Hidup adalah kelucuan

Lovely?
Father and his daughter

Selalu ada kisah sedih ketika orang tua meninggalkan anaknya di rumah. Alasan kepergian itu pun beraneka, mulai dari tuntutan pekerjaan, menuntut ilmu dan alasan lainnya. Kepergian itu akan menyebabkan hubungan antara anak dan orang tua pun terputus. Memang saat ini banyak metode komunikasi dengan adanya internet dan berbagai aplikasi. Namun, komunikasi dalam jaringan tetap saja berbeda dengan komunikasi langsung yang memungkinkan adanya sentuhan.

Seorang teman sesama pelajar dari Bhutan memberikan pidato perpisahan pada saat makan malam untuk mereka yang sudah lulus. Dalam pidatonya tersebut, dia berbicara tentang metode komunikasi dengan putranya yang tinggal di negeri asalnya sana menggunakan Skype.

Satu malam, di tengah percakapan, anak itu tiba-tiba mencari ayahnya di belakang layar komputer. Dia berharap bapaknya berada di sana dan bukan hanya di dalam layar.

Akhirnya, Sang Bapak ini pun selesai masa belajarnya dan kembali ke negerinya. Manakala dia bertemu dengan anaknya itu, Si Kecil pun sangat senang dan seakan-akan tidak percaya dengan pandangan matanya. Di hari-hari berikutnya, dia terus-terusan memeluk bapaknya seolah-olah tidak ingin melepaskan lagi.

====

Di masyarakat barat, bukanlah satu kebiasaan untuk membicarakan keluarga, pasangan, putra atau putri. Budaya ini adalah hasil dari stigma yang muncul bertahun lalu kepada wanita pekerja. Sekarang, masalah keluarga memang dianggap tidak relevan bagi mereka yang bekerja, belajar, atau profesi lainnya.

Namun, fakta sebenarnya adalah bahwa keluarga adalah satu hal yang paling penting bagi setiap orang. Keluarga adalah alasan seseorang untuk menempuh ribuan kilometer baik untuk belajar atau pun bekerja. Orang itu meninggalkan keluarga tercinta di kampung halaman demi masa depan yang diharapkan akan lebih baik. Namun, pada saat yang sama, orang itu pun harus meninggalkan kewajiban dan tanggung jawabnya kepada keluarga.

Orang itu menghadapi dilema yang seakan-akan tidak tertanggungkan, namun pada akhirnya hanya bisa menjalani karena seringkali hidup begitu lucu, bukan?

Salam

Picture source

 

Bagaimana Cara Mencari ART?

Apakah Anda pernah merasakan kesulitan saat mencari asisten rumah tangga?

Saya bersama istri beberapa waktu yang lalu cukup khawatir saat harus mencari asisten karena sudah mencari sekian lama, namun tak kunjung mendapatkannya. Kami memerlukan dua orang untuk membantu momong anak-anak. Semua upaya sudah dilakukan untuk mendapatkan asisten, tapi rupanya sekarang ini sungguh sulit untuk memperolehnya.

Mula-mula saya meminta bantuan keluarga terdekat yang tinggal di kampung untuk mencarikan asisten. Bapak dan Ibu pun kelimpungan ke sana kemari dan sibuk bertanya ke tetangga barangkali ada yang bersedia ikut dengan saya ke Jakarta dan membantu momong serta beres-beres.

Sayangnya, semua upaya itu belum membuahkan hasil. Rata-rata alasannya adalah:

1. Bekerja di pabrik

Di sekitar kampung saya memang sedang marak dibangun pabrik yang tentu saja membutuhkan pekerja. Mereka itu rata-rata memilih untuk bekerja di pabrik daripada menjadi asisten rumah tangga. Apabila mereka bekerja di pabrik, maka masih ada kesempatan untuk dandan, main hape, punya banyak teman, jalan-jalan dan lain-lain.

2. Terlalu jauh

Mereka sebenarnya tartarik untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga, namun mereka keberatan kalau harus pergi ke Jakarta. Sebenarnya, keberatan ini tidak melulu datang dari si calon pekerja sendiri, namun bisa juga dari keluarganya, atau dia sudah memiliki tanggungan anak.

3. Jam kerja

Para calon asisten itu rata-rata keberatan kalau harus menginap. Mereka memilih untuk datang pagi dan sore hari pulang. Di Jakarta pun rata-rata sekarang meminta sistem pulang-pergi tersebut.

Lalu bagaimana caranya agar asisten tetap bisa didapatkan?

1. Bertanya

Anda dan keluarga harus tetap berusaha mencari dan tak lelah bertanya kepada siapa saja. Kegiatan ini superti menawarkan MLM, maka Anda harus aktif untuk bertanya kepada siapa saja dan di mana saja. Bisa jadi orang yang Anda temui itu memiliki informasi berkaitan degan asisten rumah tangga. Namun, apabila Anda sudah mendapatkan informasi dari orang-orang yang ditemui, langkah selanjutnya adalah melakukan survei dan yang paling penting adalah Anda tak boleh lupa untuk berhati-hati dan waspada saat menerima orang asing di rumah kita.

2. Internet

Selain bertanya kepada orang-orang yang kita temui, maka Anda pun bisa mencari informasi mengenai asisten di internet. Saya pribadi tidak terlalu mengandalkan cara ini. Pertama, karena alasan biaya administrasi yang cukup tinggi saat mendaftar di situs penyalur asisten dan juga manakala menjemput mereka di penyalur. Kedua, apa yang disajikan di internet seringkali tidak sesuai dengan kenyataan, misalnya sangat mudah untuk menulis review mengenai seorang asisten yang bisa jadi tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

3. Cara lain

Terkadang Anda harus mengubah kriteria asisten yang diinginkan. Bisa jadi Anda harus berkompromi untuk menerima asisten yang sudah berumur atau bahkan masih terlalu muda.

Mereka yang sudah dewasa menang pengalaman, namun kadang fisiknya sudah tidak sebagus yang muda. Artinya mereka kadang sakit apabila terlalu capek atau salah makan atau karena cuaca. Selain itu mereka juga memiliki komitmen yang lain, misalnya punya keluarga, harus menengok anak yang sakit, atau alasan lain semacam itu.

Di sisi lain, mereka yang masih muda memiliki kelebihan dari sisi fisik yang tidak mudah sakit dan tenaganya pun masih kuat. Namun, selain kelebihan tersebut, mereka masih kurang berpengalaman, sehingga Anda harus bersabar untuk membimbingnya. Selain itu, mereka juga mudah teralihkan perhatiannya seperti menonton televisi atau pun bermain hape.

Kemarin, syukurlah saya mendapatkan informasi mengenai seorang penyalur asisten dari rekan di tempat kerja. Sebelum saya menghubungi penyalur tersebut, saya bisa mendapatkan berbagai informasi pendahuluan seperti biaya administrasi, kisaran gaji, bagaimana kerja mereka, dan informasi-informasi lainnya.

Kepada rekan-rekan yang sedang sibuk mencari asisten tetap semangat ya….

4 Saran untuk Menidurkan Bayi

Awal November sampai dengan awal Februari adalah saat yang menyenangkan bagi saya. Periode itu adalah waktu libur bagi mahasiswa rantau seperti saya ini. Masa itu adalah libur musim panas dan dimanfaatkan oleh para siswa dengan berbagai cara. Saya pun memanfaatkan waktu itu untuk pulang ke Indonesia dan menengok anak.

Sebelum pulang, saya sudah berencana untuk sedikit-sedikit belajar. Sudah dicopy beberapa bahan untuk semester yang akan datang dari seorang teman yang telah lebih dahulu kuliah. Saya pikir dengan persiapan yang lebih awal akan mempermudah jalannya proses belajar nantinya.

Namun, rencana tersebut tidak berjalan seperti yang diinginkan. Liburan rupanya benar-benar saat yang paling tepat untuk bermain-main bersama anak-anak.

Dahulu, waktu pertama kali pergi, usia si kembar baru dua bulan. Kemudian saat saya pulang, mereka sudah menginjak usia tujuh bulan. Ada lima bulan yang terlewati. Banyak sekali hal-hal yang terjadi dalam kurun waktu tersebut.

Demikian juga saat libur tiga bulan itu, teramat banyak perkembangan dan pertumbuhan yang dialami oleh si kembar dan saya sebagai bapak.

Saya masih ingat malam itu ketika saya tiba dan mereka sudah tertidur. Tak sabar rasanya untuk melihat reaksi mereka, sehingga terpaksa sekali harus dibangunkan. Setelah membuka mata, keduanya memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengenali bapaknya ini. Syukurlah, akhirnya mereka pun mulai mengenal dengan ditandai tidak ada tangis yang merobek malam dari keduanya.

Hari-hari pun berlalu dan saya mencoba untuk semakin mengenal mereka. Mulai dari rutinitas harian seperti jadwal tidur, makan, mandi, hingga berbagai keperluan lain dari dua bayi yang lucu itu. Tak terasa, keterampilan saya pun meningkat, dari mulai menyuapi, mengganti popok hingga membersihkan pup mereka. Sibuk memang jadinya, namun satu kesibukan yang sangat menyenangkan.

Periode tiga bulan itu menjadi satu masa membayar hutang setelah lima bulan saya meninggalkan si kembar Bening dan Embun. Kini, saya sudah pergi lagi ke negeri orang untuk belajar dan harus meninggalkan mereka kembali.

Sedikit saran bagi bapak muda yang ingin bercengkerama dan mengasuh anaknya terutama menidurkan bayi antara lain adalah:

1. Jangan panik

Apapun yang terjadi pada bayi Anda, usahakan benar-benar agar Anda tetap tenang. Entah bagaimana, tapi sepertinya mereka merasakan ketenangan Anda. Hal ini sangat penting manakala si bayi mengantuk dan menangis karena ingin tidur. Ketenangan itu adalah satu jalan yang tepat untuk menidurkan si kecil.

2. Gerakan konstan

Saya perhatikan bayi-bayi saya lebih mudah tidur jika saya menggendong mereka dan mengayun-ayunkannya dengan gerakan lambat dan tetap. Mengingat di Jakarta suhunya sangat tinggi, sehingga bayi akan merasa kegerahan dan susah tidur, maka tidak ada salahnya Anda memanfaatkan kipas angin atau AC untuk membantu menidurkan si kecil.

3. Kenyang

Seperti halnya orang dewasa, bayi pun akan sulit tidur manakala perutnya lapar. Syukurlah, meskipun dua anak, namun karena diusahakan tidak pernah kelaparan, maka bayi-bayi saya tidak terlalu rewel. Persis dengan orang dewasa, maka bayi yang kenyang akan lebih mudah untuk ditidurkan.

4. Ajak anak bermain

Anak-anak saya memasuki periode merangkak dan ceriwis. Mereka akan bergerak ke sana kemari dan mengoceh sesuka hati. Tugas saya adalah mengawasi keduanya agar tidak memegang barang-barang yang berbahaya atau pun menuju ke tempat-tempat yang tidak seharusnya. Dengan membiarkan anak bermain, maka mereka akan terpacu untuk bergerak dan membuat mereka lelah. Saat mereka sudah capek, maka bayi akan relatif lebih mudah untuk ditidurkan.

Demikian kira-kira sekadar saran yang saya pelajari saat mengasuh Bening dan Embun selama tiga bulan. Bagi para Bapak muda semoga saran-saran tersebut dapat bermanfaat dan jangan lupa bila Anda punya waktu temanilah putra-putri Anda bermain.

Financial Diagnosis

Apa, sih, yang dimaksud financial diagnosis?

Pemeriksanaan kondisi keuangan atau financial diagnosis adalah upaya mengetahui fakta sesungguhnya tentang kondisi keuangan kita. Upaya ini hendaknya dilakukan secara berkala agar segera mungkin kita bisa mendeteksi penyakit yang menggerogoti kesehatan dompet.

Secara sederhana, sebuah laporan keuangan keluarga yang bagus mencakup beberapa hal. Pertama, Continue reading “Financial Diagnosis”

Karier atau Keluarga

Sering sekali saya melihat ibu rumah tangga yang juga getol mengejar kariernya. Memanglah menjadi sebuah kebanggaan bagi siapa saja apabila ia berhasil dalam kariernya. Kebanggaan bagi dirinya sendiri, keluarga dan di hadapan masyarakat.

Namun, pada saat yang sama barangkali keluarga akan terabaikan. Lantaran sibuk mengejar karier, tak jarang hubungan dengan anggota keluarga, putra-putri, suami, justru bermasalah.

Tentunya menjadi harapan setiap orang untuk mencapai keberhasilan baik di keluarga maupun kariernya. Namun, Continue reading “Karier atau Keluarga”

Flipped, Perayaan Cinta

Flipped-691973198-largeSeperti kebanyakan film yang saya tonton di televisi, Flipped pun saya lihat secara tak sengaja. Tak dari awal benar saya mengikuti film ini, namun sudah cukup memeroleh gambaran latar belakang bagaimana cerita akan berkembang.

Lagi-lagi sebuah kisah yang sederhana rupanya yang saya suka. Tentang bagaimana seorang remaja Julianna Baker dan Bryce Noski bertemu untuk kemudian saling jatuh cinta.

Keduanya tinggal berseberangan di sebuah lingkungan yang asri di Amerika pada medio 1960-an. Keluarga mereka sungguh berbeda, itulah kemudian Continue reading “Flipped, Perayaan Cinta”

Saat Mereka Hadir di Rumah Kami

Minggu kemarin, Mama, Kakung dan Tata datang ke rumah kami. Semua dari keluarga Chinta, istri saya. Mamanya, Kakungnya dan Tata, adik Chinta.

Tentu saja kehadiran mereka memberikan warna yang berbeda di keheningan rumah kontrakan kami yang mungil itu. Keriuhan Tata tentu tak terbantahkan. Kakung yang lebih sering merenung, Mama yang membereskan semua pekerjaan rumah tangga.

Kehadiran mereka benar-benar membuat Chinta sumringah. Ia terlihat tak lelah menuruti kemauan Tata kemana pun ia mengajak pergi. Saat Chinta pulang kerja, celoteh Tata yang sudah menunggu di pintu menguarkan bahagia di diri Chinta.

Kehadiran Mama tentu sangat meringankan kami dalam menyelesaikan semua urusan rumah tangga. Karena beliau, rumah bersih, wangi, cucian pun tersetlika rapi.

Bagaimana dengan Kakung? Memang beliau tak banyak bicara, tapi kehadirannya telah menyulap ruang tamu kami. Ruang itu menjadi tempatnya merenung-renung. Kadang ia berdiri di teras, lama sekali mengamati pesawat terbang yang akan mendarat dan tinggal landas dari Bandara Soeta di kejauhan. Beliau pun lebih suka duduk-duduk diam dan sesekali menyesap tehnya.

Dan saat mereka pergi, maka semua tak sama lagi.

Singggg…. Keheningan pun begitu nyata melanda kami berdua. Memang Chinta yang pertama-tama merasakannya. Kehadiran adik, kakek dan mamanya sungguh berarti untuknya. Dan saat mereka semua pergi, ia pun menangis. Ada lubang kosong yang ditinggalkan seiring laju kereta yang membawa mereka pulang ke kampung sana.

Saya mula-mula merasa biasa saja, tapi lama kelamaan sunyi itu pun menerpa. Saat melihat kursi yang biasa diduduki Kakung kini kosong, ketika di kasur tak ada lagi Tata yang melonjak-lonjak sambil berteriak. Ugh… mendadak atmosfer memberat. Ada sesak di dada.

Memang mereka pulang ke kampung dan harus begitu untuk menemani Papa yang ditinggal di sana. Satu saat pun kami akan pulang dan berjumpa lagi.

Namun, jejak-jejak mereka di rumah kami rupanya membekas begitu dalam. Meninggalkan rongga-rongga kosong yang minta diisi. Sementara di lain sisi, kami harus tetap di sini kembali menjalani hari-hari.

Hal yang sama sebenarnya pernah juga saya rasakan, yaitu ketika dua adik saya datang ke rumah kami dalam rangka liburan. Tak lama mereka di sini, bahkan tak sempat saya mengajaknya jalan-jalan memutari seantero kota.

Pasca saya mengantar mereka pulang, juga naik kereta, maka ketika saya tiba kembali di rumah kekosongan ruang tamu itu sungguh mengerikan. Di situlah mereka tidur berdesak-desakan. Di sana kami makan bersama dan bercengkerama. Saat itu, saat bertemu dengan ruang tamu dan hanya kosong yang menyambut, maka mendadak keharuan menyeruak.

Ini hal baru bagi kami berdua. Saat rumah dikunjungi keluarga dan mereka harus kembali pulang, maka detik itu juga kami kehilangan. Kami membutuhkan waktu untuk kembali ke kondisi semula, saat hanya berdua bersepi ria. Kiranya perlu membiasakan diri dengan itu semua. Barangkali besok-besok kalau mereka datang dan harus mengantar pulang lagi, maka tak akan terasa seberat ini.

Mendadak saya teringat, bagaimana ya rasanya menjadi orang tua waktu pertama kali ditinggalkan putra-putrinya ini. Dahulu untuk bersekolah, kemudian untuk berkeluarga dan tuntutan kerja. Rumah mereka yang besar itu pasti terasa begitu sepi saat tak ada lagi yang membuat repot. Barangkali mereka lebih menderita lagi ditelan sunyi. Kendati senyum selalu menghiasi wajah saat putra-putrinya ini pamit pergi.

Ah, sudahkah kita siap menghadapi itu semua? 😀

[adsenseyu1]

Saat Bapak Mengirim SMS

sms-an

Sudah cukup lama kami–putra-putra Bapak–meminta beliau untuk membawa hape sendiri. Sekali waktu, bahkan saya berikan hape CDMA yang sudah jarang saya pakai untuk beliau.

Sengaja saya haturkan hape itu karena pengoperasiannya mudah dan tidak membutuhkan keterampilan yang aneh-aneh seperti hape-hape canggih lainnya. Sayangnya, bahkan untuk yang mudah pun beliau enggan untuk belajar.

Kebetulan, si ragil—adik terakhir—saat itu masih ada di rumah. Jadilah ia yang selalu menjadi perantara antara saya yang berada di perantauan dengan Bapak. Dengan demikian masalah komunikasi pun selesai.

Seiring waktu, adik pun harus pergi meninggalkan rumah untuk kuliah di kota lain. Nah, di sini mulai muncul masalah. Memang ada adik kedua yang masih berada di rumah, namun ia sibuk sendiri dan Bapak pun sepertinya enggan meminta tolong padanya, haha.

Lantaran terpaksa, akhirnya Bapak pun mulai menggunakan hape. Saya kurang tahu bagaimana si ragil memberikan pelajaran menggunakannya. Saya hanya bisa membayangkan betapa sulitnya dua orang itu saling bertukar pikiran. Satu sisi menganggap itu hal yang sangat mudah, di sisi lain malas belajar sudah menjangkit seperti radang.

Singkat cerita, Bapak pun mulai bisa menggunakan hape. Lucu sekali kala pertama saya menerima sms dari beliau. Banyak sekali singkatan yang tak lazim dan membuat saya tak mengerti apa yang ingin dikatakannya.

Agar mudah dan sekalian belajar, saya pun menyarankan kepada beliau agar tak usah menggunakan banyak singkatan. Alhasil, beliau sudah bisa mengirimkan sms dengan benar, sangat benar malah. Hal ini terjadi karena semua kata oleh beliau ditulis lengkap. Lebih jauh, beliau juga menggunakan gaya bahasa yang ada di buku-buku pelajaran.

Kedua hal itu tak urung membuat bibir saya menyunggingkan senyuman. Kendati saya tak berani untuk tertawa terlampau lebar. Bagaimana pun, bukankah saya harus menghargai usaha beliau? 😀

Sekarang, beliau lebih rajin mengirimkan sms daripada saya. Setidaknya satu hari sekali beliau akan mengecek kondisi putra-putrinya ini. Satu hal yang selalu membuat saya tersenyum-senyum sendiri adalah: beliau selalu membubuhkan ‘Bpk’ di akhir sms-nya.

Gambar meminjam dari sini