Bahagia, Hati dan Bimbang

Telah sampai waktuku. Aku harus memilih, meneruskan perjalanan ini atau berhenti. Terus berarti semakin banyak tantangan yang mungkin akan kuhadapi. Bermakna halangan yang menunggu untuk kulewati. Berhenti berarti aman; menjalani hari dengan sabar, mengendapkan bosan.

Mungkin aku akan memilih untuk terus, meski sebenarnya aku telah lelah dan capek. Sisa-sisa yang kini menjadi bahan bakarku. Seperti mesin yang mendekati rusak, suaranya sudah aneh, keluar asap yang mengepul bergulung-gulung.

Pilihan apa yang kutemui bila aku tinggal? Sebuah hari yang itu-itu juga. Detik demi detik yang sama. Aku khawatir nantinya ‘kan bosan. Apa menariknya dari tinggal dan berhenti? Otakku akan tumpul; tubuhku menggendut, kakiku melumpuh, otot-ototku mengerut.

Ah, tidak-tidak… Aku sampai pada simpang jalan. Tetapi tetap harus memilih, berjalan terus ataukah tinggal. Ya, dan kamu, Ra, adalah alasanku untuk kedua jalan yang membentang itu.

Aku memerlukan alasan kali ini, sekedar pembenaran atau apalah namanya yang akan mendasari pilihanku. Aneh, biasanya aku tidak pernah berpikir untuk berhenti, untuk tinggal. Aku mengejar matahari, hari demi hari. Tidak pernah menemuinya meski barang sekejap. Itu kan mimpiku, menjadi matahari, menerangi. Tetapi aku lelah dan sekaligus bersemangat di saat yang sama.

Aku bersemangat dan lelah, lelah dan bersemangat. Apa sih maksudku ini. Ra, punyakah kamu jawabannya?

***

“Ra, kupeluk, ya?”

Ah, bodoh! Untuk apa segala pranata? Biasanya juga langsung mendekap, erat. Tetapi, sekali-kali boleh, kan? Hihihi, dan aku suka reaksimu. Kamu melihatku aneh, seakan-akan baru saja bertemu dengan orang baru. Tetapi kamu selalu maklum dengan semua itu. Tersenyum, dan kemudian mengangguk pelan, begitu pelan.

“Ra, aku lelah.”

Kamu bereaksi mendengar kata-kataku itu. Mengendur sedikit lenganmu yang melingkari leherku. Kamu memindahkannya ke belakang kepalaku, mengacak rambutku; gemas. Aku geli.

“Lelah memelukku, Bi.”

Ya… aku lelah memelukmu, mengendapkan semua debar yang menggemuruh di rongga dadaku. Kamu bahkan pernah bilang, seperti gempa di punggungmu saat aku memelukmu dari belakang, entah kapan itu.

Kenapa, ya, Ra? Meski jantungku berdegup demikian cepat namun aku nyaman saat memelukmu. Tak ingin aku melepasnya. Inilah barangkali berhenti itu, Ra. Menikmati detik demi detik berjalan yang begitu khusus. Aku jadi lupa kalau semestinya aku terus berjalan. Apakah ini pilihanku?

Na… na… na… aku bernyanyi saja apa, ya? Untuk apa? Ahh, dungu!

***

Merenda hari bersamamu, apa yang akan kita lakukan? Bagaimana bila nanti kita bosan, eh, sebenarnya nanti aku yang akan bosan. Memelukmu, mencumbuimu? Kalau itu semua sudah dilakukan, lalu apa? Memelukmu lagi, mencumbuimu lagi? Hmm, sepertinya menyenangkan, hahaha.

Apa alasanku bahagia? Bila sudah tidak bosan, bila selalu merasa nyaman, atau apa? Semestinya, bukankah kebahagiaanmu adalah alasan kebahagiaanku?

Melihatmu tertawa, membahagiakanmu, bisakah? Bilakah? Senyatanya bukankah aku yang menuntut kebahagiaanku? Meski kadang dengan cara yang aneh.

Aku bahagia dulu saat melihat senyumnya, mendengar suaranya, keseluruhan gerak langkah dan lagunya. Aku juga pernah bahagia saat aku bisa mengungkapkan rasaku meski tidak berbalas, tapi aku sudah berani mengungkapkannya. Satu ketika aku meninggalkannya, menurutku itu langkah yang paling tepat untuknya. Itu semua bukan kamu, Ra. Bagian dari masa laluku, tetapi apakah “nya” ini bahagia? Aku tak pernah tahu, sepertinya ada yang bahagia ada yang tidak. Tetapi aku puas, bahagia dengan itu semua.

Semua pelabuhan itu pernah kusinggahi meski sebentar. Meninggalkannya atau ditinggalkannya. Dan kini aku melihatmu di sana, menungguku atau beranjak pergi?

Kamu menunggu aku berkata, tapi suara itu tak kunjung keluar dari bibirku. Kamu dan aku bimbang. Ini bukan masalah kata-kata. Apa setelah itu kukira yang menjadi masalahnya. Apa aku terlalu takut?

Menata hati-menata hati. Hatiku dan mu. Menentukan simpang mana akan dipilih. Menentukan apakah akan tinggal atau berjalan. Terombang-ambing kini lalu dan nanti. Menata hati-menata hati. Sampai kapan?

Bagaimana kalau kita coba saja? Setujukah kamu, Ra? Tetapi… selalu ada tetapi.

asal gambar