Membincangkan Pot Bunga

Beberapa waktu yang lalu, di depan kamar saya ada delapan pot bunga. Sebuah pot besar berisi Bougenville, tiga buah pot berisi kamboja merah dan empat buah pot berisi tanaman sebangsa rumput-rumputan.

Kemarau, angin dan terik mentari menjadikan beberapa tanaman mengering dan layu. Bougenville masih bertahan bahkan berbunga. Kamboja, asal selalu disiram malah makin hijau dan berbunga cantik. Hanya sekelompok rerumputan itu yang tidak kuat bertahan, daunnya menguning, mengering. Kasihan sekali seperti sekarat dan mengharapkan kesejukan.

Saya biasa melirik semua pot itu, sekedar melirik. Niatan untuk menyiram atau membawanya ke tempat teduh pun ada. Sebatas niatan, tak pernah berakhir pada tindakan nyata. Sampai beberapa hari yang lalu, tidak saya temukan lagi empat pot rerumputan di depan kamar. Ibu kos, nampaknya telah memindahkannya ke bawah di tempat yang teduh di taman kecil di sekitar dapur.

Sekarang, pot-pot berisi rerumputan berbaris rapi di rak-rak dari bambu, terlihat segar dan hijau. Senang sekali melihat daunnya bergoyang ditiup angin.

***

Masih di taman kecil dekat dapur itu, rerumputan yang sama tumbuh juga di tanah. Jenis tanaman yang mudah sekali tumbuh dan berkembang biak, seringkali membuat pot terlalu penuh. Sebagian harus dikeluarkan, ditanam di tempat lain.

Saya pernah melihat taman di sebuah hotel, rerumputan yang sama juga ada di sana. Ditanam di kantong-kantong plastik, diatur sedemikian rupa, mengelilingi tanaman yang lebih besar. Akhirnya rerumputan ini membentuk semacam batas, garis yang membatasi zona tanaman dengan zona terbuka di sekitarnya. Mempercantik taman-taman kecil di hotel itu.

Mungkin Ibu melihat taman di hotel dan memperoleh ide untuk melakukan hal yang sama di dekat dapur. Sayangnya Ibu lupa, rerumputan di hotel ditanam dalam kantung plastik, sementara di rumah agar tak repot, langsung ditanam begitu saja.

Entahlah, di mana letak kesalahannya? Rerumputan yang ditanam di tanah tidak sebagus yang ditanam di pot bunga atau kantung plastik. Semestinya, bukankah akan subur dan berkembang biak ke sana ke mari? Tapi itu tidak pernah terjadi, hanya merumpun kecil, mengelompok di tempat yang itu-itu saja.

***

Bila Anda suatu ketika diberi pilihan, mana yang akan Anda pilih? Tumbuh di dalam pot ataukah langsung di tanah?

Di dalam pot, media tanam begitu terbatas. Akar, tidak akan leluasa menancap di media tanam. Ketersediaan air, unsur hara dan kebutuhan lainnya janganlah membuat risau. Empunya yang rajin akan menyiram secara berkala, di waktu-waktu tertentu juga akan menambahkan pupuk, melengkapi nutrisi untuk tanaman.

Tanaman menjadi terlalu subur adalah risiko yang harus dihadapi kemudian. Berebutan tumbuh, berkembang di lahan yang sempit. Berdesakan, saling membunuh. Tanaman akan dicabut sebagian, begitu mudah dicabut dan dipindahkan ke tempat lain dengan tidak kalah mudahnya.

Kondisi yang berkebalikan akan ditemui pada tanaman yang langsung tumbuh di tanah. Kompetisi mendapatkan air dan unsur hara sudah dimulai sedari awal. Barangkali akar, akan menjulur sampai ke tempat yang jauh mencari air, mencari unsur hara, nutrisi untuk tumbuhnya.

Tak perlu kompetisi yang berlebihan di antara tanaman karena lahan yang tersedia masih sangat banyak dan terbuka. Bila bersedia melakukan perjalanan, usaha yang tak kenal menyerah, maka tumbuh adalah buahnya.

Namun, suatu ketika empunya akan merasa terganggu dengan tanaman yang tumbuh sembarangan. Taman menjadi tidak cantik, dilakukan usaha untuk merapikannya, menata. Cukupkah dengan dicabut? Ternyata tidak jawabnya.

Tercerabutnya akar dari sebuah tanaman, akan memicu tercabutnya tanaman lain di sekitarnya. Ikatan yang ada di antara tanaman begitu kuat. Perlu alat bantu berupa cangkul untuk merapikannya, memangkas paksa tubuh tanaman sampai dengan akarnya.

***

Kemerdekaan, barangkali dimiliki oleh tanaman yang tumbuh begitu saja di tanah. Terpasung, dijajah mungkin itu yang dialami oleh tanaman yang ada di dalam pot. Meski mungkin wajah, penampilan tak sebagus tanaman dalam pot, namun tanaman yang berjuang untuk hidupnya memberikan pelajaran lain.

Perjuangan untuk hidupnya, tentu saja tidak sama dengan pemberian untuk hidupnya. Usaha akar mendapatkan air, perjuangan daun memperoleh cahaya di antara rimbun tanaman lain, mungkin adalah nilai lebih. Berjuang sekuat tenaga saat kemarau tiba, menghemat dan tidak rakus saat penghujan datang mungkin adalah seni yang lain. Seni yang tidak dimiliki tanaman dalam pot, yang tinggal menerima jatah air, jatah pupuk, jatah cahaya.

Hal lain yang pantas kiranya untuk disebutkan adalah : tanaman di taman memiliki alamat tinggal yang jelas. Dia adalah warga dari sebuah taman di dekat dapur misalnya. Tentu saja tidak sama dengan tanaman di dalam pot. Di mana alamatnya? Karena terkadang ia ada di dapur dekat kompor, seringkali di tangga, lain waktu di beranda menyambut tamu. Ada yang istimewa dari tanaman yang tumbuh di taman. Suatu ketika bila ia tercerabut, akan mengenangkan taman sebagai rumahnya, tempat pulang.

Kemerdekaan akhirnya adalah hasil dari perjuangan hidup, adalah identitas, rumah yang bisa disebutkan sebagai tempat pulang. Meski mungkin tidak selalu cantik, tak jua selalu dilihat tamu.

asal gambar

[adsenseyu1]

Warisan Kemerdekaan

“Paman, ceritakanlah tentang kemerdekaan!”

“Apa yang ingin kau ketahui?”

“Semuanya Paman, semuanya.”

Dahaga keingintahuan ponakan saya yang pintar, ataukah usil sebenarnya? Tidak pernah mudah saya jawab. Ada saja pertanyaan lanjutan, dan keraguan yang muncul setiap mendapatkan jawaban baru. Malas, dan rasa penasaran yang sama, membuat saya mengajaknya kepada mBah Darmo, konon beliau ini pejuang pada masa kemerdekaan dahulu.

Tiada yang istimewa dari orang tua itu, keriput telah menjadi hiasan muka; tangan dan sekujur tubuhnya. Rambutnya yang putih keperakan, menjadi penanda jumlah umur yang telah dilewati. Gigi sudah tidak lengkap mendiami rongga mulutnya yang berjelaga nikotin. Lebih banyak melamun di beranda rumah, mengawasi cucunya bermain. Nampak putus asa, terengah-engah tertinggal laju jaman yang kian cepat dan tak bisa diikuti olehnya.

Matanya berkilat memancarkan semangat, saat ponakan saya mulai bertanya tentang kemerdekaan. Tak lama kemudian redup, seakan menanggung derita yang dalam. Binar yang bergelora dan berapi-api, bahkan dalam usia senja yang tak bisa ditutupinya. Kesedihan mendalam, seperti remaja putus cinta mengakhiri ceritanya.

***

Kampung kita, adalah tempat pertemuan pejuang dengan penjajah cucuku. Tidak akrab, bukan diawali dengan saling bersalaman dan bertukar senyuman. Kami berkumpul di rumah Pak Lurah, pada malam itu. Penjajah sudah merapat di selatan desa.

Sawah yang menguning sekarang ini, adalah saksi. Di sana kami mengendap-endap di antara pematang, parit dan rimbun ilalang. Beringsut, semakin mendekati perkemahan musuh. Jelas kami dengar, celoteh para penjaga dalam bahasa kita. Penghianat, selalu saja menjijikkan bahkan dalam gelap itu, kami dapat melihat seringai mencibir dari bibir mereka.

Darah mendidih, bambu runcing erat dalam genggaman. Bersijingkat pelan, di antara batang padi muda; gulma dan ilalang. Diam; waspada, kami berjalan. Di dalam sana, degup jantung tidak karuan. Begitu riuh, seperti akan menghancurkan rongga-rongga dada.

Teriakan membahana menjadi awal penyerbuan kami. Kecewa, kami kecewa! Mereka telah siap ternyata. Suasana sepi dan santai yang tersaji, adalah strategi mereka. Memerangkap kami, dalam pertempuran jarak dekat yang sudah dirancang sebelumnya. Korban berjatuhan dari kedua pihak, sawah di selatan desa tergenang darah. Darah perjuangan!

Pemimpin kami, anak sulung Pak Lurah telah terluka pahanya. Segera memberikan aba-aba mundur, sambil membakar ilalang dan rumah-rumah di kampung kita. Aksi bumi hangus, kami menyebutnya. Bukit, lereng bukit di utara itu kau lihat? Di sana kami bersembunyi, sesekali masih melakukan gerilya. Memotong jalur logistik musuh, merampas makanan untuk wanita dan anak-anak kami.

Kami tidak mengetahui, apakah itu kemerdekaan sebenarnya. Bagi kami, bisa mengolah sawah dengan bebas, tanpa terbebani pajak. Bagi kami, bisa bercengkerama dengan orang tua, anak dan cucu tanpa khawatir, adalah kemerdekaan. Mahal harga yang harus kami bayar, harta; nyawa; waktu luang menjadi penebusnya. Demi sebuah udara yang bebas; air yang jernih, telah menganak sungai darah yang tertumpah.

Sayang, kemerdekaan itu belum tercapai hingga kini. Lihatlah! Di beranda ini aku melihat dunia. Udara bebas kuhirup, membawa kabar duka lara dari tempat-tempat yang jauh. Duka mereka yang terpinggirkan di rumah sendiri. Lara mereka yang teraniaya oleh saudara sendiri. Di beranda ini, semua itu kulihat.

Perjuangan tidak pernah berakhir. Padi menguning, bulir-bulirnya yang padat; penuh. Punggung kami yang menghitam, dan melengkung aneh kebanyakan mencangkul. Masih kurang, untuk menebus minyak tanah dan minyak goreng. Makanan yang ada, hanya ikan asin, nasi aking dan sambal. Meski sederhana, peluh tak henti mengalir untuk menebusnya.

Kami tak pernah menuntut, memberi dan memberi itu yang kami bisa. Penderitaan kami, adalah harga yang pantas. Demi anak dan cucu yang bisa tertawa bahagia; demi kesempatan yang akan terbuka lebar. Sudah menjadi kewajiban kami menderita, kami percaya, bila di balik itu kejayaan membayang. Negara ini sungguh besar dan kaya. Tak berkurang kekayaannya, bahkan bila perutnya diaduk, hasilnya dimasukkan kantong sendiri. Korupsi takkan mengurangi kekayaannya. Pengkhianatan perjuangan, sudah ada semenjak dahulu kala. Bukan masalah yang besar bila kami dipinggirkan, dipandang sebelah mata dan dimasukkan panti jompo.

Hari-hari kami, sudah tidak berbeda lagi. Pengulangan demi pengulangan sejarah selalu terjadi. Mereka yang hari ini jumawa, mungkin besok akan menderita. Mawas diri, melihat dunia hanya dua sisi mata uang yang berganti-ganti kita dapatkan. Tiada lagi yang menjadi kejutan, semua adalah kewajaran. Aji mumpung ada dan mendapatkan kesempatan, masih ampuh diterapkan. Tersenyumlah, lihatlah semua itu! Petiklah pelajaran, menjadi pengalaman.

Aku tidak pernah bosan menjadi saksi. Kesedihan; dipinggirkan; ditinggalkan sudah biasa kudapatkan. Tersenyum yang semestinya mudah, menjadi susah. Bukan; bukan karena aku tidak bisa tersenyum. Aku hanya malu tersenyum, karena gigi yang tanggal, kempot di pipi menjadi bahan tertawaan. Seperti apa yang kau tahan-tahan dari tadi itu kan cu? Kenapa tidak kau lanjutkan menjadi tawa? Dan marilah kita tertawa bersama-sama.

***

“Paman, apakah kita sudah merdeka?”

“Paman?!”

Saya bukannya tidak mendengar panggilan ponakan saya, juga pertanyaannya. Saya masih tertawa, teringat gigi yang tanggal, dan kempot di pipi. Ah, jahatnya saya …

[adsenseyu1]