Tag Archives: hati

Mengapa Aku Menulis

Terry McMillan tak pernah ingin menjadi seorang penulis.

Mula-mula ia bekerja di perpustakaan sebagai pengatur buku. Di sinilah awal mula petualangannya, bersama buku-buku dan penulis terkenal ia mulai menjelajahi negeri-negeri dongeng.

Sampai kemudian ia kuliah, pada masa ini bacaannya menjadi agak luas, dan ia pun jatuh cinta pada seorang pemuda. Namun, pemuda itu telah mematahkan sebagian besar hatinya. Ia koma. Ia tak bisa bergerak, namun manakala kesadaran menghantam otaknya, ia tahu apa yang harus dilakukan.

Diambilnya bolpoin dan kertas catatan, mulai ditulisnya satu, dua, tiga, sepuluh kata sekaligus. Ia tak menyadari apa yang dilakukannya sendiri, namun tiba-tiba sudah empat halaman didapatkannya. Itulah awalnya.

Bagi Terry, menulis telah menolongnya. Menulis telah menjadi caranya menanggapi dan menghadapi hal-hal yang baginya terlalu mengganggu, menekan atau menyakitkan untuk ditangani dengan cara lain. Cara ini (menulis) aman.

Lebih lanjut, Terry menambahkan, “Menulis adalah tempat perlindunganku. Aku tidak bersembunyi di balik kata-katanya; aku menggunakan kata-kata itu untuk menggali dalam hatiku untuk menemukan kebenaran. Selain itu, menulis tampaknya merupakan satu-satunya cara agar aku bisa benar-benar mengendalikan sebuah situasi atau setidaknya mencoba memahaminya. Kurasa aku bisa mengatakan, sejujurnya, bahwa menulis juga menawariku semacam kesabaran yang tidak kumiliki dalam kehidupan sehari-hariku. Menulis membuatku berhenti. Menulis membuatku mencatat. Menulis memberiku semacam perlindungan yang tidak bisa kuperoleh dalam kehidupanku yang tergesa-gesa dan penuh dan penuh dengan kegiatan.”

Menulis rupa-rupanya juga mematangkan Terry, karena kegiatan ini telah memaksanya untuk menghadapi dan memahami kekurangan, kelemahan dan kekuatannya. Manakala ia menulis tentang sosok yang tak disukainya, pada saat itu ia belajar, bahwa menulis membuatnya tidak mudah menghakimi. Ia biasanya menulis tentang orang yang tak disukai itu, yang melakukan hal-hal yang tak pernah ingin dilakukannya, karena itu, maka ia ingin menghapus caranya berpikir dan bersikap yang semacam itu. Proses ini baginya terasa menggairahkan, membebaskan, sebuah pengalaman yang benar-benar membuka mata dan pada saat yang sama terasa menyakitkan.

Sebagai penutup, kutipan dari Terry berikut ini saya kira layak untuk dicermati, “Kata-kata telah memberiku rasa memiliki dan rasa aman. Menulis adalah satu-satunya tempat aku bisa menjadi diriku sendiri dan tidak merasa dihakimi. Dan aku senang berada di sana.

Dirangkum dari, Chicken Soup for the Writer’s Soul, Halaman 1-5.

Ibu dan Bapak

Ibu

Tiba-tiba terdengar suara, “Ibumu mana?” Dari seorang wanita. Adegan berlanjut dengan sosok pria tak sabar yang membuka pintu. Setelah terbuka, terpampanglah pemandangan sebuah kamar.

Di dalam kamar itu, muncullah sosok lain. Si Ibu. Ia sudah sepuh, berjalan pun tertatih dan serba lambat saat mengenakan bajunya.

Pria itu lantas seperti mengurungkan niatnya. Tampak betul perubahan sikapnya: dari semula tergesa menjadi lebih sabar, menyandarkan tubuhnya ke dinding.

“Jadi ikut ga, sih, Ibumu?” Continue reading