Penyebab Macet di Jalan Hasyim Ashari

Kenapa harus selalu ada lubang di aspal?

Bertahun-tahun saya melintasi Jl. Hasyim Ashari di Jakarta Pusat, satu ruas jalan yang menghubungkan antara Harmoni sampai dengan ITC Roxy. Ruas jalan ini sangat penting karena menghubungkan Jakarta dengan Tangerang yang nantinya akan bersambung dengan Jalan Daan Mogot.

Ruas Jalan Hasyim Ashari tidaklah panjang, namun sangat sibuk. Tercatat antara Harmoni sampai dengan Roxy hanya berjarak 2,2 km. Namun, dengan jarak tak sampai 5 km tersebut ada tiga buah perempatan lengkap dengan lampu pengatur lalu lintas. Bila pagi atau sore hari saat jam sibuk, super sekali kepadatan kendaraan di ruas ini.

Perempatan menjadi biang keladi kemacetan. Saat perempatan pertama dari Harmoni sudah menyala hijau, ujung kendaraan yang berhenti di perempatan kedua belum juga berjalan. Akibatnya terjadi penumpukan kendaraan di tempat tersebut. Tak jarang, kendaraan banyak yang terkunci di perempatan tersebut tak bisa bergerak. Hal ini baru terjadi di satu perempatan, nah, silakan dikalikan tiga karena di sana ada tiga perempatan.

Selain perempatan, hal lain yang menyebabkan kemacetan adalah jalan layang di depan Roxy. Di sana terjadi penyempitan lajur dari yang semula tiga lajur menjadi dua lajur saja saat akan naik ke jalan layang. Otomatis terjadi efek leher botol yang membuat kendaraan berebut akan melintas di jalan layang. Seringkali manakala jam sibuk, ujung antrian sampai dengan perempatan antara Jalan Hasyim Ashari dan Jalan Biak.

Nah, selain perempatan dan leher botol karena akan masuk ke jalan layang, masih ada lagi penyebab kemacetan yang lain, yaitu seringnya ruas Hasyim Ashari digali. Saya kurang paham kenapa jalan yang tak panjang itu sering mengalami penggalian. Mulai dari perusahaan air, listrik, sampai seluler melakukan penggalian yang berbeda-beda waktunya. Satu perusahaan selesai menggali, tak lama kemudian perusahaan lain akan melakukan hal yang sama.

Hampir semua aktivitas penggalian dilakukan dengan cara yang sama. Mula-mula mereka akan menghancurkan aspal dan kemudian dilanjutkan dengan upaya penggalian. Di sekeliling lubang akan dipasang seng-seng sebagai pembatas dan melindungi pekerja dari kendaraan yang melintas. Petugas akan membuat banyak lubang di sepanjang ruas jalan. Jarak antara satu lubang dengan lubang yang lain pun sudah ditentukan.

Kini di ruas jalan itu pun banyak lubang, banyak seng yang melindungi lubang, dan banyak penggali yang melakukan pekerjaannya. Oh iya, banyak juga gulungan kabel atau material lain yang nantinya akan dimasukkan ke dalam lubang. Silakan Anda bayangkan bagaimana ruwetnya kondisi tersebut saat ribuan kendaraan berjuang melintas ruas jalan yang tak terlalu lebar itu.

Setelah upaya penggalian selesai dilakukan, muncul masalah lain. Bekas lubang penggalian jarang yang ditutup dengan benar. Tidak seperti saat mulai penggalian dengan menghancurkan aspal, bila sudah selesai tak ada aspal yang menutupi bekas lubang itu. Hasilnya adalah ruas jalan yang berlubang-lubang tak rata dan sangat membahayakan pengguna kendaraan.

Saya senang karena beberapa waktu yang lalu, di ruas jalan depan Roxy yang mengarah ke Harmoni sudah diaspal bagus dan halus. Hal tersebut dapat membantu kelancaran laju kendaraan meskipun masih harus terhenti-henti karena lampu merah. Namun, saya khawatir sebentar lagi akan ada upaya penggalian di jalan yang sudah diaspal itu.

Di sepanjang ruas jalan yang tak lebih dari 5 km itu terjadi kemacetan dengan berbagai sebab. Saya tak punya usulan solusi yang jitu untuk mengatasinya. Harapan saya, dengan memaparkan identifikasi persoalan yang terjadi di sana bisa membantu pihak yang berwenang untuk merumuskan kebijakan yang tepat.

Terima kasih.

Bagaimana Foto yang Keren itu?

Menurut Anda, mana yang lebih keren dan menggemparkan: foto berlatar belakang Menara Eifel di Paris, Prancis, ataukah foto berlatar belakang Tugu Monas, di Jakarta, Indonesia?

Banyak sahabat yang berkesempatan mengunjungi kota-kota eksotis, indah, canggih, nan memukau di seluruh dunia. Beliau-beliau ini kemudian memamerken setiap detail perjalanannya melalui entah itu foto, keluhan, seruan atau apa pun itu di akun media sosialnya. Kawan beliau pun berkomentar, saling balas, ada yang iri, ada yang bercita-cita, ada yang bahkan sudah pesan tiket untuk perjalanan lain yang pastinya lebih keren dan memukau.

Sahabat lain ada pula yang berkesempatan berfoto di Ibu Kota Jakarta yang panas, macet, gedung tingginya makin bikin panas, bus super panjangnya makin bikin macet tapi tetap memukau bagi sahabat itu. Beliau ini pun berfoto dengan latar belakang, misalnya Tugu Monas, atau sebuah gedung yang hampir ambruk di Kawasan Kota Tua. Foto itu, kemudian akan dipasang di ruang tamu rumahnya. Bila ada kawan yang bertandang dan melihat foto itu, beliau akan dengan senang hati nyerocos bercerita, bahkan tanpa diminta.

Kedua foto dengan latar belakang yang berbeda itu keren. Dua gambar yang dipajang di sosial media dan dinding ruang tamu itu sangat berharga bagi pemiliknya. Baik yang dicetak, maupun yang diunggah, kedua foto tetaplah membuat iri dan rasa ingin tahu kawan-kawan mereka.

Foto itu hanya dianggap biasa dan memuakkan bagi beberapa orang berikut ini. Pertama, warga negara Paris yang sudah bosan melihat Menara Eifel dan sekaligus manusia yang berfoto dengan latar belakang menara itu. Kedua, warga Jakarta atau pendatang yang tinggal lama di Jakarta dan sudah muak dengan kotanya dan mendambakan berwisata ke Paris.

Sebuah foto sangatlah sukar untuk diukur tingkat keren dan tidaknya. Hal itu dipengaruhi oleh banyak faktor. Saya kira yang bisa kita lakukan adalah biasa-biasa saja, tak perlu memuji berlebihan pada kawan yang sudah pernah mengunjungi Pyramid, tak juga mencibir beliau yang bermain di Ancol.

Kalau kebutuhan pokok kita hanyalah udara, air, makanan, dan pakaian yang cukup, maka tak usah risau bila belum pernah naik pesawat.

Akibat Mati Lampu

mati_lampu

Saat Jakarta mati lampu, maka inilah beberapa hal yang terjadi.

Di jalan bila tak ada pasokan listrik, maka semua traffic light yang berada di daerah pemadaman pun turut mati. Akibatnya sungguh mengerikan!

Saat lampu lalu lintas menyala kondisi perempatan tidak karuan karena selalu saja ada yang ingin bersicepat. Belum lagi lampu menyala hijau, namun kendaraan sudah ingin meloncat dan kemudian melesat. Biarpun lampu sudah menyala merah, tapi tetap saja ada yang menerobos, bahkan tak cuma satu.

Maka ketika semua lampu pengatur lalu lintas mati, semua orang dan kendaraannya merasa berhak untuk berjalan. Syukurlah, sore kemarin Pak Polisi sigap mengatur di jalur saya, antara Harmoni sampai dengan Cengkareng, via Roxy. Bagaimana dengan jalur lain yang terkena pemadaman, apakah ada yang mengatur juga?

Sejatinya, setelah di pabrik mati lampu, maka saya segera pulang berharap di rumah kondisi berbeda. Ah, rupanya sama saja.

Kemudian, inilah yang dilakukan saya dan tetangga saat lampu belum juga menyala.

Manakala matahari masih bersinar, kami duduk di beranda, dekat dengan pintu dan menangkap angin. Menikmati hembusannya, karena keadaan di dalam rumah tak lebih baik. Angin hanya enak dinikmati di dekat pintu saja. Lucu sekali melihat tetangga yang juga terdampar di dekat pintunya masing-masing, saling tatap berharap lampu segera menyala.

Malam pun tiba dan cahaya pergi meninggalkan sosok-sosok di dekat pintu itu dalam keremangan. Lilin-lilin mulai dinyalakan, ada pula yang menggunakan lampu darurat.

Anak-anak kecil selepas magrib justru keluar rumah, orang tuanya pun tak seperti biasanya yang melarang. Kali ini, mereka justru menemani dan menikmati halaman yang remang-remang disinari rembulan. Memang, kemarin bulan purnama.

Ini seperti zaman dulu, ketika terang bulan anak-anak berlarian, bermain di halaman.

Para orang tua yang jarang bertegur sapa itu pun kemudian membaur. Mengeluhkan hal yang sama tentang listrik yang begitu lama padam. Ada yang tahu sedikit berita mengenai padamnya listrik. Informasi tak seberapa ini pun kemudian dibagi ke yang lain, menukarkan optimisme atau justru pesimisme?

Perut yang lapar minta diisi, saya pun pamit kepada Bapak-bapak yang lain untuk jajan, mengisi perut. Agak lucu sebenarnya, karena saya berjalan dengan menenteng senter. Hahaha.

Segelap-gelapnya di Jakarta, masih banyak kendaraan yang lalu lalang. Sebagian besar tentu menyalakan lampu kendaraannya, sehingga semestinya kita tak perlu repot-repot membawa senter.

Di tengah suasana temaram seperti itu, maka pecel lele yang saya pilih sebagai pengganjal perut. Di sana pun lumayan, ada lampu emergency yang cukup besar, sehingga wajah-wajah orang lain dan saya masih bisa saling mengenal.

Sebenarnya agak khawatir akan kebersihan peralatan makan di warung itu. Lampu emergency tak sanggup dengan gagah berani mencapai sudut warung yang digunakan sebagai tempat cuci piring. Hal lain yang membikin was-was adalah tingkat kematangan lele yang saya pesan. Bukankah untuk menentukan lele sudah matang atau tidak adalah dengan melihat perubahan warnanya?

Nah, kalau suasana temaram cuma dibantu oleh lampu emergency, apakah nanti lelenya benar-benar matang?

Ah, saya tak peduli.

Saat akhirnya lele itu datang dengan dua iris tahu goreng, saya pun segera menyikatnya dengan lahap. Rasanya masih sama, berarti tingkat kematangan lelenya pas. Hanya, saya kesulitan memilih mana bagian daging dan mana tulang/duri lele. Beberapa buah tak urung ikut juga masuk ke dalam mulut dan mau tak mau harus mengurangi laju mengunyah dan makan. Syukurlah, tak ada duri yang sampai menyangkut di kerongkongan, hehe.

Nah, kemarin itu cukup banyak yang sedang jajan di warung pecel lele langganan. Sebagian ada yang dibungkus, namun ada pula yang seperti saya langsung menyantap di tempat.

Dua orang bapak-bapak sudah selesai makan ketika saya masuk. Namun, mereka masih mengobrol untuk beberapa saat. Tak jelas apa yang diomongkan, saya lebih berkonsentrasi pada lele pesanan saya yang tak kunjung tiba. Saat akhirnya lele pesanan itu tiba, tanpa basa-basi saya pun segera menyantapnya.

Di tengah keasyikan makan, dua bapak ini kemudian beranjak akan pergi. Sebelumnya, beliau berdua menanyakan kepada penjual berapa total ‘kerusakan’ yang mereka sebabkan. Si penjual menyebutkan satu angka tertentu. Salah seorang bapak itu pun segera mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalamnya dan kemudian melangkah keluar warung.

Tak lama, seperti kebingungan penjual lele pun menghitung ulang uang yang diterima. Alamaakkk… rupanya kurang! Ada beberapa lembar dua ribuan yang disangka puluhan ribu, hehehe….

Syukurlah, dua bapak pembeli tadi belum terlalu jauh berjalan. “Pak, kurang, Pak!” Teriak penjual lele dengan lantang. Akhirnya, salah seorang bapak tadi kembali dengan tersipu-sipu.

Ah… kenyang betul setelah satu piring nasi, seekor lele goreng, dua iris tahu goreng berpindah kini mendiami perut saya. Tanpa basa-basi, segera saya pun menanyakan berapa harga yang harus saya bayar. Tak ingin malu seperti dua bapak sebelumnya, secermat mungkin saya hitung uang sebelum diserahkan ke penjual. Semua beres, dengan tenang saya pun keluar dari warung.

Tak ingin berlama-lama di jalan, saya pun segera melangkahkan kaki ke kontrakan. Sayang, begitu saya sampai, halaman yang semula penuh dengan anak-anak berlarian dan orang tuanya bercengkerama di bawah pancaran rembulan itu sudah sepi.

Apa yang sebaiknya saya lakukan di malam mati lampu tanpa kepastian kapan menyala begitu?

Yang jelas, saya tak bisa mengakses atau bermain dengan hp. Semua gawai yang saya miliki dalam kondisi sekarat batrenya.

Kawan, adakah saran untuk saya, apa yang sebaiknya dilakukan pada situasi seperti tersebut di atas?

Trims.

Sumber gambar dari sini

Belajar Berubah pada Jogja

Capture_sampah_visual

Bertahun yang lalu kususuri jalanan kota ini. Terkadang mampir di angkringan atau warung burjo sekadar memesan intel goreng atau rebus.

Malam ini kembali aku menyusuri jalanan di sini. Banyak tempat yang berubah, yang dulu ada di sana kini tak ada lagi.

Entah kenapa, namun kota ini begitu cepat berubah. Maka, bila dahulu kau pernah punya kenangan di suatu tempat, mungkin tak akan bisa kau kenang-ulang kembali. Tempat yang dahulu begitu kau kenal bisa saja kini telah berganti menjadi lapangan futsal.

Di jalan, mungkin kau akan bingung dengan sampah visual yang mewarnai langit Jogja. Semua informasi visual yang berlebihan sekarang ini di jalanan Jogja sungguh membuat tak nyaman, rasanya seperti terhimpit dan ingin segera keluar. Tak hanya itu, terkadang juga menyusahkan. Misalnya saja, satu kedai yang ingin kau cari tak bisa lagi ditemukan hanya karena papan namanya kalah gede atau sudah pindah lokasi.

Soal pindah lokasi ini kerap juga terjadi, kudengar dari seorang kawan, warung penyedia steak yang dulu ada di Jalan Kaliurang telah bergeser digantikan warung donat dengan jaringan internasional. Lalu, kalau aku datang dan ingin makan di sana, ke mana aku harus mencari?

Aku bersyukur punya warung nasi langganan agak di pinggir. Ada juga warung soto kesukaan yang berada di luar lingkar kota. Di sana, relatif tak berubah. Kendati khawatir itu tentu ada, bagaimana kalau nanti kota terus berkembang dan menggusur warung-warung idolaku itu?

Kawan, bila kau ingin belajar ‘move on’, maka bergurulah pada Jogja. Dia tak berlama-lama meratapi masa lalu dan secepat mungkin ganti yang baru. Misalnya saja bioskop yang terbakar itu kini dengan cepat sudah jadi yang baru. Jogja yang terus menggeliat dan bergerak, meskipun juga menyebabkan kekhawatiran tersendiri.

Bagiku, Jogja sudah tak seperti dulu. Tiap kali ke sini ada lagi yang baru. Kemudian hati pun harus kembali memendam rindu pada kenanganku dulu.

Gambar dipinjam dari sini

Sepeda untuk Nak Joko

orang_tua_dan_sepedanyaNak Joko, barangkali kau belum tahu. Akhir-akhir ini Paman mencoba menggunakan sepeda untuk makaryo. Ah, kau pasti kaget dengan apa yang Paman hadapi di jalanan itu. Tapi tak usah khawatir, Nak, bukan itu yang ingin Paman ceritakan. Begini, Nak, ini kalau boleh, lho. Paman ingin mengusulkan kepada Nak Joko beberapa persoalan.

Menurut pengalaman Paman yang pernah menggunakan berbagai moda transportasi, mulai dari sepeda motor, angkutan umum, tranjakarta, sampai yang terakhir sepeda. Di antara semua itu, rasanya sepeda paling pas. Betul lho itu, Nak.

Mula-mula memang ada kekhawatiran akan banyak keringat keluar karena tenaga yang dikeluarkan dan jarak yang ditempuh. Namun, bersepeda rupanya silir, keringat memang keluar, tapi bahkan lebih sedikit daripada naik angkot yang umpel-umpelan itu.

Dalam bayangan Paman, bila yang boleh masuk ke kota adalah sepeda dan angkutan umum saja, tentu akan lebih menyenangkan. Soal mobil pribadi, buat saja parkiran di luar kota, Nak. Selanjutnya sediakan sepeda yang boleh dipinjam pakai. Rasanya ini jauh lebih murah daripada membangun jalan tiap tahun dan membeli mobil untuk angkutan umum. Bukan begitu, Nak?

Di pinggir sungai, apa yang Paman lihat di Gunung Sahari itu begitu menyenangkan. Ada trotoar lebar untuk pejalan kaki. Dibuat tinggi dan di beberapa bagian ada pagar sehingga motor-motor jahanam itu tak mengganggu pejalan kaki. Sudah begitu, ada pula lengkung pohon bougenville dengan bunganya yang ungu. Ah, itu benar-benar meneduhkan.

Di kala pembangunan jalan dan perbaikan gorong-gorong sedang kau galakkan seperti sekarang ini, ya ampun, Nak, itu macet makin menggila. Kemarin, Paman kebetulan naik bis. Wah-wah, masa dalam jarak tak ada sekilo ada empat pengamen sekaligus preman yang masuk ke bis. Empat lho, Nak, dalam sekilo. Iya, empat. Rupanya, mereka memanfaatkan bis yang sepi penumpang dan kemacetan untuk beraksi. Itu betul, lho, Paman tak bohong.

Macet itu, Nak, juga merembet ke mana-mana. Sekarang jalan-jalan kampung jadi dilewati banyak kendaraan yang ingin menghindari kemacetan. Ada yang cerita, mau nyebrang jalan kampung saja sekarang sulitnya minta ampun.

Nah, bayangkan jika yang bermacet itu sepeda. Tentu tak repot Pak Polisi itu mengaturnya. Mereka bisa berkonsentrasi mengejar penembak koleganya. Tak ada juga artis mabuk yang menabrakkan mobilnya ke pedagang kaki lima. Betapa menyenangkan, bukan?

Begitu saja, Nak, saran dari Paman. Semoga tak menambah beban pikiran Nak Joko. Oya, izinkan Paman membayangkan jalanan itu ramai oleh sepeda. Orang-orang bersepeda sambil bercerita. Ada yang berjalan kaki di pinggir sungai sambil bercengkerama. Kota ini pun rasanya akan lebih nikmat ditinggali. Kalau tak percaya, coba saja Nak Joko bayangkan dahulu.

Terima kasih.

Sumber gambar

Perjalanan di Sebuah Siang

buruh_maydaySelasa, 1 Mei 2013, di Jln. Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat
Saya berjalan bermandikan sinar mentari pukul sebelas
Dari arah selatan menuju ke utara
Menjelang patung kuda, serombongan pendemo sedang mengatur barisan
Di trotoar ada yang tampaknya baru sampai, sedang beristirahat, tak banyak
Saya terus berjalan menyeberang, melintasi patung kuda, berhenti di depan graha indosat
Ada tiga remaja yang seperti tergesa, satu di antaranya membawa kamera
Di situ, saya temukan penjual bakso, ketoprak, teh botol, dan es kelapa berderet-deret
Semangkuk bakso saya pesan, “Ngga pakai itu ya, Bang…,” kata saya sambil menunjuk sesuatu entah apa namanya di dekat butiran bakso
Kemudian saya pun mulai melahap sesuap demi sesuap
Di samping saya seorang Bapak menghisap rokoknya, terlihat puas, mungkin dia baru selesai menghabiskan semangkuk bakso.
Kami bicara, saling bercerita, melihat jalanan yang lengang dan kekhawatiran tak bisa pulang
Beliau pun pergi….
Seorang lelaki lain kembali datang, dia pesan ketoprak
Saya makan lebih dulu tapi dia selesai lebih dulu.
Beberapa pendemo berdatangan, dengan kaos seragam berwarna-warni, namun rata-rata ada tulisannya: May Day!
Saya ambil sebatang rokok, menyalakannya.
Lelaki di sebelah saya itu seperti melirik, rupanya dia ingin meminjam korek.
Dari situ obrolan pun dimulai, kembali soal berhentinya lalu lintas. kendaraan di jalan dan kekhawatiran tak bisa pulang.
“Biasanya ini sampai jam tujuh malam, Pak.” Tukang ketoprak tahu-tahu ikut bercerita.
Saya menerawang.
Di utara, tempat di mana saya harus melanjutkan perjalanan, beberapa tentara tampak bersiaga.
Di depan gedung MK, ada yang berorasi
Susah menerobos mereka ini karena mereka berdiri dan duduk memenuhi trotoar tempat saya berjalan.
Saya meliukkan tubuh, menelusup di antara sepeda motor yang parkir. Orasi tetap terdengar.
Saya kembali berjalan, tujuan saya di seputaran harmoni masih lumayan jauh.
Serombongan polisi berbaris rapi, mereka berjalan, menghampiri pendemo yang berorasi.
Saya terus berjalan, sesekali melirik.
Sumber gambar

Mimpi yang Mengawali

Auto-2000

Jadi begini, dua tahun lalu saya ngekos di sekitar Stasiun Juanda. Itu lho, yang dekat Masjid Istiqlal dan Katedral. Kalau dari Istana Merdeka ngga jauh-jauh amat, paling seperempat jam jalan kaki. Kalau ke Monas malah lebih dekat lagi, ya kurang lebih juga seperempat jam kurang dikit.
Cukup soal kos saya.
Sekarang tempat kerja. Nah, tempat saya mengabdi kepada juragan itu letaknya di belakang istana. Ga jauh dari halte busway harmoni.

Continue reading “Mimpi yang Mengawali”

Jalan Kita

Angin mengembara di ruang ini, menyentuh rambutku, mengusap pipiku. Terasa dingin. Hei, benarkah itu angin?

Tak tepat begitu ternyata. Ada air mata yang mengalir di pipiku. Itulah yang tersapu angin. Keduanya, air mata dan angin bersekutu, maka terasa dingin bagiku.

Perlahan, aku mengusap air bening itu dari pipiku. Aku tak apa, aku masih bisa tersenyum, bahkan ketika aku begitu rindu padamu. A, sekarang aku memikirkanmu setiap hari.

Ada satu masa ketika aku tak yakin dengan semua ini. Terutama tak yakin denganmu, A. Sungguh aku tak tahu apa penyebabnya. Mungkinkah karena kerinduan ini sudah demikian menyakitiku?

Ketakyakinanku itu mulai berpendar-pendar di hatiku, hampir-hampir memenuhinya sampai ketika kamu membuat semua menjadi begitu mudah. Kamu membantuku, menunjukkan jalan bagaimana aku harus melaluinya. Tak tahu dengan apa lagi aku harus berterima kasih padamu atas jalan yang telah kau tunjukkan itu. Kini, tak ada lagi keraguan di hatiku.

“Perlahan saja, maka semua akan menemukan jalannya sendiri. Semua akan baik-baik saja, sayang.” Begitu katamu menenangkan debar yang bergemuruh di hatiku. “Yang kita butuhkan hanyalah sedikit bersabar, kau tahu itu?” Ya, A, pada detik itu kamu mengingatkanku akan satu hal yang kadang, ah, atau seringkali kulupakan.

Maka, biarlah rindu ini menyapaku dengan manis dan aku akan menyesapnya penuh kenikmatan. Apabila kau tak bisa kutemui sekarang, maka biarlah aku akan menunggu sampai waktu mempertemukan kita.

Tapi, kau tahu, kan, kadang aku pun begitu marah dalam menunggumu. Ugh, kenapa pula kau tak kunjung tiba? Hanya, itu di luar kuasaku untuk mempercepat waktu, biarpun hanya sedetik lebih cepat. Sedetik yang lebih cepat agar kita bisa segera bertemu. Sebenarnya, kita berdua tahu, bahwa penantian itu adalah sebuah keniscayaan yang harus terjadi. Kita paham, masih ada satu hal yang harus kita pikirkan bersama, bukan?

Kamu bilang perlahan saja, maka semua akan baik-baik saja. Menurutmu kita berdua hanya perlu bersabar. Dan… aku setuju itu.

Kamu juga bilang, “Manfaatkanlah waktumu, karena cahaya yang mereka lemparkan begitu terang.” Lebih jauh, kamu kembali mengingatkanku, kita memerlukan ini semua untuk menjadikannya nyata. Kita perlu itu sebagai sebuah jalan bagi kita berdua, jalan yang semoga tak akan memperdaya kita dan kita pun tak akan sekali-kali merusaknya.

“Bersabarlah… sedikit lagi kesabaran.…” Demikian terus-menerus kamu berkata selayaknya merapal sebuah mantra.

***

Sudah kulalui jalan ini kemarin malam, dan kemarinnya, serta kemarinnya lagi. Aku menyusurinya berulang kali menjadi rutinitas. Kali ini aku kembali mencoba menyusurinya, menemukan jalanku sendiri, atau mungkin lebih tepat menemukan jalan kita, sebuah bagian yang benar dari keseluruhan jalan itu.

A, padahal kamu tahu, bukan? Ini sungguh bukan hal yang mudah menemukan ‘jalan’ kita manakala di sana begitu banyak orang. Sementara kalau aku harus berhenti untuk mencari jalan kita, maka aku harus berhenti di tengah keriuhan itu, padahal semua itu membuatku gila. Aku tak suka berada di keramaian, terutama kalau itu tanpamu.

Begitu banyak jalan di sana kau tahu, A? setiap hari barangkali ada penambahan, kendati mungkin jalan kita masih ada, namun bisa saja ia sudah berganti nama. Jadi, bagaimana lagi aku harus menemukannya bila itu terjadi. Barangkali aku tak punya waktu lagi untuk permainan pencarian jalan itu. Mungkin aku sudah akan terlampau lelah mencari, sementara kamu tak ada di sisiku. Aku memerlukanmu, A, perlu kamu, sekarang juga.

Sebuah terjemahan bebas dari ‘Patience’ punya Gun ‘n Roses. Silakan dinikmati sembari mendengarkan lagunya 😛

Patience-Gun ‘n Roses

Mencari Kontrakan

Melanjutkan kisah saya tinggal bersama istri, maka tiba saatnya saya bercerita mengenai kontrakan. Sebagai pendahuluan, izinkan saya bercerita bagaimana saya memeroleh kontrakan yang saya tinggali sekarang. *Halah banget!* 😀

Misi utamanya adalah bagaimana memeroleh kontrakan yang dekat dengan tempat istri bekerja. Pertimbangannya tentu agar mempermudah ia mencapai kantor. Terus bagaimana dengan saya? Sebagai seorang suami yang baik, tidak sombong dan pintar menyapu, hahaha, sudah sewajarnya apabila saya harus mengalah dan mengabaikan soal jarak tempuh ke kantor.

Pertimbangan selanjutnya adalah bagaimana agar kontrakan tersebut nyaman untuk kami tinggali. Mengingat begitu sulitnya istri harus beradaptasi dengan suatu tempat, maka paling tidak tempat itu harus memenuhi syarat-syarat dari istri. Syarat itu adalah sebuah lokasi yang harus bersih, bebas banjir dan akses belanja, warung, pasar pun dekat.

Bagaimana dengan saya? Ah, asalkan bersamanya tinggal di kandang pun jadi. *eaaa* 😛 Continue reading “Mencari Kontrakan”