Tag Archives: ombak

Pantai, Hotel, dan Kita

IMG_1473
Bocah bermain di Anyer

Di manakah pantai favoritmu, kawan?

Ketika kecil, paling-paling saya diajak ke Parantritis di mBantul sana. SMP ikut rombongan sekolah menyaksikan debur ombak di Pantai Kuta Bali. SMA mengorganisir setengah ilegal melakukan wisata ke Pangandaran. Nah, pas kuliah, bisa dolan sendiri ke deretan pantai di Gunung Kidul.

Sekarang, syukurlah bersama istri saya bisa bermain-main ke Anyer dan kemarin karena disuruh kantor ke Lombok, saya berkesempatan mampir ke Senggigi dan Kuta Lombok. Semua indah tentu saja pantai-pantai di negeri ini. Biru laut tak seperti warna laut yang aneh di Jakarta, haha. Gemuruh ombak, buih yang menyentuh telapak kaki, pasir pantai yang membuat geli, nyiur yang melambai. Hmm… apa lagi, ya?

Semua yang ditawarkan oleh pantai tentu saya nikmati dengan suka hati.

Sayangnya, di beberapa lokasi pantai itu sudah dimiliki hotel-hotel. Didirikan berderet sepanjang pantai, dipersembahkan khusus kepada pengunjung hotel. Pantai itu pun tak lagi bebas dimasuki. Padahal, biasanya adalah bagian yang paling menarik dari sebuah garis panjang pantai.

Di Anyer, bila kau tak dapat hotel yang memiliki pantai bagus, maka bersiaplah berbagi pantai dengan ribuan pengunjung lain yang memadati semacam pantai umum. Hiruk pikuk di situ dan barangkali ketenteraman mendengarkan bunyi ombak tak bisa kau temukan. Namun, itu pun cukup untuk sekadar memadamkan kerinduan kita pada pantai, bukan?

Bila kau bermobil, masuk ke pantai umum itu membayar sekitar 40ribu. Nanti di sana, kau bisa sewa sebuah griya tawang dengan harga 60ribu plus tikar. Bisa kau gunakan berlama-lama, bahkan kalau tak punya kamar, bisa pula kau menginap di situ.

Pantai, dari Griya Tawang
Pantai, dari Griya Tawang

Barangkali badanmu pegal setelah menempuh perjalanan nan melelahkan dari Jakarta, bisa kau minta ibu-ibu yang menawarkan jasa pijat untuk melancarkan aliran darah di nadimu. Saat kau lapar pun tak perlu khawatir, karena pedagang kaki lima lalu lalang di sekitarmu menjajakan aneka rupa dari mulai tato temporal sampai makan siang.

Lain Anyer lain pula Senggigi dan Kuta di Pulau Lombok. Di sana, kau cukup membayar lima ribu agar mobilmu bisa parkir di pinggir pantai. Tentu pantai umum, bukan milik hotel. Entah berapa kau harus bayar kalau di sana, sepertinya mahal.

Pantai Senggigi
Pantai Senggigi

Kalau ke Senggigi, bila tak bisa kau jangkau pantai yang indah karena sudah dikuasai hotel-hotel itu, cukuplah kau duduk di sekitar Pura Batu Bolong. Di tanjakan pada jalan berkelok nan tinggi itu, rasakan hembusan angin yang kuat dari bawah, cicipi jagung bakar dan sate bulayak yang akan menggoyang lidahmu. Kemudian jangan lupa masukkan ke saku satu sepotong senja dengan sunset yang bisa kau nikmati di sana.

Sepotong Senja dipigura di dekat Pura Batu Bolong, Senggigi
Sepotong Senja dipigura di dekat Pura Batu Bolong, Senggigi

Selamat berwisata….

Larasati

Pramoedya Ananta Toer dalam roman revolusi ini tidak hanya merekam kisah-kisah heroik kepahlawanan, namun juga lengkap dengan segala kemunafikan kaum revolusioner, keloyoan, omong banyak tapi kosong dari para pemimpin, pengkhianatan dan dibumbui kisah percintaan.

Pramoedya ingin mengukuhkan suatu komitmen bahwa revolusi atau perjuangan apa saja bisa lahir dan mencapai keagungannya kalau setiap pribadi tampil berani; tidak hanya berani melawan semua bentuk kelaliman, tapi juga bisa melawan keangkuhan dirinya sendiri.

Rasa takut bisa hilang melalui kemenangan yang didapat. Tapi menyoal kemenangan yang sekilas itu, Pram bilang, “Perjuangan selamanya mengalami menang dan kalah silih berganti. Kalau kau menang, bersiaplah untuk kalah dan kalau kau kalah, terimalah kekalahan itu dengan hati besar dan rebutlah kemenangan.

==0==

Larasati, ia adalah seorang penyanyi dan bintang film. Sebagai aktris panggung, ia harus menghibur pembesar-pembesar negeri dan pengusaha-pengusaha sukses. Termasuk juga di dalamnya adalah pembesar-pembesar Belanda dan tak lupa pribumi yang menjadi pembesar Belanda. Akibat penampilannya di panggung dan pergaulannya yang intens tersebut, ia akrab dengan mereka. Ara menjadi begitu dikenal dan kehadirannya dinanti-nanti siapa saja.

Apa yang disebutkan di atas, sayangnya terjadi pada masa damai. Ketika pembesar-pembesar negeri dan Belanda akrab tak saling serang. Padahal seperti juga kau tahu, jalannya revolusi seperti ombak di lautan. Sekali waktu memang tenang, namun di lain saat begitu bergelora. Ombak itu menghempas pantai dan meninggalkan butir-butir pasir dan buih.

Dan Ara adalah pasir, mungkin buih itu. Ia tertinggal di pantai, terhempas kian kemari, ditinggalkan arus besar yang terus bergolak.

Ara tak punya tempat  berlindung lagi, karena bila ia pasir, maka ia tergulir bersama angin. Bila ia buih, tak jarang ia harus meniti buih untuk kemudian sekali tempo terhempas lagi.

Jalan keluar yang tersisa baginya adalah: ia bergaul dengan sesama pasir, sesama buih. Mereka itu, prajurit-prajurit berpangkat rendah. Prajurit yang gelisah, namun bersemangat kendati resah. Bersama dengan kawanan barunya ini, ia pun mulai menapakkan langkah kakinya di medan revolusi. Ke mana perginya para pembesar yang dahulu dikenalnya itu?

Perjalanan Ara dimulai di sebuah kereta dalam perjalanannya dari Yogyakarta ke Jakarta. Alasan kepergiannya ini ialah, karena Yogya telah menjadi tempat yang demikian berbahaya. Sementara itu, ia teringat pula pada ibunya yang telah lama ditinggalkan di Jakarta. Di kereta itu, ia harus berpisah dengan Kapten Oding yang jelas-jelas menaruh hati pada Ara.

Perjalanan Ara kemudian adalah paparan bagaimana manusia republik memandang revolusi. Tentang anak-anak muda yang bersemangat hendak melahirkan sejarah. Sejarah yang banyak meminta tumbal nyawa dan Ara menjadi saksi kematian satu orang di antara pemuda itu. Sosok pemuda yang di mata Ara begitu dihormati dan pada saat yang sama ditangisi kepergiannya.

Ara memupuk optimisme terhadap peristiwa di sekitarnya bersama dengan nenek-nenek tetangganya. Nenek itu kendati sudah lanjut, namun tak kurang-kurang memberikan dukungan pada para remaja pejuang. Dan paling penting, bersama dengan ibu yang dulu ia khianati dan sekaligus begitu dicinta ia merenda semangat dan menyulam rasa takut justru menjadi kekuatan.

Di sisi lain, Ara juga mesti menjadi saksi para pengkhianat negeri. Kaum oportunis yang hanya tau petik untung injak liyan. Nama-nama seperti Kolonel Surjo Sentono, Mardjohan dan masih banyak yang lain telah begitu membuatnya jijik. Seakan-akan penderitaan sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, ia pun mesti bertemu dengan keluarga Alaydrus. Sebuah keluarga keturunan arab yang menjadi majikan ibunya. Pada gilirannya, Ara bahkan harus menjadi kawan hidup Jusman—seorang dari Alaydrus itu—lengkap dengan semua deritanya.

Pada akhirnya, Ara kemudian…. Ah, sebaiknya dibaca sendiri bagaimana menariknya salah sebuah karya Pram ini, selamat membaca.

Lagu Pesisir

Dengarlah nyanyian ombak

Janganlah terlampau menyimak

Agar nyanyian camar

Masih bisa kau dengar

Tengoklah teluk yang menangis

Hatinya luka tubuhnya teriris

Digerus ombak yang bergulung

Laksana sepatah hati yang murung

Liriklah tanjung yang jumawa

Tempat suar berdiri lampunya menyala

Merangsek ombak menciutkan laut

Bagai hati mengkerut walau terpaut

Di mana panjang berderet karang?

Nun di sana tegak jadi penghalang

Ikan berenang di tenang laguna

Adalah hati senang kabar bahagia

Dan buih, gulungan ombak dan laut

Dan camar, lambaian nyiur, awan tersangkut

Ada nelayan pulang bersandar

Ada lagu pesisir bisa kau dengar

Sridewanto Edi/110609