Wanita dalam Spartacus: Mira

Spartacus_Mira

House of Batiatus akan kedatangan tamu agung, teman dari Lucretia yang bernama Licinia. Ia adalah keponakan dari Crassus, seorang jenderal perang di Roma. Kehadiran Licinia ini tentu saja disambut hangat. Ini berarti Ludus Batiatus akan semakin meningkat lagi posisinya dengan dukungan bangsawan-bangsawan terpandang Roma.

Licinia hadir, karena ia tertarik pada cerita yang santer beredar, bahwa House of Batiatus menawarkan berbagai kesenangan. Salah satu kesenangan tersebut adalah bisa bercinta dengan para jawara, para gladiator. Hmm….

Licinia pun segera memilih juara di antara para juara, dialah Spartacus.

Namun, keraguan diam-diam membuat khawatir Batiatus. Pasalnya, sudah lama Spartacus tak pernah bersama wanita. Batiatus pun kemudian memerintahkan istrinya, Lucretia untuk memberikan pemanasan pada Spartacus.

Mira, salah seorang budak di House of Batiatus yang jelita pun kemudian terpilih. Dikirim oleh Lucretia ke pondokan Spartacus dengan satu tugas: memuaskan sang gladiator.

Malam itu, Spartacus baru saja memenangkan sebuah pertarungan lagi di arena. Dia lelah dan masuk ke pondokannya. Serta-merta dia terkejut karena satu sosok tubuh telanjang telah tergolek di ranjangnya.

Spartacus_and_Mira

“Aku hadiah untukmu dari Domina.” Kata Mira, setelah Spartacus menanyakan siapa dirinya.

Alih-alih Spartacus tertarik pada Mira, dia justru tak menyentuh sedikit pun hadiahnya itu. Dilempar gaun Mira dan diberikan selimut untuk tidur di lantai, hahaha.

Mira kemudian selalu dikirimkan secara rutin oleh Domina ke pondokan Spartacus sebagai hadiah. Kendati keduanya tahu, Spartacus tak akan berpaling dari istrinya tercinta, Sura. Hati Spartacus seolah tertutup, bahkan oleh pesona yang ditawarkan oleh Mira.

Satu ketika, Spartacus terluka. Namun, di sampingnya tergolek musuh yang harus dibunuh. Musuh ini secara kebetulan adalah orang kepercayaan Batiatus. Di sana ada pula Mira yang merawat Spartacus dengan penuh kesabaran.

Diminta Mira untuk menjaga pintu dan memberi isyarat kalau ada seseorang yang datang. Bersamaan dengan itu, Spartacus membekap musuhnya sampai mati.

Bantuan dan rahasia yang disimpan oleh Mira ini kemudian sedikit demi sedikit memecah batu es, hati Spartacus. Dia mulai terbuka dan bersedia bercerita.

Mira kemudian terbukti sebagai pendukung Spartacus yang setia. Dia mengikuti ke mana pun Spartacus pergi dalam pemberontakan melawan Batiatus dan Roma. Lebih lagi, Mira kemudian berlatih memanah, sehingga kini ia pun menjadi prajurit yang gagah berani.

Spartacus_Mira_Arrow

Hubungan keduanya pun semakin dekat, tapi tak pernah lebih dari sekadar syahwat. Bagi Spartacus, Mira memberikan kenyamanan yang tak pernah lagi didapat. Bagi Mira, Spartacus adalah jantung hatinya, meski tak bisa juga didapat.

Satu ketika, Gannicus, sahabat Spartacus berhasil menawan Ilithya. Ia adalah istri dari Legatus Glaber, musuh bebuyutan Spartacus. Ilithya kemudian ditawan di pondok yang dikuasai oleh Spartacus.

Mira kemudian melihat ada keengganan di diri Spartacus untuk menghabisi nyawa Ilithya. Ini benar-benar membuatnya gusar. Atas inisiatifnya sendiri, kemudian ia pun berniat untuk membunuh Ilithya. Tindakan yang akhirnya dapat dicegah oleh Spartacus, namun menjadi awal renggangnya hubungan mereka berdua.

Mira kemudian hanya menjadi kawan seperjuangan bagi Spartacus. Tak pernah lagi keduanya berbagi ‘kenyamanan’. Lebih lagi, waktu itu Spartacus sedang sibuk menyiapkan kawan-kawannya para budak dan gladiator untuk melawan Glaber.

Satu strategi yang keliru telah memaksa rombongan pemberontak yang dipimpin oleh Spartacus hampir kalah. Beruntung, mereka memiliki jalur rahasia untuk melarikan diri. Di sisi lain, Gunung Vesuvius di kejauhan memberikan janji perlindungan.

Rombongan pemberontak ini pun kemudian naik ke gunung. Hanya tandus dan minim air yang kemudian mereka hadapi.

Putus asa kemudian mulai merongrong diam-diam dalam dada para pendukung Spartacus ini. Perpecahan tak dapat dihindari, antara kubu yang ngotot ingin melawan tentara Roma, yang berarti bunuh diri. Serta kubu lain, kubu Spartacus yang sedang mengatur dan merancang strategi perlawanan.

Satu kelompok yang tak sabar itu kemudian gagah berani sekaligus ceroboh turun gunung. Di bawah sana, pasukan Roma sudah siap menanti dengan segala kekuatannya. Tentu saja, sekelompok kecil ini sangat mudah dikalahkan.

Saat kondisi kelompok kecil yang membelot Spartacus itu hampir dikalahkan. Datanglah Spartacus, Gannicus, Crixus, dan kawan-kawannya membantu. Di dalam kelompok Spartacus ini, ada pula Mira.

Dia sebenarnya berdiri di belakang dengan bersenjatakan panah menyerang tentara Roma dari jarak yang jauh. Sayangnya, satu kapak yang diarahkan ke Spartacus berhasil dihindari dengan lincah, tapi justru kena dada Mira.

Dengan panik, seluruh pemberontak pun kembali naik ke atas gunung dengan Mira yang terluka digendong Spartacus.

Ah, rupanya luka yang diderita begitu parah. Nyawa Mira tak bisa diselamatkan. Dia meninggal dalam pelukan lengan kokoh Spartacus. Lengan yang memberinya kehangatan. Kepala Mira terkulai di dada Spartacus dekat dengan hati pria itu. Hati yang selamanya tak akan pernah dimiliki oleh Mira.

Mira hidup sebagai kawan Spartacus. Memberi sang juara kenyamanan. Mengharapkan hati sang gladiator. Namun, hanya kehampaan yang didapati.

Sumber

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3 

Hati yang Patah

bluebird_alone_in_the_rain

Bagaimanakah hati yang patah, bisa kembali utuh saat ia telah hancur?
Tolong, ajarkan hati itu agar bisa berdetak lagi….

Wanita itu datang menjelang malam ketika hujan. Mukanya tampak lelah dan bajunya sudah lusuh. Sepertinya dia baru saja
menempuh perjalanan yang jauh.

Tak yakin, diedarkan pandangannya berkeliling. Agak lama dia menatap nomor rumahku. Dirogoh kantung depan celana jeans-nya yang mulai basah. Dikeluarkannya secarik kertas, dilihat sekilas, kemudian seulas senyum terkembang, begitu samar.

Langkah kakinya kemudian mengawali memasuki gerbang rumah. Kecipak air tercipta ketika ia menapak di taman berumput. Seperti tak sabar, ia mulai berlari dan menimbulkan debum saat mulai menaiki tangga ke beranda.

Seperti terganggu padahal sudah kuperhatikan dari tadi sosoknya aku pun membuka pintu. Tanpa menunggu dia mengetuk dulu.

Di sana dia sedang membungkuk, air menetes dari rambutnya yang panjang dan membasahi beranda. Mendengar derit pintu dibuka, dia terperanjat. Kami bersitatap, cukup lama. Kemudian matanya bergerak mencari sesuatu, bukan aku.

“Maaf, saya Alyss, apakah benar ini rumah Leandro?”
“Dulunya, sekarang bukan lagi.”
“Tapi… saya cuma punya alamat ini. Tahukah, Nona, di mana saya harus mencarinya?”
“Aku tak tahu. Kamu ini siapanya Leandro?”
“Ah, maaf, saya dulu kekasihnya.”

Pengakuan singkat itu membuatku terkesima. Seseorang dari masa lalu Leandro datang begitu tiba-tiba, membawaku pada kenanganku sendiri bersama lelaki itu. Rupanya, selama ini aku belum benar-benar mengenalnya.

“Nona… Nona….”

Panggilan Alyss membuyarkan kenanganku. Merenggutku kembali ke beranda bersama mantan kekasih Leandro.

“Ya?”
“Saya sudah begitu jauh ke sini, tak adalah sekadar info apa saja mengenai Leandro?”
“Terakhir kutemui dia adalah ketiga aku pindah ke sini. Mungkin kamu bisa googling namanya untuk tahu di mana dia sekarang.”

Dia melangkah pergi tanpa permisi. Sambil menunduk, tak sadar hujan yang terus turun membasahi.

==

Hari berganti, aku hampir lupa pada Alyss, sampai di suatu pagi yang berkabut, kutemukan ia sudah duduk di satu-satunya kursi yang ada di beranda. Itu kursiku, tempat biasa aku melewatkan pagi, menikmati secangkir teh hangat.

Dia tertidur, kuduga dia melewatkan malam panjang di perjalanan dan kemudian tidur di kursiku. Tak tega aku membangunkannya, kulihat wajahnya dan lelah itu masih ada di sana. Kulirik teh hangat yang sedianya kubuat untukku. Urung kuminum teh itu, kuletakkan di meja, kuikhlaskan untuknya.

Kemudian aku malah melepas sandalku dan bertelanjang kaki kususuri halaman berumput yang masih basah oleh embun sisa semalam. Dingin embun yang mengelusi kakiku menuntunku padamu, Leandro, yang sekarang sudah di pelukan Tuhan.

Aku bimbang, haruskah kuceritakan pada Alyss tentang kepergianmu yang takkan pernah kembali lagi? Aku tahu, di wajahnya yang lelah itu, tentu karena mencarimu dan tak kunjung bertemu.

“Nona….”

Sebuah suara lembut dan menenangkan memanggilku dari belakang. Tak jauh, Alyss sudah berdiri di sana menatapku, merasa bersalah.

“Saya mohon maaf karena sudah duduk di kursi itu dan datang begini pagi. Saya juga berterima kasih untuk secangkir teh hangat yang tersaji di meja.”

Aku diam saja, kuperhatikan rumput yang muncul di sesela jemari kakiku.

“Seperti yang Nona bilang tempo hari. Saya mencari Leandro di Google. Saya berhasil temukan dia. Ah… kenapa saya bodoh sekali, tak dari dulu melakukannya. Namun, di antara banyak temuan saya, salah satunya adalah ini.”

Ia mengangsurkan ponsel canggihnya ke arahku. Di sana, aku bisa melihat sebuah foto. Itu foto Leandro yang sedang merangkulku. Di foto itu, aku tersenyum, Leandro tersenyum, tapi saat kulihat Alyss, dia seperti ingin menangis.

“Kenapa Nona berbohong?”
“Sori, aku yang salah. Tapi sekarang sudah tak ada apa-apa lagi di antara kami. Kamu boleh memilikinya.”
“Tapi, di mana dia sekarang?”
“Aku tak tahu, itu bukan urusanku. Kamu boleh pergi.”
“Nona, izinkan saya menyampaikan sebuah pesan andai Nona bertemu dengannya. Katakan padanya, dia adalah hal terbaik yang pernah dianugerahkan untuk saya. Terima kasih.”

Seperti kemarin, kemudian ia langsung beranjak pergi tanpa permisi. Aku memakluminya sambil kuseka air mata. Sebenarnya aku pun bersyukur, ia tak melihat kita, Leandro, duduk berpangku-pangkuan di kursi beranda itu. Tentu akan patah hatinya. Aku harap, dalam pencariannya, ia bertemu seseorang yang akan mengajari hatinya agar bisa berdetak lagi dan kembali utuh setelah ia hancur.

==

Ini tanggal lima belas bulan ketiga. Hari di mana kamu, Leandro, pergi untuk selama-lamanya. Ini juga hari ketika hatiku patah. Hari ini, seperti juga tahun lalu, aku akan datang menziarahi makammu. Mengumpulkan remukan hati yang hancur, menyatukannya sambil berdoa untuk kebahagiaanmu di alam sana.

Sudah sore ketika kutiba di kompleks pemakamanmu. Kususuri jalan setapak yang teduh dan mencemaskan itu. Kematian, selalu membuatku jeri. Dan nisan, seperti kawan lama yang memanggil-manggil. Maka, kupercepat langkah, segera kutuju sudut di mana kamu dikebumikan.

Aku pangling dengan sudut yang tiap tahun kudatangi itu. Rupanya, sebuah makam baru ada di sana. Di atas tanah merah di makam baru itu, kembang-kembang belum lagi layu. Kulihat ada nisan di atas makam itu. Sebuah nama tertera di sana: Alyss.

==
Lagu Christina Perri – Bluebird yang menjadi inspirasi dari cerita ini.

How the hell does a broken heart
Get back together when it’s torn apart
Teach itself to start beating again

This little bluebird came looking for you
I said that I hadn’t seen you in quite some time
And this little bluebird she came looking again
I said we weren’t even friends
She could have you

Don’t you think it was hard
I didn’t even say that you died
But it wouldn’t have been such a lie
Cause then I started to cry

This little bluebird sure won’t give it a rest
She swears that you may be better than all the rest
I said no you’ve got it all wrong
If he was something special I wouldn’t have this song

And don’t you think it was hard
I didn’t even say that you died
But it wouldn’t have been such a lie
Cause then I started to cry

How the hell does a broken heart get back together when it’s torn apart
And teach itself to start beating again
What if when she she comes over I am in your arms
Taking all i want from you again

How the hell does a broken heart get back together when it’s torn apart
And teach itself to start beating again
How the hell does a broken heart get back together when it’s torn apart
Teach itself to start beating again
Beating again

This little bluebird won’t come round here anymore
So I went looking for her
And I found you

Sumber gambar dari sini

Blast from The Past

Blast from the past

Adam

Adam dibesarkan di sebuah bunker. Awal mulanya adalah isu perang nuklir yang akan terjadi di tahun 1962.

Guna melindungi keluarganya, Ayah Adam pun membangun sebuah bunker. Proyek pembangunannya dan keberadaan bunker itu pun dirahasiakan oleh Ayah Adam yang seorang ilmuwan. Kemudian pada saat isu perang nuklir memuncak, Ayah, Ibu, dan Adam pun masuk ke dalam bunker.

Di sana sudah dipersiapkan segala macam keperluan. Memang sebenarnya Ayah adam sudah berencana untuk tinggal di dalam bunker selama 35 tahun.

Ketiganya pun hidup bersama dalam bunker. Continue reading “Blast from The Past”

Mengapa Aku Menulis

Terry McMillan tak pernah ingin menjadi seorang penulis.

Mula-mula ia bekerja di perpustakaan sebagai pengatur buku. Di sinilah awal mula petualangannya, bersama buku-buku dan penulis terkenal ia mulai menjelajahi negeri-negeri dongeng.

Sampai kemudian ia kuliah, pada masa ini bacaannya menjadi agak luas, dan ia pun jatuh cinta pada seorang pemuda. Namun, pemuda itu telah mematahkan sebagian besar hatinya. Ia koma. Ia tak bisa bergerak, namun manakala kesadaran menghantam otaknya, ia tahu apa yang harus dilakukan.

Diambilnya bolpoin dan kertas catatan, mulai ditulisnya satu, dua, tiga, sepuluh kata sekaligus. Ia tak menyadari apa yang dilakukannya sendiri, namun tiba-tiba sudah empat halaman didapatkannya. Itulah awalnya.

Bagi Terry, menulis telah menolongnya. Menulis telah menjadi caranya menanggapi dan menghadapi hal-hal yang baginya terlalu mengganggu, menekan atau menyakitkan untuk ditangani dengan cara lain. Cara ini (menulis) aman.

Lebih lanjut, Terry menambahkan, “Menulis adalah tempat perlindunganku. Aku tidak bersembunyi di balik kata-katanya; aku menggunakan kata-kata itu untuk menggali dalam hatiku untuk menemukan kebenaran. Selain itu, menulis tampaknya merupakan satu-satunya cara agar aku bisa benar-benar mengendalikan sebuah situasi atau setidaknya mencoba memahaminya. Kurasa aku bisa mengatakan, sejujurnya, bahwa menulis juga menawariku semacam kesabaran yang tidak kumiliki dalam kehidupan sehari-hariku. Menulis membuatku berhenti. Menulis membuatku mencatat. Menulis memberiku semacam perlindungan yang tidak bisa kuperoleh dalam kehidupanku yang tergesa-gesa dan penuh dan penuh dengan kegiatan.”

Menulis rupa-rupanya juga mematangkan Terry, karena kegiatan ini telah memaksanya untuk menghadapi dan memahami kekurangan, kelemahan dan kekuatannya. Manakala ia menulis tentang sosok yang tak disukainya, pada saat itu ia belajar, bahwa menulis membuatnya tidak mudah menghakimi. Ia biasanya menulis tentang orang yang tak disukai itu, yang melakukan hal-hal yang tak pernah ingin dilakukannya, karena itu, maka ia ingin menghapus caranya berpikir dan bersikap yang semacam itu. Proses ini baginya terasa menggairahkan, membebaskan, sebuah pengalaman yang benar-benar membuka mata dan pada saat yang sama terasa menyakitkan.

Sebagai penutup, kutipan dari Terry berikut ini saya kira layak untuk dicermati, “Kata-kata telah memberiku rasa memiliki dan rasa aman. Menulis adalah satu-satunya tempat aku bisa menjadi diriku sendiri dan tidak merasa dihakimi. Dan aku senang berada di sana.

Dirangkum dari, Chicken Soup for the Writer’s Soul, Halaman 1-5.

Ibu dan Bapak

Ibu

Tiba-tiba terdengar suara, “Ibumu mana?” Dari seorang wanita. Adegan berlanjut dengan sosok pria tak sabar yang membuka pintu. Setelah terbuka, terpampanglah pemandangan sebuah kamar.

Di dalam kamar itu, muncullah sosok lain. Si Ibu. Ia sudah sepuh, berjalan pun tertatih dan serba lambat saat mengenakan bajunya.

Pria itu lantas seperti mengurungkan niatnya. Tampak betul perubahan sikapnya: dari semula tergesa menjadi lebih sabar, menyandarkan tubuhnya ke dinding.

“Jadi ikut ga, sih, Ibumu?” Continue reading “Ibu dan Bapak”

Hati Mesin

San Fransisco, 2018

Kota dikuasai mesin, dijaga ketat di semua sudut benteng. Mesin-mesin dengan ukuran yang besar dilengkapi senapan dan sensor yang tak pernah berhenti bergerak, berputar-putar di sumbunya mengawasi wilayah operasinya masing-masing.

T-600 nama mesin lain yang berjalan, bisa berkeliling dan sangat kejam mengawasi tawanan. Adapun tawanan itu adalah manusia yang nasibnya sudah seperti kambing saja, diangkut, digiring dan dimasukkan ke dalam kandang-kandang yang bernama sel. Saya kira tak ada padanan yang lebih pas selain seperti tempat penjagalan manusia. Mereka ditangkapi, dibawa dengan kendaraan khusus, diturunkan di tempat yang telah ditentukan, dikumpulkan untuk kemudian dipisah-pisahkan lagi masing-masing masuk ke dalam sel.

Kemudian apa muara dari itu semua? Kematian bagi umat manusia.

Ras manusia melawan ras mesin. Bersatupadu memberontak. Bagaimanapun seseorang yang tertindas akan menggeliat, melawan sebagai akibat kehendak bebas. Pada titimangsa ini, manusia tak lagi memedulikan perbedaaan di antara mereka. Tak lagi warna kulit, tak lagi agama, tak juga politik. Begitu indah ternyata bila persatuan dan persaudaraan bisa terjalin demikian kuat, menjadi timbul pertanyaan, apakah seluruh umat manusia baru bisa bersatu bila menghadapi musuh bersama?

Kendati demikian, masih ada juga yang berbeda. Motif kepentingan yang menjadi alasannya. Kepentingan untuk berkuasa, untuk berjasa dan dianggap sebagai pahlawan. Maka kemudian, muncullah pertentangan di antara manusia yang nampaknya menjadi hal yang lazim dan lumrah.

Pertentangan itu memuncak saat sebuah perintah penyerangan ke pusat kota mesin datang dari komandan yang berada di kapal selam. Padahal di kota itu, kota penjagalan manusia itu, ada ribuan manusia lain yang mesti diselamatkan.

Syukurlah karena masih ada manusia lain yang memiliki hati. Tidak gelap mata asal serang yang justru akan membinasakan manusia lainnya. Barangkali di sinilah perbedaan antara manusia dan mesin. Seperti juga ditegaskan di bagian akhir cerita. Adanya hati, perasaan yang dimiliki manusia. Sesuatu yang tak pernah bisa dimiliki oleh mesin bagaimanapun hebatnya. Program, sistem, chip, apapun yang bisa mewakili hati dan perasaan tak pernah bisa diciptakan untuk kemudian ditanamkan ke mesin-mesin itu.

Namun, kekhawatiran lambat laun mengemuka juga. Bagaimana bila manusia sudah tidak menajamkan rasanya? Pekerjaan, rutinitas, rasa-rasanya perlahan namun pasti telah mengubah sedikit demi sedikit menusia menjadi semacam robot. Kekuatan modal telah cukup untuk mengubah menusia menjadi sekadar alat-alat produksi tak ubahnya mesin, tak ubahnya robot. Saat jeda kian sulit ditemukan kapan saatnya. Ketika menghela nafas pun barangkali ada undang-undangnya. Manakala mengeluh saja harus menaati peraturan—padahal untuk mengeluhkan peraturan, misalnya. Maka bersiaplah, tak lama lagi nampaknya sebuah kota akan dikuasai oleh mesin.

Oiya, jangan lupa, sobat, sebelum itu terjadi nanti, maka bersiap-siaplah dengan sebuah nama berbau mesin untuk Anda sendiri. Sudah ketemu nama itu?

[adsenseyu1]

Curhat Asmaranya Blogger

Apa salahnya blogger curhat? Ndoro pun sudah menulis mengenai ‘Ngeblog dengan Hati’. Maka, curhat barangkali sesuatu yang mendekati apa yang ada di dalam buku Ndoro itu.

Penggalan kisah kehidupan yang jujur ditulis oleh blogger di blognya sendiri, di sudut lain akan mendapat tanggapan dari rekan blogger lainnya. Tak jarang, dua blogger itu akan bertemu.

“Oh, iya saya tahu blogmu. Saya biasa berkunjung tapi tak pernah komen.” Haha, ini biasa terjadi bila dua orang blogger yang tak pernah bertemu mendapat kesempatan kali pertama perjumpaan.

“Hai, bukankah kamu yang menulis tentang pantai? Jadi, bagaimana sekarang? Sudah ketemu apa yang ditunggu?” ah, ini jenis pertanyaan yang berbeda. Jelas terlihat kalau si empunya kata pernah tak hanya singgah, namun juga rehat, membaca dan kemudian membuat pertanyaan.

“Belum juga, tuh, sampai sekarang.” Mungkin ini gerbang curhatan saat mulai dibuka. Janganlah menjadi terlampau kaget bila dari deretan kata itu berlanjut ke obrolan dan ‘permainan’ yang panjang.

Saya pun sebenarnya hanya mengira-kira saja ilustrasi di atas. Ingin benar saya tahu bagaimana jalan cerita yang sebenarnya terangkai. Barangkali Anda juga memiliki keinginan yang sama dengan saya? Kenapa tidak datang saja besok sore jam 18.30 di JEC? Dan, dapatkan kisah lengkapnya di sana bersama teman-teman punggawa CahAndong.

Hati, Buka Buku

Sahabatku pernah berkata, “Kehidupan seperti membuka halaman demi halaman sebuah buku.” Kita tidak akan pernah mengerti sebuah halaman sampai selesai membacanya. Apa kisah yang ada di dalamnya; cerita seperti apa yang mungkin tersaji, dari halaman-halaman itulah semua bisa didapatkan, dimengerti.

Aku merangkai kisahku sejak lama. Dalam tiap halaman bisa kamu temukan semua kisah itu, tetapi mungkin juga tidak. Barangkali saat itu, ketika kamu menemui sebuah gambaran yang buram, samar atau kusembunyikan. Di bukumu, aku pun menemukan beragam kisah yang sudah kau rangkai sejak lama. Tidak semua halaman dapat kumengerti, maka akan kutanyakan kepadamu apa makna gambar yang buram, tulisan yang centang perenang dan berpusaran. Tak semua juga akan kumengerti. Mungkin halaman-halaman itu kau sembunyikan; sobek dari kesatuan buku.

Aku tidak akan bertanya tentang rahasiamu bila itu memang menjadi rahasiamu. Pun aku tidak akan bercerita tentang rahasiaku bila kamu bertanya. Rahasia akan melindungi kita, sayang. Biarlah lembaran yang gelap itu tetap menjadi gelap. Masa lalu mungkin akan kita tilik di tengah-tengah hening ketika kita merinduinya untuk satu saat yang penat. Tak apa, bukan kesalahan bila kamu dan aku membuka lembaran yang telah lewat. Sekedar untuk mengenangkannya.

Seperti kata Gibran, “Dari masa lalu, dua buah cawan kita dapatkan. Sebuah cawan tentang kesedihan yang kita minum saat gembira agar kita tidak terlalu bergembira dan sebuah cawan kegembiraan yang kita minum saat kita sedih agar tidak terlalu bersedih.” Pun dengan membacai ulang semua kisah yang lewat, kita mungkin bisa belajar dari sana. Tidak terperosok pada lubang yang sama.

Tetapi baiklah, kita tidak akan berbicara tentang masa lalu. Saat ini kita juga sedang menulis cerita. Masa depan belum lagi ditulis. Halaman itu masih kosong, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada halaman-halaman itu. Sebuah kejutan macam apa yang akan menunggu di sana? Baiknya kita tunggu sampai halaman itu habis kita baca.

Mungkin kau masih ingat saat bersama kita membaca ‘Bumi Manusia’ di dalamnya ada sebuah pesan Jean Marais kepada Minke, kira-kira begini, “Cinta itu, Minke, terlalu indah untuk bisa didapatkan dalam hidup kita yang singkat ini.”

Aku tak mengerti berapa lama kita akan terus bernafas. Pada titik mana detak jantung ini akan istirahat tak jua ‘ku punya jawabnya. Karena itu, kuminta kau sudi menemaniku di sini sebentar, lebih singkat dari hidup yang sudah singkat itu. Maukah kamu?

“Untuk apa aku di situ menemanimu?”

Merangkai kisah kita. Begitu aku akan menjawabnya. Benar memang aku sudah memiliki buku yang tak juga akan habis bila kutuliskan semua ceritaku. Pun kisahmu barangkali akan memenuhi bukumu yang tiap hari akan terus kau tulis. Pada titik ini sebenarnya aku bingung, untuk apa aku memintamu di sini menemaniku menuliskan kisah, toh aku sudah memiliki cerita juga kamu.

Tetapi, Ra, dalam lembaran-lembaran yang kutulis banyak tanya. Sebentuk harap: tentang hati yang merindu. Menanti jawaban*. Aku tak mengerti bagaimana rupa bukumu. Sudahkah lengkap semua tanda baca kau pakai; apakah kau juga punya tanda tanya? Sebentuk mimpi: tentang hari yang indah berpelangi.

Bila menjadi kisah kita, maka tidak bisa aku menuliskannya sendiri, Ara. Kubutuhkan kamu untuk melengkapinya, menjadi aku dan kamu, kita.

“Bi, bila aku sudah di situ membuat cerita denganmu dan menjadi kisah kita. Apakah kemudian kamu tidak akan bertanya-tanya lagi? Benarkah kamu akan menemui semua jawab? Apakah mungkin juga ‘kan kutemui hari berpelangi?”

Tidak, Ra. Sebentuk tanya, berbentuk tanya bahkan masih akan menggodaku. Entahlah, tanda baca itu begitu memesonaku. Pun tak bisa kujanjikan hari berpelangi, semacam tak bisa kuramalkan esok hari hujan akan datang gerimis atau lebat.

Namun denganmu di sini; dekat-lekat. Aku tahu, Ra, bahwa harapan masih ada. Sebuah hati yang tidak lagi merindu. Meski mungkin aku kangen utamanya bila kau jauh.

Saat kau di sini; dekat-lekat. Hujan gerimis; tik-taknya di genting akan menjadi melodi. Sekali saat boleh juga kita bermain hujan; berpelukan saat riciknya membasahi tubuh kita; hati kita. Bila lebat, maka di balik jendela yang mengembun kamu dapat menggoresnya dengan jemarimu dan menggambarkan sebuah tanda hati. Saat itu, biarkan aku memelukmu dari belakang; membauimu, menghangatimu. Tak lupa, bila sekali tempo kita beruntung dan pelangi terlihat selepas hujan kita akan memandangnya.

Selayaknya hujan, Ara, barangkali ada kilat menyambar membiarkan terang meraja begitu singkat. Pula guruh yang menggelegar menyiutkan nyalimu. Aku pun takut bila saat itu tiba, seperti sebuah kenyataan yang dirampas tiba-tiba. Terkenang saat aku kecil sepulang sekolah berhujan-hujanan dan guruh datang. Aku berjongkok di bawah lindungan daun pisang yang tak kuasa menahan titik hujan. Aku takut, nyaliku pun menciut sama denganmu. Barangkali itulah detik di mana kebahagiaan kita terampas, bukankah dapat kita rebut kembali? Tentu… tentu bila kamu bersedia bersamaku memintanya.

Akhirnya, Ra, aku membutuhkanmu dalam hari yang cerah untuk mengisi jiwa yang sepi*. Tatkala berpelangi untuk menggoreskan warnanya sendiri di hati. Saat gerimis untuk menggetarkan nada nadi di dalam dada ini. Pasti juga ketika hujan lebat, di mana kilat dan guntur menyambar; menggemuruh, sekedar berpegangan tangan, menguatkan nyali.

Di sini memang kugunakan Ara. Tetapi bila satu ketika ada yang memanggilmu aunty atau bibi, maka menengoklah, Ra, mereka adalah sahabatku. Dan aku, akan memilih Chinta atau Chien. Entah kenapa.

*) sebuah lagu Padi

**) sebuah lagu Peterpan.

asal gambar