Bagaimana caranya agar kita paham hal yang sulit?

Sore itu saya duduk-duduk di pondok di belakang asrama.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, namun di bumi bagian selatan ini matahari terlambat tenggelam. Langit masih terang, suhu relatif hangat dan angin bersahabat.

Seorang kawan dari Brasil menjadi teman berbincang. Kawan itu masih relatif baru dikenal dan dia pun bukan pelajar di sekolah ini.

Dia seorang dosen yang belajar matematika untuk komputer di negaranya dan sedang mengadakan kerja sama penelitian di sini.

Saya cukup terkesima saat mengetahui keahlian dan bidang studi beliau, sungguh tak masuk di otak saya bagaimana matematika dan computer digabung. Namun, konon kata dia, semua program yang ada di computer dasarnya adalah matematika.

Serta merta saya pun pusing. Pertama, saya tak paham dengan matematika. Kedua, saya tidak suka dengan matematika.

Kawan saya itu pun kemudian berkata, “Kamu tidak paham karena tidak meluangkan waktu untuk mencoba memahaminya. Kalau ingin paham, kamu harus duduk dan memperhatikan beberapa saat, berkonsentrasi, dan niscaya kamu pun akan paham sedikit demi sedikit”.

Sore itu pun berakhir saat matahari tenggelam di ufuk barat kira-kira pukul delapan.

Perjalanan di Sebuah Siang

buruh_maydaySelasa, 1 Mei 2013, di Jln. Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat
Saya berjalan bermandikan sinar mentari pukul sebelas
Dari arah selatan menuju ke utara
Menjelang patung kuda, serombongan pendemo sedang mengatur barisan
Di trotoar ada yang tampaknya baru sampai, sedang beristirahat, tak banyak
Saya terus berjalan menyeberang, melintasi patung kuda, berhenti di depan graha indosat
Ada tiga remaja yang seperti tergesa, satu di antaranya membawa kamera
Di situ, saya temukan penjual bakso, ketoprak, teh botol, dan es kelapa berderet-deret
Semangkuk bakso saya pesan, “Ngga pakai itu ya, Bang…,” kata saya sambil menunjuk sesuatu entah apa namanya di dekat butiran bakso
Kemudian saya pun mulai melahap sesuap demi sesuap
Di samping saya seorang Bapak menghisap rokoknya, terlihat puas, mungkin dia baru selesai menghabiskan semangkuk bakso.
Kami bicara, saling bercerita, melihat jalanan yang lengang dan kekhawatiran tak bisa pulang
Beliau pun pergi….
Seorang lelaki lain kembali datang, dia pesan ketoprak
Saya makan lebih dulu tapi dia selesai lebih dulu.
Beberapa pendemo berdatangan, dengan kaos seragam berwarna-warni, namun rata-rata ada tulisannya: May Day!
Saya ambil sebatang rokok, menyalakannya.
Lelaki di sebelah saya itu seperti melirik, rupanya dia ingin meminjam korek.
Dari situ obrolan pun dimulai, kembali soal berhentinya lalu lintas. kendaraan di jalan dan kekhawatiran tak bisa pulang.
“Biasanya ini sampai jam tujuh malam, Pak.” Tukang ketoprak tahu-tahu ikut bercerita.
Saya menerawang.
Di utara, tempat di mana saya harus melanjutkan perjalanan, beberapa tentara tampak bersiaga.
Di depan gedung MK, ada yang berorasi
Susah menerobos mereka ini karena mereka berdiri dan duduk memenuhi trotoar tempat saya berjalan.
Saya meliukkan tubuh, menelusup di antara sepeda motor yang parkir. Orasi tetap terdengar.
Saya kembali berjalan, tujuan saya di seputaran harmoni masih lumayan jauh.
Serombongan polisi berbaris rapi, mereka berjalan, menghampiri pendemo yang berorasi.
Saya terus berjalan, sesekali melirik.
Sumber gambar