melintas batas
Posts tagged Ibu
Terlambat Bangun
Jun 9th
Mungkin inilah biang masalah di pagi hari. Entah kenapa bunyi alarm dari weker, hape atau teriakan Ibu tidak juga berpengaruh. Padahal, mata sudah terbuka, lho, ketika bebunyian itu terdengar.
Kemudian ritual yang umum berlaku adalah bunyi itu terdengar, telinga bereaksi diikuti dengan mata terbuka. Tak lama, tangan bergerak, meraba-raba sumber suara. Bila bunyi berasal dari hape, pencet saja sembarang tombol dan hape pun terdiam. Jika itu weker ya cari tombolnya atau bisa juga pakai cara sahabat saya ini, yaitu dengan membanting wekernya. Nah, bagaimana kalau Ibu? Ya jangan ditampar, itu kurang ajar namanya. Cukuplah pindahkan bantal yang semula di bawah kepala, alihkah ke atas menutupi kuping. Nah, sekarang beres, kan?
Lantas, bila semua sumber bunyi sudah diam, ngapain dong? Ya merem, ah, masa gitu aja nanya? Dan anehnya, kenapa pasca melakukan ritual mendiamkan semua pengganggu tidur itu justru bobok kian lelap? Saya kira hal ini akan menjadi misteri abad ini—halah!
Tidur yang lelap itu, bagaimanapun juga tidak akan berlangsung lama, kecuali Anda semacam teman saya itu yang susah nian bangun bila matahari belum lengser ke Barat. Parahnya, selepas bangun yang sebenarnya ini, mulailah rentetan kebingunan terjadi. Semenjak pertanyaan tak penting semacam, “Kenapa aku bangun jam segini?” sampai dengan melakukan sesuatu di pagi itu dengan tergesa-gesa. Dapat dibayangkan, bukan? Mmm, atau tak perlu dibayangkan bila itu terjadi pada Anda setiap pagi? Hahaha.
Di kamar mandi terburu-buru, masih ada yang belum tuntas. Bisa sisa kotoran dalam perut yang masih antri di usus besar dan belum mau keluar. Mungkin juga sisa sabun masih ada yang tertinggal di telinga lupa belum dicuci. Argghhhh….
Tak heran kemudian jika di kantor atau sekolah Anda kembali diusik dengan urusan perut yang belum beres. Jangan marah pula bila ada teman yang menertawakan dan berkata, “Itu, kupingmu masih ada.” Batin Anda, ya masihlah, kan tiada yang memotong telingaku. Padahal maksudnya masih ada sisa sabun di telinga Anda.
Lalu, masih ingatkah kapan pagi Anda berlangusng dengan damai dan tenang?
Sridewanto Edi/040609
Salamku Untukmu
Aug 24th
Janggal sekali kurasakan, bukan padanan yang pas. Di samping itu, kau pasti akan memerintahku, “Carikan di kamus nak, apa arti dear!â€
Aku tak beranjak kemudian, biasanya begitu. Diam, masih asyik dengan kesibukan semula. Kau ‘kan mengulang perintah sekali lagi, beberapa kali lagi, hingga nadamu meninggi.
Salahku juga, kenapa harus menggunakan kata itu. Kau tidak mengerti artinya, itu alasan pertama. Kau perlu kamus, sementara tulisan yang kecil akan menyiksamu. Selanjutnya, kau akan membuatku repot, padahal kau pun tahu aku tak suka repot.
Lupa mungkin nama tengahku, atau tak tahu diri? Betapa dulu bila aku berbunyi, “Ooooeeekkkk!!!†seperti sebuah alarm bagimu. Kau akan tergopoh; melihat apakah aku ngompol, berak atau haus. Tak perlu ketiganya datang sekaligus, cukup salah satu saja, maka kerepotanmu kemudian.
Andaikan kau menganut para pebisnis dan menghitung semua kerepotanmu sebagai hutang. Tak terbayangkan kemudian, berapa hutangku?
Hallo Ibu,
Apa iya aku harus menggunakan yang ini? Seperti sapaanku kepada teman-temanku, padahal tentu kau lebih dari seorang teman.
Tetapi, seringkali kau pun menjadi teman terbaik untukku. Aku tak akan ragu berbagi rahasia yang paling rahasia padamu. Kau diam kemudian; mengangguk-angguk, berbinar, mencandaiku, tapi sering juga menghardikku.
Semua itu, bisa juga berlaku sebaliknya. “Tetangga kita si anu …†itu awalan bila kau akan bercerita tentang tetangga yang mengganggu pikiranmu. Bila adik meminta uang saku, lagi dan lagi, “Ahh, adikmu itu!â€. Bapak yang nakal, “mBok Bapakmu, itu dikasih tahu!â€
Hahaha, banyak memang keluhanmu. Tetapi, kok rasa-rasanya masih banyak keluhanku. Kita saling mengeluh, kita terbahak kemudian.
Aku tak selalu ada di sampingmu. Adik-adik mungkin bisa membantumu. Kau tak selalu di sampingku. Teman-temanku akan ada di sana saat itu. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, kecuali rasa amanku. Karena aku tahu, saat tak ada seorangpun yang mendengarku, kau bahkan akan mendengar bisik paling halusku.
Ibu sayang,
Tak pernah kukatakan padamu, bahkan sekali. Tak mungkin aku menggunakan ini.
“Aku sayang padamu†beribu kali bisa kukatakan pada gadis-gadis manis itu. Tak jarang lengkap dengan pemanis lainnya. Sedikit gombal barangkali, salah sendiri gadis-gadis itu suka digombali, bahkan berbinar, hihihi.
Hal yang tak pernah berlaku untukmu. Ingin mengucapkannya, tapi lidahku kelu. Padamu, aku tak perlu semua ungkapan gombal itu. Aku tak perlu menjaga hubungan, tak khawatir kau tinggalkan dan berpaling ke orang lain.
Bahasa kita, adalah bahasa rasa. Tak perlu kita bermanis bibir. Aku tak perlu bohong padamu, karena kau tahu kebohonganku yang paling jujur sekalipun.
Bu’e,
Tak pernah kutahu dari mana asal muasal panggilan jelek ini. Pengubahan Ibuke menjadi Bu’e mungkin untuk mempermudah lidah kecilku dahulu. Sebagai anak pertama, kenapa aku dulu tak memilih “mamaâ€, “bundaâ€, “mami†yang kelihatannya lebih keren?
Tetapi, panggilan itu tak mengubah artimu sebagai ibu. Kau tak memerlukan panggilan yang keren untuk menghidangkan deretan teh hangat di atas meja pada rembang petang. Tempe goreng dan sambal akan tetap tersedia di piring-piring pada setiap pagi, dengan dan tanpa aku mengubah panggilan itu. Semua otomatis, begitu saja, kau memang tahu apa yang kami mau.
***
Apa sih maksudku ini? Sebenarnya, aku ingin membuat sebuah surat untukmu Bu’. Namun, bahkan untuk sebuah salam pembuka aku kebingungan.
Tunggulah…



