Apa penyebab kematian Kurt Cobain?

ss-140404-Kurt-Cobain-tease.blocks_desktop_medium

Sarah Cooper di Medium mengatakan penyebab kematian Kurt disebabkan karena cinta.

Kita sering mendengar, membaca, atau melihat cerita tentang wanita yang dibutakan oleh cinta sehingga mereka melakukan hal-hal gila untuk mendapatkannya. Mereka bahkan melakukan hal yang lebih gila lagi bila cinta tak didapatkan. Rupanya semua hal itu terjadi juga pada pria, dan barangkali itulah yang menimpa Kurt.

Dia hanya punya seorang pacar sebelum menikahi Courtney. Sosok yang dicinta sekaligus suportif, namun mungkin kurang menarik untuk Kurt dan untuk kehidupan yang akan menantinya.

Setelah itu, barulah dia bertemu dengan Courtney, sosok yang disebut oleh Kurt, ‘penuh dengan ambisi’. Kemudian, memang terbukti begitu adanya. Dia menemui Kurt, kemudian Kurt pun jatuh cinta, namun…. sebenarnya itu bukan cinta.

Satu waktu, ketika Kurt meninggalkan pusat rehabilitasi, dia tidak ke tempat Courtney yang hanya berjarak 10 menit. Dia justru pergi ke Seattle sendirian dan empat hari kemudian bunuh diri.

Menurut Sarah Cooper, “Saya kira, Kurt patah hati.”

Kurt menyadari sepenuhnya, dia memiliki segalanya, namun tak ada satu pun yang diinginkannya. Dia tak ingin menjadi bintang yang selama ini dikejar-kejar, dia tak ingin bercerai, dia tak ingin jadi ayah yang buruk, mungkin dia tak ingin kecanduan heroin.

Dan… dia terlalu muda untuk tahu, bahwa kadang-kadang semua itu bisa terjadi. Musik dan sebagai artis akan berjalan baik, anak gadisnya akan baik-baik saja, dan dia akan kembali menemukan cinta. Sayang, dia tak punya satu orang pun yang bisa diajak bicara, karena semua orang di sekitarnya tak peduli.

Namun, memang sangat sulit untuk menyalahkan seseorang atas kematiannya. Kombinasi dari usia muda, obat-obatan dan terkenal membuat dirinya buta dan juga orang-orang di sekitarnya.

“Hidup mengajarkan kepada kita bagaimana menjalaninya, hanya jika usia kita cukup panjang untuk mengetahuinya.” Tony Bennet.

[Review] Peace, Love, & Misunderstanding

peace_love1
Zoe, Grace, dan Diane

Diane adalah pengacara yang, seperti biasa, keras kepala dan jagoan berdebat, haha. Ia tak pernah mau mengalah, dalam hal apa pun. Semua perdebatan seakan-akan harus dimenangkannya. Kalau pun tak bisa dimenangkan, maka ia memilih pergi.

Di awal cerita, Mark, suami Diane meminta cerai. Diane pun serta merta memilih untuk pergi, lebih tepat pulang kepada ibunya, Grace. Dia mengajak dua anak remajanya, Zoe dan Jake.

Grace adalah seorang hippie, tinggal di Woodstock, ia sudah 20 tahun tak bertemu dengan putrinya, Diane. Awal mula penyebabnya, karena Grace menjual ganja kepada tamu-tamu saat resepsi pernikahan Diane, hahaha.

Di Woodstock cerita kemudian dimulai.

Zoe dan Jake diajak oleh Grace untuk mengikuti demonstrasi menentang perang. Di lokasi demonstrasi, Jake yang sibuk dengan handycam-nya menemukan sesosok wajah rupawan, Tara.

Ajakan Grace kepada cucunya itu tentu saja ditentang oleh Diane. Diseret putra dan putrinya itu keluar dari arena demonstrasi… ke toko daging. Eh, di sana malah ada si ganteng Cole yang memikat hati Zoe.

“Kamu pasti ingin bercinta dengannya, bukan?” Begitu bisik Jake pada Zoe.

Hari berganti, kini di rumah Grace diadakan pesta. Pesertanya, siapa lagi kalau bukan para demonstran yang kemarin. Ini berarti, Jake bertemu lagi dengan Tara, dan Zoe bertemu dengan Cole. Kesalahpahaman pertama terjadi, saat Jake bersiap mendekati Tara, dia diajak keluar oleh seorang cowok lain. Jake pun urung melangkah, hal ini diketahui oleh neneknya, Grace, yang kemudian memberikan pelukan hangat pada Jake.

Cole sebenarnya datang agak terlambat, pesta sudah dimulai, dan dia baru datang. Pas, di teras dia bertemu dengan Zoe. Cole saat itu merokok, Zoe pun bertanya, “Adakah hal lain yang kau lakukan dan merendahkan kehidupan?” Cole dengan santai menjawab, “Apakah ini saat yang tepat bagiku untuk bilang ke kamu, kalau aku berburu?”

Di dalam rumah, hanya Diane yang tampaknya tak bersemangat. Ia seperti menghindari pesta para hippie itu. Hal ini direspon oleh Grace dengan memperkenalkan seorang pria, Jude, kepada Diane. Tak diragukan lagi, Jude jelas seorang yang menawan. Mereka berdua, Diane dan Jude lantas berjalan-jalan keluar dan sampai di tepi telaga. Dua orang yang sudah berumur itu pun kembali menjadi kanak-kanak, melucuti pakaiannya dan terjun ke telaga. Saking girangnya, mungkin, Diane lupa tak melepas gaunnya, hahaha.

Cerita mengalir dengan kesalahpahaman yang kerap muncul, seperti kekeliruan Jake terhadap Tara. Dia mengira Tara sudah mempunyai cowok, hal yang kemudian dibantah. “Ah, dia cuma teman,” demikian Tara bilang. Zoe salah menerka atas pilihan profesi Cole, baginya yang vegetarian, apa yang dilakukan Cole bekerja di tempat pemotongan hewan adalah tindakan yang sungguh kejam. Padahal, Cole punya alasan tersendiri akan profesinya itu. Zoe pun berseteru dengan ibunya sendiri, karena dia melihat Diane berciuman dengan Jude di panggung pada saat pertunjukan musik. Dia berpendapat itu tindakan yang sangat tak pantas, sementara Diane belum bercerai dari Mark. Diane gundah karena kemarahan anaknya, ia pun menemui Grace.

Diane: They hate me.

Grace: It’s difficult for kids to accept that their parents are human.

Saat purnama tiba, ini adalah masa ketika kaum wanita di Woodstock memuliakan dirinya. Mereka mempunyai ritual untuk menyambut purnama, lambang kehormatan wanita, begitulah menurut mereka. Saat itu Cole datang, Grace pun berkata, “Tak boleh ada energi maskulin di sini.” Kemudian, Zoe dan Cole pergi dari ritual itu. Mereka menghabiskan waktu berdua, kemudian bercinta. Nah, pulangnya, seekor rusa tertabrak mobil Cole. Rusa itu meregang nyawa, Zoe bilang mereka harus membawanya ke dokter, namun Cole, dengan telengas menembak rusa itu sampai mati. Keduanya kemudian tak saling bicara.

Sementara itu di tempat upacara menyambut purnama, Diane yang semula enggan terlibat dan menertawakan, akhirnya turut pula minum dan sibuk dalam permainan. Mereka saat itu memainkan sebuah permainan benar atau salah. Apabila seseorang salah menebak tentang suatu fakta, maka dia harus meminum segelas tequila. Ah, entah giliran siapa, namun terungkap kemudian bahwa Jude dulunya adalah kekasih Grace, padahal saat itu Diane baru saja tidur dengan Jude, haha….

Sudah barangtentu Diane marah besar. Keesokan harinya, ia bertengkar dengan Grace, ia merasa dibohongi. Ujungnya ia pun pergi lagi ke kota dengan membawa serta Zoe dan Jake. Di kota, ia menyelesaikan urusan pernikahannya dengan Mark. Di kota pula ia mendengar kabar bahwa Grace dipenjara lagi karena tertangkap menjual mariyuana. Diane marah besar akan ketidakdewasaan Grace, namun saat itu ia bertemu dengan Jude. Dan inilah perbincangan mereka berdua:

Diane: You want me to just let go of 40 years of irresponsibility, embarrassment, and her total refusal to grow up?

Jude: Yes, exactly.

Diane: [incredulous] Like a balloon that’ll just float away.

Jude: It’s not a balloon, Diane. It’s a sandbag you’ve got to drop for the balloon to get off the ground.

Apakah Diane bisa melepaskan karung pasir, sehingga dia menjadi balon yang bisa terbang tinggi? Bagaimana dengan Grace, bisakah ia lebih dewasa atau akankah ia tetap eksentrik? Kesalahpahaman itu tetap ada, sampai akhir cerita.

Ini kisah yang manis tentang perjalanan keluarga yang singkat, namun sebuah cerita kehidupan yang panjang. Tontonlah, Kawan, bila kau sempat.

Terima kasih.

Hal Sederhana dalam Rectoverso

rectoversoposter

“Cinta yang tak terucap.”

Itu adalah film Rectoverso dalam empat kata. Film ini mengenai beberapa kisah cinta yang menganut aliran kebatinan, alias tak terkatakan.

Barangkali sudah banyak yang bercerita mengenai betapa mengharu-birunya film ini sampai banyak yang menangis di dalam bioskop. Saya sendiri tak sampai berlinang air mata. Hanya, saya suka bagaimana hal sederhana bisa menjadi sebuah alasan seseorang jatuh cinta. Sesuatu yang sederhana itu menjadi satu cara bagi seseorang untuk menunjukkan cintanya. Continue reading “Hal Sederhana dalam Rectoverso”

Flipped, Perayaan Cinta

Flipped-691973198-largeSeperti kebanyakan film yang saya tonton di televisi, Flipped pun saya lihat secara tak sengaja. Tak dari awal benar saya mengikuti film ini, namun sudah cukup memeroleh gambaran latar belakang bagaimana cerita akan berkembang.

Lagi-lagi sebuah kisah yang sederhana rupanya yang saya suka. Tentang bagaimana seorang remaja Julianna Baker dan Bryce Noski bertemu untuk kemudian saling jatuh cinta.

Keduanya tinggal berseberangan di sebuah lingkungan yang asri di Amerika pada medio 1960-an. Keluarga mereka sungguh berbeda, itulah kemudian Continue reading “Flipped, Perayaan Cinta”

Saat Aku Menunggumu

ada cinta :D

Ini kelanjutan dari kisahku saat sejenak menunggumu.

Saat aku menunggumu, inilah yang biasa kulakukan untuk mengisi detik-detik yang berlalu sedikit membosankan itu.

Mula-mula aku akan beristirahat dan mengeringkan keringat serta bau jalan yang menempel di tubuhku. Biasanya aku akan duduk sambil melihat berita sore di televisi.

Manakala keringat sudah kering, kemudian aku pun pergi mandi.

Selepas itu, aku akan menghangatkan sayur atau apa pun yang kau masak pagi tadi. Jika sudah selesai, aku pun mulai menikmatinya sendiri.

Biarpun kunikmati sendiri, namun rasa dalam masakan itu sungguh kaya. Bagaimana tidak bila kuingat untuk setiap suapannya ada sumbangsih kita masing-masing. Sedikit uang belanja yang kuberikan setiap bulan, setiap langkah kakimu yang telaten menyusuri pasar. Di pasar, akan kau cari bahan masakan yang pas untuk kau masak hari ini, mungkin yang harganya sedikit lebih murah agar uang belanja itu bisa cukup untuk sebulan. Sampai di rumah, lalu kau berpeluh mengolah bahan-bahan itu menjadi masakan yang nikmat sekali.

Tugasku adalah menyuci dan menyetlika. Maka akan kupilih-pilih pakaian kotor kita, mengaturnya di dalam mesin cuci. Lalu menjaga agar mesin cuci itu bisa bekerja dengan baik. Menuangkan sabun, menjaga pasokan air agar ajeg dan tak timbul error dari mesin cuci yang menimbulkan bunyi berisik.

Saat memilih-pilih baju kotor itu, maka entah bagaimana kadang haru muncul. Iya, di antara bau baju yang sudah apak itu, ada tercium aroma kuat keringatku. Di sesela bau tak enak itu, terkadang tercium pula wangi parfum yang biasa kau kenakan.

Setiap baju kotor memberi arti tersendiri….

Saat tiba memilih dan sampai di baju seragam pabrikku, maka aku ingat pagi yang macet dan panas. Itulah biang keringat yang kadang kuproduksi berlebih dan menempel di baju sampai membuatnya basah.

Demikian juga ketika aku sampai untuk memilih bajumu, ada aroma parfum yang masih menempel di seragam. Kadang juga wangi minyak kayu putih saat malam tadi aku mengoleskannya karena perutmu kembung. Lain waktu, aku bisa tertawa atau merona malu sendiri, hahaha.

Apabila semua baju telah dicuci, maka besok malamnya kembali menjadi tugasku untuk menyetlika. Tak seperti menyuci yang bisa kutinggal-tinggal, untuk menyetlika aku harus duduk beberapa jam. Terkadang pegal pun hinggap di punggung. Sebagai temanku, aku biasa menyetel televisi sebagai hiburan agar tak terlampau penat.

Saat tiba menyetlika bajuku, tak ada yang istimewa karena sudah semenjak SMP hal ini biasa kulakukan. Seperti biasa aku mencoba memberikan setlikaan terbaik agar penampilanku pun prima, hehe.

Hal yang berbeda adalah ketika harus menyetlika bajumu. Ah, aku baru tahu kalau ternyata baju perempuan itu repot betul potongannya. Aku yang sudah terbiasa menyetlika baju, kaos atau jeans harus belajar ulang bagaimana menyiasati potongan baju perempuan. Masalah masih bertambah karena bukan hanya potongan yang ‘istimewa’. Bahan baju atau celana perempuan pun lebih beragam.

Khawatir muncul manakala aku menyetlika bajumu. Aku takut tak memberikan hasil setlikaan yang licin, ah, bagaimana nanti penampilanmu? Aku pun kadang ragu saat menemukan bahan tertentu, aku memerlukan bertanya padamu, namun kamu tak ada. Kekhawatiranku adalah apabila aku salah menyetlika, maka bajumu bisa rusak. Wah, kalau sampai itu terjadi, maka detik itulah malapetaka untukku dimulai. Bisa-bisa kamu meminta baju baru sebagai gantinya dan tak hanya satu, hahaha….

Dengan semua kesibukan itu, maka debar di hatiku bisa teredam. Aku tak terlampau khawatir memikirkanmu. Hanya, ketika lewat jam biasa kamu pulang, maka ada badai di dadaku.

Ps: terima kasih untuk Chinta yang setahun ini sudah demikian sabar menemani hari-hari saya. Happy Anniversary.

Gambar meminjam dari sini

Sejenak Menunggumu

Menjelang magrib biasanya aku akan tiba di rumah. Sampai di parkiran tak kutemukan motormu. Kamu telah pergi, seperti biasa, menyibukkan diri membantuku menjaga agar asap tetap mengepul dari dapur kita yang mungil.

Sampai di pintu, aku tahu hanya kekosongan rumah yang menantiku. Tak ada sapamu yang selalu cerewet mengganggu sunyiku. Tak juga senyummu yang mengembang lebar menyambutku.

Saat kubuka pintu, segala jejakmu langsung menyeruak. Pasti pagi tadi kau telah susah payah menyapu dan mengepel sampai harum obat pel mampu menyentuhi ujung-ujung indera penciumanku.

Masuk lebih dalam, peraduan kita pun telah rapi. Karena aku masih ingat, bagaimana hasil perbuatan kita telah membuat sprei dan bantal centang perenang tak beraturan. Pasti pagi tadi kau sibuk sekali merapikan sprei, menata bantal dan membersihkan semuanya.

Di dapur, entah kerupuk, sayur atau masakan lain sudah siap tersaji. Pasti pagi tadi kau telah dengan sabar menyusuri jalan ramai pasar dan mencari bahan-bahan untuk masakan itu.

Dengan begitu riuhnya rumah oleh jejakmu yang tertinggal di lantai, di pembaringan, di dapur, maka bagaimana mungkin aku tak merasa hangat? Jemari tanganmu pasti telah menyentuhi semua barang itu dengan penuh sayang, sehingga aku pun merasa harus bersyukur dan berterima kasih untukmu, istriku.

Maka di sinilah aku menunggumu dengan sabar sampai saat kamu pulang nanti.

Gambar meminjam punya Paman Tyo

500 days of summer, perayaan keyakinan

Keyakinan yang berubah, mungkinkah terjadi?
Barangkali kita harus menjadi Tom untuk memahaminya.
Syahdan, Tom percaya betul akan adanya cinta sejati. Dan Summer, adalah alasan di balik kepercayaannya itu.
Bagaimana dengan Summer sendiri? Ia justru tak percaya, ia menolak adanya cinta sejati. Lalu, ia dan Tom pun sepakat untuk tidak sepakat.
Kenyataan rupanya memupuk subur harapan Tom. Ia menginginkan hubungan yang serius dengan Summer. Namun, nama yang disebut terakhir ini tak tertarik. Ia tetap melabeli hubungan di antara keduanya yang istimewa itu dengan ‘sekadar teman’.
Bila untuk tepuk tangan, maka memerlukan dua tangan yang bergerak seirama, maka apa yang dilakukan Tom dan Summer jauh dari itu. Tom hanya bertepuk sebelah tangan. Ia sangka Summer bahagia bersamanya, namun kenyataannya Summer tak bahagia. “Aku tak yakin bersamamu.” Begitu kata-kata Summer yang telah menohok Tom tepat di ulu hati.
Keduanya berpisah, keyakinan berubah.
Tom menjadi tak percaya apa itu cinta sejati. Ia di titik nadir kehidupannya, pekerjaannya terbuang dan ia terbenam di ruang apartemennya, menata ulang serpihan hidupnya.
Summer di sisi lain—anehnya—bertemu dengan kebetulan ataukah nasib? Ia yang duduk di sebuah kafe di kala pagi dan memesan kopi bertemu dengan sesosok pria yang menjadi suaminya sekarang. Bagaimana bila, ia tak di kafe itu, di pagi itu, memesan kopi itu? Summer, yang tak percaya apa itu cinta sejati justru berubah menjadi percaya.
Kelak, manakala Tom dan Summer bertemu, saat itu Summer dalam keadaan hamil akan terungkap. Summer mengaku, ia menemukan keyakinan saat bersama suaminya sekarang, sesuatu yang tak ia dapatkan tatkala bersama Tom dahulu.
Rupanya, kebetulan tak berhenti bekerja. Tom, pada akhirnya akan tersenyum, mengerti apa maknanya itu. Tahukah kamu, apa maksudnya?

http://www.imdb.com/media/rm3088223232/tt1022603Keyakinan yang berubah, mungkinkah terjadi?

Barangkali kita harus menjadi Tom untuk memahaminya.

Syahdan, Tom percaya betul akan adanya cinta sejati. Dan Summer, adalah alasan di balik kepercayaannya itu.

Bagaimana dengan Summer sendiri? Ia justru tak percaya, ia menolak adanya cinta sejati. Lalu, ia dan Tom pun sepakat untuk tidak sepakat.

Kenyataan rupanya memupuk subur harapan Tom. Ia menginginkan hubungan yang serius dengan Summer. Namun, Continue reading “500 days of summer, perayaan keyakinan”