-masing adalah Direktur Kreatif dan Direktur Eksekutif Kreatif di sebuah agensi periklanan.

Li Yilong adalah karyawan baru di perusahaan tersebut kendati posisi yang ia tempati sangat tinggi. Tentu saja hal ini menimbulkan iri hati bagi Sun Zigang, seorang karyawan lama, namun Continue reading “Memahami Wanita”