Bagaimana kelanjutan kisah tikus gemuk?

Apakah Anda masih ingat dengan sawah milik petani dan tikus-tikus gemuk yang tinggal di sana?

Mari kita lanjutkan cerita tersebut.

Seperti sudah diceritakan, petani itu bersama dengan teman-temannya mencoba untuk membuhuh tikus-tikus di sawah. Usaha itu memang tampak berhasil pada mulanya, namun kemudian tikus-tikus itu dengan cepat segera datang lagi.

Petani itu lupa, bila tikus di sawah berkurang karena dibunuh, maka yang tersisa memiliki lebih banyak ruang untuk beranak pinak, sehingga sia-sia saja usaha para petani.

Sebenarnya ini berhubungan dengan kapasitas satu lahan untuk menyokong kehidupan.

Katakanlah sepetak sawah mampu untuk menyokong hidup 100 ekor tikus, maka bila Anda mengurangi tikus itu menjadi 50 mereka masih tetap punya ruang untuk 50 yang lain.

Nah, sebab tikus itu kerjanya barangkali hanya mencari makan dan melakukan perkawinan, maka anak-anak mereka pun ?emakin banyak yang hidup di sawah.

Pada kondisi demikian, ada dua cara yang bisa ditempuh petani: pertama dengan membiarkan tikus-tikus terus beranak pinak hingga lebih dari seratus. Bila jumlah ini telah tercapai, maka tikus yang ke seratus satu dan seterusnya sudah di luar kemampuan daya dukung lahan.Tikus-tikus pun mulai saling berkelahi satu dengan yang lainnya dan lahan pun akan terus rusak karena semua sumber daya yang ada digunakan oleh tikus.

Hasil akhirnya adalah tikus yang kurus-kurus karena kurang makan. Bisa jadi juga tikus yang mati sendiri karena saling berkelahi satu dengan yang lain. Mereka memperebutkan makanan yang kini hanya sedikit namun dimakan oleh lebih banyak tikus.

Adapun pilihan kedua bagi petani adalah dengan membunuh semua tikus yang ada di sawah. Tetapi, sepertinya ini pun mustahil dilakukan karena sarang tikus itu tersebar bukan hanya berada di sawah milik si petani tersebut?

Bagaimana dengan tikus yang tinggal di sawah milik orang lain, siapa yang harus bertanggung jawab untuk membunuh itkus ini? Terus, bagaimana bila ada tikus yang tinggal dipinggir sungai atau tepi jalan yang tak bertuan.

Ahh…. harus ada sesuatu yang dilakukan oleh petani tersebut. Tapi apa?

======

world

Pada satu waktu, kemampuan bumi untuk mendukung manusia pun akan terlampaui. Bahkan saat ini, sebenarnya jumlah manusia yang bisa ditampung dan disokong kehidupannya oleh bumi terlampaui.

Manusia semestinya sudah membutuhkan satu setengah bumi untuk menyokong semua kegiatannya. Bagaimana bila populasi dunia terus tumbuh dan kerusakan lingkungan terus terjadi?

Credit Picture: https://exploringresearchbio.wordpress.com

Bagaimana kita kehilangan kemampuan mendengar?

Kita telah kehilangan kemampuan untuk mendengar, dari 60 persen pembicaraan, rupanya kita hanya bisa mendengarkan 25 persennya saja.

Mendengar adalah mengartikan satu hal dari suara-suara. Kita mengembangkan kemampuan mental ini dengan memecah berbagai suara yang didengar menjadi satu bunyi yang bermakna.

Kita dapat melakukan hal itu salah satunya dengan mengenali pola. Bayangkan Anda sedang berada dalam satu lingkungan yang bising; bisa di pinggir jalan, di dalam mall, atau di sebuah restauran. Tiba-tiba, nama Anda dipanggil dan Anda pun akan bisa mendengar panggilan itu kendati di tengah keriuhan.

Kita juga dapat mendengar hal-hal tertentu karena kemampuan kita untuk membedakan. Di pinggir pantai dengan debur ombak yang nyaring, kita tetap dapat mendengar bebunyian lain. Sebab, kita memiliki kemampuan untuk mengabaikan bunyi-bunyi yang mirip dan didengar berulang-ulang.

Selain kedua hal tersebut, saat kita mendengar, banyak sekali saringan yang terlibat di dalamnya. Beberapa hal sebagai penyaring adalah: budaya, bahasa, nilai-nilai, kepercayaan, sikap, harapan, dan minat. Kebanyakan manusia tidak menyadari saringan ini karena terjadi begitu saja dan saat itu juga.

Suara juga membuat kita sadar mengenai waktu dan tempat. Sekali waktu saat berada di sebuah ruangan, cobalah Anda pejamkan mata. Melalui suara-suara, kita bisa menyadari berapa luas ruangan itu, berapa banyak orang yang bersama kita dan lain-lain. Semua itu terjadi karena pantulan, dengung, atau bebunyian lain yang kita dengarkan dengan lebih seksama.

Selain tempat, suara membuat kita sadar mengenai waktu. Kita tidak dapat menghitung waktu tanpa bantuan gerakan jarum jam di dinding atau di arloji, maka suara seringkali menjadi pengingat berjalannya waktu.

Bagaimana kita kehilangan kemampuan mendengar? 

Pertama karena penemuan alat perekam. Entah itu perekam suara atau perekam gambar yang dilengkapi suara telah membuat hilangnya kemampuan kita untuk mendengar dengan penuh perhatian.

Kedua, dunia saat ini begitu berisik. Bukan hanya menyangkut suara, namun juga berbagai hal yang mengganggu pandangan kita. Pada kondisi yang demikian itu, mendengar menjadi begitu sulit dan melelahkan. Banyak orang kemudian melarikan diri pada earphone atau headphone, tapi kemudian dia tak mendengarkan apa-apa….

Kehilangan kemampuan mendengar juga membuat kita menjadi tidak sabar. Seni berbicara atau bercerita satu sama lain dengan bertukar kata dan mendengar telah digantikan oleh siaran pribadi. Kita mudah menemuinya di facebook, twitter, atau blog yang seakan-akan berteriak-teriak di ruang hampa….

Lebih dari itu, bila kita menengok ke berbagai pemberitaan di media yang berisi: sensasi, kejutan, pengungkapan, skandal, kemarahan, atau pemaparan aib seseorang, yang semua itu bertujuan untuk menarik perhatian kita, maka kita menjadi makin sukar untuk mendengarkan bunyi yang tersembunyi, bisikan, atau suara-suara di bawah permukaan.

Kehilangan kemampuan mendengar sangatlah berbahaya karena ‘mendengar’ adalah satu jalan bagi kita agar paham. Saat Anda mendengarkan dengan penuh kesadaran, maka di situlah pemahaman akan didapat. 

Di sisi lain, ketika kita mendengarkan tanpa kesadaran, maka yang terjadi adalah kesalahpahaman. Dunia yang kehilangan kemampuan mendengar adalah wilayah yang menakutkan karena di situlah lahan subur bagi konflik, protes, dan tindakan butral lainnya.

Menghadapi berbagai situasi di atas, apa yang dapat kita lakukan? Berikut ini lima langkah untuk kembali berlatih mendengar. 

Pertama, adalah diam…. Lakukan setidaknya tiga menit setiap hari karena ini sangat penting sebagai satu cara untuk me-reset telinga Anda sehingga bisa mendengar bunyi-bunyi yang begitu samar sekalipun.

Kedua adalah ‘mixer’. Saat Anda berada di tempat yang ramai, maka cobalah untuk memilah suara-suara yang ada. Mana suara sepeda motor, anak menangis, penjual bakso, gesekan langkah orang berjalan dan lainnya. Latihan ini sangat bagus untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas mendengar.

Ketiga adalah ‘savoring’, yaitu mendengarkan keindahan dari berbagai bunyi yang biasanya justru kita anggap mengganggu. Bisa bunyi mesin penggiling kopi, kulkas, atau mesin cuci.

Keempat, adalah posisi mendengar. Ini berhubungan dengan saringan dalam mendengar yang sudah dijelaskan di bagian awal. Bagaimana Anda mendengarkan dan kemudian bersikap pada bunyi-bunyi tertentu yang sesuai atau tidak sesuai dengan diri Anda.

Kelima adalah acronym RASA—Receive, Appreciate, Summarise, Ask. Receive adalah menerima informasi. Appreciate adalah memberikan penghargaan kepada lawan bicara, yakni bisa dengan bunyi, “oke”, “hmmm”, atau sekadar mengangguk-anggukkan kepala. Summarise adalah ketika kita mengulang berbagai poin penting dari lawan bicara, biasanya diawali dengan “Jadi…. “. Ask adalah mengajukan pertanyaan sekiranya ada hal-hal yang masih kurang jelas.

Seseorang perlu mendengar dengan penuh kesadaran agar terhubung dengan ruang dan waktu, dengan sekitar kita, dan kemudian agar saling memahami.

Ingat, Dalai Lama pernah berkata, “Saat berbicara, kita hanya mengulang-ulang apa yang sudah kita ketahui. Namun, saat mendengar, banyak hal baru yang bisa kita pelajari.”

Anda bisa mendengarkan perihal ‘mendengar’ ini dari ahlinya di video berikut ini:

Siapa musuh terbesar manusia?

100709pogo

Siapakah musuh terbesar umat manusia?

Dia bukan serangga, bukan tumbuhan, bukan fenomena alam, bukan makhluk luar angkasa, atau penjahat yang harus dikalahkan oleh super hero.

Musuh terbesar umat manusia adalah manusia itu sendiri.

Saat bicara mengenai kerusakan lingkungan, siapa yang menyebabkan kerusakan itu terjadi?

Bagaimana bisa manusia yang tadinya hanya hidup di satu sudut Afrika sana kemudian merambah ke berbagai pelosok belahan dunia? Meninggalkan jejaknya di mana-mana, merusak pemandangan alam, mengubah rantai makanan, menyebabkan kepunahan berbagai satwa.

Kenapa manusia melakukan itu semua?

Di antara semua binatang yang hidup di dunia dan manusia termasuk di dalamnya, siapa yang paling rakus?

Kendati mulut, gigi, lidah, dan perut manusia tidak dilengkapi dengan berbagai perangkat untuk mengerat daging, mengunyahnya mentah-mentah, dan mengolahnya di perut dengan semacam zat asam yang bisa melunakkannya, namun manusia mampu memasak daging itu agar empuk dan bisa dinikmati panas-panas.

Biarpun mulut, gigi, lidah, dan sistem metabolisme manusia tidak seperti kerbau yang bisa mengeremus tumbuh-tumbuhan, namun tangan manusia bisa memilih mana tanaman yang bisa langsung dimakan, mana yang harus diolah dulu.

Pada akhirnya, manusia memakan apa saja yang dihidangkan di hadapannya. Dia tak seperti harimau yang hanya memakan daging atau kerbau yang cuma mengunyah tanaman. Manusia melahap berbagai hal bahkan yang barangkali beracun sekali pun saking rakusnya.

Selain untuk makan, binatang menggunakan lingkungan sebagai tempatnya tinggal. Namun, binatang tidak membangun rumah, mendirikan gedung-gedung, membangun monumen, tugu, sekolah, penjara, pengadilan, kantor polisi, dan lainnya. Dia tak menggali lubang begitu dalam agar binatang lain bisa berkelap-kelip lehernya karena perhiasan. Dia tak menebang pepohonan agar bisa tidur nyaman di atas ranjang empuk. Mereka menerima dan memanfaatkan apa yang diberikan oleh alam tanpa mengubahnya.

Manusia di sisi lain mengambil dari alam, mengubahnya menjadi sesuatu yang lain untuk kemudian mengambil lebih banyak lagi dari apa yang bisa alam berikan.

Bagaimana kita memahami sekitar?

thinking_in_the_right_frame_of_mind_by_scramblesthedarklord-d5ra85v

Manusia memiliki kemampuan untuk mengenali sekitarnya melalui indera yang ada pada dirinya.

Apakah alam sekitar atau fakta yang kita dengar dan baca itu benar-benar perwakilan dari kenyataan sesungguhnya di alam nyata?

Sebenarnya manusia membuat dunia lain yang baru di dalam kepalanya, sebuah dunia khayalan dan terpisah dari lingkungan sekitarnya. Sebuah dunia yang tidak lengkap dan hanya sepotong-sepotong.

Manusia menggunakan bingkai untuk melihat lingkungan. Bingkai itu digunakan untuk memilih berbagai kenyataan dari alam nyata yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut, kepercayaan, atau memori. Semua hal ini berasal dari pengalaman manusia tersebut selama hidupnya. Keseluruhan proses ini dinamakan mental models.

Dalam bidang apa saja, maka bingkai ini menjadi penting saat Anda berbicara dengan orang lain. Sebab, berdasarkan bingkai ini, maka Anda bisa mengajak atau memengaruhi orang lain.

Seseorang dapat saja melakukan hal yang buruk dan tanpa menyadari keburukan yang dilakukannya itu. Hal ini terjadi karena hal yang sejatinya buruk tersebut dibingkai dengan kemasan yang bagus. Misalnya saja, Anda telah berperan penting bagi sekolah bila berhasil memenangkan sebuah perlombaan bagaimana pun caranya. Tujuan untuk nama baik sekolah ini bila tidak berhati-hati bisa berujung pada menghalalkan segala cara termasuk yang ilegal sekalipun untuk memenangkan satu perlombaan.

Kejadian di atas hanyalah contoh kecil dari berbagai hal besar yang terjadi di dunia dan disebabkan oleh pembentukan bingkai dan dunia khayalan di kepala manusia yang sejatinya tak lengkap.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana agar kita memahami dunia dan seisinya ini dengan utuh? Bagaimana agar kita tidak terjebak kepada satu bingkai yang ujungnya justru merugikan diri kita, orang lain, dan lingkungan sekitar?

Credit picture from here: http://scramblesthedarklord.deviantart.com/art/Thinking-in-the-right-frame-of-mind-348157651

Apa kehebatan atau kelemahan imajinasi?

Selain akal, satu hal yang istimewa dimiliki oleh manusia adalah imajinasi. Dengannya, manusia bisa mengambil berbagai manfaat dari lingkungan di sekitarnya, namun pada saat yang lain, manusia juga bisa jadi merugikan lingkungannya.

Binatang memahami realitas sekitar secara obyektif. Manusia di sisi lain memahami lingkungannya dengan pemahaman obyektif dan fiksi sekaligus. Kemampuan tersebut membuat manusia bisa bekerja sama, mengenali bahaya, merencanakan tindakan, dan lain-lain.

Banyak hal yang dikenal manusia saat ini adalah hasil dari imajinasi, termasuk blog yang sedang Anda baca ini. Saat binatang hanya melihat dunia sebagai satu kenyataan dan kemudian cerita berakhir, manusia juga melihat dunia sebagai satu hal yang nyata dan kemudian membuat cerita baru darinya.

Di antara beberapa hal berikut ini, manakah yang nyata dan mana yang hanya ada dalam imajinasi manusia saja?

  • Batas Negara
  • Politik
  • Perusahaan
  • Hak asasi
  • Agama, Tuhan, Surga, dan Neraka

Apakah Anda bisa menemukan garis batas negara, provinsi, dan kabupaten? Seperti apa wujud politik itu sebenarnya? Kenapa kita harus percaya pada perusahaan apakah dia benar-benar nyata atau kesepakatan kita semata?

Seperti apa agama itu? Bagaimana wujud Tuhan, Surga, dan Neraka?

Oh, satu lagi? Apakah uang itu nyata atau sekadar selembar kertas dengan gambar, warna, dang angka belaka?

Kenapa bila semua itu hanya ada dalam imajinasi kita, namun dampaknya begitu terasa?

Imajinasi manusia begitu memengaruhi tindakan seseorang, baik itu positif atau negatif, namun semuanya buah dari imajinasi. Imajinasi juga mewujud dalam bentuk koordinasi atau kerja sama antar manusia yang tidak bisa disaingi oleh makhluk apa pun di dunia. Hati-hati dalam berimajinasi karena seperti semua hal yang dilakukan manusia, dia bisa bermanfaat atau bisa juga merugikan.

Simak selengkapnya bagaimana imajinasi berperan dalam evolusi manusia dalam video berikut ini:

Mere Desh Ki Dharti (Tanahku Negeriku)

Oleh Vandana Shiva

Tanah Sumber Kehidupan

Solusi bagi perubahan iklim berada pada tanah, namun tanah itu juga yang kita lupakan dan pendam di bawah paham ‘sementifikasi adalah kemajuan’.

Pada masa-masa rentan bagi evolusi manusia seperti saat ini, Hari Bumi, pada 22 April 2015, memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan refleksi bagaimana kondisi bumi dan juga manusia. Hari itu juga menjadi kesempatan untuk memperbarui janji kita sebagai bagian dari keluarga bumi-Vasudhaiv Kutumbukan.

Vasudhaiv Kutumbukan adalah satu pandangan hidup yang mencakup berbagai aliran paham, kebijakan, visi, dan nilai-nilai.

Ilmu pengetahuan telah membenarkan satu pandangan, bahwa hidup adalah jejaring yang saling terhubung. Dari tanah ke tanaman, dari serangga ke binatang, semua menunjukkan hidup adalah jejaring makanan. Taittiriya Upanishad–salah satu bagian Weda–mengenal hal ini sejak bertahun-tahun lampau dengan ujarannya, “Semua adalah makanan; makanan bagi yang lain.”

Upanishad tersebut juga mengatakan bahwa menumbuhkan dan memberikan makanan yang melimpah adalah dharma yang paling tinggi. Sementara itu, menumbuhkan dan memberikan makanan yang buruk adalah bentuk tertinggi dari adharma. Oleh karena itu, maka menumbuhkan dan memakan tanaman organik tanpa merusak tanah adalah tugas suci kita. Di sisi lain, menanam dan menikmati makanan yang terkontaminasi bahan kimia, pestisida, modifikasi genetis organisme atau makanan cepat saji merusak tata ekologi, kebudayaan, dan hukum kesehatan dan nutrisi.

Para petani kita sedang berada dalam tekanan. Petani yang bunuh diri adalah suatu tanda terjadinya sistem pertanian yang mengeksploitasi dengan memeras kesuburan tanah dan kemakmuran mereka. Globalisasi dan ekonomi neo liberal yang menempatkan hak perusahaan lebih tinggi daripada alam serta hak-hak manusia adalah akar dari berbagai persoalan yang terjadi pada petani.

Sejak tahun 1995, hampir 300.000 petani membunuh dirinya sendiri. Vidarbha adalah lokasi di mana keserakahan Monsanto, sebuah perusahaan bioteknologi pertanian telah menaikkan biaya benih lebih dari 700.000 persen sehingga banyak petani kapas yang bunuh diri. Di Bengal Bagian Barat, ada Pepsi. Petani kentang hanya menerima 0.20 rupee per kilogram kentang sementara para konsumen membayar 200 rupee dalam bentuk makanan ringan Lays. Para konsumen juga mesti membayar dengan kesehatan mereka karena penyakit yang disebabkan oleh makanan cepat saji.

Kekacauan iklim yang terjadi tahun ini juga telah menambah tekanan bagi petani dengan curah hujan yang tinggi serta badai di masa panen yang membabat habis tanaman mereka, mata pencaharian mereka. Bulan lalu, lebih dari 100 petani bunuh diri di Uttar Pradesh karena kerusakan tanaman.

Konsep yang mendalam bagi masyarakaat India adalah ‘rta’-jalan dharma–sebuah jalan yang mengupayakan urutan yang benar berdasarkan mata pencaharian yang benar pula. Dari ‘rta’ menjadi ‘ritu’ sebuah pola yang stabil pada cuaca dan iklim. Manakala kita mengadopsi kebijakan dan gaya hidup yang menentang dengan hukum bumi berdasarkan anrita (ketidakteraturan penciptaan), maka akan membuahkan in ritu asantulan (ketidakteraturan iklim).

Dalam buku saya, Soil not Oil (2007), saya menilai bahwa lebih dari 40 persen gas rumah kaca penyebab perubahan iklim adalah hasil dari kontribusi bidang industri dan pertanian global. Sistem monokultur kimiawi yang dipakai juga lebih rentan gagal apabila harus menghadapi kekeringan yang panjang, banjir, atau hujan yang tak menentu.

Di sisi lain, pertanian organik mengurangi emisi dan juga membuat sistem pertanian yang lebih tahan menghadapi perubahan iklim. Penelitian Navdanya menunjukkan bahwa pertanian organik meningkatkan penyerapan karbon hingga 55 persen. Kajian internasional juga menunjukkan bahwa dengan dua ton per hektar tanah organik, kita dapat mengurangi 10 gigaton karbondioksida dari atmosfer, yang berarti juga mengurangi polusi atmosfer hingga 350 bagian per sejuta.

Kenaikan satu persen pada tanah organik dapat meningkatkan kapasitas menahan air hingga 100.000 liter per hektar, sementara bila lima persen, maka bisa meningkatkan kapasitas tahanan air hingga 800.000 liter. Ini adalah jaminan kita dalam melawan perubahan iklim, baik itu pada saat kekeringan dan sedikit hujan, serta manakala terjadi banjir dan hujan berlebih. Sementara itu, di sisi lain, untuk semen dan beton akan meningkatkan aliran permukaan, memperhebat terjadinya banjir dan juga kekeringan. Kami menyaksikan terjadinya hal ini saat banjir pada tahun 2013 di Uttarakhand dan di Kashmir pada tahun 2014.

Pada tanah yang sehat tersedia solusi bagi perubahan iklim, yaitu melalui mitigasi dan adaptasi. Namun, tanah itu juga yang kita lupakan dan pendam di bawah paham ‘sementifikasi adalah kemajuan’.

Ibu Bumi telah berkorban untuk pertumbuhan jangka pendek demi keserakahan segelintir manusia.

Sekitar 4.000 tahun yang lalu, dalam Weda telah mengajarkan kepada kita, “Dalam segenggam tanah ini kelanjutan hidup kita bergantung. Jagalah, maka dia akan menumbuhkan pangan, bahan bakar, tempat tinggal, dan melingkupi kita dengan keindahan. Rusaklah, maka tanah akan rusak dan mati, membawa serta kehidupan manusia bersamanya.”

Peraturan Pemilikan Tanah telah merendahkan tanah menjadi komoditas, merusak tatanan kebudayaan bahwa tanah adalah suci dan telah menyokong kita selama bertahun-tahun. Adalah kebutaan bila tak mampu melihat peran tanah yang sehat pada fungsi ekologis dan juga pelayanan pada kehidupan. Sayang, dalam skala global, kerusakan yang terjadi setara dengan sekitar 20 dollar triliun per tahun.

Dalam Isha Upanishad dikatakan dengan jelas bahwa semesta ini adalah suci dan untuk keuntungan semua makhluk. Oleh karena itu, setiap mereka yang mengambil lebih dari yang seharusnya adalah pencuri. Mahatma Gandhi, mengambil kebijaksanaan ini dalam ujarannya yang terkenal, “Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, namun tak pernah dapat mencukupi keserakahan seseorang.”

Mereka yang mendukung peraturan kepemilikan tanah mengharapkan para petani kecil itu hilang dan memberi jalan bagi perusahaan pertanian yang berbasis kimia serta modifikasi genetika.

Studi dari PBB dan hasil pekerjaan dari Navdanya menunjukkan, pertanian kecil memproduksi lebih banyak pangan daripada industri pertanian besar. Nutrisi per hektar berlibat ganda serta pendapatan masyarakat pedesaan meningkat hingga 10 kali lipat melalui pertanian organik.

Solusi bagi kemiskinan, krisis agraria, kesehatan dan kurang gizi adalah sama, merawat tanah dan juga petani yang peduli pada tanah dan kesehatan kita.

Sistem ekonomi yang mengganggu hak-hak Bumi juga mengancam hak-hak manusia karena kita tak terpisahkan dari bumi. Kita semua adalah anggota dari Vasudhaiv Kutumbukan. Kita memerlukan perjanjian baru dengan bumi sebagai bagian keluarga, janji untuk menciptakan perekonomian baru yang tidak merusak dan Demokrasi Bumi di mana kontribusi dan hak dari spesies terakhir juga manusia terakhir pada bumi juga diperhitungkan.

Vandana Shiva adalah seorang filosof, aktivis lingkungan, dan eko-feminis. Shiva saat ini berbasis di Delhi, telah menulis lebih dari 20 buku dan 500 artikel pada jurnal keilmuan dan teknis terkemuka. Latar belakang pendidikan beliau adalah fisika dan menerima gelar doktoralnya dalam bidang fisika dari University of Western Ontario, Canada. Beliau menerima anugerah ‘Right Livelihood Award’ pada tahun 1993. Beliau juga pendiri Navdanya di http://www.navdanya.org.

Tulisan asli bisa dibaca di sini: http://www.countercurrents.org/shiva230415.htm

Saatnya untuk Energi Alternatif

Mati Listrik
Mati Listrik

Di jejaring sosial twitter, seringkali saya membaca kicauan seorang teman yang mengeluh karena lagi-lagi terjadi mati listrik di lokasi tempat tinggalnya. Entah dia sedang mengerjakan tugas, mengunduh file, atau apa pun aktivitas saat itu, tentu sangat mengganggu apabila kondisi itu terus berlanjut.

Persoalan listrik dan energi nasional memang seakan tak kunjung menemukan titik temu. Bagaimana PLN bergantung kepada bahan bakar fosil yang tak terbarukan. Negara pun gamang untuk menaikkan harga BBM guna menghemat subsidi, namun di lain sisi harus bersitegang dengan rakyatnya.

Sejatinya, bagaimana kondisi energi di negeri kaya raya ini? Continue reading “Saatnya untuk Energi Alternatif”