Kartini dan Egoisme yang Dibencinya

Dari surat-surat Kartini yang banyak itu, tampaklah pelaksanaan egoisme yang dikenalnya itu, baik secara terang-terangan maupun dengan bahasa bermakna-ganda: feodalisme, penjajahan, ketidakmajuan. Egoisme ini mewujudkan diri atau diwujudkan dalam bentuk keserakahan, dan keserakahan pada gilirannya memanggil kezaliman, ketidakadilan, kepalsuan. Ia sendiri banyak menderitakan perbuatan-perbuatan egois itu dengan tubuh dan jiwanya. Ia rasakan penderitaan itu. Ia rasakan. Dan dengan bantuan kecerdasannya, ia mengerti bahwa orang-orang lain pun menderita persis dengan yang dideritanya. Ia menjadi iba hati terhadap semua orang itu yang tidak bisa membela diri, yang dalam keputusaasaannya menamai nasibnya sebagai ketentuan Takdir. Kesadaran akan persatuan di dalam penderitaan ini menyebabkan ia mencitai semua mereka itu: Rakyatnya. Kaum feodal menderita akan penjajah. Rakyat jelata menderita karena kaum feodal. Anak-anak menderita karena orangtua yang tidak berpendidikan. Wanita menderita karena ajaran palsu tentang kebenaran. Dan demikian seterusnya.

Sumber dari segala macam penderitaan ini adalah egoisme.

Ia tahu, tidak ada perubahan bakal terjadi kalau tiada seorang pun yang tampil ke depan dan mempelopori. Dunia pun tampil ke depan. Ia bangkit melawan. Dan semakin banyak penderitaan diterimanya, karena penderitaan yang sudah ada itu ditambah dengan yang baru, yang berasal dari kecurigaan cemburu dan dengki mereka yang justru diperjuangkannya. Di samping itu, kelas feodal sendiri menentangnya, karena usaha dan perjuangannya akan secara langsung berupa tantangan terhadap kelasnya, paling sedikit mengganggu kedamaian posisinya.

Dalam masa waktu zaman membutuhkan perubahan, sejarah justru memilih sorang wanita, seorang gadis muda. Sedang semestinya seorang tingkat sarjana berpengalaman yang harus menggarap pekerjaan raksasa ini. Dan seorang wanita itu tidak lain daripada Kartini—gadis yang hampir tidak pernah meninggalkan rumah—berumur dua puluhan, tidak berpengalaman dalam pekerjaan kemasyarakatan, berpendidikan hanya sekolah rendah saja. Dari dunianya yang kecil—kabupaten—ia melancarkan perjuangannya, dengan panji-panji cinta. Dan dengan perjuangannya ini ia memanggil seluruh dunia jadi musuhnya—suatu hal yang menyebabkan dunianya menjadi semakin kecil, sebaliknya semakin membuat besar jiwanya, dan: intensif.

Ia menerima cinta hanya dari orangtuanya, Ayahnya. Dan dengan ini ia cintai Rakyatnya, tanahairnya, sesamanya. Cinta sedemikian dari Ayahnya, tentulah Cinta yang agung menjiwai. Dan dengan Cinta yang diterimanya itu, Kartini sebenarnya lebih daripada hanya seorang yatim-piatu zaman modern, ia dapat dibandingkan dengan Robinson Crusoe, yang bukan saja harus tolong dan selamatkan dirinya sendiri, tapi juga generasi-generasi mendatang dan hari depannya, sedang sahabat satu-satunya yang tersetia sampau mati hanya seorang cita-citanya. Hidupnya yang terkucil, terpencil, hampir-hampir tanpa persinggungan dengan dunia luar kabupaten, semestinya membuat ia tidak mengenal realita. Maka surat-surat  yang datang dari negeri-negeri dan kota-kota jauh ke kamar kerjanya, dalam situasi hidupnya yang tidak mengenal realita, nilainya lebih daripada hanya realita, merupakan peserta yang selalu mengisi jiwanya dengan bahan bakar, tak peduli sahabat-sahabat itu berhati tulus atau khianat. Baginya yang ada adalah persoalannya: kegemilangan Rakyat di hari depan. Hari depan Rakyatnya adalah hidupnya, adalah tubuhnya sendiri. Cacat hari depan Rakyat adalah juga cacat hidup dan tubuhnya, dirinya sendiri. Tak pernah dalam sejarah Indonesia selama itu ada seorang yang hidup dengan kekhawatiran tak habis-habisnya akan buruknya hari depan Rakyatnya. Hanya hati yang mencintai secara tulus dan kudus bisa terjadi semacam ini. Untuk boleh melaksanakan cita-citanya, setiap detik ia bersedia memberikan segala-galanya tanpa ragu. Dan ia memang telah berikan segala-galanya, tanpa sesuatu pun untuk diri sendiri.

Bagi Kartini, Cinta tidak pernah buta. Cinta baginya adalah memberi—memberikan segala-galanya—dan berhenti memberi apabila nafas berhenti menghembus.

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 286-287

Ini adalah bagian terakhir dari rangkaian tulisan tentang Kartini yang mengutip dari buku Panggil Aku Kartini Saja. Semoga berguna.

Kartini dan Tuhan

Paham Kartini tentang Tuhan lebih banyak bersifat realistik daripada metafisik. Karena Tuhan adalah Kebajikan, sudah pastilah bahwa makna yang diberikan Kartini padaNya mengandung faal yang positif, tanpa sesuatu kesamaran, jelas. Malah pada kesempatan lain ia perjelas lagi dengan keterangan yang lebih realistik:

Tuhan kami adalah nurani, neraka dan sorga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami; dengan melakukan kebajikan, nurani kami pulalah yang memberi kurnia. (Surat, 15 Agustus 1902, kepada E.C. Abendanon)

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 269

Kartini dan Takdir

Pada masa Kartini merasa berada di dalam jurang penderitaan yang paling dalam, dari keyakinannya akan keterbatasan manusia, timbul anak-kepercayaan, bahwa pasti ada sesuatu penjelasan atau jalan keluar, entah dari mana datangnya—yang pasti datang—dan karena tiada diketahuinya sebelumnya dari mana datangnya, maka dinamainya ‘tenaga gaib’. Dan tenaga ini mengangkatnya ke atas dari dasar jurang, melalui salah satu peristiwa, keadaan, yang mungktin tak pernah disangka-sangka sebelumnya, tetapi yang mana ia menolaknya dinamai sebagai kebetulan. Dengan demikian sampailah kemudian Kartini pada teorinya tentang takdir.

Kebetulan!—tidak, bukan kebetulan, itulah takdir Tuhan. Allah, Bapa kami, yang mengirimkan kemari mereka ke sini, untuk mengisi jiwa-jiwa muda kami yang muda dan berjuang dengan tenaga dan ketabahan segar. Pertemuan itu merupakan titik balik di dalam hidup kami. Mulanya kami masih ragu-ragu, tapi setelah itu mantaplah tekad kami untuk mencapai cita-cita kami, apapun korban yang dipintanya.

Dahulu nampaknya begitu gaib; sekarang telah menjadi jelas, bening, sederhana.

Tuhan sajalah yang mengerti rahasia dunia; tanganNya mengendalikan alam semesta; Dialah, yang mempertemukan jalan-jalan yang berjauhan menjadi satu jalan baru.

Demikianlah ia telah arahkan jalan kawan-kawan itu kepada kami, agar kami menjadi lebih kuat oleh pertemuan-pertemuan itu, disatukan dengan jiwa-jiwa besar dan kuat, menjadi jalan baru yang dapat dilalui oleh mereka yang berada di belakang kami. Kami tidak mengenal sama sekali satu daripada yang lain, dan kami sama sekali tidak mengetahui tentang mereka. Maka tiba-tiba kami pun berhadap-hadapan, dan roh-roh yang tadinya asing itu, kemudian memancarkan simpati satu kepada yang lain. Beberapa jam hanya pertemuan kami itu; waktu kami berpisahan, tahulah kami, bahwa kami akan bersahabat.

Keajaiban itu telah dimulai, dan ia mengembangkan dirinya! Sebulan setelah pertemuan itu terjadisesuatu yang tiada pernah kami duga-duga sebelumnya, mengimpikannya pun tidak. Nyonya tahu bukan, bahwa keluar rumah bagi gadis-gadis Jawa bukanlah adat, bahwa mereka semestinya harus dikurung di balik tembok atau pagar bambu, sedemikian lamanya sampai datang seorang yang sama sekali tak dikenalnya, ‘seorang suami yang ditakdirkan Tuhan” itu dan datang menuntutnya dan menyeretnya ke rumahnya.

Begitu pendek kami baru mengenal kebebasan, atau bagaimana sajalah Nyonya menamainya.

Kejadian yang tak pernah terduga-duga itu ialah: kami berada di Batavia di tempat sahabat-sahabat baru.

“Rasanya aku harus jelajahi seluruh Jawa untuk dapat bertemu dengan kalian, aku harus temukan kalian. Dan kalau sudah aku temukan kalian, puaslah hatiku.”

Kami ditakdirkan untuk bertemu, pertemuan untuk mengemudiankan pengaruh besar atas hidup kita.

Sebelum kedatangan mereka kami telah melayang-layang dalam keraguan, maklumlah, waktu itu masih gelap-gulita di sekeliling kami. Tanpa sadar kami, mau atau tidak, mereka telah obori arah yang pasti ketika kami dalam keadaan melayang-layang. Ke sanalah kami harus pergi, menempuh jalan menuju Cita! (Surat, 21 Juli 1902, kepada Nyonya van Kol).

Panggil Aku Kartini Saja, Halaman 265-267

Panggil Aku Kartini Saja

Pada suatu kali, Kartini ikut menghadiri “sembahyang istisqo” yang dilakukan oleh rakyat jelata, dan kemudian hujan pun turun. Menanggapi hal ini, Kartini pun menulis:

Rakyat-bocah kami yang naif itu menarik kesimpulan, kamilah yang telah memperkuat doa permohonan mereka itu dengan kekuatan kami, yang menyebabkan doa itu segera makbul. (Surat, 1 Februari 1903, kepada Mr. J.H. Abendanon).

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 258

Hal yang demikian itu dinamakan sentralisme magis. Suatu persoalan yang ditolak oleh Kartini sebagai bentuk feodalisme pribumi. Lebih jauh, penolakan ini dimanifestasikan Kartini dalam sebuah suratnya, di sana ia menulis:

Panggil aku Kartini saja—itulah namaku. (Surat, 25 Mei 1899, kepada Estelle Zeehandelaar).

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 258

Kartini yang menginginkan panggilan tanpa gelar, tanpa panggilan kebesaran adalah keluarbiasaan di kalangan feodal pada waktu itu. Hal ini bukan saja karena gelar-gelar itu justru merupakan ciri-ciri kedudukan seorang feodal dalam hierarki feodalisme, tata hidup, suasana dan organisasi sosial pada waktu itu, tetapi juga ciri-ciri kemartabatan dalam sistem sentralisme magis yang dianggap punya hubungan langsung dengan alam atas.