Bagaimana agar kita bahagia?

Happiness-is-not-the-absensce-of-problems

Apakah bahagia itu ketika Anda memakan menu kegemaran seperti es krim atau coklat?

Bagaimana kalau kita lipat gandakan jumlah es krim atau coklat itu? Katakan saja Anda mesti menghabiskan satu kotak es krim atau sepuluh batang coklat di waktu yang sama. Di sini, barangkali Anda tak lagi bahagia.

Saya banyak membaca, mendengar, dan melihat presentasi tentang kebahagiaan. Secara umum, para penulis dan pembicara itu memberikan kiat-kiat atau tips bagaimana agar kita bisa bahagia.

Saya mencoba mempraktikkan beberapa di antaranya. Hasilnya memang saya bahagia. Berarti betul apa yang disarankan oleh para penulis dan pembicara itu.

Bagaimana kalau saya tidak melakukan kiat yang ada di sana, apakah kemudian menjadi sedih? Rupanya tidak demikian, sebab kadang kita bahagia karena satu hal dan di lain waktu hal yang sama tersebut tidak terasa membahagiakan. Di sini berarti kebahagiaan itu naik turun dan bergantung pada banyak hal.

Satu pelajaran yang saya ambil dari mempraktikkan semua kiat tentang kebahagiaan itu adalah, kita merasa bahagia bila berhasil melakukannya.

Bila Anda barangkali tertarik agar bisa bahagia, maka syaratnya adalah dengan melakukan apa yang disarankan. Anda tidak bisa sekadar mengetahui bagaimana menjadi bahagia tetapi tidak melakukan apa yang disarankan. Antara mengetahui dan melakukan adalah dua hal yang sangat berbeda.

Singkatnya, praktik hidup bahagia memegang peranan penting agar Anda ‘benar-benar’ bahagia.

Adakah di antara banyak tips mengenai kebahagiaan yang sudah Anda praktikkan?

Image credit: http://www.lifehack.org/

Si Kecil dan Makanannya

Apakah si kecil putra atau putri Anda sulit makan?

Katanya janganlah lekas putus asa manakala si kecil melakukan gerakan tutup mulut itu. Hal ini karena kecukupan nutrisi bagi sang buah hati sangatlah penting.

Hal yang pertama dilakukan adalah mencari apa sebabnya si kecil susah makan, biarpun makanan yang disajikan menarik, nikmat, serta sehat baginya.

Bisa jadi si kecil bosan dengan menu yang biasa, atau tekstur makanannya yang tidak sesai. Hal lain, bila si kecil sedang tidak sehat atau tumbuh gigi, seringkali juga mengalami kesulitan saat harus makan. Ruang makan yang Continue reading “Si Kecil dan Makanannya”

Ibu Kota Majapahit

Saya membaca mengenai Majapahit di National Geographic Indonesia edisi September 2012. Berikut beberapa hal yang bisa saya rangkum dari artikel tersebut. Sebenarnya, saya juga sudah membuat rangkaian kicauannya di akun twitter saya @unclegoop. Namun, barangkali ada yang tidak sempat mengikuti dan terutama sebagai pengingat saya pribadi yang sering sekali lupa, maka tak ada salahnya kicauan tersebut saya tulis lagi, bukan?

Sejarah berdirinya Majapahit terlebih dahulu diawali dari runtuhnya Singhasari sebagai akibat terjadinya pemberontakan Jayakatwang kepada Raja Kertanagara. Menantu Kertanagara, Continue reading “Ibu Kota Majapahit”

Tradisi Lebaran

Dalam merayakan hari raya Idul Fitri (berlebaran), paling tidak ada sepuluh tradisi yang biasa dilakukan. Apakah Anda juga melakukannya? 😀

Pertama adalah tradisi halal bi halal. Tradisi ini biasa dilakukan dengan cara saling berkunjung ke rumah tetangga, saudara, atau teman. Tujuan tradisi ini adalah untuk menjalin silaturahim sekaligus saling memaafkan. Biasanya, tradisi ini dilakukan bertepatan pada momen lebaran.

Kedua adalah takbir keliling. Continue reading “Tradisi Lebaran”

Sungkem II

Setiap lebaran tiba, adalah saatnya sungkem kepada orang tua, bapak dan ibu mertua, pak dhe, bu dhe, simbah putri, kakung, pak lek, bu lek dst….

Lebaran kemarin pun begitu adanya. Ada yang beda, memang, yaitu mesti ditambah sungkem ke bapak dan ibu mertua. Kendati, yah, sebelumnya pun seringkali juga sudah sungkem saat masih menjadi calon mertua dan saya calon menantu, hehe.

Selain perbedaan itu, ritual yang lain tetap dilakukan seperti sedia kala. Berkeliling kampung dan sowan satu-satu ke handai taulan. Sayangnya, terik mentari yang membakar kepala membuat pening datang menyapa. Dengan berat hati, terpaksa tak semua kerabat bisa dikunjungi.

Lebaran kemarin juga menjadi lebaran pertama bersama istri. Artinya ada lebih banyak keluarga yang harus dikunjungi.

Lebaran kemarin juga menjadi kali pertama dalam rentang waktu yang lama saya tak pulang. Sebelumnya saya selalu pulang ke rumah dalam jangka waktu pekan, karena hampir tiap akhir pekan saya selalu pulang.

Maka, tak apalah perjalanan 26 jam yang saya tempuh menggunakan bus dari Jakarta ke Magelang harus saya jalani. Berdua bersama istri di dalam bus, kami sama menggerutu, namun kami pun sama-sama senang mengingat perjumpaan dengan keluarga yang telah menanti di sana.

Karena jarang pulang itulah, di kampung saya mengalami kebingungan. Saya tak tahu siapa yang sudah meninggal dunia selama saya tak ada di sana. Saat sowan-sowan itu, saya khawatir masuk ke rumah yang keliru. Di mana pemilik rumah ternyata sudah tak ada dan hanya bertemu dengan ahli warisnya saja, tentu akan menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan bila itu harus terjadi.

Saya pun memerlukan bertanya kepada Bu Lek untuk menjawab pertanyaan di atas. Rupanya tak banyak yang meninggal dunia saat saya jarang pulang. Hanya dua orang kakek-nenek yang memang sudah sepuh.

Cerita dari Bu Lek mengalir, bagaimana nenek yang sakit-sakitan itu justru bertahan hidup lebih lama dari kakek. Sementara si kakek yang terlihat lebih sehat—ditunjukkan dengan kemampuannya melakukan aktivitas normal—justru dipanggil lebih dahulu.

Di sini saya diingatkan, manakala usia sudah senja, hidup seperti hanya tinggal menunggu giliran dipanggil. Kakek dan nenek itu contohnya. Sepanjang pengetahuan saya, keduanya tak banyak kegiatan selain sedikit bercocok tanam dan lebih banyak disibukkan dengan urusan ke masjid, menghadiri pengajian dan hal-hal semacam itu.

Bu Lek bercerita, bagaimana kakek itu ‘pergi’ dengan begitu damai menjelang magrib sepulangnya ia dari masjid menunaikan sholat ashar. Saya bersyukur mendengar cerita itu, tampaknya sang kakek dimudahkan jalannya pulang. Masih berlanjut cerita Bu Lek, bagaimana nenek yang tak lain istri dari sang kakek pun tak lama kemudian menyusulnya berpulang.

Persis benar dengan kata Pram dalam ‘Bukan Pasar Malam’ kurang lebih ia bilang, “Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang… seperti dunia dalam pasar malam. Seorang-seorang mereka datang… dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.”

Saya ngemil turahan bada* dulu ya…. 😀

*) Turahan bada adalah sisa lebaran, maksudnya makanan sisa lebaran. Biasanya berupa makanan kecil yang disuguhkan untuk tamu-tamu yang bertandang ke rumah. Enak-enak sekali.

Silakan baca juga Sungkem

Memasak Bersama

Barangkali semua yang terjadi diawali dari dapur….

Semenjak hidup bersama dengan Chinta, uang saku yang biasanya untuk makan bisa digunakan untuk keperluan lain. Saya bersyukur untuk itu.

Semua berawal dari sebuah kompor. Warnanya hitam, merknya Quantum dan nyala apinya bagus. Semenjak benda itu dibeli, maka memasak menjadi bagian dari hari-hari kami.

Apakah semua berjalan lancar? Continue reading “Memasak Bersama”

Bersama dengan Istri

Siapa pun yang baru saja menikah tentu akan berpikir, bahwa tinggal bersama istri pastilah akan sangat menyenangkan. Lebih khusus lagi untuk saya yang sekian lama tinggal sendiri di kosan dan harus menjalani hubungan jarak jauh. Harap jangan heran kemudian, apabila tiba saatnya saya bisa tinggal bersama istri, maka itu adalah seperti mimpi yang menjadi nyata.

Pagi itu, kami tiba di Pulo Gadung dengan sekoper besar baju-baju istri. Dengan taksi, kami pun perlahan menuju ke kosan. Saat itu, ia sudah tak nyaman dengan macet yang menggila di daerah Senen.

Selama ini tak ada masalah di kosan saya. Maksudnya, saya merasa begitu nyaman tinggal di kos yang ada pepohonan nan menghijau dan kokok ayam di pagi hari. Jarang sekali, bukan, di Jakarta ada suasana semacam itu?

Tapi kondisi berubah manakala istri datang, kamar yang semula terasa luas itu pun tiba-tiba menyempit dengan masuknya istri dan kopernya. Menurutnya kamar saya pun begitu kotor, padahal menurut saya itu sudah paling bersih di antara teman-teman kos yang lain, hahaha. Continue reading “Bersama dengan Istri”

Memaknai Mi Instan

Seberapa jauh kita mengenal diri kita sendiri? Tak perlu untuk hal yang mengagumkan semacam menandai kapan datang kesedihan dan kegembiraan. Sebenarnyalah, kendati dua hal tersebut nyata bedanya, namun terkadang kita suka abai menandainya.

Manakala kesedihan itu datang kita terlampau larut, seakan tak ada lagi hari esok. Pun bila kegembiraan hadir di tengah kita, membuat lupa pada persoalan lain. Janganlah heran bila suatu saat nanti kita lupa saat ditanya kapan kamu begitu sedih dan kapan demikian gembira? Sejatinya memang dua hal itu berganti-ganti dan terjadi begitu saja, bukan?

Karena hal itu pula, maka saya tak bosan-bosan mengutip apa kata Aulia Muhammad. “Tawa bisa terbit dari fajar airmata.” Artinya dua hal, kesedihan dan kegembiraan rupanya bisa saling mengisi, berganti-ganti. Cuma kapan itu terjadi, yaaa terjadi begitu saja, lama kemudian baru kita ingat atau ingin mengingatnya.

Tempo hari, saat saya mendengarkan radio, Continue reading “Memaknai Mi Instan”