melintas batas
Posts tagged menunggu
Hachiko-Tentang Menunggu
May 25th
Posted by unclegoop in jendela dunia
Hachi kedinginan di stasiun kereta pada petang hari yang hujan. Hachi adalah anjing kecil yang hilang tak bertuan. Sore itu, ia tersesat di stasiun dan kemudian berjalan tak tentu arah.
Boleh jadi sebuah kebetulan, yaitu ketika langkah kaki Hachi terantuk sepasang kaki yang kokoh. Ia tak tahu siapa pemilik kaki itu, tak pernah ia temui sebelumnya. Namun, pada saat itu tatapan mata keduanya telah beradu, baku pandang.
Lelaki itu, Parker Wilson, serta-merta mengangkat Hachi yang kedinginan, membawa dalam pelukannya. Kemudian, seperti ada jalinan pengertian di antara keduanya ketika detak jantung mereka saling berpadu, seperti saling mendengar dan didengar. Dua jantung yang bergerak seirama, segendang-sepenarian. Dari situ, berawallah keakraban di antara mereka berdua.
Keduanya seperti disatukan oleh rasa kehilangan yang sama. Parker kehilangan anak lelakinya, sementara Hachi kehilangan tuannya. Mereka lantas merasa bisa saling mengisi, memenuhi dan melengkapi satu sama lain. Memang, manakala dua orang yang pernah mengalami kehilangan bertemu, maka pertemuan itu menjadi begitu istimewa.
Parker dan Hachi menjadi tak terpisahkan. Ihwal intensitas komunikasi, lalu kualitas pertemuan bukan lagi hal yang patut dirisaukan. Jalinan hati dengan hati itu begitu kuat, bahkan kendati kata tak diucapkan.
Hachiko: A Dog’s Story, saya kira telah berhasil menyajikan jalinan ikatan antara anjing dan manusia yang begitu dalam itu. Hubungan yang kuat itu tersaji dengan begitu jelas melalui upaya menunggu tak kenal waktu Hachi pada Parker.
Kisah penantian itu bermula saat Hachi senantiasa mengantar dan menunggu Parker berangkat dan pulang bekerja. Di depan stasiun, ia memiliki tempat istimewa yang menjadi langganannya saat ia menunggu.
Di tempat penantiannya itu, ia mengantar Parker di kala pagi. Ia mengiringkan Parker dengan harapan agar selamat dan bisa bertemu lagi sore nanti.
Sementara itu di sore hari pada jam yang sama, Hachi akan kembali berada di tempatnya. Ia mendekam di sana sambil mengawasi satu demi satu penumpang kereta yang keluar dari stasiun untuk pulang ke rumah masing-masing.
Kebiasaan Hachi mengantar dan menjemput ini lambat laun membuatnya hapal lingkungan di depan stasiun. Seperti juga lingkungan stasiun itu pun akan kehilangan manakala Hachi tak datang. Walaupun Hachi tak datang adalah sebuah kondisi yang jarang terjadi, karena Hachi tak pernah tak datang, bahkan ketika Parker sudah tak pernah lagi datang.
Bermula pada sebuah pagi yang cerah, seperti biasa Parker akan berangkat kerja. Pagi itu, tak seperti biasa semacam firasat datang mengilhami Hachi. Akibatnya, Hachi menjadi tak bersemangat untuk mengantar seperti jamaknya hari-hari kemarin. Ia justru terus-terusan berputar seakan-akan ingin bilang, “Marilah kembali pulang.” Sayang, Parker tak mengerti apa makna di balik sikap Hachi yang tak biasa itu. Parker kukuh terus berjalan, naik kereta dan berangkat kerja seperti biasa.
Siang datang, Parker sedang bekerja manakala tiba-tiba datang sebuah serangan jantung. Parker tak terselamatkan dan pulang ke asal semua makhluk. Pada saat yang sama, kepulangan abadinya ini berarti ia tak pulang ke rumah pribadinya. Lebih jauh, itu berarti Parker tak akan datang—tak pernah datang—lagi pada Hachi yang masih saja menunggu seperti biasa di tempatnya.
Sejak saat itu, dimulailah penantian Hachi yang tak kenal waktu. Saksikanlah bagaimana kesetiaannya tak perlu lagi dipertanyakan dan bagaimana ia menunggu bersama bergantinya waktu.
Selamat menonton.
Pencet Tombol Lift
Apr 30th
Posted by unclegoop in jendela dunia
Memasuki kantor setiap pagi selalu menghadapi sambutan yang sama. Udara dingin yang keluar dari Air Conditioner (AC) serta merta menyapa. Dingin itu: menyegarkan tubuh selepas berjalan kurang lebih lima belas menit, ditambah makan pagi yang mau tidak mau, suka tidak suka akan mengundang keringat menempel di baju.
Office Boy kantor, pasti sudah datang lebih awal daripada saya. Entah, jam berapa mereka tiba di kantor tak pernah saya tahu. Bahkan, beberapa di antara mereka ada yang menginap karena enggan berangkat pagi dan ogah menghadapi macet yang menggila di kota ini. Bersejatakan tongkat dengan salah satu ujungnya di genggaman, sementara ujung yang lain memiliki semacam penahan untuk menempatkan kain pel mereka telah berkarya. Digerakkannya kain pel itu ke kanan dan ke kiri, menyusuri pola-pola keramik, merata ke seluruh ruangan. Dan saya, apa yang saya lakukan? More >
Tentang Jawaban Menunggu
Apr 17th
Posted by unclegoop in tak terjelaskan
Menunggu itu, seperti sebentuk tanya tanpa jawab.
Dan jawaban, terkadang berupa berita yang berakhir dengan titik atau perintah yang ditutup dengan tanda seru. Ah, itu ternyata belum seberapa, karena satu ketika kamu akan bertemu dengan tanda tanya lagi, begitu berulang-ulang.
Namun, tahukah apa yang paling menyedihkan? Yaitu bila elipsis yang kamu jumpai, hanya bentukan sunyi yang harus kamu isi sendiri.
Dendang Riang dalam Bus
Jul 2nd
Posted by unclegoop in jendela dunia
Baru saja menikmati ruangan bus ber-AC “APOLLO” jurusan Semarang-Solo. Perjalanan masih harus dilanjutkan menuju Klaten dengan terlebih dahulu berganti bus ekonomi jurusan Solo-Jogja. Terminal Kartosuro pukul empat sore. Tidaklah nyaman di sana, panas dan berdebu, kemungkinan ada copet dan bus-bus yang bersicepat mengejar jam sambil tak lupa meninggalkan polusi. Bukanlah sebuah pilihan yang tepat untuk menghabiskan senja, menikmatinya dan merangkai cerita darinya. Tetapi meski demikian merana keadaan yang harus dihadapi, suka tidak suka tetap harus dinikmati.
Menunggu bus jurusan Solo-Jogja, pada pukul empat sore tidaklah mudah. Bus yang lewat tinggal beberapa gelintir. Ada memang sebuah bus yang sedang ngetem menunggu penumpang di terminal Kartosuro. Tetapi, beberapa waktu yang lalu saya sudah memetik pengalaman dengan bus itu. Lama menunggu, dilirik terus cowok-cowok sangar, sepertinya copet –emang eike lelaki apaan, bo’?- dan pedagang kaki lima yang naik turun menjajakan dagangan benar-benar membuat tidak nyaman.
Akhirnya, memilih berdiri menunggu di pintu masuk, dekat tempat pembayaran retribusi bus-bus yang akan memasuki terminal. Aha! Setelah seperempat jam menunggu, ditemani terik mentari senja, polusi, bau selokan dan keringat, datang juga bus yang dinanti. Sebuah bus ekonomi yang sudah penuh nampaknya. Benar saja, masuk melalui pintu depan, melayangkan pandangan ke belakang di seantero bus, arghhh tak ada satupun bangku yang kosong. Harus berdiri lagi, yah barangkali hitung-hitung sebagai olah raga karena memang jarang sekali melakukan kegiatan ini.
Bersama saya, berdiri juga seorang bapak dan gadis, errr atau lebih tepat wanita mendekati usia tiga puluhan yang sepertinya baru pulang dari kerja entah di pabrik mana. Saya berdiri di lorong bus, agak di tengah. Berdiri dengan menyandarkan pantat di sandaran bangku, sedikit mengganggu penumpang yang duduk di sana memang, tetapi boleh dong sedikit berbagi?
Berdiri di tengah, membuat saya bisa mengamati wajah dan ekspresi satu per satu penumpang yang duduk di bagian belakang. Sebagian besar penumpang tertidur, mungkin karena kelelahan, ada juga yang melemparkan pandangannya melampaui jendela melihat pemandangan, sepertinya melamunkan sesuatu, ataukah sedang berfikir? Ada juga seorang lelaki agak seram duduk di bangku paling belakang, mengawasi saya dan penumpang lain, gerak-geriknya mencurigakan, mungkin beliau ini polisi. Seorang gadis berjilbab biru muda, mengelap peluh dengan sapu tangannya yang berwarna merah jambu. Sekilas kami bertukar pandang, kemudian dia menunduk, tersipu dan pipinya menjadi sewarna dengan sapu tangannya. Cess! Barangkali inilah embun di kala pagi, mungkin juga oasis di tengah gurun.
Koordinat tempat saya berdiri, tidak memungkinkan mengamati penumpang yang duduk di deretan depan. Kecuali rambut-rambut yang berantakan karena bergesekan dengan sandaran kursi penumpang, saya juga melihat peci usang, topi murahan. Uban sehelai dua di kepala ibu-ibu menjadi tengara usia yang sudah dilalui, kepala yang sama bersandar di bahu seorang bapak yang rambutnya sudah memutih semua, sebuah kemesraan yang tidak malu-malu ditunjukkan. Sebuah kemesraan yang tidak sehari dua, mungkin. Dua gadis berjilbab duduk berdampingan, bercerita dengan suara nyaring dan kadang berbisik, terkikik tidak peduli dengan sekitar. Sayang, hanya dari belakang saya mengawasi, sehingga hanya suara, gerakan kepala dan jilbab saja yang terekam.
Ketika sedang nikmat-nikmatnya berdiri, mengamati satu per satu penumpang, sedikit mengantuk karena angin yang mengalir melalui sela-sela kaca jendela. Ibu-ibu yang duduk di dekat saya berdiri, beranjak pergi, sepertinya tempat tujuan beliau sudah dekat dan akan mendekati pintu keluar. Sebuah bangku kosong di dekat saya, ah senang sekali karena saya bisa duduk. Setelah menawarkan kepada bapak dan mbak-mbak yang juga berdiri, mereka tidak mau duduk, ternyata sebentar lagi mereka sampai di tempat tujuannya. Wah rejeki memang tidak akan lari ke mana.
Duduk, beberapa saat yang lalu ketika saya berdiri begitu mahal rasanya. Saat saya duduk, nyaman sekali, saya bisa melamun, melayangkan pandangan ke luar bus, atau tertidur. Ternyata selama saya berdiri tadi, saya menginginkan duduk. Terlintas sebuah pesan, bila keinginan sudah digenggam terasa puas, dan akan dipertahankan kenikmatan itu, rasa puas itu selama mungkin. Hal ini, akan terbukti beberapa saat lagi.
Benar saja, tidak perlu menunggu terlalu lama. Bus yang saya tumpangi melintasi sebuah pabrik yang pekerjanya baru saja bubar. Banyak sekali pekerja pabrik yang sebagian besar wanita itu naik ke bus ini. Mendadak bus menjadi riuh, di antara mereka saling berdesakan, saling bercerita sampai-sampai bapak yang tertidur di samping saya terbangun. Lelah dan capek mungkin yang membuat bapak itu hanya membuka mata sejenak dan beberapa saat kemudian mengalun nafasnya dengan teratur, tanda sudah tertidur kembali.
Bukan karena isu gender, namun rasa-rasanya saya ingin menawarkan kursi saya ini kepada mbak-mbak yang berdiri itu. Tetapi… bila saya tawarkan kepada seorang, nanti bagaimana dengan yang lainnya? Tentu akan terjadi iri hati, cemburu dan dengki di antara mereka karena memperebutkan saya, eh maksudnya kursi saya. Akhirnya saya tetap memilih duduk saja, diam, menunggu.
Posisi lagi-lagi memainkan perannya. Saya duduk di pinggir yang dekat dengan lorong di mana mbak-mbak itu berdiri. Saya cuma duduk dan diam, tetapi mbak-mbak ini bergerak-gerak terus, saling berdesakan dan bergoyang seirama gerakan bus. Saat bus mengerem mereka akan terdorong ke depan, dan demikian juga sebaliknya. Akibatnya beberapa bagian tubuh mereka –apakah perlu dijelaskan, point ini?- seringkali bersenggolan dengan saya, ya memang saya diam, tetapi saya berkeringat, terengah-engah dan serba salah. Kenapa yak?
Beberapa saat kemudian, penumpang mulai berkurang karena satu demi satu sampai di tempat tujuan dan turun dari bus. Mbak-mbak yang berdiri itu, tidak lagi berdesakan, mereka menyandarkan –maaf- pantatnya di sandaran bangku seperti kala saya berdiri di awal-awal saya menaiki bus ini. Saya baru sadar, ternyata motif di saku belakang celana jeans cewek itu bermacam-macam, yak?
Dulu saya hafal bagaimana motif jahitan di saku belakang. Misalnya jahitan celana jeans merk ini, akan berbeda dengan jahitan celana jeans merk yang lain. Saya paling ingat merk favorit saya, motifnya seperti huruf “W” wah gagah sekali bila mengenakan celana dengan motif ini terpampang di saku belakang. Sekarang saya bertanya-tanya, apakah motif di saku belakang sudah berubah? Ataukah itu hanya berlaku untuk motif di celana jeans cewek. Saya fikir kok repot sekali yak, mengukir bunga-bungaan, memahat dedaunan di saku belakang, tujuannya kira-kira apa ya? Hihi.
Bus terus berjalan, menuju Jogja, dan Klaten sudah tidak jauh lagi. Melintasi sebuah terminal kecil, semacam terminal transit di kota kecamatan. Saat itu seorang pengamen naik, ibu-ibu dengan alat yang sangat sederhana. Hanyalah sebuah kayu yang di salah satu ujungnya dipasang tutup botol, digerak-gerakkan dan mengeluarkan bunyi crek… crek… crek… membosankan. Suara ibu ini jauh dari merdu, tetapi terus terang menimbulkan iba. Beberapa receh yang ada di saku saya pun berpindah ke bungkus rokok yang sudah dilipat sedemikian rupa, untuk menampung uang dari penumpang.
Terminal Klaten dilalui, saya masih harus menunggu beberapa saat lagi sampai saya sampai di tempat saya turun. Di terminal ini, pengamen yang juga ibu-ibu itu turun, berganti dengan seorang pemuda yang membawa gitar butut, ada tatto di tangannya. Suaranya menggelegar, serak-serak kering tidak nyaman di telinga. Tapi ada beberapa bait lirik yang dinyanyikan usil dan membuat tersenyum. Demikian kira-kira bunyinya :
“Nuwun sewu Pak, nuwun sewu Bu
Kulo namung badhe nderek ngamen, Bu
Matur nuwun diparingi satus, nopo malih telung ngewu
Ampun ethok-ethok turu, nanging kalih ngampet ngguyu”
Masih berbait-bait sebenarnya yang dinyanyikan, namun sebait di atas yang saya paling ingat. Sebenarnya lupa-lupa ingat. Apalagi bagaimana nada menyanyikannya sudah lupa sama sekali. Di bait itu, ada pembuka berupa ucapan permisi karena akan mengamen. Ternyata, untuk “sekedar” mengamen saja membutuhkan permisi. Sebuah basa-basi yang sudah banyak dilupakan, bukan?
Selanjutnya, harapan untuk mendapatkan uang, bukan sekedar ratusan rupiah saja, namun kalau bisa ribuan. Bukan harapan yang aneh, saya kira. Harapan yang wajar, seperti halnya harapan saya untuk duduk dan menikmati perjalanan selagi saya malah berdiri. Di baris terakhir, adalah sindiran kepada mereka yang pura-pura tidur, namun menahan tawa saat mendapat sindiran ini. Point ini, sepertinya menjadi jamak sekali. Bukankah kita sering menutup mata? Seringkali tidak melihat, ataukah sebenarnya berlagak tidak melihat? Saat di sekitar orang membutuhkan bantuan kita, ketika kesengsaraan dan penderitaan merajalela? Contoh paling gampang sebenarnya saya sendiri, yang masih saja merasa nikmat duduk, ketika ada ibu-ibu yang berdiri. Sebuah kursi, menyimpan banyak reaksi, memendam misteri.
