Perjalanan Skuter

SKUTERCiri khas skuter adalah rangka yang menjadi satu dengan bodi (monocoque) sehingga sang pengendara memiliki pijakan khusus untuk meletakkan kaki.

Pada mulanya adalah Hildebrand dan Wolfmuller yang merintis model awal dari sepeda motor pada 1894. Sayangnya, karena desainnya yang rumit, membuat model ini tidak berkembang. Selanjutnya pada 1902, pabrikan di Prancis memproduksi cikal-bakal skuter bertipe auto fauteuil. Skuter jenis ini menggerakkan roda belakang dengan sistem rantai seperti sepeda motor biasa.

Generasi pertama skuter berakhir pada Continue reading “Perjalanan Skuter”

Kereta Angin di Shanghai

Saat membaca koran, saya menemukan artikel artikel berjudul ‘Sepeda Listrik Merajai Shanghai’ sebuah feature bagaimana di Shanghai sepeda begitu luas digunakan. Berikut ringkasan dari artikel tersebut.

Pukul 06.00 waktu setempat, jalanan sudah ramai oleh warga yang beraktivitas. Mereka mengendarai sepeda untuk menuju tempat kerja, mengantar anak ke sekolah, dan juga ke pasar. Selain itu, Continue reading “Kereta Angin di Shanghai”

Blind Spot

Blind spot adalah keadaan di mana pandangan mata terhalang sesuatu benda. Hal ini juga sering terjadi karena keterbatasan daya pandang mata kita sehingga kadang pengendara sepeda motor tidak bisa melihat pergerakan kendaraan di sekitarnya. Proses kecelakaan biasanya diawali karena tidak disadarinya kehadiran kendaraan lain di sisi pengendara.

Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menghindari blid spot Continue reading “Blind Spot”

Jalan Pintas

Menerobos mencari jalan pintas

Siapa yang salah? Pembuat desain tangga/jalur untuk menuju halte transjakarta atau pengendara motor yang terlampau malas untuk memutar di jalur yang sudah disediakan?

Siapa yang dirugikan? Pejalan kaki yang akan menuju halte, pengemis yang terganggu tempat mangkalnya dilalui sepeda motor atau pedagang kaki lima yang harus memberikan ruang untuk pengendara malas itu?

Eh, atau malah diuntungkan? Kalau tukang ojek bisa memangkas jarak, penumpang pun senang tak harus merogoh kocek dalam-dalam. Juga pengendara motor yang tak harus memutar jauh.

Sebuah gambar dari halte ‘Jembatan Gantung’ di Jalan Daan Mogot

Motor Matic

Scoopy itu cantik, ya? Menurut saya stripingnya yang minimalis itu keren banget.

Setelah saya biasa mengarungi jalanan Jakarta, barulah terasa kalau kalajengking saya itu kurang sesuai untuk menembus macet. Bodinya yang bongsor kurang lincah bergerak meliuk-liuk di antara kendaraan yang lain. Kendati tenaganya besar, namun tak spontan, sehingga kurang bisa ngebut dengan jarak pendek-pendek. Stangnya yang lebar dan spionnya yang gede pun menjadi penghalang menelusup di antara dua mobil. Biasaya saya malah jadi penghalang motor lain yang mau melintas di gang yang terbentuk antara dua mobil.

Paling parah adalah, karena kalajengking itu berkopling. Ugh, tangan kiri saya capek sekali. Bisa-bisa tangan saya besar sebelah. Sedikit-sedikit harus menekan tuas kopling. Masih untung tuasnya empuk ditekan, kalau tidak? Wah, ngga terbayang, deh.

Oya, kalajengking juga kurang sesuai untuk keperluan rumah tangga. Tangki bensin yang di depan itu tidak mendukung untuk belanja. Tak ada tempat menaruh belanjaan, huh! Di kondisi ini malah lebih berguna mio istri saya. Ia bisa menampung banyak barang.

Memang rasanya motor matic adalah jenis sepeda motor yang paling pas untuk kondisi jalanan di Jakarta. Di muka saya sudah menyinggung soal kerennya motor scoopy, namun masih ada kendala. Motor itu terlampau kecil untuk saya dan istri. Saya kurang suka dengan shockbreaker belakangnya yang cuma satu. Ada lagi pilihan lain, yaitu dengan skydrive punyanya suzuki. Nah, yang ini lebih gede bodinya pun shokbreaker belakangnya dua.

Semoga ada rezeki nanti, sehingga saya bisa ganti tunggangan.

Maafkan Jakarta

Melanjutkan kisah kemarin mengenai kontrakan, sudah diketahui, bukan, bahwa sekarang saya tinggal di tempat yang jauh dari kantor. Memang ada halte Transjakarta terdekat, namun itu pun harus saya tempuh cukup jauh untuk ukuran berjalan kaki. Belum lagi antri di halte cukup lama pada pagi hari yang salah-salah akan membuat saya terlambat masuk kantor.

Sekarang saya pun tak sendiri di kota ini. Bersama dengan Chinta, istri saya, saya arungi hari demi hari. Termasuk di antaranya adalah upaya pemenuhan kebutuhan kami sebagai manusia, mulai dari urusan perut, kesehatan, kecantikan sampai hiburan. Tuntutan dari pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah adanya sarana transportasi yang mumpuni untuk kami berdua.

Sepeda motor, itulah jawaban dari kebutuhan kami menyangkut transportasi. Bagaimana memeroleh motor dalam waktu singkat tanpa perlu keluar uang banyak? Jawabannya mudah sekali, yakni dengan mengirimkan motor saya di kampung yang selama di sana selalau nganggur ke sini.

Cukupkah masalah terselesaikan? Hah, rupanya masih ada persoalan lain, yakni perbedaan jadwal antara saya dan Chinta. Yup, jam kerja kami memang berbeda; saya bekerja dari pagi sampai sore hari. Chinta di sisi lain bekerja dari siang sampai dengan malam hari. Muncullah persoalan lain, yakni bagaimana ia harus mencapai kantornya jika motor saya bawa ke kantor? Lagi pula tidak mungkin, bukan, pabila saya harus sering keluar kantor untuk mengantarkannya ngantor?

Ya sudah, Continue reading “Maafkan Jakarta”