Bagaimana Transportasi di Canberra? 

Banyak pilihan moda transportasi yang bisa Anda temukan di Canberra. Bila Anda punya uang dan ingin membeli mobil, maka yang seharga AUD$ 1.000 pun ada. Bila Anda ingin naik bus, maka sangatlah nyaman. Bila Anda ingin sedikit berolah raga sambil bersepeda, maka kota ini sangat mendukung. Tapi, bila Anda ingin mendayagunakan karunia Tuhan berupa dua tungkai, maka ini pun sangat memungkinkan dilakukan.

Secara garis besar, saya ingin menyampaikan berurutan dari tingkat kerumitan moda transportasi yang ada dan terutama yang pernah saya rasakan.

Jalan kaki

CDWyarrralumlalake1-e1382245003791

Di Canberra, inilah saatnya Anda mensyukuri karunia Tuhan berupa dua kaki. Hampir setiap hari Anda harus berjalan entah itu keluar kamar, ke sekolah, ke tempat kerja, mengejar bus, dan keperluan lainnya. Di sini kaki Anda benar-benar dilatih untuk bekerja apa lagi bila tak memiliki kendaraan pribadi.

Jangan khawatir dengan lalu lintas, asal Anda mengikuti aturan: menyeberang saat lampu pejalan kaki menyala hijau, memerhatikan lalu lintas, dan menyeberang di tempat yang sudah ditentukan, maka Anda akan baik-baik saja. Pejalan kaki juga dibuatkan jalur khusus yang terkadang berbagi dengan pesepeda. Trotoar pun diatur dengan desain yang lebar sehingga Anda bisa nyaman berjalan.

Satu yang perlu diingat, di sini jarang orang berjalan lambat. Biarpun sambil mengobrol, rata-rata mereka akan berjalan sangat cepat. Penyebabnya adalah kondisi cuaca. Rata-rata suhu udara di sini adalah antara -7 sampai dengan 15 derajat Celcius. Jika Anda berjalan terlampau lambat, maka suhu yang sangat dingin itu tak mungkin terhindarkan akan mengenai tubuh Anda. Selain agar segera terbebas dari deraan suhu dan terpaan dingin yang menusuk, berjalan cepat juga membantu tubuh kita agar tetap hangat. Terkadang Anda juga menghadapi bukan hanya dingin namun juga hujan disertai angin. Pada kondisi ini, maka sangat disarankan untuk membawa payung atau jas hujan. Apakah payung saja tidak cukup? Sebenarnya yang menyebabkan jas hujan tetap diperlukan adalah karena angin yang bertiup sangat kencang justru merepotkan dan bisa-bisa membuat rusak payung kita jika kita tetap memaksa menggunakannya.

Bersepeda 

IMG_3121

Bila Anda bertempat tinggal agak jauh dari sekolah atau tempat kerja, maka sepeda adalah pilihan yang tepat. Kisaran harga sepeda adalah antara AUD$ 100 sampai dengan berapa pun kemampuan Anda. Jika anggaran yang dimiliki cukup mepet, maka Anda bisa memilih untuk membeli sepeda bekas.

Kebetulan tempo hari saya membeli sepeda bekas di toko yang ada di sekolah. Sebelum menjatuhkan pilihan pada sepeda yang saya inginkan, saya bisa mencobanya terlebih dahulu sehingga semacam melakukan test drive pada sepeda itu. Biarpun bekas, saya merasa sepeda itu luar biasa. Tak ada keluhan yang berarti, minim bebunyian aneh, dan ada garansi sampai dengan sebulan. Bila Anda menghendaki sepeda baru, maka Anda tetap bisa mencobanya, mendapatkan harga yang biasanya lebih mahal, namun dengan garansi yang lebih panjang. Saat Anda membeli sepeda, jangan lupa untuk membeli helm, kunci, dan lampu.

Helm bagi pesepeda adalah wajib atau Anda akan kena denda jika tidak memakainya. Kunci bagi pesepeda pun menjadi sangat perlu mengingat di sini juga terjadi pencurian sepeda. Nah, untuk lampu, maka Anda akan sangat memerlukannya terutama kalau sering menempuh perjalanan di malam hari.

Naik Bus Kota

Bus_and_Bikerack

Nah, saya paling suka membicarakan bus kota di Canberra. Sistem pembayaran ada beberapa pilihan, di antaranya adalah sama dengan bus tradisional yaitu dengan membayar tunai. Selain itu, bila Anda pernah naik Transjakarta, maka sistem kartu itu juga digunakan di sini. Diterapkannya sistem ini menguntungkan bagi mereka yang tidak memiliki kartu dan hanya sesekali naik bus, maka tetap bisa membayar tunai langsung ke sopir bus. Di sini, siswa sekolah entah mendapat potongan harga tak peduli tingkatan sekolahnya. Selain itu, bagi para lansia juga gratis saat menaiki bus menuju tempat tujuannya.

Pelayanan bus sangat memuaskan. Bukan dari segi keramahan sopir karena mereka duduk terpisah dan tidak boleh diajak bicara ketika sedang mengemudi. Praktis, penumpang hanya menyapa ketika naik atau manakala akan turun dari bus. Tapi, jika Anda benar-benar dalam kondisi darurat dan ingin menanyakan satu hal yang sangat penting, misalnya satu alamat yang tidak Anda pahami, maka para sopir pun akan dengan senang hati membantu.

Halte bus sangat nyaman dan bisa diakses oleh siapa saja, bahkan penderita cacat atau lansia. Bus pun memiliki suspensi yang bisa naik dan turun. Manakala di halte dan ada penumpang yang cacat, sudah sepuh, atau membawa koper, maka bus akan turun sejajar dengan trotoar dan juga mepet, sehingga sangat membantu mereka ini. Nanti, di bagian dalam bus, mereka akan duduk di tempat yang khusus disediakan. Bagi Anda yang menggunakan sepeda dan kecapekan serta memutuskan untuk naik bus, maka tak perlu khawatir karena bus pun memiliki rak di bagian depan (lihat gambar di atas) yang dapat dimanfaatkan untuk menaruh sepeda.

Bus melayani ke semua jurusan di kota dan yang membedakan adalah nomor jurusannya. Lantas, bagaimana kita mengetahui bus berapa yang harus kita naiki, di mana naik, dan pukul berapa naik?

Tenang, yang perlu Anda lakukan adalah memanfaatkan google maps yang ada di gawai Anda. Anda tinggal memasukkan posisi sekarang, posisi tujuan, dan memilih moda bus. Tak lama, Anda akan mendapatkan berbagai pilihan jurusan bus yang bisa digunakan untuk menuju ke tempat tujuan. Terkadang, satu tujuan dapat ditempuh menggunakan beberapa jalur dengan beberapa kombinasi misalnya: jalan, naik bus, jalan; atau naik bus kemudian jalan. Nah, selain informasi soal jurusan, Anda juga akan mengetahui berapa meter Anda harus berjalan untuk menempuh tujuan Anda tersebut.

Kelebihan lain dari sistem ini adalah informasi mengenai halte tempat Anda naik dan waktu kedatangan bus. Sepertinya informasi ini sepele, namun sekali lagi dalam kondisi cuaca dengan dingin yang menusuk dan angin yang menerpa, maka informasi tersebut sangat berharga. Jika Anda sudah mengetahui di mana dan kapan harus menunggu bus, maka Anda tak perlu berlama-lama berdiri di luar ruangan dan diterpa dingin hanya untuk menunggu bus.

Barangkali Anda akan bertanya, apakah bus pernah telat?

Jawabannya tentu saja bus pernah mengalami keterlambatan, namun rata-rata bus terlambat kurang dari lima belas, bahkan tak sampai sepuluh menit. Pada kondisi ini, maka Anda bisa memanfaatkan aplikasi di telepon pintar yang bernama ‘NextThere’. Aplikasi ini membantu Anda yang menunggu di satu halte dengan memberikan informasi nomor jurusan yang akan tiba dan waktu kedatangan lengkap dengan menit keterlambatan apabila bus itu terlambat tiba.

Oh iya, yang perlu diingat saat menunggu bus di halte yang ramai, maka Anda harus mengetahui di platform berapa harus menunggu karena di sanalah bus akan berhenti. Gambarannya adalah seperti Anda berada di halte Transjakarta yang ada di Harmoni. Banyak pintu untuk menunggu, banyak bus yang datang dari dan ke berbagai jurusan dan beragam waktu keberangkatan. Pada kondisi ini, tenang saja di halte yang ramai seperti di Central Bus Station akan disediakan layar yang memberikan semua informasi tersebut atau Anda bisa memanfaatkan informasi yang ada di aplikasi NextThere atau google maps atau kalau masih kurang yakin Anda bisa bertanya pada orang yang ada di sana yang sedang sama-sama menunggu. Harap diingat, tidak ada petugas tiket atau satpam atau kondektur yang bisa ditanya dan siap membantu. Namun, semua perangkat yang ada di telepon pintar Anda itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kepada Anda ke mana harus melangkah.

Demikian informasi mengenai transportasi di Canberra sejauh pemahaman saya. Harap diingat apa yang saya tuliskan adalah sejauh pengalaman saya selama ini dan kebanyakan terjadi pada musim dingin, sehingga barangkali ada perbedaan manakala musim berganti dan semoga ada waktu untuk kembali menuliskannya nanti.

Berikut ini situs yang sangat bermanfaat berkaitan dengan transportasi di Canberra:

1. Google Maps untuk membantu menemukan satu alamat, menentukan rute perjalanan, dan juga membantu menentukan jurusan bus yang harus dinaiki: https://www.google.com.au/maps/

2. Apabila Anda ingin mendapatkan barang bekas dan sepeda di antaranya atau bahkan pekerjaan, maka Anda bisa mengakses Gumtree di alamat: http://gumtree.com.au/

3. SItus untuk informasi mengenai bus Action di Canberra: https://www.action.act.gov.au

Tulisan lain mengenai Canberra antara lain adalah:

1. Demonstrasi di Canberra

2. Akomodasi di Canberra

Sumber gambar jalan kaki dari sini

Gambar sepeda adalah koleksi pribadi 😀

Sumber gambar bus dari sini

Menikmati Menunggu

sendiri menungguBerikut ini adalah kutipan dari buku ‘Canting’ karya Arswendo Atmowiloto. Kutipan tersebut khusus tentang arti menunggu bagi Bu Bei. Simaklah kutipan tersebut dengan baik.

Menunggu dalam sikap Bu Bei, bukanlah sesuatu yang berat dan mengimpit. Bukan sesuatu yang harus diisi dengan menggerutu seperti pada generasi Wahyu, putranya. Menunggu adalah bagian yang penting dalam sikapnya. Menunggu sama pentingnya dengan perubahan itu nantinya. Perut dalam kandungan menunggu untuk lahir. Manusia hidup menunggu untuk mati. Kehidupan justru terasakan dalam menunggu. Makin bisa menikmati cara menunggu, makin tenang dalam hati. (80)

Menunggu adalah pasrah. Menunggu adalah Continue reading “Menikmati Menunggu”

Layang-layang

“Kamu benar. Ternyata kita sama, Che. Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu menunggu.”

Kata itu diucapkan dengan lirih oleh Starla kepada Christian, dua tokoh dalam cerita pendek ‘Menunggu Layang-layang’ yang ada dalam ‘Madre’ karya Dee.

Christian atau Che adalah sahabat karib Starla. Dia seperti robot, bangun tepat saat jam wekernya berbunyi pada pukul 05.45. Dia mandi dengan campuran air dingin dan panas yang suhunya sama bertahun-tahun. Agak menggelikan Continue reading “Layang-layang”

Jalan Kita

Angin mengembara di ruang ini, menyentuh rambutku, mengusap pipiku. Terasa dingin. Hei, benarkah itu angin?

Tak tepat begitu ternyata. Ada air mata yang mengalir di pipiku. Itulah yang tersapu angin. Keduanya, air mata dan angin bersekutu, maka terasa dingin bagiku.

Perlahan, aku mengusap air bening itu dari pipiku. Aku tak apa, aku masih bisa tersenyum, bahkan ketika aku begitu rindu padamu. A, sekarang aku memikirkanmu setiap hari.

Ada satu masa ketika aku tak yakin dengan semua ini. Terutama tak yakin denganmu, A. Sungguh aku tak tahu apa penyebabnya. Mungkinkah karena kerinduan ini sudah demikian menyakitiku?

Ketakyakinanku itu mulai berpendar-pendar di hatiku, hampir-hampir memenuhinya sampai ketika kamu membuat semua menjadi begitu mudah. Kamu membantuku, menunjukkan jalan bagaimana aku harus melaluinya. Tak tahu dengan apa lagi aku harus berterima kasih padamu atas jalan yang telah kau tunjukkan itu. Kini, tak ada lagi keraguan di hatiku.

“Perlahan saja, maka semua akan menemukan jalannya sendiri. Semua akan baik-baik saja, sayang.” Begitu katamu menenangkan debar yang bergemuruh di hatiku. “Yang kita butuhkan hanyalah sedikit bersabar, kau tahu itu?” Ya, A, pada detik itu kamu mengingatkanku akan satu hal yang kadang, ah, atau seringkali kulupakan.

Maka, biarlah rindu ini menyapaku dengan manis dan aku akan menyesapnya penuh kenikmatan. Apabila kau tak bisa kutemui sekarang, maka biarlah aku akan menunggu sampai waktu mempertemukan kita.

Tapi, kau tahu, kan, kadang aku pun begitu marah dalam menunggumu. Ugh, kenapa pula kau tak kunjung tiba? Hanya, itu di luar kuasaku untuk mempercepat waktu, biarpun hanya sedetik lebih cepat. Sedetik yang lebih cepat agar kita bisa segera bertemu. Sebenarnya, kita berdua tahu, bahwa penantian itu adalah sebuah keniscayaan yang harus terjadi. Kita paham, masih ada satu hal yang harus kita pikirkan bersama, bukan?

Kamu bilang perlahan saja, maka semua akan baik-baik saja. Menurutmu kita berdua hanya perlu bersabar. Dan… aku setuju itu.

Kamu juga bilang, “Manfaatkanlah waktumu, karena cahaya yang mereka lemparkan begitu terang.” Lebih jauh, kamu kembali mengingatkanku, kita memerlukan ini semua untuk menjadikannya nyata. Kita perlu itu sebagai sebuah jalan bagi kita berdua, jalan yang semoga tak akan memperdaya kita dan kita pun tak akan sekali-kali merusaknya.

“Bersabarlah… sedikit lagi kesabaran.…” Demikian terus-menerus kamu berkata selayaknya merapal sebuah mantra.

***

Sudah kulalui jalan ini kemarin malam, dan kemarinnya, serta kemarinnya lagi. Aku menyusurinya berulang kali menjadi rutinitas. Kali ini aku kembali mencoba menyusurinya, menemukan jalanku sendiri, atau mungkin lebih tepat menemukan jalan kita, sebuah bagian yang benar dari keseluruhan jalan itu.

A, padahal kamu tahu, bukan? Ini sungguh bukan hal yang mudah menemukan ‘jalan’ kita manakala di sana begitu banyak orang. Sementara kalau aku harus berhenti untuk mencari jalan kita, maka aku harus berhenti di tengah keriuhan itu, padahal semua itu membuatku gila. Aku tak suka berada di keramaian, terutama kalau itu tanpamu.

Begitu banyak jalan di sana kau tahu, A? setiap hari barangkali ada penambahan, kendati mungkin jalan kita masih ada, namun bisa saja ia sudah berganti nama. Jadi, bagaimana lagi aku harus menemukannya bila itu terjadi. Barangkali aku tak punya waktu lagi untuk permainan pencarian jalan itu. Mungkin aku sudah akan terlampau lelah mencari, sementara kamu tak ada di sisiku. Aku memerlukanmu, A, perlu kamu, sekarang juga.

Sebuah terjemahan bebas dari ‘Patience’ punya Gun ‘n Roses. Silakan dinikmati sembari mendengarkan lagunya 😛

Patience-Gun ‘n Roses

Saat Aku Menunggumu

ada cinta :D

Ini kelanjutan dari kisahku saat sejenak menunggumu.

Saat aku menunggumu, inilah yang biasa kulakukan untuk mengisi detik-detik yang berlalu sedikit membosankan itu.

Mula-mula aku akan beristirahat dan mengeringkan keringat serta bau jalan yang menempel di tubuhku. Biasanya aku akan duduk sambil melihat berita sore di televisi.

Manakala keringat sudah kering, kemudian aku pun pergi mandi.

Selepas itu, aku akan menghangatkan sayur atau apa pun yang kau masak pagi tadi. Jika sudah selesai, aku pun mulai menikmatinya sendiri.

Biarpun kunikmati sendiri, namun rasa dalam masakan itu sungguh kaya. Bagaimana tidak bila kuingat untuk setiap suapannya ada sumbangsih kita masing-masing. Sedikit uang belanja yang kuberikan setiap bulan, setiap langkah kakimu yang telaten menyusuri pasar. Di pasar, akan kau cari bahan masakan yang pas untuk kau masak hari ini, mungkin yang harganya sedikit lebih murah agar uang belanja itu bisa cukup untuk sebulan. Sampai di rumah, lalu kau berpeluh mengolah bahan-bahan itu menjadi masakan yang nikmat sekali.

Tugasku adalah menyuci dan menyetlika. Maka akan kupilih-pilih pakaian kotor kita, mengaturnya di dalam mesin cuci. Lalu menjaga agar mesin cuci itu bisa bekerja dengan baik. Menuangkan sabun, menjaga pasokan air agar ajeg dan tak timbul error dari mesin cuci yang menimbulkan bunyi berisik.

Saat memilih-pilih baju kotor itu, maka entah bagaimana kadang haru muncul. Iya, di antara bau baju yang sudah apak itu, ada tercium aroma kuat keringatku. Di sesela bau tak enak itu, terkadang tercium pula wangi parfum yang biasa kau kenakan.

Setiap baju kotor memberi arti tersendiri….

Saat tiba memilih dan sampai di baju seragam pabrikku, maka aku ingat pagi yang macet dan panas. Itulah biang keringat yang kadang kuproduksi berlebih dan menempel di baju sampai membuatnya basah.

Demikian juga ketika aku sampai untuk memilih bajumu, ada aroma parfum yang masih menempel di seragam. Kadang juga wangi minyak kayu putih saat malam tadi aku mengoleskannya karena perutmu kembung. Lain waktu, aku bisa tertawa atau merona malu sendiri, hahaha.

Apabila semua baju telah dicuci, maka besok malamnya kembali menjadi tugasku untuk menyetlika. Tak seperti menyuci yang bisa kutinggal-tinggal, untuk menyetlika aku harus duduk beberapa jam. Terkadang pegal pun hinggap di punggung. Sebagai temanku, aku biasa menyetel televisi sebagai hiburan agar tak terlampau penat.

Saat tiba menyetlika bajuku, tak ada yang istimewa karena sudah semenjak SMP hal ini biasa kulakukan. Seperti biasa aku mencoba memberikan setlikaan terbaik agar penampilanku pun prima, hehe.

Hal yang berbeda adalah ketika harus menyetlika bajumu. Ah, aku baru tahu kalau ternyata baju perempuan itu repot betul potongannya. Aku yang sudah terbiasa menyetlika baju, kaos atau jeans harus belajar ulang bagaimana menyiasati potongan baju perempuan. Masalah masih bertambah karena bukan hanya potongan yang ‘istimewa’. Bahan baju atau celana perempuan pun lebih beragam.

Khawatir muncul manakala aku menyetlika bajumu. Aku takut tak memberikan hasil setlikaan yang licin, ah, bagaimana nanti penampilanmu? Aku pun kadang ragu saat menemukan bahan tertentu, aku memerlukan bertanya padamu, namun kamu tak ada. Kekhawatiranku adalah apabila aku salah menyetlika, maka bajumu bisa rusak. Wah, kalau sampai itu terjadi, maka detik itulah malapetaka untukku dimulai. Bisa-bisa kamu meminta baju baru sebagai gantinya dan tak hanya satu, hahaha….

Dengan semua kesibukan itu, maka debar di hatiku bisa teredam. Aku tak terlampau khawatir memikirkanmu. Hanya, ketika lewat jam biasa kamu pulang, maka ada badai di dadaku.

Ps: terima kasih untuk Chinta yang setahun ini sudah demikian sabar menemani hari-hari saya. Happy Anniversary.

Gambar meminjam dari sini

Sejenak Menunggumu

Menjelang magrib biasanya aku akan tiba di rumah. Sampai di parkiran tak kutemukan motormu. Kamu telah pergi, seperti biasa, menyibukkan diri membantuku menjaga agar asap tetap mengepul dari dapur kita yang mungil.

Sampai di pintu, aku tahu hanya kekosongan rumah yang menantiku. Tak ada sapamu yang selalu cerewet mengganggu sunyiku. Tak juga senyummu yang mengembang lebar menyambutku.

Saat kubuka pintu, segala jejakmu langsung menyeruak. Pasti pagi tadi kau telah susah payah menyapu dan mengepel sampai harum obat pel mampu menyentuhi ujung-ujung indera penciumanku.

Masuk lebih dalam, peraduan kita pun telah rapi. Karena aku masih ingat, bagaimana hasil perbuatan kita telah membuat sprei dan bantal centang perenang tak beraturan. Pasti pagi tadi kau sibuk sekali merapikan sprei, menata bantal dan membersihkan semuanya.

Di dapur, entah kerupuk, sayur atau masakan lain sudah siap tersaji. Pasti pagi tadi kau telah dengan sabar menyusuri jalan ramai pasar dan mencari bahan-bahan untuk masakan itu.

Dengan begitu riuhnya rumah oleh jejakmu yang tertinggal di lantai, di pembaringan, di dapur, maka bagaimana mungkin aku tak merasa hangat? Jemari tanganmu pasti telah menyentuhi semua barang itu dengan penuh sayang, sehingga aku pun merasa harus bersyukur dan berterima kasih untukmu, istriku.

Maka di sinilah aku menunggumu dengan sabar sampai saat kamu pulang nanti.

Gambar meminjam punya Paman Tyo

Hachiko-Tentang Menunggu

Tentang menunggu….

Hachi kedinginan di stasiun kereta pada petang hari yang hujan. Hachi adalah anjing kecil yang hilang tak bertuan. Sore itu, ia tersesat di stasiun dan kemudian berjalan tak tentu arah.

Boleh jadi sebuah kebetulan, yaitu ketika langkah kaki Hachi terantuk sepasang kaki yang kokoh. Ia tak tahu siapa pemilik kaki itu, tak pernah ia temui sebelumnya. Namun, pada saat itu tatapan mata keduanya telah beradu, baku pandang.

Lelaki itu, Parker Wilson, serta-merta mengangkat Hachi yang kedinginan, membawa dalam pelukannya. Kemudian, seperti ada jalinan pengertian di antara keduanya ketika detak jantung mereka saling berpadu, seperti saling mendengar dan didengar. Dua jantung yang bergerak seirama, segendang-sepenarian. Dari situ, berawallah keakraban di antara mereka berdua.

Keduanya seperti disatukan oleh rasa kehilangan yang sama. Parker kehilangan anak lelakinya, sementara Hachi kehilangan tuannya. Mereka lantas merasa bisa saling mengisi, memenuhi dan melengkapi satu sama lain. Memang, manakala dua orang yang pernah mengalami kehilangan bertemu, maka pertemuan itu menjadi begitu istimewa.

Parker dan Hachi menjadi tak terpisahkan. Ihwal intensitas komunikasi, lalu kualitas pertemuan bukan lagi hal yang patut dirisaukan. Jalinan hati dengan hati itu begitu kuat, bahkan kendati kata tak diucapkan.

Hachiko: A Dog’s Story, saya kira telah berhasil menyajikan jalinan ikatan antara anjing dan manusia yang begitu dalam itu. Hubungan yang kuat itu tersaji dengan begitu jelas melalui upaya menunggu tak kenal waktu Hachi pada Parker.

Kisah penantian itu bermula saat Hachi senantiasa mengantar dan menunggu Parker berangkat dan pulang bekerja. Di depan stasiun, ia memiliki tempat istimewa yang menjadi langganannya saat ia menunggu.

Di tempat penantiannya itu, ia mengantar Parker di kala pagi. Ia mengiringkan Parker dengan harapan agar selamat dan bisa bertemu lagi sore nanti.

Sementara itu di sore hari pada jam yang sama, Hachi akan kembali berada di tempatnya. Ia mendekam di sana sambil mengawasi satu demi satu penumpang kereta yang keluar dari stasiun untuk pulang ke rumah masing-masing.

Kebiasaan Hachi mengantar dan menjemput ini lambat laun membuatnya hapal lingkungan di depan stasiun. Seperti juga lingkungan stasiun itu pun akan kehilangan manakala Hachi tak datang. Walaupun Hachi tak datang adalah sebuah kondisi yang jarang terjadi, karena Hachi tak pernah tak datang, bahkan ketika Parker sudah tak pernah lagi datang.

Bermula pada sebuah pagi yang cerah, seperti biasa Parker akan berangkat kerja. Pagi itu, tak seperti biasa semacam firasat datang mengilhami Hachi. Akibatnya, Hachi menjadi tak bersemangat untuk mengantar seperti jamaknya hari-hari kemarin. Ia justru terus-terusan berputar seakan-akan ingin bilang, “Marilah kembali pulang.” Sayang, Parker tak mengerti apa makna di balik sikap Hachi yang tak biasa itu. Parker kukuh terus berjalan, naik kereta dan berangkat kerja seperti biasa.

Siang datang, Parker sedang bekerja manakala tiba-tiba datang sebuah serangan jantung. Parker tak terselamatkan dan pulang ke asal semua makhluk. Pada saat yang sama, kepulangan abadinya ini berarti ia tak pulang ke rumah pribadinya. Lebih jauh, itu berarti Parker tak akan datang—tak pernah datang—lagi pada Hachi yang masih saja menunggu seperti biasa di tempatnya.

Sejak saat itu, dimulailah penantian Hachi yang tak kenal waktu. Saksikanlah bagaimana kesetiaannya tak perlu lagi dipertanyakan dan bagaimana ia menunggu bersama bergantinya waktu.

Selamat menonton.

Pencet Tombol Lift

Memasuki kantor setiap pagi selalu menghadapi sambutan yang sama. Udara dingin yang keluar dari Air Conditioner (AC) serta merta menyapa. Dingin itu: menyegarkan tubuh selepas berjalan kurang lebih lima belas menit, ditambah makan pagi yang mau tidak mau, suka tidak suka akan mengundang keringat menempel di baju.

Office Boy kantor, pasti sudah datang lebih awal daripada saya. Entah, jam berapa mereka tiba di kantor tak pernah saya tahu. Bahkan, beberapa di antara mereka ada yang menginap karena enggan berangkat pagi dan ogah menghadapi macet yang menggila di kota ini. Bersejatakan tongkat dengan salah satu ujungnya di genggaman, sementara ujung yang lain memiliki semacam penahan untuk menempatkan kain pel mereka telah berkarya. Digerakkannya kain pel itu ke kanan dan ke kiri, menyusuri pola-pola keramik, merata ke seluruh ruangan. Dan saya, apa yang saya lakukan? Continue reading “Pencet Tombol Lift”