Kenapa jarang muncul tulisan di blog ini?

Beberapa minggu ini saya telah disibukkan dengan berbagai petualangan mengasyikkan di Sangkal Putung, Pajang, Mataram, dan Tanah Perdikan Menoreh. Di tempat-tempat tersebut saya mengikuti petualangan Agung Sedayu, Swandaru Geni, dan banyak lagi tokoh lainnya. Bersama mereka saya mengikuti perjalanan di antara sawah, perbukitan, dan bulak-bulak panjang.

Siapakah mereka dan bagaimana saya bisa terlibat dalam petualangan mereka?

Mereka adalah tokoh-tokoh dalam cerita ‘Api di Bukit Menoreh’ buah karya S.H. Mintardja. Pengarang ini sungguh piawai bercerita, sehingga tak terasa waktu-waktu yang saya habiskan untuk mengikuti petualangan setiap tokohnya. Diceritakan bagaimana tiap tokoh bertemu, apa gejolak perasaan yang muncul seiring dengan terjadinya setiap peristiwa dan berbagai konflik serta kisah lain yang saling berkaitan. Saya begitu keranjingan membaca setiap kata dan kalimat yang terangkai itu sehingga seakan-akan saya sedang menonton film.

Besok, apabila saya sudah membaca semua seri, barangkali saya akan berbagi di sini mengenai cerita itu. Sementara itu, sekarang ini izinkan saya untuk kembali membacanya.

Selamat malam dan semoga akhir pekan Anda menyenangkan.

 

Semacam Penjelasan

Kalau yang sudah lama membaca blog ini, mungkin bertanya-tanya kenapa sekarang saya senang sekali merangkum apa saja untuk kemudian menuliskannya di sini.

Awalnya karena prihatin -halah- akan kondisi blog ini sendiri yang seringkali kosong tak ada update postingan sama sekali untuk jangka waktu yang lama.

Tiap tahun saya membayar untuk domain dan hostingnya, maka Continue reading “Semacam Penjelasan”

Dan Millman, Pelatih yang Menulis

Francis Bacon menulis, “Kita mendaki tinggi sekali dengan sebuah tangga melingkar.” Sementara itu, Issac Bashevis menulis, “Hidup adalah novel Tuhan, biarkanlah Tuhan yang menulisnya.” Memang, siapa yang bisa menebak liku-liku jalan yang mungkin ditempuh hidup kita? Yang bisa kita lakukan sebagai penulis adalah mencoba, mengerahkan usaha, menabur benih, dan menuai panen apa pun yang diberikan dengan penuh suka cita dan syukur.

Di SMA dan perguruan tinggi, Dan Millman lebih dikenal sebagai seorang atlet daripada seorang penulis. Bakatnya terpendam, sampai kemudian ia menyadari, bahwa ia menyukai menulis. Baginya, ada sesuatu yang menarik saat ia memahat kata-kata—menambang permata dari alam bawah sadar yang kreatif—yang membuat waktu seakan terbang.

Senjata Dan adalah keyakinan bahwa ia mempunyai sesuatu yang layak dikatakan, dan harapan, bahwa ia bisa mengatakannya dengan baik. Ia berangkat, berbekal lebih banyak cinta daripada bakat, menempuh perjalanan menuju keberhasilan sastra.

Dan harus menjalani tahun-tahun yang sulit karena ia tak tahu banyak bagaimana cara menulis sebuah cerita. Ia pun kemudian mengikuti pelajaran korespondensi, di mana ia mulai belajar bagaimana menulis sebuah cerita.

Dari latihan senam ia tahu, bahwa noda bekas luka di siku lebih penting daripada bakat turunan, bahwa bakat harus dilatih, bukan hanya dilahirkan.

Saat menjalani masa sulit tersebut, dia berpegang pada lima aturan menulis dalam hidup: muncul; perhatikan; katakan kebenaranmu; lakukan yang terbaik; jangan melekat pada hasil.

  1. Muncul berarti duduk di kursi di hadapan komputermu atau di depan notesmu.
  2. Perhatikan berarti melihat, mendengarkan, menyentuh, membaui, merasakan kehidupan dan menulis untuk kelima indera, lalu baca tulisanmu, perhatikan kelemahannya dan perbaiki pekerjaanmu.
  3. Katakan kebenaranmu berarti menulis dengan caramu sendiri, karena tak ada orang lain yang menulis persis sepertimu.
  4. Lakukan yang terbaik berarti terus-menerus menulis ulang sampai kau yakin tidak bisa memperbaiki satu kalimat lagi atau satu kata lagi. Kemudian, singkirkan tulisan itu sebentar sebelum kau membuat konsep yang lebih baik lagi.
  5. Jangan melekat pada hasil berarti kau tidak bisa mengendalikan hasilnya, hanya usahamu yang bisa kau kendalikan—bahwa usaha itu sendiri merupakan keberhasilan. Bahkan, Michael Jordan pun tidak bisa mengendalikan apakah lemparannya masuk ke dalam keranjang atau tidak. Ia hanya bisa mengendalikan apakah ia melempar bolanya atau tidak.

Selanjutnya mengenai keberhasilan penjualan bukunya ia bercerita, bahwa sebuah buku yang sukses harus dijual, bukan hanya satu kali, tetapi delapan kali: pertama, kau harus menjual buku itu pada dirimu sendiri (jika bukan kau, siapa yang akan bergairah membaca bukumu?). Lalu kau menjualnya kepada agen, yang harus menjualnya kepada seorang penerbit, yang harus menjualnya kepada dewan editor dan penerbit yang menjualnya kepada tim penjualan supaya mereka dengan penuh semangat menjualnya kepada toko buku. Berikutnya, toko buku menjualnya kepada publik. Akhirnya, dan yang terpenting, pembaca menjualnya ke pembaca lain melalui mulut ke mulut.

Dirangkum dari, Chicken Soup for the Writer’s Soul, Halaman 70-75.

Saat Bud Gardner Berbicara dengan Alex Haley

Bud Gardner adalah anggota National Speakers Association (NSA), sebuah grup pembicara profesional berskala dunia. Pada suatu ketika, ia harus menjadi seorang direktur pertemuan yang salah satu tugasnya adalah mengundang pembicara dalam acara Konferensi Klub Penulis California ke-20. Pembicara yang dimaksud adalah Alex Haley, seorang pengarang terkenal yang karyanya berjudul ‘Roots’  telah menjadi best seller.

Bud kemudian menulis surat kepada Alex Haley. Isi surat tersebut mengharapkan Alex bersedia menjadi pembicara pada konferensi yang akan diselenggarakannya. Bud mula-mula ragu, apakah penulis sekaliber Alex bersedia menerima undangannya?

Yang menarik dari surat Bud adalah bagaimana ia menghiba kepada Alex agar ia bersedia datang. Ia memohon kepada sisi emosional Alex:

“Kami membutuhkanmu, Alex, sebagai pembicara utama kami—untuk memompa kami, menerangi kami, mengilhami kami, membimbing kami. Kau bukan sekadar penulis, kau sebuah legenda.”

Bud harus menunggu selama tiga minggu sebelum Alex meneleponnya, ia bilang, “Hai, Buuuuud. Suratmu menyentuhku, Bung. Aku milikmu. Katakan apa yang kau ingin aku lakukan, dan aku akan melakukannya.”

Efek dari kesediaan Alex ini kemudian adalah meningkatnya jumlah peserta konferensi, sehingga panitia harus membatasi peserta sejumlah 425 orang saja. Bud tentu merasa begitu senang mengetahui ini akan menjadi konferensi dengan peserta terbesar yang pernah diselenggarakan.

Sayangnya tak semua berjalan sesuai kemauan Budd. Menjelang hari penyelenggaraan konferensi, pegawai pengendali jalur penerbangan akan mogok setiap saat. Ini berarti ada kemungkinan para pembicara yang diundang, termasuk Alex tidak bisa hadir.

Kekhawatiran Bud tersebut, terjawab satu hari sebelum penyelenggaraan acara. Semua pembicara sudah hadir kecuali Alex. Menurut manajernya, ia harus terbang ke kota lain untuk suatu urusan baru kemudian Alex akan datang ke tempat penyelenggaraan konferensi.

Bud menjadi begitu khawatir, ia takut petugas pengendali jalur penerbangan akan mogok atau Alex akan tertahan dan tak bisa hadir tepat waktu sebagai pembicara di konferensi. Sementara itu di sisi lain, peserta justru terus bertambah mencapai angka 500 orang dan hampir semuanya menunggu Alex.

Di bandara, Bud begitu gelisah saat menjemput Alex. Pesawat yang membawa Alex telah tiba, namun tak ada sosok yang ditunggu itu. Bud sudah putus asa. Hingga kemudian seorang temannya menunjuk ke pintu pesawat, di mana Alex berdiri dengan gagahnya.

“Aku berhasil menipumu, ya, Buuud?” Tanya Alex. Ia memang sengaja menjadi orang terakhir yang turun dari pesawat untuk mempermainkan Bud.

Begitu mereka bertemu, Alex segera dibawa menuju tempat konferensi. Sederet agenda sudah menunggunya, mulai dari konferensi pers, penandatanganan buku, acara makan malam dan terakhir ditutup dengan menjadi pembicara.

Sementara itu, Alex sendiri merasa kelelahan, ia membutuhkan tidur siang. Hal ini sayangnya tak bisa dituruti oleh Bud, ia memaksa Alex untuk mengikuti jadwal yang sudah disusun. Syukurlah, tak sedikit pun Alex menolak.

Semua acara berjalan lancar, pada saat menjadi pembicara, Alex berhasil menyihir semua peserta konferensi. Ia bercerita bagaimana ia kelaparan sebagai penulis. Ia menjadi penghuni gelap apartemen-apartemen karena ia tak bisa membayar sewa. Ia juga bercerita bagaimana ia menghabiskan dua belas tahun untuk melakukan penelitian dan menulis Roots, karya besarnya. Bagaimana buku itu ditolak oleh banyak penerbit dan perubahan hidupnya yang drastis manakala karya itu akhirnya diterbitkan.

Bud sejatinya harus mengingatkan Alex manakala ia sudah berbicara selama satu setengah jam. Ia menarik jaket Alex sebagai tanda, bahwa sudah tiba waktunya Alex berhenti berpidato. Namun apa yang terjadi, Alex tak mau berhenti. Ia terus saja berbicara sampai dengan dua setengah jam tanpa istirahat. Pidatonya diakhiri dengan teput tangan memekakkan telinga yang diberikan oleh para hadirin sambil berdiri. Lalu ia membungkuk dan cepat-cepat keluar dari pintu belakang untuk akhirnya menjalani tidur yang sangat diperlukan.

Dari peristiwa tersebut, Bud belajar banyak hal, yaitu: sikap positif menentukan hasil positif. Ia yang nyaris membuat dirinya sendiri gila dengan mengkhawatirkan kesalahan yang bisa terjadi alih-alih memusatkan perhatian pada apa yang diinginkan berjalan dengan baik. Sejak saat itu, Bud telah mengikuti saran bijaksana Alex, “Sikapmu adalah segalanya. Yakinlah kepada dirimu sendiri dan percayalah kepada materimu. Untuk menjadi penulis berhasil, menulislah setiap hari entah kau menginginkannya atau tidak. Jangan pernah putus asa dan dunia akan memberimu anugerah yang melampaui impianmu yang paling mustahil.

Dirangkum dari, Chicken Soup for the Writer’s Soul, Halaman 44-50.

Mimpi yang Hilang dan Ditemukan

Kate M. Brausen tak pernah ingin menjadi seorang penulis.

Cita-cita masa kecilnya adalah menjadi seorang balerina. Ia ingin tergabung dalam kelompok bereputasi internasional, menjadi seorang prima ballerina. Menanggapi mimpinya ini, ayahnya yang selalu bersikap positif pun mendukung sepenuhnya. Ia berkata, bahwa tiap anaknya bisa mencapai semua mimpi mereka, apa pun itu, selama mereka masih tetap teguh mempertahankannya.

Saat kelas lima, Kate, mulai sering tersandung kakinya sendiri. Hal yang juga dialami oleh kakak lelakinya. Diagnosa dokter mengatakan, kakak Kate menderita kerusakan otot. Hal yang disadari benar oleh Kate, bahwa dia pun akan mengalaminya. Nanti, suatu hari nanti.

Saat Kate berada di sekolah menengah, ia tak seperti teman-teman wanitanya. Stoking pertama dikenakan oleh gadis-gadis ini. Tapi bagi Kate, sepatu ortopedik dan penopang kaki-lah yang menjadi aksesorinya sehari-hari.

Kate beruntung karena menemukan sebuah pohon ek tua raksasa di pekarangan rumah orang tuanya. Di sana, ia menghabiskan waktu: berkhayal tentang banyak hal dan juga menangis saat keadaan terasa sangat melodramatis baginya. Pohon itu menjadi tempat pelarian baginya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia pun sadar, bahwa sebentar lagi ia tak akan mampu memanjat pohon itu.

Satu hari, Kate sangat menderita. Ia terjatuh lagi di sekolah, kali ini tepat di depan laki-laki yang diam-diam ditaksirnya setahun terakhir. Kendati teman-teman Kate tak menertawakannya, namun ia merasa inilah nasib yang harus dijalaninya seumur hidup.

Di pohon ek tua itu kemudian Kate menangis sejadinya. Saat ingin menenangkan diri tersebut, ia mengambil notes dan mulai menulis puisi. Tulisan tersebut ternyata membuatnya tenang, membebaskannya dari pikiran-pikiran merusak. Ia menulis lagi dan lagi. Ia merasa tindakan menulis yang sederhana tersebut telah melepaskan setan-setan yang tampaknya bermukim di dalam dirinya.

Keesokan harinya, Kate kembali ke pohon ek tua raksasa yang semakin sulit dipanjatnya. Seolah tak ingin kehilangan ingatan tentang pohon itu, ia pun mulai menulis setiap hal tentang pohon tersebut secara terperinci. Bagaimana kulit pohon terasa kasar di punggungnya, bunyi derik cabang sarat daun yang berayun-ayun tertiup angin, noktah sinar matahari sore memancara di atas tangannya yang sedang dalam perjalanan menuju dedaunan yang bergemisik.

Kate menyadari kemudian, “Kekuatan kata-kata itu akan membantuku mengingat hal-hal yang cukup beruntung untuk kualami dan menyimpannya dengan aman di dalam diriku selama aku memerlukannya. Kata-kata itu juga membantuku melepaskan, membantuku melupakan satu pengalaman yang telah kujalani dengan baik supaya aku bisa melangkah maju menuju sesuatu yang baru dan sama pentingnya.”

Kate merasa, bahwa menulis adalah sejenis doa, yang terus membantunya mencapai dan menaklukkan hidupnya tanpa merasa, pada akhirnya, ditaklukkan oleh hidup itu sendiri.

Dirangkum dari, Chicken Soup for the Writer’s Soul, Halaman 22-25.

Mengapa Aku Menulis

Terry McMillan tak pernah ingin menjadi seorang penulis.

Mula-mula ia bekerja di perpustakaan sebagai pengatur buku. Di sinilah awal mula petualangannya, bersama buku-buku dan penulis terkenal ia mulai menjelajahi negeri-negeri dongeng.

Sampai kemudian ia kuliah, pada masa ini bacaannya menjadi agak luas, dan ia pun jatuh cinta pada seorang pemuda. Namun, pemuda itu telah mematahkan sebagian besar hatinya. Ia koma. Ia tak bisa bergerak, namun manakala kesadaran menghantam otaknya, ia tahu apa yang harus dilakukan.

Diambilnya bolpoin dan kertas catatan, mulai ditulisnya satu, dua, tiga, sepuluh kata sekaligus. Ia tak menyadari apa yang dilakukannya sendiri, namun tiba-tiba sudah empat halaman didapatkannya. Itulah awalnya.

Bagi Terry, menulis telah menolongnya. Menulis telah menjadi caranya menanggapi dan menghadapi hal-hal yang baginya terlalu mengganggu, menekan atau menyakitkan untuk ditangani dengan cara lain. Cara ini (menulis) aman.

Lebih lanjut, Terry menambahkan, “Menulis adalah tempat perlindunganku. Aku tidak bersembunyi di balik kata-katanya; aku menggunakan kata-kata itu untuk menggali dalam hatiku untuk menemukan kebenaran. Selain itu, menulis tampaknya merupakan satu-satunya cara agar aku bisa benar-benar mengendalikan sebuah situasi atau setidaknya mencoba memahaminya. Kurasa aku bisa mengatakan, sejujurnya, bahwa menulis juga menawariku semacam kesabaran yang tidak kumiliki dalam kehidupan sehari-hariku. Menulis membuatku berhenti. Menulis membuatku mencatat. Menulis memberiku semacam perlindungan yang tidak bisa kuperoleh dalam kehidupanku yang tergesa-gesa dan penuh dan penuh dengan kegiatan.”

Menulis rupa-rupanya juga mematangkan Terry, karena kegiatan ini telah memaksanya untuk menghadapi dan memahami kekurangan, kelemahan dan kekuatannya. Manakala ia menulis tentang sosok yang tak disukainya, pada saat itu ia belajar, bahwa menulis membuatnya tidak mudah menghakimi. Ia biasanya menulis tentang orang yang tak disukai itu, yang melakukan hal-hal yang tak pernah ingin dilakukannya, karena itu, maka ia ingin menghapus caranya berpikir dan bersikap yang semacam itu. Proses ini baginya terasa menggairahkan, membebaskan, sebuah pengalaman yang benar-benar membuka mata dan pada saat yang sama terasa menyakitkan.

Sebagai penutup, kutipan dari Terry berikut ini saya kira layak untuk dicermati, “Kata-kata telah memberiku rasa memiliki dan rasa aman. Menulis adalah satu-satunya tempat aku bisa menjadi diriku sendiri dan tidak merasa dihakimi. Dan aku senang berada di sana.

Dirangkum dari, Chicken Soup for the Writer’s Soul, Halaman 1-5.