<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>unclegoop[dot]com &#187; Ibu</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.com/tag/ibu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.com</link>
	<description>melintas batas ruang dan waktu</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 02:43:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Surat, Acuh, Ibu</title>
		<link>http://unclegoop.com/2011/12/26/surat-acuh-ibu/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2011/12/26/surat-acuh-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 00:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[jendela dunia]]></category>
		<category><![CDATA[acuh]]></category>
		<category><![CDATA[gambar]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[surat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1842</guid>
		<description><![CDATA[Demikianlah, seperti yang tertera pada gambar Sebuah potret dari sudut RSIA Budi Kemuliaan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1843" class="wp-caption aligncenter" style="width: 263px"><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/12/Pict4.jpg"><img class="size-medium wp-image-1843" title="Pict4" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/12/Pict4-253x300.jpg" alt="" width="253" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">sila klik gambar untuk memperbesar</p></div>
<p>Demikianlah, seperti yang tertera pada gambar <img src='http://unclegoop.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebuah potret dari sudut RSIA Budi Kemuliaan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2011/12/26/surat-acuh-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu dan Bapak</title>
		<link>http://unclegoop.com/2010/09/06/ibu-dan-bapak/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2010/09/06/ibu-dan-bapak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 02:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[jendela dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Bapak]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1240</guid>
		<description><![CDATA[Ibu Tiba-tiba terdengar suara, “Ibumu mana?” Dari seorang wanita. Adegan berlanjut dengan sosok pria tak sabar yang membuka pintu. Setelah terbuka, terpampanglah pemandangan sebuah kamar. Di dalam kamar itu, muncullah sosok lain. Si Ibu. Ia sudah sepuh, berjalan pun tertatih dan serba lambat saat mengenakan bajunya. Pria itu lantas seperti mengurungkan niatnya. Tampak betul perubahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Ibu</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2010/09/102172269.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1241" title="102172269" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2010/09/102172269-300x204.jpg" alt="" width="240" height="163" /></a>Tiba-tiba terdengar suara, “Ibumu mana?” Dari seorang wanita. Adegan berlanjut dengan sosok pria tak sabar yang membuka pintu. Setelah terbuka, terpampanglah pemandangan sebuah kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam kamar itu, muncullah sosok lain. Si Ibu. Ia sudah sepuh, berjalan pun tertatih dan serba lambat saat mengenakan bajunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pria itu lantas seperti mengurungkan niatnya. Tampak betul perubahan sikapnya: dari semula tergesa menjadi lebih sabar, menyandarkan tubuhnya ke dinding.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jadi ikut ga, sih, Ibumu?” <span id="more-1240"></span>Kembali wanita yang merupakan sosok menantu itu mengutarakan ketergesaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sabar sedikit kenapa?” Jawab lelaki itu sedikit ketus.</p>
<p style="text-align: justify;">Layar lalu gelap dan muncul tulisan “Puasa, menahan diri, sabarkan hati.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bapak</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2010/09/102382538.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1243" title="102382538" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2010/09/102382538-300x199.jpg" alt="" width="240" height="159" /></a>Serangkaian adegan berikut, tak diragukan lagi pastilah rangkaian gambar dan suara yang ditunggu-tunggu mereka yang berpuasa. Gambar bergerak itu memang menjadi latar adzan magrib, saat yang ditunggu karena menjadi penanda waktu berbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang lelaki yang sudah sepuh duduk sendiri di kursi rodanya. Ia menatap cakrawala dengan wajah duka. Hamparan rumput hijau di halaman yang sejuk di mata itu pun tak mampu membawanya dari kepungan kesunyian dan heningnya kesendirian.</p>
<p style="text-align: justify;">Adegan lalu berganti manakala ia menyusuri lorong rumahnya yang gelap, juga seorang diri. Lalu ada sebuah momen ketika ia dikecewakan kakinya sendiri. Kaki yang sejauh itu setia menemani langkahnya tak sanggup lagi untuk sekadar menopang tubuhnya. Ia lantas menampar kaki itu dengan marah, hanya untuk kecewa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dilihatnya sebuah foto dalam bingkai. Berisikan kenangan masa lalu, saat pengambilan gambar dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua masih tercetak dengan jelas tak hendak mengabur. Saat ia bercengkerama dengan putranya, membacakan buku untuk putrinya. Dan ketika istrinya masih berada di sampingnya, setia menemani.</p>
<p style="text-align: justify;">Adegan kenangan itu rupanya bukan hanya menyajikan hal-hal yang menyenangkan. Nyatalah, gambar itu pun menguarkan keharuan yang sangat. Ketika putra kecilnya beranjak dewasa lalu pergi meninggalkannya. Adapun putrinya yang beranjak menjadi remaja, dilengkapi tawa yang lepas dan manis pun harus pergi. Bapak tua itu berdiri di beranda, menyaksikan putrinya hendak pergi bersama dengan suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Putri yang hampir sampai di mobil itu pun tak sampai hati. Ia kembali berlari ke beranda, mendapati Bapaknya di situ, memeluknya erat seakan tak ingin berpisah. Namun, barangkali perpisahan sudah digariskan dan tertulis. Keduanya harus berpisah dan kembali kesendirian meringkus lelaki tua itu begitu rapat.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti lazimnya orang-orang tua. Waktu yang berjalan dan detik yang berlalu diisinya dengan ibadah, menyiapkan dirinya untuk kehidupan yang akan datang di lain dunia. Kesendirian yang dihadapinya pun sedikit tertanggungkan dengan ibadah yang banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu masa yang istimewa, manakala ia membaca kitab suci, dari arah pintu datanglah cucu dan putra-putrinya. Mereka bergegas, sementara di mata lelaki tua itu air bening menggenang. Kendati begitu, air mukanya berubah. Rona bahagia terpancar di sana, serta tak lupa senyum sabar tersungging di bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Balung, tulang yang terpisah-pisah itu pun berkumpul lagi.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="www.gettyimages.com" target="_blank">gambar</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2010/09/06/ibu-dan-bapak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terlambat Bangun</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/06/09/terlambat-bangun/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/06/09/terlambat-bangun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 23:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[pintu jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[bangun]]></category>
		<category><![CDATA[banting]]></category>
		<category><![CDATA[hape]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[tak penting]]></category>
		<category><![CDATA[tendang]]></category>
		<category><![CDATA[terlambat]]></category>
		<category><![CDATA[weker]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=588</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin inilah biang masalah di pagi hari. Entah kenapa bunyi alarm dari weker, hape atau teriakan Ibu tidak juga berpengaruh. Padahal, mata sudah terbuka, lho, ketika bebunyian itu terdengar. Kemudian ritual yang umum berlaku adalah bunyi itu terdengar, telinga bereaksi diikuti dengan mata terbuka. Tak lama, tangan bergerak, meraba-raba sumber suara. Bila bunyi berasal dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://thumb.visualizeus.com/thumbs/09/02/02/black,and,white,photography,woman,woman,study-74760f3a62537f7a30053d28f3073c05_m.jpg"><img class="aligncenter" title="bobok terjengking-jengking" src="http://thumb.visualizeus.com/thumbs/09/02/02/black,and,white,photography,woman,woman,study-74760f3a62537f7a30053d28f3073c05_m.jpg" alt="" width="192" height="164" /></a></p>
<p style="text-align: justify">Mungkin inilah biang masalah di pagi hari. Entah kenapa bunyi alarm dari weker, hape atau teriakan Ibu tidak juga berpengaruh. Padahal, mata sudah terbuka, lho, ketika bebunyian itu terdengar.</p>
<p style="text-align: justify">Kemudian ritual yang umum berlaku adalah bunyi itu terdengar, telinga bereaksi diikuti dengan mata terbuka. Tak lama, tangan bergerak, meraba-raba sumber suara. Bila bunyi berasal dari hape, pencet saja sembarang tombol dan hape pun terdiam. Jika itu weker ya cari tombolnya atau bisa juga pakai cara <a href="http://blogirang.wordpress.com/2009/05/20/wekerku-sayang-weker-kutendang/">sahabat saya ini</a>, yaitu dengan membanting wekernya. Nah, bagaimana kalau Ibu? Ya jangan ditampar, itu kurang ajar namanya. Cukuplah pindahkan bantal yang semula di bawah kepala, alihkah ke atas menutupi kuping. Nah, sekarang beres, kan?</p>
<p style="text-align: justify">Lantas, bila semua sumber bunyi sudah diam, ngapain dong? Ya merem, ah, masa gitu aja nanya? Dan anehnya, kenapa pasca melakukan ritual mendiamkan semua pengganggu tidur itu justru bobok kian lelap? Saya kira hal ini akan menjadi misteri abad ini—halah!</p>
<p style="text-align: justify">Tidur yang lelap itu, bagaimanapun juga tidak akan berlangsung lama, kecuali Anda semacam <a href="http://blogirang.wordpress.com/">teman</a> saya itu yang susah nian bangun bila matahari belum lengser ke Barat. Parahnya, selepas bangun yang sebenarnya ini, mulailah rentetan kebingunan terjadi. Semenjak pertanyaan tak penting semacam, “Kenapa aku bangun jam segini?” sampai dengan melakukan sesuatu di pagi itu dengan tergesa-gesa. Dapat dibayangkan, bukan? Mmm, atau tak perlu dibayangkan bila itu terjadi pada Anda setiap pagi? Hahaha.</p>
<p style="text-align: justify">Di kamar mandi terburu-buru, masih ada yang belum tuntas. Bisa sisa kotoran dalam perut yang masih antri di usus besar dan belum mau keluar. Mungkin juga sisa sabun masih ada yang tertinggal di telinga lupa belum dicuci. Argghhhh….</p>
<p style="text-align: justify">Tak heran kemudian jika di kantor atau sekolah Anda kembali diusik dengan urusan perut yang belum beres. Jangan marah pula bila ada teman yang menertawakan dan berkata, “Itu, kupingmu masih ada.” Batin Anda, ya masihlah, kan tiada yang memotong telingaku. Padahal maksudnya masih ada sisa sabun di telinga Anda.</p>
<p style="text-align: justify">Lalu, masih ingatkah kapan pagi Anda berlangusng dengan damai dan tenang?</p>
<p style="text-align: right"><em><strong>Sridewanto Edi/040609 </strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/06/09/terlambat-bangun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salamku Untukmu</title>
		<link>http://unclegoop.com/2008/08/24/salamku-untukmu/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2008/08/24/salamku-untukmu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 11:08:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Salam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Dear Ibu, Janggal sekali kurasakan, bukan padanan yang pas. Di samping itu, kau pasti akan memerintahku, â€œCarikan di kamus nak, apa arti dear!â€ Aku tak beranjak kemudian, biasanya begitu. Diam, masih asyik dengan kesibukan semula. Kau â€˜kan mengulang perintah sekali lagi, beberapa kali lagi, hingga nadamu meninggi. Salahku juga, kenapa harus menggunakan kata itu. Kau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2008/08/106.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-194" title="mami mami" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2008/08/106-283x300.jpg" alt="" width="283" height="300" /></a><strong>Dear</strong><em><strong> Ibu</strong></em><strong>,</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Janggal sekali kurasakan, bukan padanan yang pas. Di samping itu, kau pasti akan memerintahku, â€œCarikan di kamus nak, apa arti <em>dear</em>!â€</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tak beranjak kemudian, biasanya begitu. Diam, masih asyik dengan kesibukan semula. Kau â€˜kan mengulang perintah sekali lagi, beberapa kali lagi, hingga nadamu meninggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Salahku juga, kenapa harus menggunakan kata itu. Kau tidak mengerti artinya, itu alasan pertama. Kau perlu kamus, sementara tulisan yang kecil akan menyiksamu. Selanjutnya, kau akan membuatku repot, padahal kau pun tahu aku tak suka repot.</p>
<p style="text-align:justify;">Lupa mungkin nama tengahku, atau tak tahu diri? Betapa dulu bila aku berbunyi, â€œOoooeeekkkk!!!â€  seperti sebuah alarm bagimu. Kau akan tergopoh; melihat apakah aku ngompol, berak atau haus.  Tak perlu ketiganya datang sekaligus, cukup salah satu saja, maka kerepotanmu kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Andaikan kau menganut para pebisnis dan menghitung semua kerepotanmu sebagai hutang. Tak terbayangkan kemudian, berapa hutangku?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Hallo Ibu,</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apa iya aku harus menggunakan yang ini? Seperti sapaanku kepada teman-temanku, padahal tentu kau lebih dari seorang teman.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi, seringkali kau pun menjadi teman terbaik untukku. Aku tak akan ragu berbagi rahasia yang paling rahasia padamu. Kau diam kemudian; mengangguk-angguk, berbinar, mencandaiku, tapi sering juga menghardikku.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua itu, bisa juga berlaku sebaliknya. â€œTetangga kita si anu â€¦â€ itu awalan bila kau akan bercerita tentang tetangga yang mengganggu pikiranmu. Bila adik meminta uang saku, lagi dan lagi, â€œAhh, adikmu itu!â€. Bapak yang nakal, â€œmBok Bapakmu, itu dikasih tahu!â€</p>
<p style="text-align:justify;">Hahaha, banyak memang keluhanmu. Tetapi, kok rasa-rasanya masih banyak keluhanku. Kita saling mengeluh, kita terbahak kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tak selalu ada di sampingmu. Adik-adik mungkin bisa membantumu. Kau tak selalu di sampingku. Teman-temanku akan ada di sana saat itu. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, kecuali rasa amanku. Karena aku tahu, saat tak ada seorangpun yang mendengarku, kau bahkan akan mendengar bisik paling halusku.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ibu sayang,</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tak pernah kukatakan padamu, bahkan sekali. Tak mungkin aku menggunakan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">â€œAku sayang padamuâ€ beribu kali bisa kukatakan pada gadis-gadis manis itu. Tak jarang lengkap dengan pemanis lainnya. Sedikit gombal barangkali, salah sendiri gadis-gadis itu suka digombali, bahkan berbinar, hihihi.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang tak pernah berlaku untukmu. Ingin mengucapkannya, tapi lidahku kelu. Padamu, aku tak perlu semua ungkapan gombal itu. Aku tak perlu menjaga hubungan, tak khawatir kau tinggalkan dan berpaling ke orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahasa kita, adalah bahasa rasa. Tak perlu kita bermanis bibir. Aku tak perlu bohong padamu, karena kau tahu kebohonganku yang paling jujur sekalipun.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Buâ€™e,</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tak pernah kutahu dari mana asal muasal panggilan jelek ini. Pengubahan Ibuke menjadi Buâ€™e mungkin untuk mempermudah lidah kecilku dahulu. Sebagai anak pertama, kenapa aku dulu tak memilih â€œmamaâ€, â€œbundaâ€, â€œmamiâ€ yang kelihatannya lebih keren?</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi, panggilan itu tak mengubah artimu sebagai ibu. Kau tak memerlukan panggilan yang keren untuk menghidangkan deretan teh hangat di atas meja pada rembang petang. Tempe goreng dan sambal akan tetap tersedia di piring-piring pada setiap pagi, dengan dan tanpa aku mengubah panggilan itu. Semua otomatis, begitu saja, kau memang tahu apa yang kami mau.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Apa <em>sih</em> maksudku ini? Sebenarnya, aku ingin membuat sebuah surat untukmu Buâ€™. Namun, bahkan untuk sebuah salam pembuka aku kebingungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tunggulahâ€¦</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="mami mami" href="http://www.crisalis.co.uk/uploads/images_categories/106.jpg" target="_blank">asal gambar</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2008/08/24/salamku-untukmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
