Menuliskan Ide

Hari ini saya membaca salah satu bagian dari buku mengenai penelitian. Bentuk buku itu cukup menarik, yaitu didesain semacam resep. Namun, terus terang saya belum sampai ke bagian resepnya sendiri. Alih-alih, saya baru membaca bagian pengantar dan metodologi-nya saja. Intinya, kedua bagian itu rasanya bukan bagian yang paling menarik dari buku tersebut. Apabila ingin mengetahui bagian intinya, maka sabar dulu ya, hehe.

Kendati bukan bagian paling menarik, namun Continue reading “Menuliskan Ide”

Mengubah Tak Ada Ide Menjadi Tulisan

Kehilangan ide untuk menulis satu tulisan baru seringkali dialami oleh penulis, jurnalis, atau blogger.

Apabila Anda mengalami hal ini, maka apa yang biasanya dilakukan?

Tulisan ini mencoba untuk mengidentifikasi kapan kehilangan ide itu muncul, apa penyebab kehilangan ide, dan bagaimana mengatasi kondisi ini. Mengenali beberapa hal ini sangatlah penting agar seorang penulis bisa mengubah ketiadaan ide menjadi satu tulisan baru. Continue reading “Mengubah Tak Ada Ide Menjadi Tulisan”

Kenapa jarang muncul tulisan di blog ini?

Beberapa minggu ini saya telah disibukkan dengan berbagai petualangan mengasyikkan di Sangkal Putung, Pajang, Mataram, dan Tanah Perdikan Menoreh. Di tempat-tempat tersebut saya mengikuti petualangan Agung Sedayu, Swandaru Geni, dan banyak lagi tokoh lainnya. Bersama mereka saya mengikuti perjalanan di antara sawah, perbukitan, dan bulak-bulak panjang.

Siapakah mereka dan bagaimana saya bisa terlibat dalam petualangan mereka?

Mereka adalah tokoh-tokoh dalam cerita ‘Api di Bukit Menoreh’ buah karya S.H. Mintardja. Pengarang ini sungguh piawai bercerita, sehingga tak terasa waktu-waktu yang saya habiskan untuk mengikuti petualangan setiap tokohnya. Diceritakan bagaimana tiap tokoh bertemu, apa gejolak perasaan yang muncul seiring dengan terjadinya setiap peristiwa dan berbagai konflik serta kisah lain yang saling berkaitan. Saya begitu keranjingan membaca setiap kata dan kalimat yang terangkai itu sehingga seakan-akan saya sedang menonton film.

Besok, apabila saya sudah membaca semua seri, barangkali saya akan berbagi di sini mengenai cerita itu. Sementara itu, sekarang ini izinkan saya untuk kembali membacanya.

Selamat malam dan semoga akhir pekan Anda menyenangkan.

 

Apa arti penting tanda tanya?

box-with-question-mark-icons-vector-899326

Teman Leonardo dalam film seri Da Vinci Demons satu ketika menyampaikan pendapatnya. “Kamu menderita karena setiap kali menemukan jawaban, justru mengarah kepada pertanyaan baru.”

Pernyataan itu diungkapkan karena teman tersebut melihat Leonardo yang setiap hari dibikin pusing dengan berbagai pertanyaan yang selalu hinggap di otaknya. Memang benar apa yang dikatakan teman tersebut, Leonardo seolah-oleh tak pernah berhenti mencari jawaban dari setiap pertanyaan. Kemudian, sekali dia menemukan jawaban, justru akan mengarah kepada hal lain yang kembali membuatnya bertanya-tanya.

Tetapi, menanggapi perkataan temannya tersebut, Leonardo berkata, “Penderitaan terbesar itu, kawan, bila kita sudah tidak memiliki lagi pertanyaan.”

Barangkali Anda pun mengalami apa yang Leonardo rasakan.

Setiap hari, kita mencari jawaban dari berbagai pertanyaan yang hinggap di kepala. Ada yang mencoba mencari jawabannya. Namun, rasanya banyak juga yang pasrah membiarkan berbagai pertanyaan itu tak terjawab.

Mempertanyakan sesuatu adalah langkah pertama untuk menemukan kebenaran.

Setiap kali Anda merasa sudah mengetahui sesuatu, pasti mengarah kepada pertanyaan lain lagi, bukan?

Tetapi, latar belakang pendidikan, pengalaman, agama, budaya, terkadang membatasi kita untuk mencari jawaban lebih jauh. Seringkali, kita menerima begitu saja pendapat orang lain tanpa mempertanyakan lagi. Dengan begitu, Anda merasa aman dan hidup kembali berjalan.

Padahal, bila Anda terus mempertanyakan segala sesuatu, maka kebenaran yang Anda pahami bisa saja berubah. Anda bisa memperoleh pemahaman yang baru yang barangkali memang tidak mudah, namun kali ini pemahaman yang lebih lengkap. Tetapi, Anda harus bersiap-siap, karena barangkali pemahaman yang baru itu akan kembali membuat tanda tanya yang baru pula.

Bagaimana caranya mempertanyakan segala sesuatu?

Setiap kali Anda menemukan jawaban, maka biarkanlah pikiran Anda mengembara. Sebagai contoh, dengan mempertanyakan:

  • ‘kok bisa begini, ya?’
  • ‘bagaimana hubungannya dengan hal lain?’
  • ‘bagaimana bila situasinya berbeda, apakah hal yang sama akan terjadi?’
  • ‘saya meragukan hal itu, karena ini dan itu.’
  • ‘saya tidak setuju, karena hal itu bertentangan dengan ….’
  • ‘saya setuju dengan yang Anda katakan, tetapi ….’

Semakin banyak pertanyaan Anda, semakin komplit pengetahuan yang didapat dan juga akan semakin banyak pula tanda tanya lain yang muncul. Dengan demikian, orang yang ilmunya bertambah, justru merasa dirinya semakin tidak tahu apa-apa. Diam-diam, dia menjadi sosok yang rendah hati.

Sekadar berbagi, bila diizinkan, sekarang saya memulai tulisan baru di blog dengan judul yang memiliki tanda tanya. Dengan melakukan hal itu, maka bisa membantu saya untuk mencoba menjawab pertanyaan dan menguraikan pertanyaan tersebut menjadi satu tulisan baru di blog.

Barangkali benar apa yang dikatakan Leonardo, penderitaan adalah ketika kita sudah berhenti mempertanyakan segala sesuatu.

Apakah Anda memiliki banyak tanda tanya di kepala?

Credit picture from here: https://cdn.vectorstock.com

William Zinsser: Bagaimana Menulis yang Baik

williamzinsser

William Zinsser adalah seorang jurnalis dan penulis non fiksi. Dia memulai kariernya di New York Herald Tribune pada 1946. Selain penulis, dirinya juga dikenal sebagai seorang guru. Karyanya yang terkenal adalah On Writing Well, rujukan yang handal bagi tiga generasi penulis, wartawan, editor, guru dan juga para murid.

Berikut ini adalah beberapa kutipan dari On Writing Well yang barangkali dapat bermanfaat bagi Anda. Selamat membaca.

Rahasia menulis yang bagus adalah dengan mencopot setiap kalimat hingga tinggal komponen utamanya saja. Hal ini berarti menghilangkan setiap kata yang tak berarti, setiap frasa yang panjang menjadi pendek, kata keterangan yang tak perlu semuanya adalah beberapa hal yang justru melemahkan kalimat.

Menulis adalah kerja keras karena kalimat yang bagus tidak timbul dari satu kebetulan. Sangat sedikit kalimat yang pertama kali keluar langsung benar, bahkan bisa jadi hingga tiga kali pun masih dirasa kurang tepat. Jika Anda merasa bahwa menulis itu satu pekerjaan yang berat, memang begitulah kenyataannya.

Penulis akan menjadi sangat natural bila menggunakan sudut pandang orang pertama. Sebab menulis adalah proses yang sangat intim antara dua orang, dibantu media kertas–atau apa pun itu–dan akan sangat bagus bila tetap mempertahankan sisi kemanusiaan penulisnya.

Menulis merupakan proyek percontohan. Jika seseorang bertanya bagaimana saya belajar menulis, maka saya akan menjawab dengan cara membaca karya pria atau wanita yang telah menulis dengan gaya seperti yang ingin saya lakukan dan mencoba mencari tahu bagaimana mereka melakukan itu.

Harap juga diingat, manakala Anda memilih kata dan menggabungkannya, perhatikan bunyi yang timbul bila kalimat itu dibaca. Memang terdengar aneh, karena para pembaca menggunakan mata. Namun, pada saat yang sama mereka juga mendengar apa yang mereka baca.

Anda belajar menulis melalui menulis. Satu-satunya jalan saat belajar menulis adalah memaksa diri Anda untuk memproduksi serangkaian kata secara teratur dan konsisten.

Satu karya non fiksi yang sukses ditandai oleh pembaca yang terprovokasi pada satu pengetahuan atau pemikiran baru yang belum pernah dimiliki mereka sebelumnya. Ingat, bukan dua, tiga, hingga lima pemikiran, namun hanya satu. Jadi, tentukan satu saja pesan yang ingin Anda sampaikan ke benak pembaca.

Kalimat yang paling penting dalam satu artikel adalah kalimat pertama. Jika kalimat tersebut tidak membuat pembaca melanjutkan ke kalimat berikutnya, maka matilah Anda. Pun jika kalimat kedua tidak membuat pembaca melanjutkan ke kalimat ketiga, hal yang sama pun akan terjadi pada Anda.

Manakala Anda siap untuk berhenti, maka berhentilah menulis. Saat Anda sudah menyampaikan seluruh fakta dan juga selesai dengan poin-poin yang ingin disampaikan, segeralah cari jalan keluar untuk mengakhiri tulisan tersebut.

Banyak penulis yang lelah dengan pemikiran adanya kompetisi dengan orang lain yang juga mencoba menulis bahkan mungkin lebih baik. Lupakan kompetisi tersebut dan teruslah melangkah, Anda hanya berlomba dengan diri sendiri.

Menulis ulang adalah esensi dari menulis yang baik. Inilah titik penting di mana satu pertandingan dapat dimenangkan atau dikalahkan. Ide tersebut memang susah diterima sebab kita selalu merasa sayang dengan draft pertama, kita sulit menerima karya tersebut tak sempurna. Padahal sejatinya memang karya tersebut tak 100% sempurna.

Tak ada satu topik tulisan yang tak boleh Anda tuliskan. Para murid acap kali menghindari topik yang berkaitan dengan hati karena mereka berprasangka bahwa para guru akan menganggap itu sebagai topik yang bodoh. Sesungguhnya tak ada wilayah dalam hidup yang bodoh bila seseorang menganggapnya serius. Jika Anda mengikuti perasaan Anda, maka akan menjadi tulisan yang bagus dan menarik minat para pembaca.

Undanglah orang untuk bicara, belajarlah membuat pertanyaan yang akan mengungkap sisi apa yang paling menarik atau paling jelas dalam hidup mereka. Tak ada yang begitu nyata dibandingkan saat seseorang menceritakan apa yang mereka pikirkan atau lakukan dengan bahasa mereka sendiri. Kata atau kalimat mereka akan selalu lebih bagus daripada kalimat Anda.

Komoditas yang saya miliki sebagai seorang penulis adalah diri saya sendiri. Pun demikian dengan Anda, komoditas itu adalah diri Anda sendiri. Jangan ubah nada Anda agar sesuai dengan subjek tulisan. Kembangkanlah satu suara yang akan membuat pembaca mengenali diri Anda saat mereka ‘mendengar’ di tiap halaman.

Ingatlah bahwa penghayatan terjadi pada arus yang dalam. Hal itu menggerakkan kita dengan berbagai hal yang tak terungkapkan, menyentuh sisi-sisi terdalam yang sudah kita ketahui melalui bacaan, agama, adat-istiadat kita.

Menulis adalah pekerjaan yang sepi sehingga saya harus tetap ceria. Jika saya menemukan hal yang lucu saat menulis, saya tuliskan untuk menyenangkan diri sendiri. Jika satu hal saya anggap lucu, maka dugaan saya orang lain pun akan menganggapnya lucu dan itulah hari yang baik untuk bekerja.

Seluruh kalimat Anda yang telah jelas dan menyenangkan akan berantakan manakala Anda lupa bahwa menulis adalah proses yang linear dan berurutan. Logika tersebut ibarat lem yang mengikat seluruh bagian. Oleh karena itu, maka ikatan tersebut harus senantiasa terjaga antar kalimat, antar paragraf, bahkan antar bab. Narasi yang tersaji kemudian niscaya akan menarik para pembaca ke dalam pusaran cerita tanpa ada kejutan yang berarti.

Berpikirlah sederhana. Jangan mengacak-acak masa lalu Anda atau keluarga untuk mencari episode yang Anda pikir penting untuk ditampilkan dalam tulisan. Lihatlah pada satu kejadian kecil yang masih terekam jelas dalam ingatan. Jika Anda masih teringat, maka itu terjadi karena peristiwa tersebut mengandung kebenaran universal yang akan dikenali oleh pembaca dari pengalaman mereka sendiri.

Carilah cara untuk meringankan tulisan Anda sehingga dapat menghibur. Biasanya ini berarti memberikan pembaca satu kejutan yang menyenangkan. Banyak cara untuk melakukan hal itu, bahkan bisa jadi nanti menjadi gaya Anda. Manakala seseorang menyukai gaya seorang penulis, sejatinya dia sedang menyukai pribadi penulis yang tersaji di kertas.

Jika Anda ingin menulis lebih baik daripada orang lain, pertama kali Anda harus INGIN menulis lebih baik daripada orang lain. Anda harus bangga pada tiap detil yang ada pada hasil karya Anda. Selanjutnya, Anda pun harus bersedia untuk mempertahankan hal itu dan tidak berkompromi dengan para editor, agen, dan penerbit yang sudut pandanganya barangkali berbeda dengan Anda, yang standardnya tak setinggi Anda.

Sumber tulisan dari sini:

Mena Trott: Revolusi Blog

Mena Trott adalah seorang blogger. Berikut ini paparannya mengenai blog, selamat menyimak.

Blogger bagi Anda barangkali adalah profesi yang berarti banyak hal. Blogger bisa sekelompok orang yang berhasil membobol satu merk kunci dan menyebarluaskan caranya. Mereka juga bisa beberapa orang yang sibuk mencari celah sebuah perangkat lunak, mengulas, dan membaginya dengan banyak orang.

Bisa jadi Anda mengira blog adalah satu tempat yang mengerikan. Sesuatu yang tidak bersahabat. Namun, blog juga telah mengubah cara kita membaca berita dan mengkonsumsi apa yang ditawarkan oleh media. Banyak contoh blog yang sangat menarik dan telah menjaring jutaan pembaca.

Beberapa blog juga menjadi sangat penting. Sebagai contoh adalah saat terjadinya badai, ketika itu MSNBC memposting tentang badai di blog mereka dan mengupdatenya secara rutin. Hal tersebut sangat mungkin dilakukan, karena perangkat (tools) di dalam blog sangatlah mudah. Ada pula teman saya yang memiliki blog, mendapatkan uang dengan memasang iklan dan bisa menghidupi keluarganya di Oregon. Itulah yang dilakukannya sekarang dan dengan blog memungkinkan untuk melakukan itu semua.

Contoh lain adalah Interplast, sebuah blog tentang orang dan dokter yang pergi ke negara berkembang dan menawarkan operasi plastik kepada mereka yang membutuhkan. Mereka kemudian akan mendokumentasikan ceritanya dan itu sangatlah berarti.

Saya tak sehebat itu. Seperti sudah saya bilang, “I am a blogger”. Saya mendefinisikan diri sebagai orang yang ahli pada sesuatu. Saya ahli pada diri sendiri, jadi saya tulis tentang diri sendiri.

Cerita blog saya dimulai di tahun 2001 saat saya berumur 23 tahun. Saat itu saya tak suka dengan pekerjaan, yaitu seorang designer. Sebuah profesi yang tak cocok dengan latar belakang pendidikan saya, yaitu Bahasa Inggris. Namun, saya rindu menulis, maka sebuah blog berhasil dibuat dan satu buah cerita pendek menjadi isinya yang pertama. Cerita tersebut adalah kisah mengenai keikutsertaan saya dalam kemah di YMCA pada usia 11 tahun. Di akhir dari kemah tersebut, saya buat teman-teman sangat membeci saya. Saat itu saya bersembunyi, tak ada yang bisa menemukan, bahkan ketika tim pencari dibentuk. Saya mendengar beberapa orang berharap saya bunuh diri dengan melompat dari Puncak Bible.

Saya memulai dengan kesadaran bahwa menjadi blogger tak menjamin seseorang terkenal ke seluruh dunia, namun saya bisa dikenal oleh orang-orang di internet. Kemudian saya pun membuat satu tujuan, yaitu memenangkan satu penghargaan karena sepanjang hidup, tak sekalipun penghargaan saya terima. Akhirnya saya menerima South by Southwest Weblog Award dan puluhan ribu orang membaca kisah blog saya setiap hari.

Kemudian saya menulis mengenai banjo yang ingin dibeli seharga 300 dolar, sebuah harga yang fantastis. Sementara saya tak memainkan alat musik, bahkan tak tahu sama sekali mengenai musik. Namun, saya suka musik dan juga suka banjo. Saya pun berkata kepada suami, “Ben, dapatkah aku membeli banjo?” Dia pun menjawab dengan singkat, “Tidak.” Lebih lanjut suami saya bilang, “Kamu tidak perlu membeli banjo, jangan seperti ayahmu yang mengoleksi instrumen musik.”

Saya pun menuliskan betapa marah kepada suami karena tak diizinkan membeli banjo. Dia seperti tiran yang melarang membeli banjo. Bagi mereka yang mengetahui saya, ini adalah lelucon. Itulah cara saya membuat candaan kepada seseorang. Mereka tahu, orang yang saya tulis tersebut sangat manis dan baik dan telah mengizinkan fotonya saya tampilkan di blog.

Namun, saya mendapat email dari orang yang berkata, “Oh Tuhan, suamimu benar-benar brengsek! Berapa banyak uang yang dihabiskannya untuk membeli beer selama setahun? Kamu bisa mengambil uang itu dan membeli banjo. Kenapa kamu tak membuat rekening terpisah?” Saya juga mendapat email yang bilang “Tinggalkan dia!”

Saya kemudian bertanya-tanya, siapa orang-orang ini dan kenapa mereka membaca tulisan saya? Kemudian saya pun sadar, saya tak ingin menulis untuk orang-orang ini, saya tak mau mereka menjadi pengunjung blog, sehingga perlahan-lahan saya pun menutup blog. Saya tak ingin menulis lagi.

Tak lama kemudian, saya menulis sesuatu yang lebih pribadi, yaitu tentang Einstein, binatang peliharaan yang meninggal dua tahun lalu. Barangkali Anda membaca blog mengenai politik, gosip, media atau apa pun itu. Namun, hal-hal yang personal, yang pribadi, mulai menarik minat saya. Inilah saya. Saya tertarik dengan blog yang berisi cerita pribadi seseorang.

Saya membaca blog mengenai seorang bayi bernama Odin yang memiliki ayah seorang blogger. Satu hari dia menulis di blognya tentang istrinya yang melahirkan bayi pada usia kandungan 25 minggu. Tentu saja dia tak pernah mengharapkan hal ini terjadi, dari hari-hari yang normal menjadi hari yang menyedihkan.

Odin adalah bayi dengan berat satu pound dan mulai didokumentasikan tiap hari. Fotonya diunggah secara berkala, hari pertama, hari kedua, dan seterusnya. Di hari ke sembilan dia mengalami apnea, pada hari ke 39 dia menderita pneumonia, bayinya begitu kecil, mungkin gambarnya sedikit mengganggu, namun juga menyentuh perasaan.

Anda membaca hal itu tepat ketika peristiwa tersebut terjadi. Kemudian di hari ke 55 semua orang membaca bahwa dia mengalami kegagalan pernafasan dan jantung. Semua melambat dan Anda tak tahu apa yang bisa diharapkan. Namun, kemudian semua membaik dan di hari ke 96 dia pulang ke rumah.

Apa yang diceritakan dalam blog tersebut bukanlah hal yang dapat Anda temukan di koran atau majalah. Ini sesuatu yang dirasakan oleh pemilik blog dan orang-orang menyukainya. Dua puluh delapan komentar bukan berarti dua puluh delapan pembaca, namun dua puluh delapan orang yang peduli. Saat ini, dia adalah seorang balita yang sehat, dan jika Anda membaca blog ayahnya di snowdeal.org, dia masih mengambil gambarnya, karena si kecil itu adalah putranya.

Blog kemudian adalah sebuah evolusi. Blog merekam siapa diri Anda secara pribadi. Saat Anda klik di google nama Anda sendiri, bisa ditemukan kisah hidup Anda, entah itu gembira atau sedih. Selanjutnya Anda juga menemukan blog orang lain, rekaman hidupnya, yang menulis tiap hari, bisa jadi bukan topik yang sama, namun hal-hal yang menarik perhatian mereka.

Saya menemukan bahwa rekaman hidup yang ada pada blog adalah sangat penting. Sangat menakjubkan ketika saya kembali ke satu masa dan kemudian saya tahu apa yang terjadi saat itu dengan tepat.

Kisah selanjutnya adalah tentang seorang wanita, Emma, yang juga seorang blogger. Dia adalah salah seorang yang pertama kali memanfaatkan layanan blog kami. Dia menulis tentang hidupnya yang harus berjuang melawan kanker. Dia terus menulis dan menulis. Saat itu masih sangat sedikit blogger yang menggunakan layanan kami, sehingga kami pun mulai membaca kisah Emma.

Satu hari dia menghilang, kemudian saudarinya datang dan berkata bahwa Emma telah meninggal. Mendengar berita tersebut semua orang di perusahaan yang membaca kisahnya menjadi sangat emosional. Saat itu menjadi hari yang berat bagi perusahaan kami. Saat itu saya baru menyadari, betapa hebat dampak blog bagi hubungan kami dan mendekatkan jarak antar manusia di dunia ini.

Satu hal yang begitu memengaruhi saya adalah saat saudarinya menulis di blog, bahwa menulis blog bagi Emma di beberapa bulan terakhir hidupnya adalah hal terbaik yang pernah terjadi padanya. Dapat bercerita pada orang lain, dapat berbagi apa yang terjadi pada dirinya, dapat menulis dan menerima komentar. Sangat menakjubkan bagaimana kami dapat membantu terlaksananya hal itu dan bahwa blogging menjadi satu aktivitas yang menyenangkan baginya. Sungguh menyenangkan ide bahwa blog tidaklah menakutkan, kita tak harus selalu menyerang blog, kita bisa menjadi pribadi yang terbuka, ingin menolong dan bicara pada orang lain.

Harapan saya bagi Anda adalah, pikirkan tentang blog, tentang blogger, siapa sih mereka itu, tentang pendapat Anda untuk mereka dan kemudian lakukanlah, jadilah blogger, karena ini benar-benar akan mengubah hidup kita.

Tulisan ini bersumber dari paparan Mena Trott berikut ini:

Tentang Fantasi: George RR Martin

Fantasi terbaik ditulis dalam bahasa mimpi. Fantasi tersebut hidup, selayaknya mimpi yang juga hidup, lebih nyata daripada kenyataan, setidaknya untuk waktu yang singkat, sebuah saat yang ajaib sebelum kita terbangun.

Fantasi adalah silver dan merah saga, nila dan biru langit, batu obsidian yang dilapisi emas dan permata lazuli. Kenyataan adalah kayu lapis dan plastik yang berwarna coklat dan menjemukan. Fantasi terasa seperti madu, kayu manis, cengkeh, daging merah yang langka dan khamar yang manis seperti musim panas. Kenyataan adalah kacang dan tahu, serta menjadi abu di akhirnya. Kenyataan adalah mall bergaris yang ada di Burbank, cerobong asap di Cleveland, serta tempat parkir di Newark. Fantasi adalah menara di Minas Tirith, batu-batu kuno di Gormenghast, aula di Camelot. Fantasi terbang di sayap Icarus, kenyataan di Soutwest Airlines. Kenapa mimpi kita menjadi begitu tak berarti ketika mereka menjelma menjadi kenyataan?

Saya kira, kita membaca fantasi untuk menemukan warna-warna, merasakan bumbu-bumbu yang kuat dan nyanyian sirine. Ada sesuatu yang antik dan nyata dalam fantasi, berbicara mengenai sesuatu yang dalam dan tersembunyi dalam diri kita. Serupa seorang anak kecil yang bermimpi bahwa suatu hari dia akan berburu di hutan pada suatu malam dan berpesta di bawah bayangan bukit serta menemukan cinta yang abadi di suatu tempat di selatan Oz atau utara Shangri-La.

Mereka dapat memeluk surganya. Ketika saya mati, segera saya akan pergi ke Middle Earth.

Sumber dari sini

Tips Menulis dari Sapardi

Writing_pen

Sapardi Djoko Damono selalu memikat banyak orang dengan karya-karyanya. Ia melahirkan puisi-puisi dengan bahasa sederhana tetapi magis. Satu tahun lalu, dalam Pesta Literasi Jakarta 2013, sastrawan ini membagikan langkah-langkahnya dalam menulis.

Dalam menulis, Sapardi menyarankan untuk jangan terlalu banyak berpikir. Jeda waktu terlalu panjang untuk berpikir sama saja dengan menunda menulis. Hal lain yang perlu dihindari adalah perasaan takut atau minder. Perasaan takut akan membawa kita pada hilangnya keinginan untuk menulis.

Sapardi tidak pernah menentukan akhir cerita ketika mulai menulis. Hal tersebut ditemukan ketika proses menulis berlangsung. Cerita akan mengalir dengan sendirinya. Sapardi menekankan, ketika menulis yang berkuasa adalah tulisan itu sendiri. Bukan si penulis.

Sastrawan ini juga tak selalu langsung menyelesaikan tulisannya dalam satu periode waktu tertentu. Ia memiliki banyak tulisan yang belum dilanjutkan, tetapi yakin suatu saat pasti menyelesaikannya. Jika bosan mendera, ia akan beralih ke tulisan yang lain kemudian masuk lagi ke tulisan sebelumnya sewaktu-waktu. Kemahiran menulis bukan semata-mata bakat, melainkan hasil latihan tekun dan terus menerus.

Galeria, Klasika, Kompas, 26 Mei 2014

Sumber gambar

3 Langkah Beriklan yang Efektif

Capture_advertisement

Cobalah mengingat saat terakhir kali Anda membutuhkan sesuatu yang benar-bener diinginkan dan diperlukan. Sesuatu yang benar-benar membuat hidup Anda lebih mudah dan menyenangkan.

Apakah saat itu Anda didorong, dipaksa, atau diganggu? Saya menduga pasti tidak. Manfaat atau keuntungan yang didapat adalah sesuatu yang membuat pengalaman membeli menjadi begitu menyenangkan.

Bahkan, barangkali Anda tak sadar, bahwa saat itu ada proses beriklan. Seperti halnya ketika Anda bersekolah dan seorang murid teladan sibuk dengan urusannya sendiri. Anda tak akan sadar apa yang dilakukannya.

Kenapa Anda tak menyadari hal itu?

Jawabannya adalah, karena tak ada hal yang mencurigakan terjadi.

Hal tersebut persis sama dengan proses beriklan. Anda hanya akan sadar proses itu bila dilakukan dengan buruk dan menyangkut sebuah produk yang tidak Anda perlukan atau inginkan.

Coba perhatikan beberapa contoh kejadian berikut:

  • Satu ketika Anda sakit dan dokter keluarga memiliki kemampuan untuk memberikan satu pil yang segera menyembuhkan penyakit.
  • Satu ketika mobil Anda pecah ban dan tidak membawa ban cadangan pada tengah malam di bagian kota yang mengerikan. Mendadak sebuah ada sebuah mobil yang berhenti dan menolong.
  • Televisi Anda mendadak rusak padahal final Liga Champion akan ditayangkan sebentar lagi dan Anda menelepon teknisi untuk memperbaikinya di saat-saat terakhir.

Pada skenario-skenario tersebut di atas, apakah Anda akan marah bila orang-orang yang menolong tersebut minta imbalan yang pantas? Jawabannya tentu tidak, bukan?

Anda tak akan keberatan karena mereka membantu menyelesaikan persoalan. Mereka meluangkan waktu untuk memberikan layanan kepada Anda. Sebagai pembeli, manakala seseorang menyelesaikan masalah kita, biasanya dengan senang hati kita akan membayar atas jasa yang diberikan, bukan?

Sebagai manusia, dalam hidup Anda tentu pernah meminta atau mengajak seseorang untuk melakukan suatu hal. Jika Anda pernah meminta putra/putri Anda untuk duduk diam di kursi agar dokter bisa menusukkan jarumnya, membujuk mereka biarpun mereka histeris di hari pertama sekolah, atau meyakinkan mereka untuk tidur meskipun menangis karena masih ingin bermain. Anda melakukan hal itu terus menerus tanpa merasa bosan, sesungguhnya menunjukkan, bahwa Anda memiliki kemampuan mengajak/beriklan yang luar biasa.

Apakah Anda melakukan semua hal di atas kepada putra/putri sebagai suatu jebakan atau lelucon belaka? Tentu tidak, Anda melakukannya semata-mata karena peduli dan agar mereka belajar untuk membuat keputusan dengan bijak.

Klien atau pelanggan Anda pun begitu, terkadang mereka membutuhkan penyelesaian atas persoalan yang dihadapi, membutuhkan informasi mengenai keterampilan yang tak mereka miliki, perlu pertimbangan dalam pengambilan keputusan penting mereka. Semua orang itu memerlukan pertolongan. Namun, biarpun Anda adalah orang yang tepat untuk menolong mereka, tak akan berguna bila mereka tak percaya pada Anda.

Oleh karena itu, Anda perlu membujuk mereka. Namun, bagaimana kode etik untuk mengajak atau beriklan pada orang lain?

Pertama sekali, Anda harus mengajukan tiga pertanyaan dasar sebelum beriklan pada pembaca/pengikut dan menghindari sebuah iklan yang buruk.

Apakah Anda benar-benar mengetahui apa yang mereka inginkan, perlukan, dan harapkan?

Ajakan atau iklan Anda akan terasa buruk jika yang ditawarkan tidak relevan dengan situasi seseorang. Namun, di lain sisi sebuah ajakan yang sesuai dengan kebutuhan seseorang akan diterima dengan pikiran dan tangan terbuka.

Jadi, apakah Anda menawarkan sesuatu yang benar pada orang lain karena Anda tahu apa kebutuhan mereka seperti Anda mengetahui kebutuhan Anda sendiri?

Ataukah Anda menawarkan bantuan yang sesuai dengan kepentingan Anda sendiri tanpa mengetahui secara mendalam apa yang sebenarnya diperlukan dan diinginkan oleh pembaca Anda?

Apakah iklan atau bantuan Anda sudah berfokus pada manfaat daripada hanya tampilan semata?

Jika Anda memenuhi iklan dengan tampilan semata, maka orang akan merasa mereka sedang dijual juga. Sebuah tampilan menjawab pertanyaan “Apa ini/itu?”

Sebaliknya, manfaat menjawab pertanyaan “Apa yang akan terjadi denganku?”

Manfaat adalah suatu hal seperti, ini membantu Anda menulis lebih cepat, memberikan waktu lebih banyak untuk keluarga, atau membatu Anda lebih sehat.

Jika tawaran Anda dibingkai dalam manfaat yang diberikan, dan percaya bahwa Anda bisa menyampaikan manfaat tersebut, maka Anda telah beriklan dengan baik.

Apakah hal itu bagus untuk ibu Anda?

Barangkali terasa lucu, namun ini adalah pertanyaan paling penting dari semua hal. Jangan pernah berkata, melakukan, atau menjanjikan sesuatu yang tak ingin Anda katakan, lakukan, atau janjikan pada ibu Anda.

Jika Anda tak merasa malu, gugup, atau buruk saat menawarkan sesuatu pada ibu sendiri, maka Anda sungguh hebat. Silakan tidur nyenyak dan buatlah iklan dengan penuh percaya diri.

Sumber tulisan dari sini

Sumber gambar dari sini

3 Cara Membuka Novel

first_sentences

Oleh: Diane O’Connell

Ketika pertama kali membuka novel baru, ada banyak kejutan dalam kalimat pertama. Saya tahu ini sedikit ekstrem, tapi bukankah sebuah kalimat pembuka yang menarik dan menggairahkan akan membuat Anda segera masuk ke dalam cerita novel daripada hanya satu kalimat yang biasa-biasa saja?

Sebuah kalimat pertama yang kuat dan menarik bukan hanya menuntun pembaca ke novel Anda, namun juga menjadi petunjuk kepada keseluruhan tema cerita, eksplorasi dan proses terus menerus.

Berikut ini adalah 3 cara untuk membuka novel Anda:

1. Kejutan

“Hari ini nenekku meledak!”

Iain M. Banks, The Crowd Road.

Apakah Anda baru saja bertanya, “Apa, Meledak?” Sebuah pembuka yang mengejutkan membuat pembaca berhenti sejenak, bahkan perhatiannya jadi kacau. Cara yang dramatis membuat cerita dalam novel Anda lebih hidup.

Biasanya, kalimat pembuka yang terbaik adalah yang singkat, mengejutkan, atau mengandung frase yang membingungkan pembaca seperti di atas. Kendati pembaca Anda tak paham apa yang terjadi, namun mereka tertarik. Mereka ingin tahu lebih banyak dan satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah tetap membaca untuk mengetahui jawabannya. Ini adalah kunci Anda sebagai seorang penulis.

2. Memikat

“Bayangkan, sebuah musim panas yang diambil dari film ‘Coming of Age’ yang berlatar di kota kecil pada tahun 1950-an.”

Tana French, In The Woods.

Kalimat di atas sungguh cantik, bahkan puitis, sehingga dapat mengajak pembaca ke dalam latar novel Anda. Kesan nostalgia yang digunakan oleh French menghiasi kalimat pertamanya. Ia mengingatkan pembaca pada gambaran kota kecil dan musim panas yang sangat indah. Pembaca pun terbawa pada kenangannya masing-masing.

Pembukaan novel yang menggetarkan semacam ini juga mengatur gaya keseluruhan novel. In The Woods mengambil latar di pedesaan Irlandia sepanjang musim panas yang akhirnya mengubah karakter tokohnya. Sebuah gambaran masa lalu digunakan, maka French melakukan reka ulang kenangan yang terhubung dengan masa kecil. Kita tak akan ingat bagaimana percakapan atau apa tepatnya rutinitas tiap hari, namun kita mengingat apa yang dirasakan dengan panca indera. Kalimat pertama French membangun gambaran sebuah adegan Proust dalam Remembrance of Things Past, ketika dia memanfaatkan ingatan dari Madeleine yang sederhana dan memikat hati. Gambaran ini mengarahkan pembaca bagaimana novel ini akan bercerita.

3. Menghubungkan

“Jika kau benar-benar ingin mengetahui tentang hal ini, hal pertama yang barangkali ingin kau ketahui adalah di mana aku lahir, sejelek apa masa kecilku, bagaimana kesibukan orang tuaku sebelum aku ada, dan semua omong kosong David Copperfield, namun aku tak ingin bercerita tentang itu jika kau ingin mengetahui yang sebenarnya.”

—J. D. Salinger, The Catcher in the Rye

Jika tokoh protagonis yang mengarahkan jalan cerita dalam novel, atau memiliki sudut pandang yang unik, maka cobalah pembukaan novel dengan masuk ke dalam pemikirannya, dalam bentuk cerita atau dialog. Di sini, kita mendengar pencerita secara jelas mendeskripsikan suasana. Serta merta, kita akan penasaran dia akan berkata apa lagi.

Pembukaan yang sempurna semacam ini memerlukan komitmen penuh untuk menulis dalam pikiran karakter utama. Pertama kali Anda harus paham pola pikirnya, suasana, latar tempat… Ini jika Anda ingin mengenalkan karakter utama Anda sesegera mungkin kepada pembaca.

Apakah Anda ingin menyusun kalimat pembuka yang memikat namun tak yakin bagaimana melakukannya? Cobalah hal ini, carilah pembuka sebuah novel yang Anda suka dan coba tiru, bagaimana susunan serta struktur kalimat yang ada, namun dengan cerita Anda sendiri. Jangan takut mengambil risiko berkaitan dengan penulisan kreatif. Jika Anda punya satu dosin kalimat pembuka, namun tak ada satu pun yang dipilih cobalah terus dan jangan menyerah. Kalimat pembuka umumnya adalah sebuah kalimat yang sering sekali berubah dalam sebuah novel.

Diterjemahkan dari: www.writetosellyourbook.com/fiction-advice/three-ways-killer-opening-line

Sumber Gambar