<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>unclegoop[dot]com &#187; ombak</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.com/tag/ombak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.com</link>
	<description>melintas batas ruang dan waktu</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 15:16:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Larasati</title>
		<link>http://unclegoop.com/2010/05/16/larasati/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2010/05/16/larasati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 14:59:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[jendela dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Ara]]></category>
		<category><![CDATA[buih]]></category>
		<category><![CDATA[ombak]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya]]></category>
		<category><![CDATA[Revolusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1007</guid>
		<description><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer dalam roman revolusi ini tidak hanya merekam kisah-kisah heroik kepahlawanan, namun juga lengkap dengan segala kemunafikan kaum revolusioner, keloyoan, omong banyak tapi kosong dari para pemimpin, pengkhianatan dan dibumbui kisah percintaan. Pramoedya ingin mengukuhkan suatu komitmen bahwa revolusi atau perjuangan apa saja bisa lahir dan mencapai keagungannya kalau setiap pribadi tampil berani; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://i464.photobucket.com/albums/rr9/killkorup2nd/NPA010-LARASATI-1.jpg"><img class="alignleft" style="margin-top: 3px; margin-bottom: 3px; margin-left: 6px; margin-right: 6px; border: 5px solid black;" src="http://i464.photobucket.com/albums/rr9/killkorup2nd/NPA010-LARASATI-1.jpg" alt="" width="197" height="300" /></a>Pramoedya Ananta Toer dalam roman revolusi ini tidak hanya merekam kisah-kisah heroik kepahlawanan, namun juga lengkap dengan segala kemunafikan kaum revolusioner, keloyoan, omong banyak tapi kosong dari para pemimpin, pengkhianatan dan dibumbui kisah percintaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pramoedya ingin mengukuhkan suatu komitmen bahwa revolusi atau perjuangan apa saja bisa lahir dan mencapai keagungannya kalau setiap pribadi tampil berani; tidak hanya berani melawan semua bentuk kelaliman, tapi juga bisa melawan keangkuhan dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa takut bisa hilang melalui kemenangan yang didapat. Tapi menyoal kemenangan yang sekilas itu, Pram bilang, “Perjuangan selamanya mengalami menang dan kalah silih berganti. Kalau kau menang, bersiaplah untuk kalah dan kalau kau kalah, terimalah kekalahan itu dengan hati besar dan rebutlah kemenangan.</p>
<p style="text-align: center;">==0==</p>
<p style="text-align: justify;">Larasati, ia adalah seorang penyanyi dan bintang film. Sebagai aktris panggung, ia harus menghibur pembesar-pembesar negeri dan pengusaha-pengusaha sukses. Termasuk juga di dalamnya adalah pembesar-pembesar Belanda dan tak lupa pribumi yang menjadi pembesar Belanda. Akibat penampilannya di panggung dan pergaulannya yang intens tersebut, ia akrab dengan mereka. Ara menjadi begitu dikenal dan kehadirannya dinanti-nanti siapa saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang disebutkan di atas, sayangnya terjadi pada masa damai. Ketika pembesar-pembesar negeri dan Belanda akrab tak saling serang. Padahal seperti juga kau tahu, jalannya revolusi seperti ombak di lautan. Sekali waktu memang tenang, namun di lain saat begitu bergelora. Ombak itu menghempas pantai dan meninggalkan butir-butir pasir dan buih.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Ara adalah pasir, mungkin buih itu. Ia tertinggal di pantai, terhempas kian kemari, ditinggalkan arus besar yang terus bergolak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ara tak punya tempat  berlindung lagi, karena bila ia pasir, maka ia tergulir bersama angin. Bila ia buih, tak jarang ia harus meniti buih untuk kemudian sekali tempo terhempas lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Jalan keluar yang tersisa baginya adalah: ia bergaul dengan sesama pasir, sesama buih. Mereka itu, prajurit-prajurit berpangkat rendah. Prajurit yang gelisah, namun bersemangat kendati resah. Bersama dengan kawanan barunya ini, ia pun mulai menapakkan langkah kakinya di medan revolusi. Ke mana perginya para pembesar yang dahulu dikenalnya itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan Ara dimulai di sebuah kereta dalam perjalanannya dari Yogyakarta ke Jakarta. Alasan kepergiannya ini ialah, karena Yogya telah menjadi tempat yang demikian berbahaya. Sementara itu, ia teringat pula pada ibunya yang telah lama ditinggalkan di Jakarta. Di kereta itu, ia harus berpisah dengan Kapten Oding yang jelas-jelas menaruh hati pada Ara.</p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan Ara kemudian adalah paparan bagaimana manusia republik memandang revolusi. Tentang anak-anak muda yang bersemangat hendak melahirkan sejarah. Sejarah yang banyak meminta tumbal nyawa dan Ara menjadi saksi kematian satu orang di antara pemuda itu. Sosok pemuda yang di mata Ara begitu dihormati dan pada saat yang sama ditangisi kepergiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ara memupuk optimisme terhadap peristiwa di sekitarnya bersama dengan nenek-nenek tetangganya. Nenek itu kendati sudah lanjut, namun tak kurang-kurang memberikan dukungan pada para remaja pejuang. Dan paling penting, bersama dengan ibu yang dulu ia khianati dan sekaligus begitu dicinta ia merenda semangat dan menyulam rasa takut justru menjadi kekuatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sisi lain, Ara juga mesti menjadi saksi para pengkhianat negeri. Kaum oportunis yang hanya tau petik untung injak liyan. Nama-nama seperti Kolonel Surjo Sentono, Mardjohan dan masih banyak yang lain telah begitu membuatnya jijik. Seakan-akan penderitaan sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, ia pun mesti bertemu dengan keluarga Alaydrus. Sebuah keluarga keturunan arab yang menjadi majikan ibunya. Pada gilirannya, Ara bahkan harus menjadi kawan hidup Jusman—seorang dari Alaydrus itu—lengkap dengan semua deritanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada akhirnya, Ara kemudian…. Ah, sebaiknya dibaca sendiri bagaimana menariknya salah sebuah karya Pram ini, selamat membaca.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2010/05/16/larasati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagu Pesisir</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/07/09/lagu-pesisir/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/07/09/lagu-pesisir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 22:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[tetirah lain]]></category>
		<category><![CDATA[camar]]></category>
		<category><![CDATA[karang]]></category>
		<category><![CDATA[ombak]]></category>
		<category><![CDATA[pesisir]]></category>
		<category><![CDATA[tanjung]]></category>
		<category><![CDATA[teluk]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.dagdigdug.com/2009/07/09/lagu-pesisir/</guid>
		<description><![CDATA[Dengarlah nyanyian ombak Janganlah terlampau menyimak Agar nyanyian camar Masih bisa kau dengar Tengoklah teluk yang menangis Hatinya luka tubuhnya teriris Digerus ombak yang bergulung Laksana sepatah hati yang murung Liriklah tanjung yang jumawa Tempat suar berdiri lampunya menyala Merangsek ombak menciutkan laut Bagai hati mengkerut walau terpaut Di mana panjang berderet karang? Nun di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Dengarlah nyanyian ombak</p>
<p class="MsoNormal">Janganlah terlampau menyimak</p>
<p class="MsoNormal">Agar nyanyian camar</p>
<p class="MsoNormal">Masih bisa kau dengar</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<blockquote>
<p class="MsoNormal">Tengoklah teluk yang menangis</p>
<p class="MsoNormal">Hatinya luka tubuhnya teriris</p>
<p class="MsoNormal">Digerus ombak yang bergulung</p>
<p class="MsoNormal">Laksana sepatah hati yang murung</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Liriklah tanjung yang jumawa</p>
<p class="MsoNormal">Tempat suar berdiri lampunya menyala</p>
<p class="MsoNormal">Merangsek ombak menciutkan laut</p>
<p class="MsoNormal">Bagai hati mengkerut walau terpaut</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<blockquote>
<p class="MsoNormal">Di mana panjang berderet karang?</p>
<p class="MsoNormal">Nun di sana tegak jadi penghalang</p>
<p class="MsoNormal">Ikan berenang di tenang laguna</p>
<p class="MsoNormal">Adalah hati senang kabar bahagia</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dan buih, gulungan ombak dan laut</p>
<p class="MsoNormal">Dan camar, lambaian nyiur, awan tersangkut</p>
<p class="MsoNormal">Ada nelayan pulang bersandar</p>
<p class="MsoNormal">Ada lagu pesisir bisa kau dengar</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: right"><strong>Sridewanto Edi/110609</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/07/09/lagu-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ombak, Pantai dan Angin</title>
		<link>http://unclegoop.com/2008/12/25/ombak-pantai-dan-angin/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2008/12/25/ombak-pantai-dan-angin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 16:21:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[jendela dunia]]></category>
		<category><![CDATA[angin]]></category>
		<category><![CDATA[buih]]></category>
		<category><![CDATA[kura-kura]]></category>
		<category><![CDATA[nelayan]]></category>
		<category><![CDATA[ombak]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=438</guid>
		<description><![CDATA[Jam dua malam di keretaapi Senja Utama Semarang. Hampir semua penumpang terkulai di kursinya masing-masing. Saya teringat kemarin, ketika dengkur seperti berparade, bergantian satu penumpang dengan yang lain. Tetapi malam ini berbeda, tak lagi terdengar dengkur, tak juga derit roda-roda kereta beradu dengan besi rel. Keretaapi memang sedang berhenti, begitu sering kereta ini berhenti. Tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Jam dua malam di keretaapi Senja Utama Semarang. Hampir semua penumpang terkulai di kursinya masing-masing. Saya teringat kemarin, ketika dengkur seperti berparade, bergantian satu penumpang dengan yang lain. Tetapi malam ini berbeda, tak lagi terdengar dengkur, tak juga derit roda-roda kereta beradu dengan besi rel.</p>
<p style="text-align:justify;">Keretaapi memang sedang berhenti, begitu sering kereta ini berhenti. Tak hanya di stasiun berhentinya. Rasa-rasanya seperti sedang mengulur jarak; memperlambat waktu kedatangan di stasiun tujuan. Saling menunggu untuk lewat di rel yang sama, akibatnya sebuah kereta harus menunggu<span id="more-438"></span> kereta lain lewat terlebih dahulu barulah bisa berjalan kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Istimewa sekali malam ini, karena saya terjaga. Biasanya saya pun seperti penumpang lain yang tertidur mendengkur; melewatkan malam, membuang lelah di bangku-bangku berlapis kulit sintesis yang membuat keringat mengalir begitu deras. Pada pemesanan tiket, saya selalu memilih kursi berkode â€˜Aâ€™ atau â€˜Dâ€™. Artinya di pinggir, dekat jendela.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan di kiri laut; saya baru tahu sekarang, betapa rel ini begitu dekat dengan laut. Buihnya, ombaknya, kesiur angin dan bau garam mampir pula ke dalam kereta. Mengganti sebentar, berganti-ganti dengan bau keringat, daki, dan kaki yang terendam lama di sepatu. Saya tak bosan mengamati ombak yang bergulung-gulung kian ke mari. Saya teringat pada sebuah kisah.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align:justify;">â€œAku lelah denganmu.â€ Kata Pantai.</p>
<p style="text-align:justify;">Ombak yang mendengar kata-kata Pantai memberengut tak senang, â€œTapi, aku hanya memainkan peran yang harus kujalankan, tak lebih.â€</p>
<p style="text-align:justify;">â€œWuzzzâ€¦.â€ Angin datang, hanya untuk mengganggu cakap-cerita Ombak dan Pantai, tak lebih.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah, di pesisir yang permai itu: Ombak, Pantai dan Angin merangkai kisah tentang kompromi yang pahit. Memang begitu menarik bila dilihat wisatawan yang datang berkunjung, menikmati pemandangan. Tetapi, tak semua manis itu berasal dari gula, tak juga semua indah itu manis, terkadang pahit.</p>
<p style="text-align:justify;">Pantai menerima semua perlakuan Ombak dengan sepenuh hatinya. Bagi Pantai, hidupnya adalah untuk Ombak. Ombak seringkali mencumbui Pantai dengan elusan-elusan yang lembut, membuih, mengapungkan busa di permukaan Pantai. Namun, tak jarang tubuh Pantai dihempas Ombak yang murka, sebagian tubuhnya terkikis, menjadi serpihan-serpihan yang mengapung sebentar dan kemudian tenggelam.</p>
<p style="text-align:justify;">Ombak dan Pantai seperti bermain-main dengan kasih dan benci. Kata orang memang batasnya tak tebal; setipis kertas. Namun, seperti tak adil apa yang diterima Pantai.</p>
<p style="text-align:justify;">Angin, adalah hulu semua masalah. Gerakannya menyebabkan Ombak terjadi. Hembusannya adalah elusan Ombak di Pantai. Terpaannya, adalah tamparan-tamparan sadis Ombak pada Pantai. Angin seperti orang ketiga yang menjemukan; menyebalkan dan tak tahu diri di saat yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Ombak, Pantai dan Angin seperti bermain-main dengan elusan dan terpaan. Sebuah wujud kasih dan benci yang kata orang tak tebal batasnya, hanya setipis kertas. Namun, seperti tak adil apa yang diterima Pantai.</p>
<p style="text-align:justify;">â€œDi sana, nun di ufuk, akan kau lihat tempat-tempat yang indah, Ombak.â€</p>
<p style="text-align:justify;">â€œLebih indah dari sini?â€</p>
<p style="text-align:justify;">â€œLebih indah, jauh lebih indah.â€</p>
<p style="text-align:justify;">â€œKalau begitu, bawalah aku ke sana, Angin.â€</p>
<p style="text-align:justify;">Percakapan Ombak dan Angin tak urung sampai juga ke telinga Pantai. Namun, seperti kemarin juga, Pantai hanya terdiam. Pantai selalu percaya kepada Ombak, ada prinsip besar yang sedang ditekan-tekan pada hatinya. Sebuah kompromi, penerimaan yang mendekati batas keragu-raguan.</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa tidak? Bila Pantai selalu menerima apa saja yang dilakukan Ombak padanya. Adil dan tidak adil sudah tidak menjadi beban untuk Pantai. Baginya, memberi tubuhnya kepada Ombak, bila itu memang perlu, maka akan diberikan tanpa bertanya. Hatinya, adalah bagian dari tubuhnya, maka direlakan pula hati ini terluka. Luka yang terukir ketika Pantai melihat Ombak mengikuti Angin, dibawa Angin entah ke mana.</p>
<p style="text-align:justify;">Ombak dan Pantai berpisah tanpa lambaian tangan. Sekadar menengok pun tidak. Angin telah mengubah dirinya menjadi iblis dihadapan Pantai, namun dewa dimuka Ombak.</p>
<p style="text-align:justify;">Beragam cerita sudah pernah didengar Pantai dari wisatawan yang datang, menginjakkan kakinya di sana. Pasangan remaja yang menggambar sebuah hati dan nama-nama mereka di sekelilingnya. Sebuah gambar yang sia-sia, karena sebentar kemudian gelombang datang dan menyapu semua. Pantai selalu mendengar, hikayat tempat-tempat yang jauh. Bahwa di sana, selain keindahan ada juga kesedihan layaknya di sini. Di antara binar gadis-jejaka remaja saat menggambar hati, juga ada kesedihan ketika gambar itu tersapu oleh gelombang. Pantai dalam diamnya belajar, mengetahui bahkan pada cerita di tempat-tempat yang jauh.</p>
<p style="text-align:justify;">Ufuk takkan pernah tergapai, selalu berjarak. Saat mendekati ufuk yang tertinggal hanya jejak-jejak jarak. Adapun ufuk tetap di sana, di kejauhan tanpa pernah sampai. Tamsil yang sesuai untuk apa yang dicari oleh Ombak. Kemudaannya membuatnya terlena pada bujuk-rayu Angin. Disangkanya tempat-tempat yang jauh akan memberikan keindahan dan bahagia. Padahal tak pernah gelombang selalu datang di pesisir. Ada masanya ketika gelombang datang, kemudian tak lama dia pun pergi. Begitu pula kebahagiaan tak pernah abadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kasih, semestinya menjadi dasar atas semua yang dilakukan oleh Pantai. Tak ada kesalahan dalam memberikan kasihnya. Pantai hanya tahu memberi tak pernah meminta kembali. Itulah prinsipnya, itulah dirinya. Namun, Ombak tak juga mengerti. Menuntut pada kasih yang lain, kasih Angin. Kasih yang palsu, berselimut pura-pura; menguarkan aroma bohong yang mengental di udara. Sayang, beribu sayang Ombak tak begitu pintar untuk mengetahui rencana tersembunyi Sang Durjana.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai ketika Ombak sudah mengelilingi semua tempat yang telah ditunjukkan Angin, dia begitu rindu pada Pantai. Pada kasih Pantai yang tulus dan menerima. Menyesal Ombak pada keputusannya dahulu meninggalkan Pantai. Namun, sesal di belakang tiada berguna. Semua telah terlambat bagi Ombak.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat tiba, disapanya Pantai; diajak bercakap-cakap. Maksud hati akan menceritakan semua pengalaman yang didapat dari perjalanan panjangnya bersama Angin. Tetapi Pantai telah lelah menunggu Ombak pulang.</p>
<p style="text-align:justify;">Pantai malah terpesona pada Bakau. Kuatnya akar menggenggam tubuh Pantai, menyatukannya tidak memecah dan mengikis seperti Ombak. Wajarlah bila Pantai lebih mengikhlaskan tubuhnya kepada Bakau untuk dihisap, diikat dijadikan habitat tempat tumbuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya, Pantai tak hanya berkawan dengan Bakau ketika itu. Karena semua penantian adalah wujud Pantai. Diterimanya segala benda, segala makhluk. Termasuk juga kura-kura. Termasuk juga sembab mata istri dan raungan tangis anak; istri dan anak nelayan yang menunggu pulang. Pantai kemudian lambang penerimaan dan penantian abadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak percuma Ombak mengarungi jarak yang panjang mencoba menggapai ufuk kebahagiaan yang tak kunjung sampai. Ternyata bisa juga dia akhirnya belajar pada Pantai. Meski tak bersatu lagi dengan Pantai, entah nanti, namun Ombak belajar bagaimana memberi seperti Pantai.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tubuhnya, kini ikan-ikan diberi kebebasan untuk berenang dan tumbuh. Begitulah cara Ombak memberi kepada sekitarnya. Adapun Angin? Tak jua bosan mengganggu Ombak, namun dia berpadu bersama Ombak sebagai nafas bagi ikan-ikan.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Saya kurang tahu, bagaimana kisah itu berakhir. Benarkah Bakau dan Pantai bersama untuk melindungi kehidupan yang lebih luas di belakang pesisir di daratan sana? Ataukah Ombak dan Angin mesra bersama-sama membesarkan ikan-ikan?</p>
<p style="text-align:justify;">Ini tentang kompromi yang tidak selalu manis, seperti saya tulis di bagian awal. Bagaimana semestinya kompromi dilakukan, diwujudkan dalam tindakan? Sudilah kiranya membagi bila sobat semua punya jawabannya. Karena waktu itu, saya sedang tidak bisa berkompromi dengan perut saya yang melapar, membayangkan ikan, digoreng atau dibakar dengan sambal terasi segar dan lalapan, hmmmâ€¦. Keinginan makan yang tidak pada waktunya ini memang merepotkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2008/12/25/ombak-pantai-dan-angin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
