10 Kebiasaan Perlu Dihindari Agar Hidup Bahagia

Satu di antara banyak cita-cita Anda pada akhirnya adalah menginginkan hidup yang bahagia. Namun, tanpa kita sadari sayangnya banyak kebiasaan yang dilakukan justru menjauhkan kebahagiaan yang dicita-citakan itu.

Tomas Laurinavicius membagi beberapa hal yang sebaiknya kita hindari agar hidup kita bahagia. Berikut ini saya terjemahkan untuk Anda. Semoga bermanfaat.
Continue reading “10 Kebiasaan Perlu Dihindari Agar Hidup Bahagia”

Kenapa hidup orang lain begitu sempurna?

3594887377_53e0e79f47

Anda melihat status teman di FB atau Twitter, kemudian merasa hidup Anda tak berharga…..

Teman-teman Anda seolah-oleh memiliki kehidupan yang menarik dan tanpa cela. Makan berbagai menu yang menggiurkan, pergi ke berbagai tempat wisata yang hanya bisa Anda impikan.

Sebenarnya, teman-teman….

Mereka seperti kurator yang memilih cerita terbaik dari hidupnya untuk dibagikan di Twitter, FB, atau Instagram….

Tidak ada yang hidupnya benar-benar sempurna. Saya tidak, Anda pun tidak. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk jaya dan terpuruk. Mereka mengalami kegagalan, kesalahan, kesedihan, tapi juga kebahagiaan dan keindahan. Hal-hal yang buruk, menyebalkan, yang tak perlu diceritakan, tapi juga berbagai hal yang baik, berharga, dan membanggakan yang dengan senang hati akan dibagikan.

Bersyukurlah dengan hidup Anda tanpa perlu membandingkannya dengan hidup orang lain. Memang berat, tapi perlu….
Sebab perbandingannya bukan apel dengan apel karena Anda tidak pernah melihat keseluruhan cerita.

Credit picture from here: https://farm4.staticflickr.com/3001/3594887377_53e0e79f47.jpg

Bagaimana agar kita bahagia?

Happiness-is-not-the-absensce-of-problems

Apakah bahagia itu ketika Anda memakan menu kegemaran seperti es krim atau coklat?

Bagaimana kalau kita lipat gandakan jumlah es krim atau coklat itu? Katakan saja Anda mesti menghabiskan satu kotak es krim atau sepuluh batang coklat di waktu yang sama. Di sini, barangkali Anda tak lagi bahagia.

Saya banyak membaca, mendengar, dan melihat presentasi tentang kebahagiaan. Secara umum, para penulis dan pembicara itu memberikan kiat-kiat atau tips bagaimana agar kita bisa bahagia.

Saya mencoba mempraktikkan beberapa di antaranya. Hasilnya memang saya bahagia. Berarti betul apa yang disarankan oleh para penulis dan pembicara itu.

Bagaimana kalau saya tidak melakukan kiat yang ada di sana, apakah kemudian menjadi sedih? Rupanya tidak demikian, sebab kadang kita bahagia karena satu hal dan di lain waktu hal yang sama tersebut tidak terasa membahagiakan. Di sini berarti kebahagiaan itu naik turun dan bergantung pada banyak hal.

Satu pelajaran yang saya ambil dari mempraktikkan semua kiat tentang kebahagiaan itu adalah, kita merasa bahagia bila berhasil melakukannya.

Bila Anda barangkali tertarik agar bisa bahagia, maka syaratnya adalah dengan melakukan apa yang disarankan. Anda tidak bisa sekadar mengetahui bagaimana menjadi bahagia tetapi tidak melakukan apa yang disarankan. Antara mengetahui dan melakukan adalah dua hal yang sangat berbeda.

Singkatnya, praktik hidup bahagia memegang peranan penting agar Anda ‘benar-benar’ bahagia.

Adakah di antara banyak tips mengenai kebahagiaan yang sudah Anda praktikkan?

Image credit: http://www.lifehack.org/

Bagaimana kita kehilangan kemampuan mendengar?

Kita telah kehilangan kemampuan untuk mendengar, dari 60 persen pembicaraan, rupanya kita hanya bisa mendengarkan 25 persennya saja.

Mendengar adalah mengartikan satu hal dari suara-suara. Kita mengembangkan kemampuan mental ini dengan memecah berbagai suara yang didengar menjadi satu bunyi yang bermakna.

Kita dapat melakukan hal itu salah satunya dengan mengenali pola. Bayangkan Anda sedang berada dalam satu lingkungan yang bising; bisa di pinggir jalan, di dalam mall, atau di sebuah restauran. Tiba-tiba, nama Anda dipanggil dan Anda pun akan bisa mendengar panggilan itu kendati di tengah keriuhan.

Kita juga dapat mendengar hal-hal tertentu karena kemampuan kita untuk membedakan. Di pinggir pantai dengan debur ombak yang nyaring, kita tetap dapat mendengar bebunyian lain. Sebab, kita memiliki kemampuan untuk mengabaikan bunyi-bunyi yang mirip dan didengar berulang-ulang.

Selain kedua hal tersebut, saat kita mendengar, banyak sekali saringan yang terlibat di dalamnya. Beberapa hal sebagai penyaring adalah: budaya, bahasa, nilai-nilai, kepercayaan, sikap, harapan, dan minat. Kebanyakan manusia tidak menyadari saringan ini karena terjadi begitu saja dan saat itu juga.

Suara juga membuat kita sadar mengenai waktu dan tempat. Sekali waktu saat berada di sebuah ruangan, cobalah Anda pejamkan mata. Melalui suara-suara, kita bisa menyadari berapa luas ruangan itu, berapa banyak orang yang bersama kita dan lain-lain. Semua itu terjadi karena pantulan, dengung, atau bebunyian lain yang kita dengarkan dengan lebih seksama.

Selain tempat, suara membuat kita sadar mengenai waktu. Kita tidak dapat menghitung waktu tanpa bantuan gerakan jarum jam di dinding atau di arloji, maka suara seringkali menjadi pengingat berjalannya waktu.

Bagaimana kita kehilangan kemampuan mendengar? 

Pertama karena penemuan alat perekam. Entah itu perekam suara atau perekam gambar yang dilengkapi suara telah membuat hilangnya kemampuan kita untuk mendengar dengan penuh perhatian.

Kedua, dunia saat ini begitu berisik. Bukan hanya menyangkut suara, namun juga berbagai hal yang mengganggu pandangan kita. Pada kondisi yang demikian itu, mendengar menjadi begitu sulit dan melelahkan. Banyak orang kemudian melarikan diri pada earphone atau headphone, tapi kemudian dia tak mendengarkan apa-apa….

Kehilangan kemampuan mendengar juga membuat kita menjadi tidak sabar. Seni berbicara atau bercerita satu sama lain dengan bertukar kata dan mendengar telah digantikan oleh siaran pribadi. Kita mudah menemuinya di facebook, twitter, atau blog yang seakan-akan berteriak-teriak di ruang hampa….

Lebih dari itu, bila kita menengok ke berbagai pemberitaan di media yang berisi: sensasi, kejutan, pengungkapan, skandal, kemarahan, atau pemaparan aib seseorang, yang semua itu bertujuan untuk menarik perhatian kita, maka kita menjadi makin sukar untuk mendengarkan bunyi yang tersembunyi, bisikan, atau suara-suara di bawah permukaan.

Kehilangan kemampuan mendengar sangatlah berbahaya karena ‘mendengar’ adalah satu jalan bagi kita agar paham. Saat Anda mendengarkan dengan penuh kesadaran, maka di situlah pemahaman akan didapat. 

Di sisi lain, ketika kita mendengarkan tanpa kesadaran, maka yang terjadi adalah kesalahpahaman. Dunia yang kehilangan kemampuan mendengar adalah wilayah yang menakutkan karena di situlah lahan subur bagi konflik, protes, dan tindakan butral lainnya.

Menghadapi berbagai situasi di atas, apa yang dapat kita lakukan? Berikut ini lima langkah untuk kembali berlatih mendengar. 

Pertama, adalah diam…. Lakukan setidaknya tiga menit setiap hari karena ini sangat penting sebagai satu cara untuk me-reset telinga Anda sehingga bisa mendengar bunyi-bunyi yang begitu samar sekalipun.

Kedua adalah ‘mixer’. Saat Anda berada di tempat yang ramai, maka cobalah untuk memilah suara-suara yang ada. Mana suara sepeda motor, anak menangis, penjual bakso, gesekan langkah orang berjalan dan lainnya. Latihan ini sangat bagus untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas mendengar.

Ketiga adalah ‘savoring’, yaitu mendengarkan keindahan dari berbagai bunyi yang biasanya justru kita anggap mengganggu. Bisa bunyi mesin penggiling kopi, kulkas, atau mesin cuci.

Keempat, adalah posisi mendengar. Ini berhubungan dengan saringan dalam mendengar yang sudah dijelaskan di bagian awal. Bagaimana Anda mendengarkan dan kemudian bersikap pada bunyi-bunyi tertentu yang sesuai atau tidak sesuai dengan diri Anda.

Kelima adalah acronym RASA—Receive, Appreciate, Summarise, Ask. Receive adalah menerima informasi. Appreciate adalah memberikan penghargaan kepada lawan bicara, yakni bisa dengan bunyi, “oke”, “hmmm”, atau sekadar mengangguk-anggukkan kepala. Summarise adalah ketika kita mengulang berbagai poin penting dari lawan bicara, biasanya diawali dengan “Jadi…. “. Ask adalah mengajukan pertanyaan sekiranya ada hal-hal yang masih kurang jelas.

Seseorang perlu mendengar dengan penuh kesadaran agar terhubung dengan ruang dan waktu, dengan sekitar kita, dan kemudian agar saling memahami.

Ingat, Dalai Lama pernah berkata, “Saat berbicara, kita hanya mengulang-ulang apa yang sudah kita ketahui. Namun, saat mendengar, banyak hal baru yang bisa kita pelajari.”

Anda bisa mendengarkan perihal ‘mendengar’ ini dari ahlinya di video berikut ini:

Di antara dua pilihan sulit, mana yang harus dipilih?

6812149-stunning-train-track-wallpaper

Dalam hidup seringkali seseorang, institusi pemerintah, perusahaan, atau siapa saja dihadapkan pada dua pilihan yang begitu buruk dan hampir-hampir tak bisa memilih.

Sebuah kereta melaju dengan kecepatan tinggi dan hampir mendekati stasiun. Mendadak Masinis panik karena rupanya rem tidak berfungsi. Ada dua pilihan yang dimiliki: terus melanjutkan kereta tersebut sampai ke stasiun atau mengubah arah?

Di stasiun itu tentu saja banyak penumpang yang sedang menunggu kereta dan berisiko tertabrak kereta yang melaju tanpa rem itu. Pilihan lainnya adalah mengubah arah ke jalur darurat yang memang disediakan untuk kereta yang mengalami rem blong. Namun, pada jalur itu kebetulan di saat yang sama ada dua orang yang sedang memperbaiki rel.

Tentu pilihan ini bukan ada di Masinis sebab menetukan satu jalur adalah di tangan petugas yang bisa mengatur rel dan sekaligus kereta apakah ia berjalan lurus ke stasiun atau ke jalur penyelamatan darurat.

Bila Anda adalah petugas tersebut, apa yang akan Anda lakukan?

Manakah yang akan Anda selamatkan, ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang berada di stasiun atau dua orang yang sedang bekerja di jalur penyelamat?

Bila Anda memilih orang-orang di stasiun, kenapa Anda memilih mereka?

Bila Anda memilih dua orang tak bersalah yang sedang bekerja, kenapa Anda memilih mereka?

Apakah dua orang di jalur penyelamat itu mewakili minoritas dan banyak orang di stasiun itu mewakili mayoritas?

Kalau Anda memilih orang di stasiun berarti bukan persoalan untuk menyingkirkan mereka yang sedikit. Kalau Anda memilih dua orang di jalur penyelamat berarti Anda tak memerhatikan mereka yang sedikit.

Selamat malam dan selamat beraktivitas

Salam

Sumber gambar dari sini

Suatu malam di depan warnet

Beberapa malam yang lalu, pekerjaan saya adalah mendampingi istri untuk mencetak tugas dari kantornya di warnet. Situasi kafe internet yang tak bersahabat dan begitu ramai membuat saya hanya terkatung-katung menunggu di luar.

Dari luar, saya bisa dengan mudah melihat ke dalam. Di sana ada sekitar 32 komputer yang dijajar rapi. Pada tiap komputer, duduk seorang atau ada juga yang berdua. Mereka kebanyakan adalah remaja belasan, bahkan ada yang masih di bawah sepuluh tahun. Dari sekian banyak pengunjung, saya hanya melihat seorang bapak yang duduk tak nyaman.

Saya tak tahu apa saja kegiatan masing-masing orang di depan tiap monitor. Namun, semua terlihat serius dan kadang riuh, sesekali ada juga yang saling berteriak. Dugaan saya mereka ini sedang bermain game online.

Saat ini, aktivitas bermain dalam jaringan tersebut saya rasa mudah sekali ditemukan di warnet. Bahkan, barangkali adalah kegiatan utama yang dilakukan para pengunjung. Sebuah kegiatan yang sejujurnya menghalangi mereka yang memerlukan internet untuk keperluan lain.

Seperti halnya istri yang ingin sekadar mencetak tugasnya harus menghampiri penjaga dan meminta bantuan untuk print. Dahulu, kondisi tersebut cukup diatasi dengan memakai salah satu komputer dan print sendiri. Kondisi yang saat ini tak mungkin lagi dilakukan karena semua komputer sudah diakuisisi oleh remaja-remaja tanggung untuk bermain game.

Pernah juga saya melihat serombongan remaja putri yang kebingungan karena ingin mencari bahan untuk tugas sekolahnya di internet, namun tak mendapatkan komputer setelah mereka masuk ke sebuah warnet. Serombongan yang lain kebingungan karena harus antri lama untuk mencetak lima lembar pekerjaan rumah.

Saya kira, hal ini bisa menjadi peluang bagi Anda yang ingin berbisnis. Buatlah sebuah warnet yang tak memberi izin kepada pengunjung untuk bermain game online. Warnet tersebut hanya membuka akses untuk game online pada waktu-waktu tertentu saja. Di luar itu, warnet diperuntukkan bagi mereka yang ingin berselancar normal di internet, mengerjakan tugas, mencari bahan, belajar, mencetak dan lainnya kecuali game online.

Hal lain yang saya saksikan sepanjang beberapa waktu saya berdiri di depan warnet tersebut adalah adanya ibu-ibu yang kebingungan mencari anaknya. Wajah beliau tampak gusar, bahkan ada yang marah dan berteriak-teriak dari luar warnet menghardik putranya agar segera pulang.  Lain saat, ada pula yang was-was karena sudah beberapa kali memasuki warnet langganan putranya namun tak juga menemukan sosok yang dicari.

Apakah perlu ada sebuah peraturan yang mengatur warnet untuk membuka atau tidak membuka akses ke game online pada waktu tertentu? Misalnya saja manakala waktunya anak-anak seharusnya belajar, maka warnet tersebut harus menutup semua akses ke game online.

Saya kurang suka dengan tambahan peraturan sebenarnya, namun kasihan juga melihat orang tua yang kebingungan mencari anaknya di depan warnet.

Menikmati Menunggu

sendiri menungguBerikut ini adalah kutipan dari buku ‘Canting’ karya Arswendo Atmowiloto. Kutipan tersebut khusus tentang arti menunggu bagi Bu Bei. Simaklah kutipan tersebut dengan baik.

Menunggu dalam sikap Bu Bei, bukanlah sesuatu yang berat dan mengimpit. Bukan sesuatu yang harus diisi dengan menggerutu seperti pada generasi Wahyu, putranya. Menunggu adalah bagian yang penting dalam sikapnya. Menunggu sama pentingnya dengan perubahan itu nantinya. Perut dalam kandungan menunggu untuk lahir. Manusia hidup menunggu untuk mati. Kehidupan justru terasakan dalam menunggu. Makin bisa menikmati cara menunggu, makin tenang dalam hati. (80)

Menunggu adalah pasrah. Menunggu adalah Continue reading “Menikmati Menunggu”

Tukang Roti atau Gembala

“Aku raja Salem,” kata orang tua itu tadi.

“Mengapa raja mau berbicara dengan anak gembala?” Tanya si anak dengan takjub bercampur malu.

“Karena beberapa alasan. Tapi anggap saja yang paling penting karena kau telah berhasil menemukan takdirmu.”

Anak itu tidak mengerti, apa yang dimaksud dengan “takdir” seseorang. Continue reading “Tukang Roti atau Gembala”

Hidup Orang Lain

Kalau kita bergaul dengan orang-orang yang sama setiap hari, seperti yang dialami oleh Santiago sewaktu di seminar, pada akhirnya kita menjadi bagian dari hidup orang itu. Lalu kita ingin orang itu berubah. Kalau orang itu tidak seperti yang dikehendaki orang lain, maka orang-orang lain ini menjadi marah.

Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu, begaimana orang lain seharusnya menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri. Continue reading “Hidup Orang Lain”

Keinginan Marcia Preston

Marcia Preston sedang asyik menulis saat cucunya, Jessica, yang berumur tiga tahun mengganggunya. Menulis adalah pekerjaan Marcia. Ia bisa berada di ruang kerjanya dan tak mengizinkan siapa pun datang mengganggu.

Namun, khusus untuk Jessica ia tak bisa menolak kehadiran malaikat kecil itu. Si mungil yang tinggal jauh darinya itu, memberikan kebahagiaan, merampasnya dari dunia ilusi yang dibangunnya perlahan-lahan. Ia tak menyesal karena itu.

Marcia paham, betapa hal-hal yang paling dicintai selalu meminta pengorbanan. Cokelat penuh dengan lemak dan kalori. Teknologi Continue reading “Keinginan Marcia Preston”