Tag Archives: melihat

Melihat Langit Jakarta

Melihat langit sepertinya perkara yang sederhana, bukan? Tapi tidak bagi saya. Barangkali saya memang suka membuat rumit masalah yang sebenarnya sederhana. Melihat langit tidak sekadar menengadahkan kepala ke atas, melihat pola awan, gerakannya, perubahan warnanya. Mengamati gerakan matahari dari timur ke barat dan rembulan. Meneliti dan menghitungi denyar gemintang yang kelap-kelip. Melihat langit lebih dari itu, kawan.

“Bagaimana, betah di Jakarta?” Tanya beberapa orang sahabat saya.

“Belum, mas, di sini saya tidak bisa melihat langit. Bila kepala sudah mendongak ke atas, hanya sepenggal, sepotong, sedikit bagiannya yang tertangkap oleh mata saya. Selain itu, selalu saja kembali mentok dan mentok lagi ke tembok-tembok gedung.”

“Hahahaha!”

Konyol sekali memang, bila saya menuntut untuk dapat melihat langit seluas di belakang rumah saya di kampung sana. Ketika di sana langit berujung pada saujana di Utara dan Selatan. Manakala di sana langit bercumbu dengan pucuk Sindoro Sumbing di Barat dan Merapi Merbabu di Timur. Maka, saya di tengah-tengahnya. Mabuk oleh rasa luas dan lega yang ditawarkan pemandangan itu tanpa perlu khawatir menjadi limbung dan terjatuh karena bumi masih dipijak.

Ada keemasan di Timur yang menghangatkan ketika berjalan-jalan di kala pagi. Lembayung kuning, jingga dan merah yang seperti ditorehkan di langit bila memandang ke Barat saat senja. Gumpalan awan kelabu yang akan beranjak hujan dan bukit-bukit kecil yang seperti menunduk pasrah tatkala pandangan ke Selatan. Serta tak lupa, lambaian pucuk bambu yang seperti menggapai-gapai langit di Utara.

Berkas cahaya yang masih tersisa dan terpancar saat matahari tenggelam di balik Sumbing. Dilanjutkan ketika malam-malam kemarau dengan rentetan api yang membakar hutan di punggung Sindoro. Lelehan lava pijar di Merapi yang merah menyala dan mengalir.

Ternyata, terlampau banyak memang saya meminta. Sementara apa yang ditawarkan di sini hanyalah sepenggal, sepotong dan sedikit bagian langit saja yang dibingkai, dibatasi oleh tembok-tembok gedung.

Dalam satu hari, belum tentu saya bisa melihat matahari karena kungkungan gedung. Saat pulang dan pergi saya seperti saling mengintip dengan langit. Mencuri-curi memandang ke atas di antara lirikan-lirikan panik ke mobil-mobil yang mepet dengan tubuh.

Tiada kelegaan itu, pun keluasan yang dirindu-rindu. Meski entah untuk apa tak mengerti. Kendati mungkin tubuh yang lelah, hati yang rupik dan jiwa yang menjadi rudin adalah alasan di baliknya. Kota ini meminta terlampau banyak dan hanya menawarkan begitu sedikit. Kota ini haus, kota ini lapar, kota ini rakus menyerap manusia dan nilai-nilainya. Parahnya tak pernah kenyang meski telah menjadi pencipta robot-robot yang berjalan. Dan barangkali saya dan Anda di antara yang sedang atau mungkin sudah dicipta itu.

Dan selanjutnya saya akan menyebut kita. Maka, menjadi kita yang berjalan di antara gedung yang sudah usang dengan perangkat AC yang menempel seperti parasit, berjalan di trotoar yang sempit, berada di tengah arus kendaraan dan terjepit. Mungkin pula kita yang terkurung di kereta besi yang juga ber AC dan muak dengan macet, baliho, tukang koran, pengamen dan pengemis pinggir jalan. Barangtentu juga kita yang menunggang kuda dan bebek besi yang sibuk menjaga agar paru-paru di dalam dada kita tidak terlampau rusak karena polusi. Pada akhirnya, kita kasihan sekali.

Tolong bila ada yang mengetahui alamat Toto-Chan berikanlah kepada saya. Hanya ingin bertanya bagaimana caranya dia membayangkan langit malam penuh bintang saat dia berkemah di dalam aula tanpa menjadi gila. Tolong benar, ya, saya tunggu.

Sridewanto Edi/020609