Hati, Buka Buku

Sahabatku pernah berkata, “Kehidupan seperti membuka halaman demi halaman sebuah buku.” Kita tidak akan pernah mengerti sebuah halaman sampai selesai membacanya. Apa kisah yang ada di dalamnya; cerita seperti apa yang mungkin tersaji, dari halaman-halaman itulah semua bisa didapatkan, dimengerti.

Aku merangkai kisahku sejak lama. Dalam tiap halaman bisa kamu temukan semua kisah itu, tetapi mungkin juga tidak. Barangkali saat itu, ketika kamu menemui sebuah gambaran yang buram, samar atau kusembunyikan. Di bukumu, aku pun menemukan beragam kisah yang sudah kau rangkai sejak lama. Tidak semua halaman dapat kumengerti, maka akan kutanyakan kepadamu apa makna gambar yang buram, tulisan yang centang perenang dan berpusaran. Tak semua juga akan kumengerti. Mungkin halaman-halaman itu kau sembunyikan; sobek dari kesatuan buku.

Aku tidak akan bertanya tentang rahasiamu bila itu memang menjadi rahasiamu. Pun aku tidak akan bercerita tentang rahasiaku bila kamu bertanya. Rahasia akan melindungi kita, sayang. Biarlah lembaran yang gelap itu tetap menjadi gelap. Masa lalu mungkin akan kita tilik di tengah-tengah hening ketika kita merinduinya untuk satu saat yang penat. Tak apa, bukan kesalahan bila kamu dan aku membuka lembaran yang telah lewat. Sekedar untuk mengenangkannya.

Seperti kata Gibran, “Dari masa lalu, dua buah cawan kita dapatkan. Sebuah cawan tentang kesedihan yang kita minum saat gembira agar kita tidak terlalu bergembira dan sebuah cawan kegembiraan yang kita minum saat kita sedih agar tidak terlalu bersedih.” Pun dengan membacai ulang semua kisah yang lewat, kita mungkin bisa belajar dari sana. Tidak terperosok pada lubang yang sama.

Tetapi baiklah, kita tidak akan berbicara tentang masa lalu. Saat ini kita juga sedang menulis cerita. Masa depan belum lagi ditulis. Halaman itu masih kosong, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada halaman-halaman itu. Sebuah kejutan macam apa yang akan menunggu di sana? Baiknya kita tunggu sampai halaman itu habis kita baca.

Mungkin kau masih ingat saat bersama kita membaca ‘Bumi Manusia’ di dalamnya ada sebuah pesan Jean Marais kepada Minke, kira-kira begini, “Cinta itu, Minke, terlalu indah untuk bisa didapatkan dalam hidup kita yang singkat ini.”

Aku tak mengerti berapa lama kita akan terus bernafas. Pada titik mana detak jantung ini akan istirahat tak jua ‘ku punya jawabnya. Karena itu, kuminta kau sudi menemaniku di sini sebentar, lebih singkat dari hidup yang sudah singkat itu. Maukah kamu?

“Untuk apa aku di situ menemanimu?”

Merangkai kisah kita. Begitu aku akan menjawabnya. Benar memang aku sudah memiliki buku yang tak juga akan habis bila kutuliskan semua ceritaku. Pun kisahmu barangkali akan memenuhi bukumu yang tiap hari akan terus kau tulis. Pada titik ini sebenarnya aku bingung, untuk apa aku memintamu di sini menemaniku menuliskan kisah, toh aku sudah memiliki cerita juga kamu.

Tetapi, Ra, dalam lembaran-lembaran yang kutulis banyak tanya. Sebentuk harap: tentang hati yang merindu. Menanti jawaban*. Aku tak mengerti bagaimana rupa bukumu. Sudahkah lengkap semua tanda baca kau pakai; apakah kau juga punya tanda tanya? Sebentuk mimpi: tentang hari yang indah berpelangi.

Bila menjadi kisah kita, maka tidak bisa aku menuliskannya sendiri, Ara. Kubutuhkan kamu untuk melengkapinya, menjadi aku dan kamu, kita.

“Bi, bila aku sudah di situ membuat cerita denganmu dan menjadi kisah kita. Apakah kemudian kamu tidak akan bertanya-tanya lagi? Benarkah kamu akan menemui semua jawab? Apakah mungkin juga ‘kan kutemui hari berpelangi?”

Tidak, Ra. Sebentuk tanya, berbentuk tanya bahkan masih akan menggodaku. Entahlah, tanda baca itu begitu memesonaku. Pun tak bisa kujanjikan hari berpelangi, semacam tak bisa kuramalkan esok hari hujan akan datang gerimis atau lebat.

Namun denganmu di sini; dekat-lekat. Aku tahu, Ra, bahwa harapan masih ada. Sebuah hati yang tidak lagi merindu. Meski mungkin aku kangen utamanya bila kau jauh.

Saat kau di sini; dekat-lekat. Hujan gerimis; tik-taknya di genting akan menjadi melodi. Sekali saat boleh juga kita bermain hujan; berpelukan saat riciknya membasahi tubuh kita; hati kita. Bila lebat, maka di balik jendela yang mengembun kamu dapat menggoresnya dengan jemarimu dan menggambarkan sebuah tanda hati. Saat itu, biarkan aku memelukmu dari belakang; membauimu, menghangatimu. Tak lupa, bila sekali tempo kita beruntung dan pelangi terlihat selepas hujan kita akan memandangnya.

Selayaknya hujan, Ara, barangkali ada kilat menyambar membiarkan terang meraja begitu singkat. Pula guruh yang menggelegar menyiutkan nyalimu. Aku pun takut bila saat itu tiba, seperti sebuah kenyataan yang dirampas tiba-tiba. Terkenang saat aku kecil sepulang sekolah berhujan-hujanan dan guruh datang. Aku berjongkok di bawah lindungan daun pisang yang tak kuasa menahan titik hujan. Aku takut, nyaliku pun menciut sama denganmu. Barangkali itulah detik di mana kebahagiaan kita terampas, bukankah dapat kita rebut kembali? Tentu… tentu bila kamu bersedia bersamaku memintanya.

Akhirnya, Ra, aku membutuhkanmu dalam hari yang cerah untuk mengisi jiwa yang sepi*. Tatkala berpelangi untuk menggoreskan warnanya sendiri di hati. Saat gerimis untuk menggetarkan nada nadi di dalam dada ini. Pasti juga ketika hujan lebat, di mana kilat dan guntur menyambar; menggemuruh, sekedar berpegangan tangan, menguatkan nyali.

Di sini memang kugunakan Ara. Tetapi bila satu ketika ada yang memanggilmu aunty atau bibi, maka menengoklah, Ra, mereka adalah sahabatku. Dan aku, akan memilih Chinta atau Chien. Entah kenapa.

*) sebuah lagu Padi

**) sebuah lagu Peterpan.

asal gambar

Bahagia, Hati dan Bimbang

Telah sampai waktuku. Aku harus memilih, meneruskan perjalanan ini atau berhenti. Terus berarti semakin banyak tantangan yang mungkin akan kuhadapi. Bermakna halangan yang menunggu untuk kulewati. Berhenti berarti aman; menjalani hari dengan sabar, mengendapkan bosan.

Mungkin aku akan memilih untuk terus, meski sebenarnya aku telah lelah dan capek. Sisa-sisa yang kini menjadi bahan bakarku. Seperti mesin yang mendekati rusak, suaranya sudah aneh, keluar asap yang mengepul bergulung-gulung.

Pilihan apa yang kutemui bila aku tinggal? Sebuah hari yang itu-itu juga. Detik demi detik yang sama. Aku khawatir nantinya ‘kan bosan. Apa menariknya dari tinggal dan berhenti? Otakku akan tumpul; tubuhku menggendut, kakiku melumpuh, otot-ototku mengerut.

Ah, tidak-tidak… Aku sampai pada simpang jalan. Tetapi tetap harus memilih, berjalan terus ataukah tinggal. Ya, dan kamu, Ra, adalah alasanku untuk kedua jalan yang membentang itu.

Aku memerlukan alasan kali ini, sekedar pembenaran atau apalah namanya yang akan mendasari pilihanku. Aneh, biasanya aku tidak pernah berpikir untuk berhenti, untuk tinggal. Aku mengejar matahari, hari demi hari. Tidak pernah menemuinya meski barang sekejap. Itu kan mimpiku, menjadi matahari, menerangi. Tetapi aku lelah dan sekaligus bersemangat di saat yang sama.

Aku bersemangat dan lelah, lelah dan bersemangat. Apa sih maksudku ini. Ra, punyakah kamu jawabannya?

***

“Ra, kupeluk, ya?”

Ah, bodoh! Untuk apa segala pranata? Biasanya juga langsung mendekap, erat. Tetapi, sekali-kali boleh, kan? Hihihi, dan aku suka reaksimu. Kamu melihatku aneh, seakan-akan baru saja bertemu dengan orang baru. Tetapi kamu selalu maklum dengan semua itu. Tersenyum, dan kemudian mengangguk pelan, begitu pelan.

“Ra, aku lelah.”

Kamu bereaksi mendengar kata-kataku itu. Mengendur sedikit lenganmu yang melingkari leherku. Kamu memindahkannya ke belakang kepalaku, mengacak rambutku; gemas. Aku geli.

“Lelah memelukku, Bi.”

Ya… aku lelah memelukmu, mengendapkan semua debar yang menggemuruh di rongga dadaku. Kamu bahkan pernah bilang, seperti gempa di punggungmu saat aku memelukmu dari belakang, entah kapan itu.

Kenapa, ya, Ra? Meski jantungku berdegup demikian cepat namun aku nyaman saat memelukmu. Tak ingin aku melepasnya. Inilah barangkali berhenti itu, Ra. Menikmati detik demi detik berjalan yang begitu khusus. Aku jadi lupa kalau semestinya aku terus berjalan. Apakah ini pilihanku?

Na… na… na… aku bernyanyi saja apa, ya? Untuk apa? Ahh, dungu!

***

Merenda hari bersamamu, apa yang akan kita lakukan? Bagaimana bila nanti kita bosan, eh, sebenarnya nanti aku yang akan bosan. Memelukmu, mencumbuimu? Kalau itu semua sudah dilakukan, lalu apa? Memelukmu lagi, mencumbuimu lagi? Hmm, sepertinya menyenangkan, hahaha.

Apa alasanku bahagia? Bila sudah tidak bosan, bila selalu merasa nyaman, atau apa? Semestinya, bukankah kebahagiaanmu adalah alasan kebahagiaanku?

Melihatmu tertawa, membahagiakanmu, bisakah? Bilakah? Senyatanya bukankah aku yang menuntut kebahagiaanku? Meski kadang dengan cara yang aneh.

Aku bahagia dulu saat melihat senyumnya, mendengar suaranya, keseluruhan gerak langkah dan lagunya. Aku juga pernah bahagia saat aku bisa mengungkapkan rasaku meski tidak berbalas, tapi aku sudah berani mengungkapkannya. Satu ketika aku meninggalkannya, menurutku itu langkah yang paling tepat untuknya. Itu semua bukan kamu, Ra. Bagian dari masa laluku, tetapi apakah “nya” ini bahagia? Aku tak pernah tahu, sepertinya ada yang bahagia ada yang tidak. Tetapi aku puas, bahagia dengan itu semua.

Semua pelabuhan itu pernah kusinggahi meski sebentar. Meninggalkannya atau ditinggalkannya. Dan kini aku melihatmu di sana, menungguku atau beranjak pergi?

Kamu menunggu aku berkata, tapi suara itu tak kunjung keluar dari bibirku. Kamu dan aku bimbang. Ini bukan masalah kata-kata. Apa setelah itu kukira yang menjadi masalahnya. Apa aku terlalu takut?

Menata hati-menata hati. Hatiku dan mu. Menentukan simpang mana akan dipilih. Menentukan apakah akan tinggal atau berjalan. Terombang-ambing kini lalu dan nanti. Menata hati-menata hati. Sampai kapan?

Bagaimana kalau kita coba saja? Setujukah kamu, Ra? Tetapi… selalu ada tetapi.

asal gambar

Hati, Pelabuhan Pencari

Kemarin kamu bertanya tentang hatiku, Bi. Kamu bilang “Bolehkah aku pulang ke hatimu, Ra?” Aku masih ingat betul pertanyaanmu itu. Kini, aku dirundung bimbang.

Apakah hatiku cukup untukmu, Bi? Apakah kamu tidak akan bosan dengan hatiku?

Sudah lama, Bi. Lama sekali hatiku ini membuka diri untukmu. Sebagai wanita tentu ada batas di mana aku tidak mungkin melanggarnya. Budaya kita tidak mengijinkanku untuk meminangmu. Aku tak punya kuasa untuk sekedar memilih; mengungkapkan rasaku padamu.

Aku telah kebal dengan semua sakit. Merindumu tanpa tahu bagaimana mengungkapkannya, Bi. Kerinduan ini menyenangkan, tetapi juga menyedihkan di saat yang sama. Aku mengeja malam-malamku sendiri, di sini tanpamu.

Kangen; salahkah, Bi, bila aku kangen padamu? Sekadar sms akan kukirimkan, “Sedang apa, Bi?” Hanya itu yang bisa kuketikkan. Aku bahkan berharap pun tidak agar kau tahu tentang kerinduan ini. Aku senang bila kamu membalas, “Lagi ngumpul, Ra, bareng anak-anak.” Ahh, lagi-lagi anak-anak.

Kurasa kamu memang kekanakan. Bermain-main bersama temanmu, selalu itu yang kamu lakukan. Tetapi aku mengerti, Bi. Kamu pembosan, sangat pembosan. Bersama mereka kamu menemukan duniamu sendiri. Tetapi, bagaimana denganku, Bi, bila duniaku adalah kamu?

Huff… duniaku? Yang benar saja. Tidakkah aku terlalu berlebihan? Tetapi, Bi, aku senang saat kamu datang satu malam. Sekedar mampir di tengah hujan. Kamu bilang akan ngumpul bareng anak-anak tetapi hujan dan kebetulan melintasi rumahku.

Aku merasa beranda menjadi lengkap, Bi. Kamu tidak lama di sana menunggu hujan. Tetapi bila kamu tahu, aku masih di sana selepas kamu pamit. Di beranda, lebih lama lagi menikmati setiap bau tanah yang bercampur-campur dengan aromamu.

Bercampur; rasaku bercampur, kamu tentu tidak tahu itu semua. Aku senang ketika kamu hendak memelukku saat itu, Bi. Iseng kamu berkata, “Brrr, dingin… bolehkah aku memelukmu, Ra?”

Entah dari mana kegilaan itu bermula. Aku luruh di pelukanmu; menghangati tubuhmu. Tetapi tahukah, aku berdebar lebih cepat, Bi. Kebat-kebit antara panas dan dingin berganti-ganti yang kurasakan.

Perlahan sekali rasa itu menghambur di tengah-tengah kita. Mungkin lebih tepat di tengah hatiku. Aku merasa tenang; damai dan nyaman dalam pelukanmu. Semenjak saat itu, aku selalu memintamu memelukku. Tatkala dingin cuaca yang sebenarnya karena dinginnya hatiku.

Sampai sekarang aku masih tidak mengerti, Bi. Yah, aku tahu bahwa kamu selalu mudah bosan. Tetapi, itu tidak terjadi ketika kamu memelukku. Kenapa hal seperti itu bisa terjadi, Bi? Aku ingin tahu alasannya, berharap tahu meski tidak pernah menjadi tahu. Aku terlalu malu untuk menanyakannya. Di sisi lain, aku tidak ingin mengganggumu. Bahkan aku takut mengganggumu.

Kamu sedikit lain saat memelukku; berbeda. Semoga aku tidak terlalu percaya diri. Tetapi benarkah apa yang kurasa ini? Aku merasa kamu begitu rapuh meski kekar lenganmu melingkari erat pingganggku. Sendu, kulihat begitu dari pancaran wajahmu. Sejuta sayang yang tertahan di sana kutemukan. Rasa yang tertahan; diendapkan seperti menemu muara. Aku ingin menampungnya; menerimanya dengan sepenuh hati, tentu di samudera hatiku.

Apakah hatiku cukup untukmu, Bi? Apakah kamu tidak akan bosan dengan hatiku?

Semenjak lama kamu adalah pencari. Entah apa yang dicari. Kamu akrab dengan gemintang yang menunjukimu jalan yang seolah-olah harus kamu tempuh. Melayari samudera hati ke hati, begitu banyak hati. Terkadang kamu singgah di salah satu pelabuhan tetapi jarang lama tinggal. Entah apa yang dicari, meski sejak lama aku tahu kamu adalah pencari.

Aku khawatir sebuah hati takkan cukup untukmu. Aku takut sebuah hati akan lebih membuatmu bosan dari yang sudah-sudah. Aku tidak ingin mengekangmu; membelenggumu dengan dingin dan kosong di hatiku.

Tetapi, dingin itu, Bi, dingin itu. Mungkinkah kamu akan bisa menghangatkannya? Kekosongan itu, Bi, kekosongan itu. Mungkinkah kamu akan bisa mengisinya?

Mungkin dengan menghangatkannya; mengisinya kamu tidak akan bosan nantinya. Kamu bisa memeluknya dengan segala rapuh dan sendu. Kamu bisa menyentuh sudut-sudut yang kosong; belum terisi dengan hadirmu di sana. Apakah aku terlalu berharap?

Bolehkah juga aku berharap menemanimu mencari? Aku tidak akan membelenggumu dengan lagunaku yang tenang. Di mana ikan berenang tenang dan jelas terlihat kerang. Aku ingin mendampingimu berlayar; mencari. Biarlah aku basah dalam keringat di terik bersamamu. Ijinkan aku menikmati badai selama denganmu.

Bi, andai kamu tahu. Ketakutanku akan hatiku yang sepertinya tidak akan pernah cukup untukmu. Kegelisahanku yang khawatir akan membuatmu bosan dengan hatiku. Jadi, apakah aku harus menjawab, “Ya” Atas pertanyaanmu, “Bolehkah aku pulang ke hatimu, Ra?”