Ketidaknyamanan, Guru, dan Pemimpin

‘Keluar dari zona nyaman bisa menjadi guru yang terbaik’.

Pada kondisi demikian, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi pada Anda. Kemungkinan pertama adalah Anda menjadi seseorang yang lebih baik. Kedua, Anda menyerah dan kemudian berhenti.

Manakala memilih sesuatu yang tidak nyaman dan menikmati tantangannya, maka Anda akan lebih mudah merasakan bahagia.

Seringkali kita ingin belajar dari yang terbaik di antara yang paling baik.. Namun, saat kita belajar dari yang bukan terbaik itu, maka ada akselerasi. 

Begitu juga dalam pekerjaan. Bisa jadi Anda berkesempatan untuk bekerja bersama pemimpin yang tidak diharapkan. Dalam kondisi tersebut, Anda tidak bisa memilih dan hanya bisa menganggapnya sebagai kesempatan.

Belajar kepada seseorang yang tidak peduli, pemarah, atau tidak kompeten adalah kesempatan untuk berlatih kepemimpinan yang paling baik di dunia. 

Anda dapat menggunakannya sebagai cermin, setiap kelemahan yang Anda lihat dicatat dan diperbaiki jika suatu saat nanti itu terjadi pada Anda sendiri. Manakala setiap ketidaknyamanan yang ditemui dalam hidup menjadi guru, maka Anda akan meraih kebahagiaan.

Apa manfaat bersyukur tiap hari?

Semua berawal saat saya mengikuti saran dari Shawn Achor seorang motivator di Ted.com. Dia bilang, bila Anda ingin bahagia, lakukanlah satu di antaranya: menuliskan tiga hal yang Anda syukuri dan hal baru yang Anda pelajari dalam satu hari.

Saya mencoba melakukannya kendati tidak mudah. Sebelum tidur, biasanya saya akan membuka tumblr dan menuliskan hal-hal itu. Tetapi, sering juga saya lupa dan langsung tertidur….

Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengingat kembali hal-hal yang kita alami sepanjang hari. Langkah selanjutnya adalah memilih tiga hal yang layak disyukuri. Kemudian mengingat-ingat, apakah ada hal baru yang terjadi pada hari itu.

Saat menuliskan hal yang disyukuri, maka ini yang menjadi catatan saya. Banyak sebenarnya yang kita alami tiap hari, namun saat kita ingin bersyukur, selalu saja ada suara lain yang seperti mencegahnya.

“Hari ini saya berhasil menulis blog, tetapi…..”

Pada kalimat di atas, ‘tetapi’ itu selalu ada saat kita bersyukur terhadap segala hal. Nah, saat kita menuliskan hal yang kita syukuri, ‘tetapi’ itu tidak perlu dimasukkan. Hasil akhirnya, lambat laun kita hanya berfokus pada hal-hal yang kita syukuri dan melupakan hal lain, yaitu ‘tetapi’ tersebut.

Berikut ini contoh peristiwa yang saya alami saat kesulitan mencari hal positif yang terjadi.

Pada satu kesempatan pelatihan dengan nara sumber dari luar Indonesia, sebagai refleksi di bagian akhir acara, para peserta diminta untuk menyampaikan satu-dua hal yang positif dari pelatihan yang baru dilaksanakan. Entah kenapa, pada saat itu saya sulit sekali untuk mencari hal-hal positif…..

Pikiran saya selalu saja tertuju pada berbagai hal negatif yang terjadi sepanjang pelatihan. Beberapa kali saya dilewati saat diminta untuk berbicara. Saya tidak juga menemukan hal positif itu dan akhirnya memilih untuk diam saja.

Saya kurang tahu bagaimana pikiran bekerja saat itu. Saya bertanya-tanya, kenapa saya sulit menemukan hal yang layak disyukuri dan juga hal positif? Apakah karena saya terbiasa melihat segala sesuatu dari yang negatif?

Semenjak saya membiasakan diri–walaupun susah–untuk menuliskan hal-hal yang patut disyukuri setiap hari tanpa menuliskan ‘tetapi’ di belakangnya, perlahan-lahan berbagai pikiran positif berkembang biak. Sepertinya saya melihat dunia dengan sedikit berbeda, betapa pun sulit rintangan, tanpa sadar kita diajak untuk melihat sisi lain dari kesulitan itu. Diam-diam, kita disibukkan dengan berbagai hal positif dan melupakan hal-hal negatif yang hanya akan membebani kita.

Sudahkah Anda mencoba menuliskan tiga hal yang patut disyukuri dalam satu hari dan juga menulis hal baru yang Anda pelajari pada hari itu?

Berikut ini tautan ke paparan Shan Achor di ted.com.

But You Didn’t

Capture_Twit

Seorang wanita tak dikenal menemukan belahan jiwanya bertahun yang lalu. Ia kemudian menulis puisi yang menceritakan kebahagiaan kehidupan mereka berdua. Waktu berselang dan kemudian anak gadis wanita tadi menemukan puisi itu:

Ingatkah hari itu, ketika aku pinjam mobil barumu dan langsung membuatnya penyok?

Kukira kamu akan membunuhku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, saat aku memuntahkan pie strowberry di karpet barumu?

Kukira kamu akan membenciku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, ketika aku memaksamu ke pantai dan kemudian hujan turun sesuai prediksimu?

Kukira kamu akan berkata, “Nah, kan… apa kubilang?”

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, ketika aku menggoda banyak cowok untuk membuatmu cemburu?

Aha, kemudian kamu memang cemburu hebat.

Kukira kamu akan meninggalkanku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, saat kamu pakai jeans dan kaos karena aku lupa kasih tahu untuk pakai pakaian resmi di pesta dansa?

Kukira kamu akan acuhkan aku

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ya, banyak sekali yang tak kamu lakukan.

Tapi, kamu ada untukku, mencintaiku, melindungiku.

Kemudian, ada banyak hal yang ingin kulakukan untukmu saat kamu kembali dari Vietnam.

Tapi, kamu tak melakukannya.

===

Penulis dari puisi tersebut adalah wanita Amerika yang suaminya bergabung dengan tentara dan pergi ke medan perang di Vietnam ketika anak mereka berusia empat tahun.

Semenjak saat itu, wanita tadi hanya memiliki putrinya.

Di medan perang, suaminya meninggal. Wanita itu pun menjanda dan kemudian meninggal di usia lanjut.

Ketika putrinya merapikan barang-barang peninggalan wanita itu, ia menemukan puisi dari ibu untuk ayahnya itu yang berjudul ‘But You Didn’t’

Diterjemahkan dari sini:

http:/listarama.com/one-knew-love-poem-till-died-turned-something-will-never-forget/