Penyebab Macet di Jalan Hasyim Ashari

Kenapa harus selalu ada lubang di aspal?

Bertahun-tahun saya melintasi Jl. Hasyim Ashari di Jakarta Pusat, satu ruas jalan yang menghubungkan antara Harmoni sampai dengan ITC Roxy. Ruas jalan ini sangat penting karena menghubungkan Jakarta dengan Tangerang yang nantinya akan bersambung dengan Jalan Daan Mogot.

Ruas Jalan Hasyim Ashari tidaklah panjang, namun sangat sibuk. Tercatat antara Harmoni sampai dengan Roxy hanya berjarak 2,2 km. Namun, dengan jarak tak sampai 5 km tersebut ada tiga buah perempatan lengkap dengan lampu pengatur lalu lintas. Bila pagi atau sore hari saat jam sibuk, super sekali kepadatan kendaraan di ruas ini.

Perempatan menjadi biang keladi kemacetan. Saat perempatan pertama dari Harmoni sudah menyala hijau, ujung kendaraan yang berhenti di perempatan kedua belum juga berjalan. Akibatnya terjadi penumpukan kendaraan di tempat tersebut. Tak jarang, kendaraan banyak yang terkunci di perempatan tersebut tak bisa bergerak. Hal ini baru terjadi di satu perempatan, nah, silakan dikalikan tiga karena di sana ada tiga perempatan.

Selain perempatan, hal lain yang menyebabkan kemacetan adalah jalan layang di depan Roxy. Di sana terjadi penyempitan lajur dari yang semula tiga lajur menjadi dua lajur saja saat akan naik ke jalan layang. Otomatis terjadi efek leher botol yang membuat kendaraan berebut akan melintas di jalan layang. Seringkali manakala jam sibuk, ujung antrian sampai dengan perempatan antara Jalan Hasyim Ashari dan Jalan Biak.

Nah, selain perempatan dan leher botol karena akan masuk ke jalan layang, masih ada lagi penyebab kemacetan yang lain, yaitu seringnya ruas Hasyim Ashari digali. Saya kurang paham kenapa jalan yang tak panjang itu sering mengalami penggalian. Mulai dari perusahaan air, listrik, sampai seluler melakukan penggalian yang berbeda-beda waktunya. Satu perusahaan selesai menggali, tak lama kemudian perusahaan lain akan melakukan hal yang sama.

Hampir semua aktivitas penggalian dilakukan dengan cara yang sama. Mula-mula mereka akan menghancurkan aspal dan kemudian dilanjutkan dengan upaya penggalian. Di sekeliling lubang akan dipasang seng-seng sebagai pembatas dan melindungi pekerja dari kendaraan yang melintas. Petugas akan membuat banyak lubang di sepanjang ruas jalan. Jarak antara satu lubang dengan lubang yang lain pun sudah ditentukan.

Kini di ruas jalan itu pun banyak lubang, banyak seng yang melindungi lubang, dan banyak penggali yang melakukan pekerjaannya. Oh iya, banyak juga gulungan kabel atau material lain yang nantinya akan dimasukkan ke dalam lubang. Silakan Anda bayangkan bagaimana ruwetnya kondisi tersebut saat ribuan kendaraan berjuang melintas ruas jalan yang tak terlalu lebar itu.

Setelah upaya penggalian selesai dilakukan, muncul masalah lain. Bekas lubang penggalian jarang yang ditutup dengan benar. Tidak seperti saat mulai penggalian dengan menghancurkan aspal, bila sudah selesai tak ada aspal yang menutupi bekas lubang itu. Hasilnya adalah ruas jalan yang berlubang-lubang tak rata dan sangat membahayakan pengguna kendaraan.

Saya senang karena beberapa waktu yang lalu, di ruas jalan depan Roxy yang mengarah ke Harmoni sudah diaspal bagus dan halus. Hal tersebut dapat membantu kelancaran laju kendaraan meskipun masih harus terhenti-henti karena lampu merah. Namun, saya khawatir sebentar lagi akan ada upaya penggalian di jalan yang sudah diaspal itu.

Di sepanjang ruas jalan yang tak lebih dari 5 km itu terjadi kemacetan dengan berbagai sebab. Saya tak punya usulan solusi yang jitu untuk mengatasinya. Harapan saya, dengan memaparkan identifikasi persoalan yang terjadi di sana bisa membantu pihak yang berwenang untuk merumuskan kebijakan yang tepat.

Terima kasih.

Terima Kasih, Jakarta

Beberapa hari yang lalu, dalam grup whatsapp teman-teman SMA dikirimkan sebuah video yang berjudul ‘Jakarta Kejam, Kota Kesayangan’. Saya pun tertarik untuk mengunduh dan menontonnya. Tak penting benar isi video tersebut, karena otak saya malah berputar, disibukkan dengan pertanyaan, “Benarkah Jakarta kejam?”

Saya kemudian mengirimkan balasan di grup yang sama, “Menurutku, bukan Jakarta yang kejam, namun sebagian orang yang tinggal di sanalah yang lebih keji. Tiap hari mereka menyedot air dari bumi Jakarta, mengunduh duit dari mana saja di kota itu. Tiap hari pula mereka buang tinja dan air seni ke bumi yang sama. Kemudian, mereka itu pula yang bilang Jakarta kejam.”

Sejatinya siapa yang lebih kejam?

Banyak juga kawan yang mengeluh perihal macet di mana-mana. Kemudian secara membabi buta menyalahkan siapa saja, mulai dari angkot, tukang gali kabel, sampai presiden. Ehmm…. sejatinya kalau dia dan saya tak datang ke kota ini kemudian memenuhi jalanannya dengan kendaraan kami, tentulah tak akan semacet ini.

Siapa sejatinya yang berhak untuk mengeluh?

Terkadang saya merasa kita telah bertindak tidak adil dengan misalnya, mengatakan kejam alih-alih berterima kasih pada kota yang telah memberikan semua yang dimilikinya untuk kita tinggali dan nikmati. Satu contoh lain, kita salah alamat dalam menyampaikan keluhan, misalnya pada umpatan yang sebenarnya adalah hasil perbuatan kita sendiri, misalnya membeli kendaraan, memakainya, dan menambah kemacetan.

Mari, kita nikmati saja hasil perbuatan kita bersama ini dengan penuh syukur.

Ah, kalimat terakhir itu pun rasanya tak elok dialamatkan pada Jakarta. Rasanya lebih tepat ucapan maaf dan terima kasih yang kita haturkan pada kota itu.

Bagaimana?

Arus Balik 2013

Saya memilih perjalanan siang hari untuk menuju ke Jakarta dari Magelang. Hal ini mengingat jalur yang saya tempuh, melewati Parakan-Bawang-Limpung kemudian Batang, cukup horor apabila ditempuh malam hari. Pernah sekali saya melalui jalur itu, haduh, sepi sekali.

Start dari Magelang hari Senin (12/08) pukul 09.00. Saya memilih hari Senin, perhitungannya karena itu hari pertama masuk kerja, jadi saya kira tidak akan terlalu padat. Ahh, ternyata saya keliru.

Keluar dari rumah tak lama langsung memasuki jalur Magelang-Semarang. Di sini sudah diwarnai kepadatan lalu lintas. Tanjakan di daerah Payaman sampai dengan Secang menjadi santapan pertama. Menjelang Temanggung, kepadatan makin terasa. Kendaraan harus antri di lampu merah panjang sekali.

Kondisi tersebut terus berlanjut sampai dengan Sukorejo. Kendaraan tak bisa dipacu maksimal. Jalan yang sempit dan terkadang berlubang serta banyaknya kendaraan menjadi penyebabnya. Lepas Sukorejo, kebanyakan memilih jalur Weleri.

Saya tak turut serta rombongan besar itu. Jalur Bawang-Limpung saya pilih. Syukurlah, barangkali karena belum banyak yang tahu jalur ini, maka relatif sepi. Jalannya pun sudah diaspal bagus, sehingga enak sekali perjalanan yang berkelok-kelok itu sembari menikmati pemandangan hijau sawah dan latar belakang gunung.

Sampai di Limpung bertemulah dengan jalur Pantura sebelum kota Batang. Lalu lintas masih relatif sepi di sini. Saat kami berhenti di sebuah SPBU menjelang Kota Batang, banyak sekali pemotor yang sedang beristirahat. Wah, di tempat yang disediakan sampai-sampai tak muat, bahkan untuk duduk pun susah.

Kepadatan baru terasa ketika memasuki Kota Pekalongan. Banyaknya lampu merah di sini kembali menyebabkan antrian panjang kendaraan. Di tengah kemacetan itu, kami sempat berhenti untuk mengisi bensin. Menurut petugas di SPBU itu, kepadatan lalu lintas di Senin itu jauh lebih padat daripada hari Minggu. Kepadatan dari Pekalongan itu terus berlaku sampai Pemalang, Tegal, Brebes, bahkan Cirebon.

Pada saat itu, kami memang harus melintasi sedikit jalur Cirebon karena tak boleh masuk Tol Kanci. Mestinya setelah Losari, Brebes, bisa belok kiri untuk masuk ke Tol Kanci. Satu hal yang sangat disayangkan karena menjelang masuk tol ini, terdapat sate kambing enak sekali. Kegagalan memakan sate kambing tak terlalu dirasakan, kendati ini sudah direncanakan sejak semula, namun sampai di Tegal sudah jam empat sore dan belum makan siang, sehingga di kota inilah kami berhenti dan menikmati Bebek Goreng Blenggong.

Setelah Palimanan, barulah kami bisa masuk tol. Mestinya di daerah itu ada dua tol yang nyambung, namun kami hanya bisa menikmati satu bagiannya saja.

Lepas dari tol, kemudi diambil alih oleh Om. Ah, senang sekali bisa beristirahat. Saya kurang memperhatikan jalur Indramayu-Pamanukan-Ciasem-Patrol-Karawang itu. Seingat saya, kemacetan terjadi luar biasa. Memang tidak berhenti total, namun padat merayap yang lumayan membuat pegal kaki kiri.

Sekitar jam setengah dua pagi, sampailah kami di Cikopo. Saatnya saya memegang kemudi lagi menggantikan Om yang kurang percaya diri mengemudi di jalan tol Cikampek. Prediksi saya, perjalanan akan menempuh kurang lebih dua jam, sehingga sekitar jam empat akan sampai di Jakarta. Prediksi ini kemudian terbukti keliru. Tak seperti di jalan biasa, di Tol Cikampek perjalanan lancar. Kendati sempat terlelap beberapa detik, syukurlah jam tiga sudah parkir di kontrakan.

Catatan saya, arus balik lebih susah diprediksi dan belum ada strategi yang jitu untuk mengatasi kemacetan.

Maafkan Jakarta

Melanjutkan kisah kemarin mengenai kontrakan, sudah diketahui, bukan, bahwa sekarang saya tinggal di tempat yang jauh dari kantor. Memang ada halte Transjakarta terdekat, namun itu pun harus saya tempuh cukup jauh untuk ukuran berjalan kaki. Belum lagi antri di halte cukup lama pada pagi hari yang salah-salah akan membuat saya terlambat masuk kantor.

Sekarang saya pun tak sendiri di kota ini. Bersama dengan Chinta, istri saya, saya arungi hari demi hari. Termasuk di antaranya adalah upaya pemenuhan kebutuhan kami sebagai manusia, mulai dari urusan perut, kesehatan, kecantikan sampai hiburan. Tuntutan dari pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah adanya sarana transportasi yang mumpuni untuk kami berdua.

Sepeda motor, itulah jawaban dari kebutuhan kami menyangkut transportasi. Bagaimana memeroleh motor dalam waktu singkat tanpa perlu keluar uang banyak? Jawabannya mudah sekali, yakni dengan mengirimkan motor saya di kampung yang selama di sana selalau nganggur ke sini.

Cukupkah masalah terselesaikan? Hah, rupanya masih ada persoalan lain, yakni perbedaan jadwal antara saya dan Chinta. Yup, jam kerja kami memang berbeda; saya bekerja dari pagi sampai sore hari. Chinta di sisi lain bekerja dari siang sampai dengan malam hari. Muncullah persoalan lain, yakni bagaimana ia harus mencapai kantornya jika motor saya bawa ke kantor? Lagi pula tidak mungkin, bukan, pabila saya harus sering keluar kantor untuk mengantarkannya ngantor?

Ya sudah, Continue reading “Maafkan Jakarta”

Di Tengah Kemacetan

Jakarta di sebuah siang yang mendung.

Manakala macet meraja di sebuah jalan protokol. Mobil yang kami tumpangi mengambil jalur terlalu ke kiri. Di situ yang mestinya sepeda motor bebas meliuk-liuk akhirnya tertutup mobil kami. Klakson dengan bunyi beragam menyalak, pun gas yang digeber-geber menarik perhatian kami.

Semua itu tak kami hiraukan, pasalnya tak ada lagi ruang tersisa untuk kami menyingkir. Ke kiri itu artinya naik ke trotoar. Dan itu tak mungkin karena trotoar pun terlampau tinggi untuk mobil kami. Ke kanan, ahhh, sebuah kijang biru dari perusahaan pembawa uang memepet kami tak memberikan sejengkal pun ruang.

Mobil kami dan kijang biru itu saling mepet. Saya sudah khawatir akan terjadi sesuatu melihat spion yang sudah saling bersenggolan. Lambat laut, karena mobil kami berada di depan, maka spionnya pun lebih ke depan. Rupanya ada ruang untuk kijang biru itu maju, jadilah spionnya menyenggol spion kami, mengubah posisinya dan sopir harus bersusah-susah membetulkannya. Tak lama, giliran kami yang memiliki celah untuk maju. Dengan tak ragu sopir kami pun menginjak gas, dia membiarkan manakala spion kami membuat spion kijang biru tertekuk ke depan. Saling mepet terus berlanjut.

Kijang biru dengan kaca film hitam hampir 80% itu tak membiarkan siapa pun melihat siapa yang berada di dalamnya. Sopir kami sudah melirik ke pengemudi kijang biru itu, barangkali memintanya untuk mengalah sedikit dan membiarkan kami maju, memberikan jalan pada pengendara sepeda motor. Namun, kijang itu tak juga hendak pergi, terus memepet mobil kami.

Pada sebuah kesempatan, setelah spionnya tertekuk, kijang biru itu bisa agak laju ke depan. Di saat itu, pintu kiri kijang biru dibuka dan “Dukkk!” mengenai samping moncong depan kami. Saya lihat sopir tetap tenang dan cuek, barangkali karena itu bukan mobilnya, maka ia bersikap begitu. Pandangan saya beralih dan melihat siapa yang membuka pintu. Astaga, sesosok gagah berambut cepak dengan seragam coklat rupanya yang telah sengaja mengadu pintu dengan bagian samping mobil kami.

Ia melakukan itu dengan sengaja dan tak lupa memberikan lirikan marah kepada sopir kami. Rupanya, hal itu diartikan lain oleh sopir. Ia tak mau mengalah dan justru memepet lagi kijang biru itu. Kembali saling bersisian, barangkali karena jengkel, maka kaca jendela kiri mobil biru sedikit dibuka. Kemudian muncul seraut wajah yang marah dan berkata-kata, entah apa yang diucapkannya. Sementara itu, sopir kami cuma bilang, “Kenapa, Bang?”

Kejadian selanjutnya adalah syukur yang saya panjatkan karena jalanan mulai lengang, itu artinya kami bisa melaju. Maksud saya tentu meminta sopir agar tidak meladeni. Sayang, ternyata sopir kami itu bandel. Ia malah mengejar kijang biru, berhasil menyalip dan memosisikan mobil kami di depan kijang biru itu. Saya yakin betul, tentu itu akan kembali membuat marah sosok yang berada di dalam kijang. Syukur lagi harus saya ucapkan, manakala marka jalan membatasi kami dan kijang biru itu. Kami agak tersendat, sementara ia bisa melaju kencang dan berhasil melintasi lampu merah. Kami tertinggal di belakang, sedikit terlambat.

Jalanan dan macet, kadang-kadang membuat orang kehilangan akal, bahkan untuk pihak yang mestinya memberi contoh bagaimana berperilaku di jalan raya. Ia yang sedang disorot buruk, namun perilakunya tak menunjukkan itikad baik untuk berubah. Entah, ke mana lagi harus berpaling mencari teladan.

Di sebuah kesempatan yang lain, sosok berseragam sama juga melawan arus menghindari macet. Dugh!