Sebuah manggala dari Sumansantaka
- Sang dewa yang menguasai papan tulis seorang kawi, dia merupakan hakikat aksara-aksara, awal mula dan tujuan akhir sebuah syair (palambang)—sukarlah mendekati kediamannya yang sekaligus juga seorang pangeran di antara para kawi, yang mempersatukan diri secara rumit dengan dan tinggal tersembunyi di dalam debu sebuah pensil bila itu diruncingkan dengan kuku seorang penyair yang berusaha untuk meraba keindahan. Oleh samadhi terus-menerus ia dapat dihadirkan dalam wujud kebendaan yang fana agar ia sudi turun ke dalam sanjak tertulis ini, bagaikan ke dalam candinya.
- Inilah sebabnya kuletakkan tindak kebaktianku pada kakinya, sambil mengharapkan agar dapat menjadi seorang taruna dalam sarekat para kawi. Aku meniarap bagaikan seorang hamba yang hina serta mempersembahkan hormatku. Semoga satu kuntum puisi yang bersemi dari kakawinku berhiaskan keindahan, merupakan persembahan bungaku pada kakinya, karena kini aku sedang mengawali cerita sumanasantaka semoga syair ini diterimanya dengan kemurahan hati. Continue reading