Hidup Memberi Apa?

celebrating_life

Hidup itu seringkali memberikan apa yang sangat kita inginkan justru ketika kita berhenti mengharapkannya.
Hidup memberi apa yang kita perlukan tanpa disangka-sangka justru ketika kita tak berharap dan mengikhlaskan.
Hidup mengajarkan kepada kita agar bersabar.
Hidup juga memberi ketika kita sudah siap dan pantas menerima, dia memberikannya dengan murah hati.

Sumber gambar dari sini

Mere Desh Ki Dharti (Tanahku Negeriku)

Oleh Vandana Shiva

Tanah Sumber Kehidupan

Solusi bagi perubahan iklim berada pada tanah, namun tanah itu juga yang kita lupakan dan pendam di bawah paham ‘sementifikasi adalah kemajuan’.

Pada masa-masa rentan bagi evolusi manusia seperti saat ini, Hari Bumi, pada 22 April 2015, memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan refleksi bagaimana kondisi bumi dan juga manusia. Hari itu juga menjadi kesempatan untuk memperbarui janji kita sebagai bagian dari keluarga bumi-Vasudhaiv Kutumbukan.

Vasudhaiv Kutumbukan adalah satu pandangan hidup yang mencakup berbagai aliran paham, kebijakan, visi, dan nilai-nilai.

Ilmu pengetahuan telah membenarkan satu pandangan, bahwa hidup adalah jejaring yang saling terhubung. Dari tanah ke tanaman, dari serangga ke binatang, semua menunjukkan hidup adalah jejaring makanan. Taittiriya Upanishad–salah satu bagian Weda–mengenal hal ini sejak bertahun-tahun lampau dengan ujarannya, “Semua adalah makanan; makanan bagi yang lain.”

Upanishad tersebut juga mengatakan bahwa menumbuhkan dan memberikan makanan yang melimpah adalah dharma yang paling tinggi. Sementara itu, menumbuhkan dan memberikan makanan yang buruk adalah bentuk tertinggi dari adharma. Oleh karena itu, maka menumbuhkan dan memakan tanaman organik tanpa merusak tanah adalah tugas suci kita. Di sisi lain, menanam dan menikmati makanan yang terkontaminasi bahan kimia, pestisida, modifikasi genetis organisme atau makanan cepat saji merusak tata ekologi, kebudayaan, dan hukum kesehatan dan nutrisi.

Para petani kita sedang berada dalam tekanan. Petani yang bunuh diri adalah suatu tanda terjadinya sistem pertanian yang mengeksploitasi dengan memeras kesuburan tanah dan kemakmuran mereka. Globalisasi dan ekonomi neo liberal yang menempatkan hak perusahaan lebih tinggi daripada alam serta hak-hak manusia adalah akar dari berbagai persoalan yang terjadi pada petani.

Sejak tahun 1995, hampir 300.000 petani membunuh dirinya sendiri. Vidarbha adalah lokasi di mana keserakahan Monsanto, sebuah perusahaan bioteknologi pertanian telah menaikkan biaya benih lebih dari 700.000 persen sehingga banyak petani kapas yang bunuh diri. Di Bengal Bagian Barat, ada Pepsi. Petani kentang hanya menerima 0.20 rupee per kilogram kentang sementara para konsumen membayar 200 rupee dalam bentuk makanan ringan Lays. Para konsumen juga mesti membayar dengan kesehatan mereka karena penyakit yang disebabkan oleh makanan cepat saji.

Kekacauan iklim yang terjadi tahun ini juga telah menambah tekanan bagi petani dengan curah hujan yang tinggi serta badai di masa panen yang membabat habis tanaman mereka, mata pencaharian mereka. Bulan lalu, lebih dari 100 petani bunuh diri di Uttar Pradesh karena kerusakan tanaman.

Konsep yang mendalam bagi masyarakaat India adalah ‘rta’-jalan dharma–sebuah jalan yang mengupayakan urutan yang benar berdasarkan mata pencaharian yang benar pula. Dari ‘rta’ menjadi ‘ritu’ sebuah pola yang stabil pada cuaca dan iklim. Manakala kita mengadopsi kebijakan dan gaya hidup yang menentang dengan hukum bumi berdasarkan anrita (ketidakteraturan penciptaan), maka akan membuahkan in ritu asantulan (ketidakteraturan iklim).

Dalam buku saya, Soil not Oil (2007), saya menilai bahwa lebih dari 40 persen gas rumah kaca penyebab perubahan iklim adalah hasil dari kontribusi bidang industri dan pertanian global. Sistem monokultur kimiawi yang dipakai juga lebih rentan gagal apabila harus menghadapi kekeringan yang panjang, banjir, atau hujan yang tak menentu.

Di sisi lain, pertanian organik mengurangi emisi dan juga membuat sistem pertanian yang lebih tahan menghadapi perubahan iklim. Penelitian Navdanya menunjukkan bahwa pertanian organik meningkatkan penyerapan karbon hingga 55 persen. Kajian internasional juga menunjukkan bahwa dengan dua ton per hektar tanah organik, kita dapat mengurangi 10 gigaton karbondioksida dari atmosfer, yang berarti juga mengurangi polusi atmosfer hingga 350 bagian per sejuta.

Kenaikan satu persen pada tanah organik dapat meningkatkan kapasitas menahan air hingga 100.000 liter per hektar, sementara bila lima persen, maka bisa meningkatkan kapasitas tahanan air hingga 800.000 liter. Ini adalah jaminan kita dalam melawan perubahan iklim, baik itu pada saat kekeringan dan sedikit hujan, serta manakala terjadi banjir dan hujan berlebih. Sementara itu, di sisi lain, untuk semen dan beton akan meningkatkan aliran permukaan, memperhebat terjadinya banjir dan juga kekeringan. Kami menyaksikan terjadinya hal ini saat banjir pada tahun 2013 di Uttarakhand dan di Kashmir pada tahun 2014.

Pada tanah yang sehat tersedia solusi bagi perubahan iklim, yaitu melalui mitigasi dan adaptasi. Namun, tanah itu juga yang kita lupakan dan pendam di bawah paham ‘sementifikasi adalah kemajuan’.

Ibu Bumi telah berkorban untuk pertumbuhan jangka pendek demi keserakahan segelintir manusia.

Sekitar 4.000 tahun yang lalu, dalam Weda telah mengajarkan kepada kita, “Dalam segenggam tanah ini kelanjutan hidup kita bergantung. Jagalah, maka dia akan menumbuhkan pangan, bahan bakar, tempat tinggal, dan melingkupi kita dengan keindahan. Rusaklah, maka tanah akan rusak dan mati, membawa serta kehidupan manusia bersamanya.”

Peraturan Pemilikan Tanah telah merendahkan tanah menjadi komoditas, merusak tatanan kebudayaan bahwa tanah adalah suci dan telah menyokong kita selama bertahun-tahun. Adalah kebutaan bila tak mampu melihat peran tanah yang sehat pada fungsi ekologis dan juga pelayanan pada kehidupan. Sayang, dalam skala global, kerusakan yang terjadi setara dengan sekitar 20 dollar triliun per tahun.

Dalam Isha Upanishad dikatakan dengan jelas bahwa semesta ini adalah suci dan untuk keuntungan semua makhluk. Oleh karena itu, setiap mereka yang mengambil lebih dari yang seharusnya adalah pencuri. Mahatma Gandhi, mengambil kebijaksanaan ini dalam ujarannya yang terkenal, “Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, namun tak pernah dapat mencukupi keserakahan seseorang.”

Mereka yang mendukung peraturan kepemilikan tanah mengharapkan para petani kecil itu hilang dan memberi jalan bagi perusahaan pertanian yang berbasis kimia serta modifikasi genetika.

Studi dari PBB dan hasil pekerjaan dari Navdanya menunjukkan, pertanian kecil memproduksi lebih banyak pangan daripada industri pertanian besar. Nutrisi per hektar berlibat ganda serta pendapatan masyarakat pedesaan meningkat hingga 10 kali lipat melalui pertanian organik.

Solusi bagi kemiskinan, krisis agraria, kesehatan dan kurang gizi adalah sama, merawat tanah dan juga petani yang peduli pada tanah dan kesehatan kita.

Sistem ekonomi yang mengganggu hak-hak Bumi juga mengancam hak-hak manusia karena kita tak terpisahkan dari bumi. Kita semua adalah anggota dari Vasudhaiv Kutumbukan. Kita memerlukan perjanjian baru dengan bumi sebagai bagian keluarga, janji untuk menciptakan perekonomian baru yang tidak merusak dan Demokrasi Bumi di mana kontribusi dan hak dari spesies terakhir juga manusia terakhir pada bumi juga diperhitungkan.

Vandana Shiva adalah seorang filosof, aktivis lingkungan, dan eko-feminis. Shiva saat ini berbasis di Delhi, telah menulis lebih dari 20 buku dan 500 artikel pada jurnal keilmuan dan teknis terkemuka. Latar belakang pendidikan beliau adalah fisika dan menerima gelar doktoralnya dalam bidang fisika dari University of Western Ontario, Canada. Beliau menerima anugerah ‘Right Livelihood Award’ pada tahun 1993. Beliau juga pendiri Navdanya di http://www.navdanya.org.

Tulisan asli bisa dibaca di sini: http://www.countercurrents.org/shiva230415.htm

Kemesraan di sebuah pagi

Ada cerita pada setiap pagi.

Seperti halnya pagi itu di pinggir jalan yang ramai lalu lalang kendaraan. Dua sejoli tampak begitu mesra tak menghiraukan kondisi sekitar. Bis yang melaju kencang di sekitar mereka, sepeda motor yang tak melambat manakala melewati mereka, atau pun sekadar pejalan kaki yang memerhatikan mereka, seperti saya ini.

Keduanya baru saja sampai di tempat itu. Sepasang suami istri yang berboncengan sepeda motor, berangkat bersama mengantar istri terlebih dahulu baru lanjut lagi ke tempat suami.

Sang pria masih duduk di sepeda motor, sementara sang wanita sudah berdiri di pinggirnya. Perut wanita itu menggelembung, pertanda sedang berbadan dua.

Saya melihat si istri berpamitan pada suaminya dengan cara bersalaman dan mencium tangan. Nah, kemudian suami itu mengelus perut istrinya, lantas mencium, bahkan kemudian terlihat seperti mengobrol dengan perut.

Bagi saya, adegan tersebut sungguh berkesan. Hangat dan mesra. Saya kemudian melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda beberapa saat.

Rahasia di balik warung

Warung-warung kecil di pinggir jalan itu sangat bermanfaat untuk saya. Di sana, manakala saya haus, langsung bisa memesan teh botol atau air mineral dengan mudah. Bila tak ada lagi yang bisa saya hisap, sebatang atau sebungkus rokok pun selalu tersedia di warung itu. Setelah selesai merokok dan perlu permen, ini pun tersedia di warung semenjana itu.

Apakah Anda merasakan juga manfaat warung-warung kecil tersebut? Saya perhatikan banyak yang bergerombol di warung tertentu untuk sekadar merokok, ngopi, atau ngobrol. Seringkali, ada pula papan catur dan semua orang berkerumun memperhatikan permainan yang berlangsung.

Di lingkungan kantor saya, ada empat warung sejenis. Semua menjual barang yang seragam. Metode, peralatan, dan komoditas yang dijual pun tak berbeda. Nah, yang membedakan di antara keempat warung tersebut adalah pelanggan yang datang. Oh iya, kegiatan yang dilakukan di empat warung tersebut pun kurang lebih sama.

Sering saya bertanya-tanya, apakah di antara mereka tak saling bersaing?

Sebagai contoh di lingkungan kerja saya tersebut, dengan jarak kurang dari seratus meter dan ada empat warung model begitu, saya duga persaingan akan sangat ketat. Saya bayangkan mereka saling bersaing dengan sangat sengit dan mungkin saling menjatuhkan.

Rupanya saya keliru, di antara mereka tak ada persaingan yang saya khawatirkan tersebut. Sebabnya adalah, mereka berasal dari daerah yang sama. Beberapa pedagang bahkan memiliki hubungan persaudaraan.

Mereka adalah para perantau yang jauh dari tempat asalnya. Di Jakarta mengadu nasib dengan keahlian dan lahan yang terbatas. Modal yang mereka miliki tak banyak, ide yang ada di kepala pun tak cukup banyak pilihan.

Kendati semua keterbatasan itu barangkali menjadi kendala bagi mereka, namun tak menyurutkan niat untuk berbagi lahan dan rezeki dengan teman sedaerah atau saudara. Barangkali kopi yang mereka sajikan hanya kopi sachet-an murah, namun tak ada salahnya sesekali kita nikmati.

Jadi, kapan kita ngopi bareng di warung-warung itu?

But You Didn’t

Capture_Twit

Seorang wanita tak dikenal menemukan belahan jiwanya bertahun yang lalu. Ia kemudian menulis puisi yang menceritakan kebahagiaan kehidupan mereka berdua. Waktu berselang dan kemudian anak gadis wanita tadi menemukan puisi itu:

Ingatkah hari itu, ketika aku pinjam mobil barumu dan langsung membuatnya penyok?

Kukira kamu akan membunuhku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, saat aku memuntahkan pie strowberry di karpet barumu?

Kukira kamu akan membenciku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, ketika aku memaksamu ke pantai dan kemudian hujan turun sesuai prediksimu?

Kukira kamu akan berkata, “Nah, kan… apa kubilang?”

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, ketika aku menggoda banyak cowok untuk membuatmu cemburu?

Aha, kemudian kamu memang cemburu hebat.

Kukira kamu akan meninggalkanku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, saat kamu pakai jeans dan kaos karena aku lupa kasih tahu untuk pakai pakaian resmi di pesta dansa?

Kukira kamu akan acuhkan aku

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ya, banyak sekali yang tak kamu lakukan.

Tapi, kamu ada untukku, mencintaiku, melindungiku.

Kemudian, ada banyak hal yang ingin kulakukan untukmu saat kamu kembali dari Vietnam.

Tapi, kamu tak melakukannya.

===

Penulis dari puisi tersebut adalah wanita Amerika yang suaminya bergabung dengan tentara dan pergi ke medan perang di Vietnam ketika anak mereka berusia empat tahun.

Semenjak saat itu, wanita tadi hanya memiliki putrinya.

Di medan perang, suaminya meninggal. Wanita itu pun menjanda dan kemudian meninggal di usia lanjut.

Ketika putrinya merapikan barang-barang peninggalan wanita itu, ia menemukan puisi dari ibu untuk ayahnya itu yang berjudul ‘But You Didn’t’

Diterjemahkan dari sini:

http:/listarama.com/one-knew-love-poem-till-died-turned-something-will-never-forget/

Perbandingan Sikap Buruh

laborSaya kurang tahu, apakah ada manfaatnya atau tidak untuk membandingkan perjuangan buruh di Rusia dan Indonesia. Sumber saya pun bukan buruh langsung. Saya hanya membaca dua buah buku yang kebetulan bercerita soal buruh. Jadi, anggap saja ini sekadar untuk tambahan pengetahuan Saudara saja, hehe.

Buku pertama adalah terjemahan novel ‘Ibunda’ karya Maxim Gorki yang dialihbahasakan oleh Pramoedya Ananta Toer. Di blog ini, saya pernah membuat catatan singkatnya di tautan ini.

Ibunda bercerita tentang Pelagia Nilovna, seorang ibu dari buruh bernama Pavel Vlassov. Sosok ibu tersebut harus merelakan putra kesayangannya, Pavel, untuk memperjuangkan hak-hak buruh. Bahkan, Ibu itu harus pula bergerak mendukung perjuangan anaknya.

Pavel bersama kawan-kawannya aktivis buruh sudah muak dengan kesewenang-wenangan penguasa, dalam hal ini pemerintahan Tsar dan pemilik pabrik tempatnya bekerja. Diam-diam mereka melakukan pertemuan. Diam-diam mereka menyebarkan selebaran yang berisi provokasi dan ajakan untuk melawan.

Selebaran itu dibagikan kepada sesama buruh, tentu saja secara sembunyi-sembunyi. Niat Pavel memang harus membuat para buruh itu mengerti, kata dia, “Kita harus bergerak, namun, terlebih dahulu kita harus membuat pintar mereka, para buruh itu.”

Pada satu perayaan May Day, Pavel dan buruh-buruh lain melakukan pawai, menyuarakan aspirasinya. Dalam kesempatan itu, Pavel ditangkap oleh polisi yang menjadi kepanjangan tangan para penguasa. Setelah itu, dia kemudian dijebloskan ke penjara.

Ibunda kemudian terpanggil untuk mendukung kerja putranya. Dia pun turut menyebarkan selebaran kepada buruh-buruh.

Pavel sebagai seorang buruh dicitrakan sangat berani. Ketekunannya belajar, membuat dirinya didengar oleh para aktivis dan buruh lain. Dia bahkan bisa mengalahkan adu argumen dengan para penegak hukum dalam sebuah pengadilan yang telah diatur sebelumnya. Kendati pada akhirnya dia harus menerima hukuman buang ke Siberia, namun kesadaran perlawanan di kalangan buruh itu telah menyebar seperti wabah yang terus meluas. Gerakan itu siap menerkam kesewenang-wenangan penguasa.

==

Satu buku lagi berjudul ‘Canting’ karya Arswendo Atmowiloto yang bercerita tentang jatuh bangunnya sebuah usaha batik tulis Canting. Dalam buku tersebut diceritakan bagaimana perjuangan buruh-buruh batik di Solo.

Lain di Rusia, lain pula Solo. Di pabrik batik Canting yang memiliki buruh lebih dari seratus itu, perjuangan dilakukan lebih banyak dengan diam dan dalam bentuk sikap pasrah.

Adalah Wagiman, seorang buruh batik yang tak menuntut apa-apa. Ia tahu apa yang menjadi haknya, lewat jalan apa pun akhirnya akan jatuh ke tangannya pula. Sebaliknya apa yang belum menjadi miliknya, diberikan di depan mulut pun akan jatuh ke tanah. Gusti Allah sudah mengatur semuanya. (140)

Begitulah sikap seorang buruh batik. Dia pasrah pada rezeki yang sudah digariskan oleh Tuhan. Lebih jauh, menjadi buruh bagi Wagiman adalah sebentuk pengabdian kepada ndoronya, tuannya.

Wagiman merasa, bahwa pengabdian dirinya adalah bagian yang pokok dari mengutarakan rasa bersyukur. Kepasrahan–penyerahan secara ikhlas—adalah sesuatu yang wajar. Bukan kalah, bukan mengalah. (161)

Apakah tindakan Wagiman yang nerimo dan pasrah itu berhasil melawan kekuasaan penguasa?

Ni, bos Wagiman bukanlah jenis bos yang semena-mena. Ia sangat memerhatikan kesejahteraan karyawannya. Bahkan, terkadang ia bingung sendiri dengan tingkah mereka yang serba nerima, serba monggo atas keputusan-keputusan dari Ni.

Saat usaha batik tulis Canting mengalami kemunduran karena ada batik cap yang lebih cepat berproduksi dan harganya murah, Ni meminta pendapat dari buruh-buruhnya. Dia bingung bagaimana harus menggaji mereka, rasionalisasi harus dilakukan, artinya pengurangan gaji. Apa yang dilakukan oleh buruh itu adalah menerima keputusan tersebut tanpa mempertanyakan.

Sikap mereka ini justru yang membingunkan Ni.

==

Demikian perbandingan buruh berdasarkan dua buku yang telah saya baca. Tentu saja bukan perbandingan apel ke apel. Majikan yang berbeda, iklim usaha yang lain, penguasa pemerintahan yang tak sama, sikap hidup dan lain-lain menjadi dasar perbedaan di antara buruh-buruh itu.

Picture

Belajar Adzan

adzanSaya termasuk orang yang merasa terganggu dengan bunyi adzan yang kurang teratur, saling bersahutan, cenderung berantakan.

Saya pernah protes, tak bisakah adzan itu diatur, sehingga tujuannya sebagai bagian dari syiar islam bisa tercapai. Pendengar adzan, siapa pun dia pasti akan senang mendengarkan adzan yang merdu dan menelusup di kalbu.

Saya pun kurang bisa menerima muadzin, si pengumandang adzan yang serampangan seperti asal mangap. Wah, benar-benar polusi suara, batin saya.

Rupanya, menjadi muadzin itu susah betul saudaraku. Continue reading “Belajar Adzan”

Sebuah Bulan yang Ingin Dilupakan

1072482_calendarBarangkali dalam setiap episode kehidupan seseorang, ada waktu saat kita ingin menghapus episode itu agar tak perlu mengingat lagi.

Januari 2013 bagi saya masuk dalam kategori episode yang ingin dihapus. Kebahagiaan yang sangat di bagian awal kemudian diakhiri dengan kesedihan mendalam.

01 Januari 2013, sekitar jam 08.00, istri saya melalui telepon membangunkan dari tidur. Dia cerita baru saja test pack dan positif. Yay! Senang sekali. Continue reading “Sebuah Bulan yang Ingin Dilupakan”

Buddha

sidhharta_gautamaKebenaran Mulia

  • Kebenaran Mulia Pertama: Kehidupan mengandung penderitaan
  • Kebenaran Mulia Kedua: Penderitaan memiliki sebab, dan sebabnya dapat diketahui
  • Kebenaran Mulia Ketiga: Penderitaan dapat diakhiri
  • Kebenaran Mulia Keempat: Jalan untuk mengakhiri penderitaan memiliki delapan ruas

-oOo-

Delapan Ruas Jalan Utama

  • Pandangan Benar
  • Pikiran Benar
  • Perkataan Benar
  • Perbuatan Benar
  • Mata Pencaharian Benar
  • Daya Upaya Benar
  • Kesadaran Benar
  • Meditasi Benar

-oOo-

Tiga Fakta Mendasar Tentang Keberadaan

  1. DUKHA, kehidupan tidak memberikan kepuasan. Kenikmatan dalam duania materi bersifat sementara. Kesengsaraan akan muncul tanpa bisa ditolak. Karena itu, tak satu pun pengalaman kita dapat memberikan kepuasan mendalam. Perubahan takkan pernah berhenti.
  2. ANICCA, segalanya tidak kekal. Semua pengalaman terus berganti dan berubah. Sebab dan akibat bergerak tanpa henti dan membingungkan. Karena itu seseorang takkan pernah mendapatkan kepastian dan kekekalan.
  3. ANATTA, diri yang tanpa aku yang kekal tak dapat diandalkan dan sepenuhnya tidak nyata. Apa yang kita sebut jiwa dan kepribadian hanyalah khayalan dan bayangan. Kita tak pernah berhenti berusaha untuk membuat diri kita nyata, tapi kita juga tak pernah berhasil. Karena itu kita berpegang pada kepercayaan terhadap ilusi.

-oOo-

Ditera ulang dari ‘Buddha’ karya Deepak Chopra

Memahami Arti

Bertadarus di masjid artinya bertemu dengan beragam orang yang berbeda-beda kemampuannya dalam membaca Al Quran. Ada yang seperti baru belajar, di lain sisi ada yang tampaknya sudah hapal di luar kepala isi Al Quran.

Di mesjid tempat saya mengikut tadarus ramadhan kali ini, ada seorang ustad yang menarik perhatian saya. Kebetulan saat tarawih tadi beliau menjadi imam. Bacaan surat pendek pasca membaca Al Fatihahnya sungguh membuat saya terperangah. Jelas sekali apa yang beliau baca bukan jenis bacaan surat pendek yang biasa dibaca, atau yang ada di juz amma, atau di juz 30 dari Al Quran.

Apa yang beliau baca adalah bagian lain dari Al Quran selain surat-surat pendek yang biasa dan lazim dibaca. Sayangnya saya tak sempat bertanya, surat apa dan juz berapa bacaan beliau tersebut.

Nah, kemudian tiba saatnya bertadarus. Ustad tadi tak membaca, beliau menjadi pihak yang menyimak dan memberikan koreksi manakala terjadi kekeliruan. Cara beliau pun unik. Beliau tak perlu membawa Al Quran, cukup duduk sambil merokok dan pada saat yang sama mengoreksi bacaan orang lain saat kekeliruan terjadi.

Dari situ saya menduga, beliau hapal Al Quran. Lebih lanjut, pada kesempatan lain, ketika bacaan sampai pada satu ayat tertentu yang menarik, beliau akan menjelaskan arti ayat yang sedang dibaca. Tak hanya itu, bagaimana latar sejarah terbitnya ayat tersebut juga disampaikan.

Kemudian saya bertanya-tanya, adakah beliau membuka kelas mengaji? Saya ingin sekali belajar padanya.

Gambari pinjam dari sini