<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>unclegoop[dot]com &#187; menunggu</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.com/tag/menunggu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.com</link>
	<description>melintas batas ruang dan waktu</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 15:16:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Jalan Kita</title>
		<link>http://unclegoop.com/2012/02/06/jalan-kita/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2012/02/06/jalan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 08:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[jalan]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[menunggu]]></category>
		<category><![CDATA[patience]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1915</guid>
		<description><![CDATA[Angin mengembara di ruang ini, menyentuh rambutku, mengusap pipiku. Terasa dingin. Hei, benarkah itu angin? Tak tepat begitu ternyata. Ada air mata yang mengalir di pipiku. Itulah yang tersapu angin. Keduanya, air mata dan angin bersekutu, maka terasa dingin bagiku. Perlahan, aku mengusap air bening itu dari pipiku. Aku tak apa, aku masih bisa tersenyum, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Angin mengembara di ruang ini, menyentuh rambutku, mengusap pipiku. Terasa dingin. Hei, benarkah itu angin?</p>
<p style="text-align: justify;">Tak tepat begitu ternyata. Ada air mata yang mengalir di pipiku. Itulah yang tersapu angin. Keduanya, air mata dan angin bersekutu, maka terasa dingin bagiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan, aku mengusap air bening itu dari pipiku. Aku tak apa, aku masih bisa tersenyum, bahkan ketika aku begitu rindu padamu. A, sekarang aku memikirkanmu setiap hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada satu masa ketika aku tak yakin dengan semua ini. Terutama tak yakin denganmu, A. Sungguh aku tak tahu apa penyebabnya. Mungkinkah karena kerinduan ini sudah demikian menyakitiku?</p>
<p style="text-align: justify;">Ketakyakinanku itu mulai berpendar-pendar di hatiku, hampir-hampir memenuhinya sampai ketika kamu membuat semua menjadi begitu mudah. Kamu membantuku, menunjukkan jalan bagaimana aku harus melaluinya. Tak tahu dengan apa lagi aku harus berterima kasih padamu atas jalan yang telah kau tunjukkan itu. Kini, tak ada lagi keraguan di hatiku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Perlahan saja, maka semua akan menemukan jalannya sendiri. Semua akan baik-baik saja, sayang.” Begitu katamu menenangkan debar yang bergemuruh di hatiku. “Yang kita butuhkan hanyalah sedikit bersabar, kau tahu itu?” Ya, A, pada detik itu kamu mengingatkanku akan satu hal yang kadang, ah, atau seringkali kulupakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, biarlah rindu ini menyapaku dengan manis dan aku akan menyesapnya penuh kenikmatan. Apabila kau tak bisa kutemui sekarang, maka biarlah aku akan menunggu sampai waktu mempertemukan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, kau tahu, kan, kadang aku pun begitu marah dalam menunggumu. Ugh, kenapa pula kau tak kunjung tiba? Hanya, itu di luar kuasaku untuk mempercepat waktu, biarpun hanya sedetik lebih cepat. Sedetik yang lebih cepat agar kita bisa segera bertemu. Sebenarnya, kita berdua tahu, bahwa penantian itu adalah sebuah keniscayaan yang harus terjadi. Kita paham, masih ada satu hal yang harus kita pikirkan bersama, bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Kamu bilang perlahan saja, maka semua akan baik-baik saja. Menurutmu kita berdua hanya perlu bersabar. Dan… aku setuju itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamu juga bilang, “Manfaatkanlah waktumu, karena cahaya yang mereka lemparkan begitu terang.” Lebih jauh, kamu kembali mengingatkanku, kita memerlukan ini semua untuk menjadikannya nyata. Kita perlu itu sebagai sebuah jalan bagi kita berdua, jalan yang semoga tak akan memperdaya kita dan kita pun tak akan sekali-kali merusaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bersabarlah… sedikit lagi kesabaran.…” Demikian terus-menerus kamu berkata selayaknya merapal sebuah mantra.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah kulalui jalan ini kemarin malam, dan kemarinnya, serta kemarinnya lagi. Aku menyusurinya berulang kali menjadi rutinitas. Kali ini aku kembali mencoba menyusurinya, menemukan jalanku sendiri, atau mungkin lebih tepat menemukan jalan kita, sebuah bagian yang benar dari keseluruhan jalan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">A, padahal kamu tahu, bukan? Ini sungguh bukan hal yang mudah menemukan ‘jalan’ kita manakala di sana begitu banyak orang. Sementara kalau aku harus berhenti untuk mencari jalan kita, maka aku harus berhenti di tengah keriuhan itu, padahal semua itu membuatku gila. Aku tak suka berada di keramaian, terutama kalau itu tanpamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu banyak jalan di sana kau tahu, A? setiap hari barangkali ada penambahan, kendati mungkin jalan kita masih ada, namun bisa saja ia sudah berganti nama. Jadi, bagaimana lagi aku harus menemukannya bila itu terjadi. Barangkali aku tak punya waktu lagi untuk permainan pencarian jalan itu. Mungkin aku sudah akan terlampau lelah mencari, sementara kamu tak ada di sisiku. Aku memerlukanmu, A, perlu kamu, sekarang juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah terjemahan bebas dari ‘Patience’ punya Gun ‘n Roses. Silakan dinikmati sembari mendengarkan lagunya <img src='http://unclegoop.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=ErvgV4P6Fzc&amp;ob=av2e">Patience-Gun &#8216;n Roses</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2012/02/06/jalan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Aku Menunggumu</title>
		<link>http://unclegoop.com/2011/12/25/saat-aku-menunggumu/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2011/12/25/saat-aku-menunggumu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 00:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[anniversary]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[mencuci]]></category>
		<category><![CDATA[menunggu]]></category>
		<category><![CDATA[menyetlika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1833</guid>
		<description><![CDATA[Ini kelanjutan dari kisahku saat sejenak menunggumu. Saat aku menunggumu, inilah yang biasa kulakukan untuk mengisi detik-detik yang berlalu sedikit membosankan itu. Mula-mula aku akan beristirahat dan mengeringkan keringat serta bau jalan yang menempel di tubuhku. Biasanya aku akan duduk sambil melihat berita sore di televisi. Manakala keringat sudah kering, kemudian aku pun pergi mandi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://vi.sualize.us/view/a58d63697cf7eac611522725ac2352bd/"><img class="size-medium wp-image-1834 aligncenter" title="love" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/12/love-300x199.jpg" alt="ada cinta :D" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Ini kelanjutan dari kisahku saat <a title="Sejenak menunggu" href="http://unclegoop.com/2011/12/19/sejenak-menunggumu/" target="_blank">sejenak menunggumu</a>.</p>
<p>Saat aku menunggumu, inilah yang biasa kulakukan untuk mengisi detik-detik yang berlalu sedikit membosankan itu.</p>
<p>Mula-mula aku akan beristirahat dan mengeringkan keringat serta bau jalan yang menempel di tubuhku. Biasanya aku akan duduk sambil melihat berita sore di televisi.</p>
<p>Manakala keringat sudah kering, kemudian aku pun pergi mandi.</p>
<p>Selepas itu, aku akan menghangatkan sayur atau apa pun yang kau masak pagi tadi. Jika sudah selesai, aku pun mulai menikmatinya sendiri.</p>
<p>Biarpun kunikmati sendiri, namun rasa dalam masakan itu sungguh kaya. Bagaimana tidak bila kuingat untuk setiap suapannya ada sumbangsih kita masing-masing. Sedikit uang belanja yang kuberikan setiap bulan, setiap langkah kakimu yang telaten menyusuri pasar. Di pasar, akan kau cari bahan masakan yang pas untuk kau masak hari ini, mungkin yang harganya sedikit lebih murah agar uang belanja itu bisa cukup untuk sebulan. Sampai di rumah, lalu kau berpeluh mengolah bahan-bahan itu menjadi masakan yang nikmat sekali.</p>
<p>Tugasku adalah menyuci dan menyetlika. Maka akan kupilih-pilih pakaian kotor kita, mengaturnya di dalam mesin cuci. Lalu menjaga agar mesin cuci itu bisa bekerja dengan baik. Menuangkan sabun, menjaga pasokan air agar ajeg dan tak timbul error dari mesin cuci yang menimbulkan bunyi berisik.</p>
<p>Saat memilih-pilih baju kotor itu, maka entah bagaimana kadang haru muncul. Iya, di antara bau baju yang sudah apak itu, ada tercium aroma kuat keringatku. Di sesela bau tak enak itu, terkadang tercium pula wangi parfum yang biasa kau kenakan.</p>
<p>Setiap baju kotor memberi arti tersendiri….</p>
<p>Saat tiba memilih dan sampai di baju seragam pabrikku, maka aku ingat pagi yang macet dan panas. Itulah biang keringat yang kadang kuproduksi berlebih dan menempel di baju sampai membuatnya basah.</p>
<p>Demikian juga ketika aku sampai untuk memilih bajumu, ada aroma parfum yang masih menempel di seragam. Kadang juga wangi minyak kayu putih saat malam tadi aku mengoleskannya karena perutmu kembung. Lain waktu, aku bisa tertawa atau merona malu sendiri, hahaha.</p>
<p>Apabila semua baju telah dicuci, maka besok malamnya kembali menjadi tugasku untuk menyetlika. Tak seperti menyuci yang bisa kutinggal-tinggal, untuk menyetlika aku harus duduk beberapa jam. Terkadang pegal pun hinggap di punggung. Sebagai temanku, aku biasa menyetel televisi sebagai hiburan agar tak terlampau penat.</p>
<p>Saat tiba menyetlika bajuku, tak ada yang istimewa karena sudah semenjak SMP hal ini biasa kulakukan. Seperti biasa aku mencoba memberikan setlikaan terbaik agar penampilanku pun prima, hehe.</p>
<p>Hal yang berbeda adalah ketika harus menyetlika bajumu. Ah, aku baru tahu kalau ternyata baju perempuan itu repot betul potongannya. Aku yang sudah terbiasa menyetlika baju, kaos atau jeans harus belajar ulang bagaimana menyiasati potongan baju perempuan. Masalah masih bertambah karena bukan hanya potongan yang ‘istimewa’. Bahan baju atau celana perempuan pun lebih beragam.</p>
<p>Khawatir muncul manakala aku menyetlika bajumu. Aku takut tak memberikan hasil setlikaan yang licin, ah, bagaimana nanti penampilanmu? Aku pun kadang ragu saat menemukan bahan tertentu, aku memerlukan bertanya padamu, namun kamu tak ada. Kekhawatiranku adalah apabila aku salah menyetlika, maka bajumu bisa rusak. Wah, kalau sampai itu terjadi, maka detik itulah malapetaka untukku dimulai. Bisa-bisa kamu meminta baju baru sebagai gantinya dan tak hanya satu, hahaha….</p>
<p>Dengan semua kesibukan itu, maka debar di hatiku bisa teredam. Aku tak terlampau khawatir memikirkanmu. Hanya, ketika lewat jam biasa kamu pulang, maka ada badai di dadaku.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Ps: terima kasih untuk Chinta yang setahun ini sudah demikian sabar menemani hari-hari saya. Happy Anniversary.</p>
<p>Gambar meminjam dari <a title="gudang gambar :D" href="http://vi.sualize.us/view/a58d63697cf7eac611522725ac2352bd/" target="_blank">sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2011/12/25/saat-aku-menunggumu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejenak Menunggumu</title>
		<link>http://unclegoop.com/2011/12/19/sejenak-menunggumu/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2011/12/19/sejenak-menunggumu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 03:13:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[chinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kamu]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[menunggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1802</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang magrib biasanya aku akan tiba di rumah. Sampai di parkiran tak kutemukan motormu. Kamu telah pergi, seperti biasa, menyibukkan diri membantuku menjaga agar asap tetap mengepul dari dapur kita yang mungil. Sampai di pintu, aku tahu hanya kekosongan rumah yang menantiku. Tak ada sapamu yang selalu cerewet mengganggu sunyiku. Tak juga senyummu yang mengembang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/12/antyo-sedang-menunggu.jpg.scaled.1000.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1803" title="antyo-sedang-menunggu.jpg.scaled.1000" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/12/antyo-sedang-menunggu.jpg.scaled.1000-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Menjelang magrib biasanya aku akan tiba di rumah. Sampai di parkiran tak kutemukan motormu. Kamu telah pergi, seperti biasa, menyibukkan diri membantuku menjaga agar asap tetap mengepul dari dapur kita yang mungil.</p>
<p>Sampai di pintu, aku tahu hanya kekosongan rumah yang menantiku. Tak ada sapamu yang selalu cerewet mengganggu sunyiku. Tak juga senyummu yang mengembang lebar menyambutku.</p>
<p>Saat kubuka pintu, segala jejakmu langsung menyeruak. Pasti pagi tadi kau telah susah payah menyapu dan mengepel sampai harum obat pel mampu menyentuhi ujung-ujung indera penciumanku.</p>
<p>Masuk lebih dalam, peraduan kita pun telah rapi. Karena aku masih ingat, bagaimana hasil perbuatan kita telah membuat sprei dan bantal centang perenang tak beraturan. Pasti pagi tadi kau sibuk sekali merapikan sprei, menata bantal dan membersihkan semuanya.</p>
<p>Di dapur, entah kerupuk, sayur atau masakan lain sudah siap tersaji. Pasti pagi tadi kau telah dengan sabar menyusuri jalan ramai pasar dan mencari bahan-bahan untuk masakan itu.</p>
<p>Dengan begitu riuhnya rumah oleh jejakmu yang tertinggal di lantai, di pembaringan, di dapur, maka bagaimana mungkin aku tak merasa hangat? Jemari tanganmu pasti telah menyentuhi semua barang itu dengan penuh sayang, sehingga aku pun merasa harus bersyukur dan berterima kasih untukmu, istriku.</p>
<p>Maka di sinilah aku menunggumu dengan sabar sampai saat kamu pulang nanti.</p>
<p>Gambar meminjam punya <a title="Paman Tyo menunggu, saya juga, tapi kita tak saling tunggu :))" href="http://antyo.posterous.com/menunggu#">Paman Tyo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2011/12/19/sejenak-menunggumu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hachiko-Tentang Menunggu</title>
		<link>http://unclegoop.com/2010/05/25/hachiko-tentang-menunggu/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2010/05/25/hachiko-tentang-menunggu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 03:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[jendela dunia]]></category>
		<category><![CDATA[anjing]]></category>
		<category><![CDATA[Hachiko]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[menunggu]]></category>
		<category><![CDATA[parker]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1014</guid>
		<description><![CDATA[Tentang menunggu…. Hachi kedinginan di stasiun kereta pada petang hari yang hujan. Hachi adalah anjing kecil yang hilang tak bertuan. Sore itu, ia tersesat di stasiun dan kemudian berjalan tak tentu arah. Boleh jadi sebuah kebetulan, yaitu ketika langkah kaki Hachi terantuk sepasang kaki yang kokoh. Ia tak tahu siapa pemilik kaki itu, tak pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://1.bp.blogspot.com/_-UBuBRPqVgY/S74ShyaFKZI/AAAAAAAAAJk/BIlsMlLk8Hs/s400/Hachiko+Movie.JPG"><img class="alignleft" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px; border: 2px solid black;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-UBuBRPqVgY/S74ShyaFKZI/AAAAAAAAAJk/BIlsMlLk8Hs/s400/Hachiko+Movie.JPG" alt="" width="240" height="202" /></a>Tentang menunggu….</em></p>
<p>Hachi kedinginan di stasiun kereta pada petang hari yang hujan. Hachi adalah anjing kecil yang hilang tak bertuan. Sore itu, ia tersesat di stasiun dan kemudian berjalan tak tentu arah.</p>
<p>Boleh jadi sebuah kebetulan, yaitu ketika langkah kaki Hachi terantuk sepasang kaki yang kokoh. Ia tak tahu siapa pemilik kaki itu, tak pernah ia temui sebelumnya. Namun, pada saat itu tatapan mata keduanya telah beradu, baku pandang.</p>
<p>Lelaki itu, Parker Wilson, serta-merta mengangkat Hachi yang kedinginan, membawa dalam pelukannya. Kemudian, seperti ada jalinan pengertian di antara keduanya ketika detak jantung mereka saling berpadu, seperti saling mendengar dan didengar. Dua jantung yang bergerak seirama, segendang-sepenarian. Dari situ, berawallah keakraban di antara mereka berdua.</p>
<p>Keduanya seperti disatukan oleh rasa kehilangan yang sama. Parker kehilangan anak lelakinya, sementara Hachi kehilangan tuannya. Mereka lantas merasa bisa saling mengisi, memenuhi dan melengkapi satu sama lain. Memang, manakala dua orang yang pernah mengalami kehilangan bertemu, maka pertemuan itu menjadi begitu istimewa.</p>
<p>Parker dan Hachi menjadi tak terpisahkan. Ihwal intensitas komunikasi, lalu kualitas pertemuan bukan lagi hal yang patut dirisaukan. Jalinan hati dengan hati itu begitu kuat, bahkan kendati kata tak diucapkan.</p>
<p>Hachiko: A Dog’s Story, saya kira telah berhasil menyajikan jalinan ikatan antara anjing dan manusia yang begitu dalam itu. Hubungan yang kuat itu tersaji dengan begitu jelas melalui upaya menunggu tak kenal waktu Hachi pada Parker.</p>
<p>Kisah penantian itu bermula saat Hachi senantiasa mengantar dan menunggu Parker berangkat dan pulang bekerja. Di depan stasiun, ia memiliki tempat istimewa yang menjadi langganannya saat ia menunggu.</p>
<p>Di tempat penantiannya itu, ia mengantar Parker di kala pagi. Ia mengiringkan Parker dengan harapan agar selamat dan bisa bertemu lagi sore nanti.</p>
<p>Sementara itu di sore hari pada jam yang sama, Hachi akan kembali berada di tempatnya. Ia mendekam di sana sambil mengawasi satu demi satu penumpang kereta yang keluar dari stasiun untuk pulang ke rumah masing-masing.</p>
<p>Kebiasaan Hachi mengantar dan menjemput ini lambat laun membuatnya hapal lingkungan di depan stasiun. Seperti juga lingkungan stasiun itu pun akan kehilangan manakala Hachi tak datang. Walaupun Hachi tak datang adalah sebuah kondisi yang jarang terjadi, karena Hachi tak pernah tak datang, bahkan ketika Parker sudah tak pernah lagi datang.</p>
<p>Bermula pada sebuah pagi yang cerah, seperti biasa Parker akan berangkat kerja. Pagi itu, tak seperti biasa semacam firasat datang mengilhami Hachi. Akibatnya, Hachi menjadi tak bersemangat untuk mengantar seperti jamaknya hari-hari kemarin. Ia justru terus-terusan berputar seakan-akan ingin bilang, “Marilah kembali pulang.” Sayang, Parker tak mengerti apa makna di balik sikap Hachi yang tak biasa itu. Parker kukuh terus berjalan, naik kereta dan berangkat kerja seperti biasa.</p>
<p>Siang datang, Parker sedang bekerja manakala tiba-tiba datang sebuah serangan jantung. Parker tak terselamatkan dan pulang ke asal semua makhluk. Pada saat yang sama, kepulangan abadinya ini berarti ia tak pulang ke rumah pribadinya. Lebih jauh, itu berarti Parker tak akan datang—tak pernah datang—lagi pada Hachi yang masih saja menunggu seperti biasa di tempatnya.</p>
<p>Sejak saat itu, dimulailah penantian Hachi yang tak kenal waktu. Saksikanlah bagaimana kesetiaannya tak perlu lagi dipertanyakan dan bagaimana ia menunggu bersama bergantinya waktu.</p>
<p>Selamat menonton.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2010/05/25/hachiko-tentang-menunggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pencet Tombol Lift</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/04/30/pencet-tombol-lift/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/04/30/pencet-tombol-lift/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 16:48:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[jendela dunia]]></category>
		<category><![CDATA[kesempatan]]></category>
		<category><![CDATA[lift]]></category>
		<category><![CDATA[menunggu]]></category>
		<category><![CDATA[pencet]]></category>
		<category><![CDATA[tangga]]></category>
		<category><![CDATA[tombol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki kantor setiap pagi selalu menghadapi sambutan yang sama. Udara dingin yang keluar dari Air Conditioner (AC) serta merta menyapa. Dingin itu: menyegarkan tubuh selepas berjalan kurang lebih lima belas menit, ditambah makan pagi yang mau tidak mau, suka tidak suka akan mengundang keringat menempel di baju. Office Boy kantor, pasti sudah datang lebih awal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Memasuki kantor setiap pagi selalu menghadapi sambutan yang sama. Udara dingin yang keluar dari <em>Air Conditioner</em> (AC) serta merta menyapa. Dingin itu: menyegarkan tubuh selepas berjalan kurang lebih lima belas menit, ditambah makan pagi yang mau tidak mau, suka tidak suka akan mengundang keringat menempel di baju.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Office Boy</em> kantor, pasti sudah datang lebih awal daripada saya. Entah, jam berapa mereka tiba di kantor tak pernah saya tahu. Bahkan, beberapa di antara mereka ada yang menginap karena enggan berangkat pagi dan ogah menghadapi macet yang menggila di kota ini. Bersejatakan tongkat dengan salah satu ujungnya di genggaman, sementara ujung yang lain memiliki semacam penahan untuk menempatkan kain pel mereka telah berkarya. Digerakkannya kain pel itu ke kanan dan ke kiri, menyusuri pola-pola keramik, merata ke seluruh ruangan. Dan saya, apa yang saya lakukan?<span id="more-536"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hahaha, memalukan. Pertama: saya tiba lebih siang dari mereka, berkeringat, terengah-engah dan bisa bersantai menikmati hembusan udara dingin AC. Kedua: tanpa permisi saya akan menginjak lantai yang baru saja mereka pel dan masih basah. Teringat saya pada seseorang yang akan naik pitam bila dia sedang mengepel kemudian ada orang yang menginjak-injak lantai yang basah itu. Namun, teman-teman yang mengepel di kantor itu tidak marah, meski pernah juga seorang di antara mereka melirik ke arah saya. Duhh…tidak enak <em>banget</em> rasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selepas menginjak-injak lantai yang masih basah itu, saya pun kemudian menanti di depan <em>lift</em>. Tidak selalu sendirian saya dalam menunggu, terkadang bersama beberapa orang yang juga tergesa-gesa. Bila boleh memilih, tentu saya akan memilih sendirian saja, karena berbanyak orang itu tidak aman. Bobot yang melebihi kuota, menyebabkan lampu peringatan menyala dan lift ogah beranjak. <em>Diem aja kayak patung</em>. Bahkan, pintunya pun enggan untuk sekadar menutup. Akhirnya, harus ada yang mengalah dan keluar dari lift. <em>Ketiban sampur</em>, begitu orang jawa bilang jika mendapatkan tugas yang tidak semestinya dilakukan. Ya, sayalah yang biasanya mengalah dan keluar. Alasannya: karena saya masih baru, paling muda pula—halah—maka mesti tahu dirilah sedikit, kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah keluar dari lift, persis di depannya ada tangga. Inilah yang biasanya saya pilih untuk membawa saya naik ke atas ke tempat di mana saya akan menaruh pantat saya. Keringat yang tadi saja belum kering, masih ditambah pula dengan naik tangga sebanyak duapuluh enam kali empat—maaf saya malas menghitung. Hasilnya, sesampainya di atas saya terengah-engah namun keringat tidak membanjir karena udara di dalam kantor itu sudah terpengaruh oleh AC.</p>
<p style="text-align: justify;">Lain waktu, bila kebetulan saya memiliki kesempatan untuk menunggu di depan lift seorang diri, senang sekali rasanya. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi saat menunggu itu: menemukan lift pas berada di lantai satu kemudian tinggal menekan tombol dan masuk ke dalam lift. Atau, menemukan lift di lantai yang berbeda dan termangu melihat angka-angka yang berpendar berganti-ganti di atas pintu lift seiring dengan pergerakan lift.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahukah kawan, rasanya seperti menunggu sebuah kesempatan yang datang. Dan saat lift terbuka, adalah kejutan. Bagaimana tidak bila kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam lift. Bisa saja seorang rekan kerja wanita yang kita taksir kebetulan saat itu berada di dalamnya, begitu pintu membuka, maka jangan lepaskan kesempatan untuk menatapnya, menelusuri gerai rambut basahnya atau mencium aroma parfumnya yang segar. Namun paling penting, jangan lupa senyuman ringan dan sapaan, “Selamat pagi.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hati-hati juga bila saat yang lain, bos Anda yang berada di dalamnya. Ketahuan <em>deh</em> kalau Anda berangkat lebih siang darinya, bukan hal yang penting, namun tetap saja tidak nyaman, bukan? Apalagi, bila saat itu ada deadline yang belum Anda selesaikan. Ah, seperti tertangkap basah. Apa iya mau berlagak tidak melihat, kan tidak mungkin, <em>to?</em> Ya, paling mudah tetap tersenyum ringan dan jangan lupa juga salam selamat paginya. Perkara tatapannya tetap galak dan tidak bersahabat atau Anda ditanyai macam-macam, <em>waduh,</em> maaf saya tidak punya saran bagaimana baiknya, hehehe.</p>
<p style="text-align: justify;">Masuk ke dalam lift yang kosong selalu saya idam-idamkan. Bukan, tidak untuk menggunakannya sebagai tempat berpagutan singkat dengan kekasih meskipun kadang saya membayangkannya. Menguasai lift untuk diri sendiri bukanlah kesempatan yang sering ditemukan. Di dalamnya, kita bisa melakukan apa saja, mau <em>nungging</em>, gerak badan, <em>petantang-petenteng</em> boleh saja, kan? Tidak ada seorang pun yang akan melarang. Hanya, perlu diingat sewaktu-waktu pintu lift bisa membuka karena ada yang akan naik juga di suatu lantai atau kita telah sampai di tempat tujuan. Jadi, ya sebaiknya biasa saja di dalam lift, tidak usah bergaya macam-macam apalagi <em>norak.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Memencet tombol lantai dan tombol menutup pintu kemudian adalah ritual yang biasa dialami para pengguna lift. Di tombol-tombol itulah rahasianya, bukan? Karena sebuah sentuhan ringan, nyala lampu di balik simbol angka penanda lantai tujuan telah bisa membawa kita ke tempat yang akan kita tuju. Enak sekali, tinggal berdiri diam kalau sedang sendiri atau menungging, jungkir balik boleh saja. Adapun bila bersama orang lain, paling-paling kita akan terhenti-henti di lantai tempat di mana teman itu turun. Bisa juga kita mengobrolkan sesuatu yang ringan selama di dalam lift.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya, sesampainya di lantai tujuan adalah kelegaan. Begitu pintu membuka, sebuah kejutan lagi. Apakah akan kita temukan kekosongan lantai yang lengang atau kerumunan orang-orang yang gelisah menunggu lift datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Lift kemudian hanya menjadi kendaraan untuk mengantarkan kita ke tempat tujuan. Tidak lebih dari itu. Namun, perlu menjadi catatan kiranya. Apa yang bisa dipetik dari kesibukan yang diam saat menunggu? Juga setiap kejutan yang kita temukan saat pintu lift membuka dan akan kita masuki, pun ketika pintu membuka saat kita sampai di lantai yang dituju. Pula jangan lupa, ihwal kelegaan di bagian akhir? Bila boleh saya mengumpamakannya dengan sebuah kesempatan, apakah saya salah? Selanjutnya, barangkali lift adalah sebuah kesempatan yang instan untuk mencapai tujuan. Lift di lain sisi juga sebuah <em>shortcut</em> untuk menggapai tujuan. Tidak adakah usaha? Hmm, baca lagi deh dari atas, hahaha….</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/04/30/pencet-tombol-lift/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
