Tips Fotografi Essay dengan Steller

Pertama kali mengetahui Steller adalah dari kawan-kawan di Twitter. Mereka heboh karena baru saja bergabung dengan layanan aplikasi ini. Agar kekinian, saya pun tak ingin ketinggalan untuk ikut serta dalam gempita Steller tersebut.

Bagi Anda yang suka dengan fotografi, maka sudah selayaknya ikut serta bermain-main dengan Steller. Di sana, tidak hanya menampilkan foto atau video, namun lebih dari itu. Anda bisa menggabungkan foto atau video yang dimiliki dengan cerita. Steller kemudian menjadi ‘photo essay’. Dari tulisan Ndoro Kakung photo essay adalah gabungan antara fotografi dan jurnalisme.

Lalu, bagaimana bermain-main dengan Steller?

Continue reading “Tips Fotografi Essay dengan Steller”

Bagaimana Foto yang Keren itu?

Menurut Anda, mana yang lebih keren dan menggemparkan: foto berlatar belakang Menara Eifel di Paris, Prancis, ataukah foto berlatar belakang Tugu Monas, di Jakarta, Indonesia?

Banyak sahabat yang berkesempatan mengunjungi kota-kota eksotis, indah, canggih, nan memukau di seluruh dunia. Beliau-beliau ini kemudian memamerken setiap detail perjalanannya melalui entah itu foto, keluhan, seruan atau apa pun itu di akun media sosialnya. Kawan beliau pun berkomentar, saling balas, ada yang iri, ada yang bercita-cita, ada yang bahkan sudah pesan tiket untuk perjalanan lain yang pastinya lebih keren dan memukau.

Sahabat lain ada pula yang berkesempatan berfoto di Ibu Kota Jakarta yang panas, macet, gedung tingginya makin bikin panas, bus super panjangnya makin bikin macet tapi tetap memukau bagi sahabat itu. Beliau ini pun berfoto dengan latar belakang, misalnya Tugu Monas, atau sebuah gedung yang hampir ambruk di Kawasan Kota Tua. Foto itu, kemudian akan dipasang di ruang tamu rumahnya. Bila ada kawan yang bertandang dan melihat foto itu, beliau akan dengan senang hati nyerocos bercerita, bahkan tanpa diminta.

Kedua foto dengan latar belakang yang berbeda itu keren. Dua gambar yang dipajang di sosial media dan dinding ruang tamu itu sangat berharga bagi pemiliknya. Baik yang dicetak, maupun yang diunggah, kedua foto tetaplah membuat iri dan rasa ingin tahu kawan-kawan mereka.

Foto itu hanya dianggap biasa dan memuakkan bagi beberapa orang berikut ini. Pertama, warga negara Paris yang sudah bosan melihat Menara Eifel dan sekaligus manusia yang berfoto dengan latar belakang menara itu. Kedua, warga Jakarta atau pendatang yang tinggal lama di Jakarta dan sudah muak dengan kotanya dan mendambakan berwisata ke Paris.

Sebuah foto sangatlah sukar untuk diukur tingkat keren dan tidaknya. Hal itu dipengaruhi oleh banyak faktor. Saya kira yang bisa kita lakukan adalah biasa-biasa saja, tak perlu memuji berlebihan pada kawan yang sudah pernah mengunjungi Pyramid, tak juga mencibir beliau yang bermain di Ancol.

Kalau kebutuhan pokok kita hanyalah udara, air, makanan, dan pakaian yang cukup, maka tak usah risau bila belum pernah naik pesawat.

Pameran Foto dan Lukisan

Sebuah kebetulan, bisa dikatakan begitu.

Siang itu saya diminta mewakili juragan untuk menghadiri rapat. Nah, kebetulan di lokasi sedang diselenggarakan pameran lukisan dan foto. Saya berjanji, nanti setelah selesai rapat akan mengunjungi keduanya.

Kemudian manakala rapat selesai…. Continue reading “Pameran Foto dan Lukisan”

Merawat Senjata Utama Para Backpacker

Siapa yang tak ingin menjadi seorang backpacker? Kelihatan keren, bukan? Hobi jalan-jalan, mengunjungi tempat-tempat yang tak semua orang berkesempatan ke sana. Berpose di sana untuk kemudian memamerkan foto-foto. Aih, barangkali sekarang ini semua ingin menjadi seorang backpacker.

Tas, terutama yang berjenis ransel atau backpack adalah senjata utama seorang backpacker. Tanpa tas jenis ini, barangkali tak akan ada backpacker. Continue reading “Merawat Senjata Utama Para Backpacker”