Apa hukuman bagi mereka yang rakus?

Pennytown_Ponds_-_geograph.org.uk_-_228152

Pada suatu masa, tersebutlah sebuah kolam yang ditinggali banyak ikan.

Siang itu pemancing datang dan mulai memancing sambil membaca buku. Duduk memancing dari siang sampai sore dan tanpa susah payah dia memperoleh banyak sekali ikan. Senanglah hatinya dan sudah dibayangkan senyum mengembang di bibir istrinya juga tawa di wajah anak-anaknya saat nanti menatap ikan goreng di meja makan terhidang bersama sambal kegemaran.

Keesokan harinya pemancing itu datang lagi bersama dengan adiknya. Mereka berdua sibuk memancing dan pulangnya mendapatkan banyak sekali ikan.

Di rumah, ikan yang kemarin belum lagi habis dan kini sudah mendapatkan tangkapan baru lagi. Agar tidak mubazir, maka dibagi-bagikan ikan itu ke para tetangga.

Ada seseorang yang penasaran dan ingin mendapatkan ikan sendiri agar bisa terpuaskan hatinya. Maka, orang itu pun memohon kepada pemancing pertama untuk ikut pergi ke kolam. Rupa-rupanya bukan hanya seorang yang ingin ikut memancing, namun banyak sekali yang berminat.

Kolam itu kini menjadi ramai dengan para pemancing yang sibuk berharap umpannya dimakan oleh ikan. Mereka duduk terpisah, setiap orang memiliki area pancing sendiri-sendiri.

Tapi ikan tidak bisa diatur, dia berenang ke sana dan kemari. Sekali waktu satu lokasi mendapatkan banyak ikan, di masa yang lain lokasi itu pun sepi tak ada ikan.

Para pemancing di kolam itu pun mulai sibuk memperebutkan area favorit. Banyak usul disampaikan, ada yang setuju tapi ada pula yang enggan berpindah. Di sini konflik mulai timbul di antara mereka.

Ikan di kolam lama kelamaan pun menipis jumlahnya karena tiap hari dipancing. Semakin banyak pemancing yang datang justru semakin sedikit ikan yang tersedia. Ujungnya konflik di antara para pemancing semakin sering terjadi.

Kelangkaan ikan pula yang menyebabkan para pemancing gelap mata. Tanpa pandang bulu mereka memancing apa saja mulai dari yang besar sampai dengan anakan ikan yang masih kecil. Hingga akhirnya tak ada satu pun ikan yang bisa dipancing. Ikan di kolam itu sudah habis karena tak ada yang sempat bertelur sebab semua berpindah ke penggorengan dan piring di atas meja makan para pemancing.

Anda masih ingat pemancing yang pertama tadi?

Apa yang ada dalam benaknya sekarang?

Credit picture: https://commons.wikimedia.org/

Mena Trott: Revolusi Blog

Mena Trott adalah seorang blogger. Berikut ini paparannya mengenai blog, selamat menyimak.

Blogger bagi Anda barangkali adalah profesi yang berarti banyak hal. Blogger bisa sekelompok orang yang berhasil membobol satu merk kunci dan menyebarluaskan caranya. Mereka juga bisa beberapa orang yang sibuk mencari celah sebuah perangkat lunak, mengulas, dan membaginya dengan banyak orang.

Bisa jadi Anda mengira blog adalah satu tempat yang mengerikan. Sesuatu yang tidak bersahabat. Namun, blog juga telah mengubah cara kita membaca berita dan mengkonsumsi apa yang ditawarkan oleh media. Banyak contoh blog yang sangat menarik dan telah menjaring jutaan pembaca.

Beberapa blog juga menjadi sangat penting. Sebagai contoh adalah saat terjadinya badai, ketika itu MSNBC memposting tentang badai di blog mereka dan mengupdatenya secara rutin. Hal tersebut sangat mungkin dilakukan, karena perangkat (tools) di dalam blog sangatlah mudah. Ada pula teman saya yang memiliki blog, mendapatkan uang dengan memasang iklan dan bisa menghidupi keluarganya di Oregon. Itulah yang dilakukannya sekarang dan dengan blog memungkinkan untuk melakukan itu semua.

Contoh lain adalah Interplast, sebuah blog tentang orang dan dokter yang pergi ke negara berkembang dan menawarkan operasi plastik kepada mereka yang membutuhkan. Mereka kemudian akan mendokumentasikan ceritanya dan itu sangatlah berarti.

Saya tak sehebat itu. Seperti sudah saya bilang, “I am a blogger”. Saya mendefinisikan diri sebagai orang yang ahli pada sesuatu. Saya ahli pada diri sendiri, jadi saya tulis tentang diri sendiri.

Cerita blog saya dimulai di tahun 2001 saat saya berumur 23 tahun. Saat itu saya tak suka dengan pekerjaan, yaitu seorang designer. Sebuah profesi yang tak cocok dengan latar belakang pendidikan saya, yaitu Bahasa Inggris. Namun, saya rindu menulis, maka sebuah blog berhasil dibuat dan satu buah cerita pendek menjadi isinya yang pertama. Cerita tersebut adalah kisah mengenai keikutsertaan saya dalam kemah di YMCA pada usia 11 tahun. Di akhir dari kemah tersebut, saya buat teman-teman sangat membeci saya. Saat itu saya bersembunyi, tak ada yang bisa menemukan, bahkan ketika tim pencari dibentuk. Saya mendengar beberapa orang berharap saya bunuh diri dengan melompat dari Puncak Bible.

Saya memulai dengan kesadaran bahwa menjadi blogger tak menjamin seseorang terkenal ke seluruh dunia, namun saya bisa dikenal oleh orang-orang di internet. Kemudian saya pun membuat satu tujuan, yaitu memenangkan satu penghargaan karena sepanjang hidup, tak sekalipun penghargaan saya terima. Akhirnya saya menerima South by Southwest Weblog Award dan puluhan ribu orang membaca kisah blog saya setiap hari.

Kemudian saya menulis mengenai banjo yang ingin dibeli seharga 300 dolar, sebuah harga yang fantastis. Sementara saya tak memainkan alat musik, bahkan tak tahu sama sekali mengenai musik. Namun, saya suka musik dan juga suka banjo. Saya pun berkata kepada suami, “Ben, dapatkah aku membeli banjo?” Dia pun menjawab dengan singkat, “Tidak.” Lebih lanjut suami saya bilang, “Kamu tidak perlu membeli banjo, jangan seperti ayahmu yang mengoleksi instrumen musik.”

Saya pun menuliskan betapa marah kepada suami karena tak diizinkan membeli banjo. Dia seperti tiran yang melarang membeli banjo. Bagi mereka yang mengetahui saya, ini adalah lelucon. Itulah cara saya membuat candaan kepada seseorang. Mereka tahu, orang yang saya tulis tersebut sangat manis dan baik dan telah mengizinkan fotonya saya tampilkan di blog.

Namun, saya mendapat email dari orang yang berkata, “Oh Tuhan, suamimu benar-benar brengsek! Berapa banyak uang yang dihabiskannya untuk membeli beer selama setahun? Kamu bisa mengambil uang itu dan membeli banjo. Kenapa kamu tak membuat rekening terpisah?” Saya juga mendapat email yang bilang “Tinggalkan dia!”

Saya kemudian bertanya-tanya, siapa orang-orang ini dan kenapa mereka membaca tulisan saya? Kemudian saya pun sadar, saya tak ingin menulis untuk orang-orang ini, saya tak mau mereka menjadi pengunjung blog, sehingga perlahan-lahan saya pun menutup blog. Saya tak ingin menulis lagi.

Tak lama kemudian, saya menulis sesuatu yang lebih pribadi, yaitu tentang Einstein, binatang peliharaan yang meninggal dua tahun lalu. Barangkali Anda membaca blog mengenai politik, gosip, media atau apa pun itu. Namun, hal-hal yang personal, yang pribadi, mulai menarik minat saya. Inilah saya. Saya tertarik dengan blog yang berisi cerita pribadi seseorang.

Saya membaca blog mengenai seorang bayi bernama Odin yang memiliki ayah seorang blogger. Satu hari dia menulis di blognya tentang istrinya yang melahirkan bayi pada usia kandungan 25 minggu. Tentu saja dia tak pernah mengharapkan hal ini terjadi, dari hari-hari yang normal menjadi hari yang menyedihkan.

Odin adalah bayi dengan berat satu pound dan mulai didokumentasikan tiap hari. Fotonya diunggah secara berkala, hari pertama, hari kedua, dan seterusnya. Di hari ke sembilan dia mengalami apnea, pada hari ke 39 dia menderita pneumonia, bayinya begitu kecil, mungkin gambarnya sedikit mengganggu, namun juga menyentuh perasaan.

Anda membaca hal itu tepat ketika peristiwa tersebut terjadi. Kemudian di hari ke 55 semua orang membaca bahwa dia mengalami kegagalan pernafasan dan jantung. Semua melambat dan Anda tak tahu apa yang bisa diharapkan. Namun, kemudian semua membaik dan di hari ke 96 dia pulang ke rumah.

Apa yang diceritakan dalam blog tersebut bukanlah hal yang dapat Anda temukan di koran atau majalah. Ini sesuatu yang dirasakan oleh pemilik blog dan orang-orang menyukainya. Dua puluh delapan komentar bukan berarti dua puluh delapan pembaca, namun dua puluh delapan orang yang peduli. Saat ini, dia adalah seorang balita yang sehat, dan jika Anda membaca blog ayahnya di snowdeal.org, dia masih mengambil gambarnya, karena si kecil itu adalah putranya.

Blog kemudian adalah sebuah evolusi. Blog merekam siapa diri Anda secara pribadi. Saat Anda klik di google nama Anda sendiri, bisa ditemukan kisah hidup Anda, entah itu gembira atau sedih. Selanjutnya Anda juga menemukan blog orang lain, rekaman hidupnya, yang menulis tiap hari, bisa jadi bukan topik yang sama, namun hal-hal yang menarik perhatian mereka.

Saya menemukan bahwa rekaman hidup yang ada pada blog adalah sangat penting. Sangat menakjubkan ketika saya kembali ke satu masa dan kemudian saya tahu apa yang terjadi saat itu dengan tepat.

Kisah selanjutnya adalah tentang seorang wanita, Emma, yang juga seorang blogger. Dia adalah salah seorang yang pertama kali memanfaatkan layanan blog kami. Dia menulis tentang hidupnya yang harus berjuang melawan kanker. Dia terus menulis dan menulis. Saat itu masih sangat sedikit blogger yang menggunakan layanan kami, sehingga kami pun mulai membaca kisah Emma.

Satu hari dia menghilang, kemudian saudarinya datang dan berkata bahwa Emma telah meninggal. Mendengar berita tersebut semua orang di perusahaan yang membaca kisahnya menjadi sangat emosional. Saat itu menjadi hari yang berat bagi perusahaan kami. Saat itu saya baru menyadari, betapa hebat dampak blog bagi hubungan kami dan mendekatkan jarak antar manusia di dunia ini.

Satu hal yang begitu memengaruhi saya adalah saat saudarinya menulis di blog, bahwa menulis blog bagi Emma di beberapa bulan terakhir hidupnya adalah hal terbaik yang pernah terjadi padanya. Dapat bercerita pada orang lain, dapat berbagi apa yang terjadi pada dirinya, dapat menulis dan menerima komentar. Sangat menakjubkan bagaimana kami dapat membantu terlaksananya hal itu dan bahwa blogging menjadi satu aktivitas yang menyenangkan baginya. Sungguh menyenangkan ide bahwa blog tidaklah menakutkan, kita tak harus selalu menyerang blog, kita bisa menjadi pribadi yang terbuka, ingin menolong dan bicara pada orang lain.

Harapan saya bagi Anda adalah, pikirkan tentang blog, tentang blogger, siapa sih mereka itu, tentang pendapat Anda untuk mereka dan kemudian lakukanlah, jadilah blogger, karena ini benar-benar akan mengubah hidup kita.

Tulisan ini bersumber dari paparan Mena Trott berikut ini:

Lelaki Tua dan Bintang

kota_mati_lampu

Kemarin, lelaki tua itu memandang langit dengan bungah. Di atas sana, gemintang terlihat kerlipnya.

Setelah demikian lama, kemarin dia bisa kembali mengenang mendiang istri dan malam-malam mereka. Dulu sekali, duduk berdua di beranda, menghitung bintang.

Namun, selain dia, kemarin tak ada yang bahagia dengan hadirnya bintang di atas sana. Sebab, bintang itu hadir saat semua lampu di kontrakan anaknya padam.

Saat lampu padam, matilah kipas angin dan pendingin ruangan. Panas pun meraja, sehingga anak, menantu, dan cucunya tak jua tidur kegerahan.

Dia sebenarnya ingin berbagi cerita tentang seorang ksatria, putri, dan bintang jatuh. Dia hendak menyampaikan kisah tentang bintang yang berjuang jutaan tahun agar cahayanya sampai ke bumi. Tapi kemudian urung, tak ada gunanya bercerita di malam yang demikian sesak itu.

Malam ini, di langit tak ada bintang. Mereka tetap di sana, tapi dia tak kuasa melihatnya. Lampu-lampu di kontrakan anaknya sudah menyala terang.

Sumber gambar dari sini

Lelaki Tua dan Penjual Minuman

secangkir-teh-hangat

Lelaki itu baru saja sampai di tempat kerjanya. Hal yang dilakukannya kemudian adalah menuju penjual minuman untuk menikmati teh tarik kesukaannya.

Seperti pagi kemarin dan kemarinnya dulu, itu adalah rutinitasnya tiap pagi begitu sampai di tempat kerja.

Sayangnya, pagi itu sang penjual lupa belum membeli teh tarik. “Ya sudah, teh anget manis pun boleh.”

Tak lama, segera terhidang teh manis hangat di meja. Sebagai pelengkap, dicarinya makanan kesukaannya untuk mengganjal perutnya yang belum sarapan.

Sayang, makanan itu juga sudah habis tak bersisa.

Biasanya, dia akan menikmati teh tarik sambil mulutnya sibuk mengunyah sementara pikirannya mengembara. Khusus pagi itu, dia hanya bisa manyun sambil sesekali menyeruput teh dan menghisap rokoknya.

“Wah, kalau dibongkar begini, ke mana Bapak akan pindah jualan?” Tanya lelaki tua itu kepada penjual minuman. Mata mereka menatap bangunan yang baru saja dibongkar dan menyisakan puing. Yang diam-diam menggusur lapak penjual minuman secara halus.

“Belum tahu juga ini, Pak, tapi biasanya akan ada kantin di gedung yang baru. Di sana mungkin kami nanti bisa berjualan.” Si Penjual Minuman menjawab dengan sedikit keraguan membayang di ujung kalimatnya.

“Memangnya pernah dulu digusur, Pak?”

“Bukan saya, sih, Pak. Dulu teman-teman saya yang di depan sana itu yang kena. Syukurlah waktu itu saya masih aman. Tapi, terkadang aneh juga, lho, Pak.”

“Aneh bagaiman maksud, Bapak?”

“Iya, aneh, Pak. Soalnya, setelah kami digusur, tak lama kemudian kami dicari oleh para karyawan, hehehe. Mereka perlu kami, Pak, karena kan ga mungkin mereka tiap hari makan di restauran yang mahal.”

“Hahaha, betul juga. Terus, apa Bapak dan teman-teman pedagang balik ke sini lagi?”

“Saya kan tetap di sini, Pak. Teman-teman ada yang kembali ke sini, tapi banyak juga yang menemukan tempat lain. Sebenarnya, para bos tidak setuju saat lapak-lapak kami bertengger di samping kantornya. Mereka bilang kami merusak pemandangan. Nah, para karyawan justru yang mendemo bosnya dan meminta kami diberi tempat.”

“Oh, haha, kasihan juga para bos itu, ya?” Lelaki tua itu menyesap tehnya perlahan-lahan. Sepertinya, dia begitu menikmati minumannya, pun obrolan hangat yang mengalir lancar di pagi hari. Pembicaraan yang tampaknya akan terus berlanjut.

Bersambung….

Sumber gambar dari sini

Biar Update Ajah :D

Laporan aktivitas saya:

  1. Membaca buku kedua dari serial ‘A Song of Ice and Fire’ karya George RR Martin yang berjudul ‘A Clash of Kings’
  2. Menonton seri keempat dari tv seri ‘Games of Thrones’
  3. Membaca twitter, membaca facebook, menutupnya, kemudian membaca buku lagi.

Apa aktivitasmu, kawan?

Adakah membaca buku satu di antaranya?

Barangkali saja kau lupa, bau buku yang baru dibuka itu menyenangkan, kawan!

Suatu malam di depan warnet

Beberapa malam yang lalu, pekerjaan saya adalah mendampingi istri untuk mencetak tugas dari kantornya di warnet. Situasi kafe internet yang tak bersahabat dan begitu ramai membuat saya hanya terkatung-katung menunggu di luar.

Dari luar, saya bisa dengan mudah melihat ke dalam. Di sana ada sekitar 32 komputer yang dijajar rapi. Pada tiap komputer, duduk seorang atau ada juga yang berdua. Mereka kebanyakan adalah remaja belasan, bahkan ada yang masih di bawah sepuluh tahun. Dari sekian banyak pengunjung, saya hanya melihat seorang bapak yang duduk tak nyaman.

Saya tak tahu apa saja kegiatan masing-masing orang di depan tiap monitor. Namun, semua terlihat serius dan kadang riuh, sesekali ada juga yang saling berteriak. Dugaan saya mereka ini sedang bermain game online.

Saat ini, aktivitas bermain dalam jaringan tersebut saya rasa mudah sekali ditemukan di warnet. Bahkan, barangkali adalah kegiatan utama yang dilakukan para pengunjung. Sebuah kegiatan yang sejujurnya menghalangi mereka yang memerlukan internet untuk keperluan lain.

Seperti halnya istri yang ingin sekadar mencetak tugasnya harus menghampiri penjaga dan meminta bantuan untuk print. Dahulu, kondisi tersebut cukup diatasi dengan memakai salah satu komputer dan print sendiri. Kondisi yang saat ini tak mungkin lagi dilakukan karena semua komputer sudah diakuisisi oleh remaja-remaja tanggung untuk bermain game.

Pernah juga saya melihat serombongan remaja putri yang kebingungan karena ingin mencari bahan untuk tugas sekolahnya di internet, namun tak mendapatkan komputer setelah mereka masuk ke sebuah warnet. Serombongan yang lain kebingungan karena harus antri lama untuk mencetak lima lembar pekerjaan rumah.

Saya kira, hal ini bisa menjadi peluang bagi Anda yang ingin berbisnis. Buatlah sebuah warnet yang tak memberi izin kepada pengunjung untuk bermain game online. Warnet tersebut hanya membuka akses untuk game online pada waktu-waktu tertentu saja. Di luar itu, warnet diperuntukkan bagi mereka yang ingin berselancar normal di internet, mengerjakan tugas, mencari bahan, belajar, mencetak dan lainnya kecuali game online.

Hal lain yang saya saksikan sepanjang beberapa waktu saya berdiri di depan warnet tersebut adalah adanya ibu-ibu yang kebingungan mencari anaknya. Wajah beliau tampak gusar, bahkan ada yang marah dan berteriak-teriak dari luar warnet menghardik putranya agar segera pulang.  Lain saat, ada pula yang was-was karena sudah beberapa kali memasuki warnet langganan putranya namun tak juga menemukan sosok yang dicari.

Apakah perlu ada sebuah peraturan yang mengatur warnet untuk membuka atau tidak membuka akses ke game online pada waktu tertentu? Misalnya saja manakala waktunya anak-anak seharusnya belajar, maka warnet tersebut harus menutup semua akses ke game online.

Saya kurang suka dengan tambahan peraturan sebenarnya, namun kasihan juga melihat orang tua yang kebingungan mencari anaknya di depan warnet.

Tips Menulis dari Sapardi

Writing_pen

Sapardi Djoko Damono selalu memikat banyak orang dengan karya-karyanya. Ia melahirkan puisi-puisi dengan bahasa sederhana tetapi magis. Satu tahun lalu, dalam Pesta Literasi Jakarta 2013, sastrawan ini membagikan langkah-langkahnya dalam menulis.

Dalam menulis, Sapardi menyarankan untuk jangan terlalu banyak berpikir. Jeda waktu terlalu panjang untuk berpikir sama saja dengan menunda menulis. Hal lain yang perlu dihindari adalah perasaan takut atau minder. Perasaan takut akan membawa kita pada hilangnya keinginan untuk menulis.

Sapardi tidak pernah menentukan akhir cerita ketika mulai menulis. Hal tersebut ditemukan ketika proses menulis berlangsung. Cerita akan mengalir dengan sendirinya. Sapardi menekankan, ketika menulis yang berkuasa adalah tulisan itu sendiri. Bukan si penulis.

Sastrawan ini juga tak selalu langsung menyelesaikan tulisannya dalam satu periode waktu tertentu. Ia memiliki banyak tulisan yang belum dilanjutkan, tetapi yakin suatu saat pasti menyelesaikannya. Jika bosan mendera, ia akan beralih ke tulisan yang lain kemudian masuk lagi ke tulisan sebelumnya sewaktu-waktu. Kemahiran menulis bukan semata-mata bakat, melainkan hasil latihan tekun dan terus menerus.

Galeria, Klasika, Kompas, 26 Mei 2014

Sumber gambar

Sepeda untuk Nak Joko

orang_tua_dan_sepedanyaNak Joko, barangkali kau belum tahu. Akhir-akhir ini Paman mencoba menggunakan sepeda untuk makaryo. Ah, kau pasti kaget dengan apa yang Paman hadapi di jalanan itu. Tapi tak usah khawatir, Nak, bukan itu yang ingin Paman ceritakan. Begini, Nak, ini kalau boleh, lho. Paman ingin mengusulkan kepada Nak Joko beberapa persoalan.

Menurut pengalaman Paman yang pernah menggunakan berbagai moda transportasi, mulai dari sepeda motor, angkutan umum, tranjakarta, sampai yang terakhir sepeda. Di antara semua itu, rasanya sepeda paling pas. Betul lho itu, Nak.

Mula-mula memang ada kekhawatiran akan banyak keringat keluar karena tenaga yang dikeluarkan dan jarak yang ditempuh. Namun, bersepeda rupanya silir, keringat memang keluar, tapi bahkan lebih sedikit daripada naik angkot yang umpel-umpelan itu.

Dalam bayangan Paman, bila yang boleh masuk ke kota adalah sepeda dan angkutan umum saja, tentu akan lebih menyenangkan. Soal mobil pribadi, buat saja parkiran di luar kota, Nak. Selanjutnya sediakan sepeda yang boleh dipinjam pakai. Rasanya ini jauh lebih murah daripada membangun jalan tiap tahun dan membeli mobil untuk angkutan umum. Bukan begitu, Nak?

Di pinggir sungai, apa yang Paman lihat di Gunung Sahari itu begitu menyenangkan. Ada trotoar lebar untuk pejalan kaki. Dibuat tinggi dan di beberapa bagian ada pagar sehingga motor-motor jahanam itu tak mengganggu pejalan kaki. Sudah begitu, ada pula lengkung pohon bougenville dengan bunganya yang ungu. Ah, itu benar-benar meneduhkan.

Di kala pembangunan jalan dan perbaikan gorong-gorong sedang kau galakkan seperti sekarang ini, ya ampun, Nak, itu macet makin menggila. Kemarin, Paman kebetulan naik bis. Wah-wah, masa dalam jarak tak ada sekilo ada empat pengamen sekaligus preman yang masuk ke bis. Empat lho, Nak, dalam sekilo. Iya, empat. Rupanya, mereka memanfaatkan bis yang sepi penumpang dan kemacetan untuk beraksi. Itu betul, lho, Paman tak bohong.

Macet itu, Nak, juga merembet ke mana-mana. Sekarang jalan-jalan kampung jadi dilewati banyak kendaraan yang ingin menghindari kemacetan. Ada yang cerita, mau nyebrang jalan kampung saja sekarang sulitnya minta ampun.

Nah, bayangkan jika yang bermacet itu sepeda. Tentu tak repot Pak Polisi itu mengaturnya. Mereka bisa berkonsentrasi mengejar penembak koleganya. Tak ada juga artis mabuk yang menabrakkan mobilnya ke pedagang kaki lima. Betapa menyenangkan, bukan?

Begitu saja, Nak, saran dari Paman. Semoga tak menambah beban pikiran Nak Joko. Oya, izinkan Paman membayangkan jalanan itu ramai oleh sepeda. Orang-orang bersepeda sambil bercerita. Ada yang berjalan kaki di pinggir sungai sambil bercengkerama. Kota ini pun rasanya akan lebih nikmat ditinggali. Kalau tak percaya, coba saja Nak Joko bayangkan dahulu.

Terima kasih.

Sumber gambar

Narasi: di Jakarta Setelah Isya

Arloji saya menunjukkan pukul delapan malam. Waktu yang terlalu dini untuk menjemput istri yang baru keluar dari pabriknya pukul sembilan.

Saya pun berhenti di sebuah toko kelontong, seperti malam kemarin sekadar membunuh waktu dengan meminum segelas kopi. Ya, di toko kelontong itu memang menyediakan kopi.

Toko itu terdiri dari dua los yang berada di pinggir perumahan elit di Jakarta Utara. Di sana disediakan berbagai keperluan warga perumahan. Barangkali karena lebih murah, maka banyak juga warga perumahan yang datang untuk membeli air minum dalam galon dan gas. Biarpun di kompleks perumahan ada semacam minimart, namun toko kelontong itu tetap eksis.

Sewaktu hendak meminum kopi, saya mula-mula memegang gelasnya. Terasa demikian panas, saya pun membatalkan tegukan pertama.

Tiba-tiba, seorang gadis kecil, barangkali usia tujuh tahun mendekat. Sepertinya dia anak dari penjual kelontong.

“Permisi, Om, geser dulu ya, saya mau tidur.” Saat itu saya duduk di bangku kayu panjang yang agak lebar dekat dengan meja.

sleeping-1311784_640

“Oh, iya.” Jawab saya pendek, kemudian saya membawa kopi ke meja seberang yang juga dilengkapi dengan bangku agak sempit namun lebih panjang. Gadis kecil itu dengan cekatan membantu saya memindahkan tumpukan koran dan sebungkus rokok punya saya yang sedang dibaca dan lupa tak saya bawa serta.

Selanjutnya, dia kembali ke bangku yang pertama yang agak lebar itu dan membersihkannya. Di sana semula ada termos, kardus, dan remah-remah makanan ringan.

Setelah bersih, dia menempatkan bantal kecilnya di salah satu ujung bangku. Dengan trengginas, dia menempatkan tubuh mungilnya berbaring di bangku itu.

Saya memandangi si gadis kecil dengan khawatir kalau-kalau dia terjatuh.

Mula-mula dia berbaring telentang, memandangi langit malam yang terhampar luas di atasnya. Sebuah pesawat terbang tinggi, hanya lampunya yang berkedip-kedip, tampak di kejauhan.

Tak lama, ia berbaring miring menghadap ke saya. Barangkali karena dingin, ia meringkukkan tubuhnya, melipat lutut sampai ke perut. Saya kembali melirik, matanya mengerjap jenaka melihat ke arah saya, kemudian terpejam. Saya kira sudah tertidur.

Tak lama, dia kembali mengubah posisinya. Sekarang membelakangi saya, hanya punggungnya yang tampak. Saya kembali mengira dia sudah tertidur.

Sebuah sepeda motor dengan knalpot menggelegar datang mendekat. Gadis kecil itu seperti terlonjak dan kaget. Syukurlah, dia tak sampai jatuh.

Namun, kemudian dia berdiri. Merengek ke ibunya dan mulai menangis. Dia bilang sudah mengantuk dan hendak tidur. Ibunya yang sedang melayani pelanggan, mengacuhkannya.

Si gadis kecil melihat karpet plastik telah tergelar di ruang sempit di dalam toko. Di sana kakak lelakinya telah terlelap, dia pun menyusul tidur di sebelah kakaknya itu.

Tak lama, sepertinya dia sudah tidur. Ibunya masuk, melangkahi tubuhnya, mengambilkan uang kembalian untuk saya. Televisi di kaki gadis itu masih menyala, beberapa baju yang tergantung tak rapi berada di sebuah sudut, berjejalan dengan barang-barang dagangan yang lain.

Saya pergi meninggalkan toko itu. Di kejauhan, suara penceramah di masjid mendakwahkan tentang keimanan. Di langit, bulan mulai menampakkan dirinya, tak penuh, hanya terlihat sedikit.

Picture


Di Ancol

Ancol_2 Ada band yang tampil di depan Gelanggang Samudera. Ada turis Filipina berfoto di depan patung badak, buaya, kera, anoa, dan singa laut. Ada sekeluarga turis, dua anaknya yang besar nakal dan si kecil dipanggul bapaknya. Mereka datang berombongan mengisi hari libur.

Sudahkah kau ke Ancol, kawan?

Kunjungan saya kemarin adalah kunjungan ke sekian kali. Dahulu sekali pernah ke sini ikut rombongan SMP-nya Bapak yang berdarma wisata. Kira-kira, kelas tiga SD. Tahun lalu juga ke sini mengantar adiknya istri yang kepengen main ke Seaworld.

Nah, kunjungan kemarin dalam rangka mengantar kakak dan anaknya yang juga ingin melihat Seaworld. Saya bosan di dalamnya, ya sudah, tinggallah saya melamun di depan Gelanggang Samudera mengawasi turis-turis.

Ancol_1 Setelah mereka keluar dari Seaworld, perjalanan dilanjutkan ke Dufan. Alamak, mahal nian tiketnya, Rp 250.000 per orang. Kami berempat dan satu batita, jadi harus membayar sejuta. Itu tiket akhir pekan dan hari libur. Harga tiket pada hari kerja adalah Rp 125.000.

Di dalamnya, banyak permainan, mulai dari kuda yang muter-muter ngga capek itu, histeria, tornado, roller coaster, perahu kora-kora, bianglala, dan lain-lain. Permainan mana yang pernah kawan-kawan coba?

Saya sendiri mencoba perahu kora-kora. Pertamanya memang biasa saja, lama-lama mengerikan sekali, hampir saya tak dapat menahan pipis, haha. Setelah itu, saya tak berani mencoba permainan lain yang mengerikan, khawatir pipis betulan. Sementara kalau mau mencoba permainan yang biasa malas.

Malas itu datang selain karena permainannya kurang menantang, namun kalau memilih yang menantang takut, juga disebabkan antrian di tiap permainan atau wahana yang bukan main panjangnya. Kebetulan saya datang pada saat libur nasional, pengunjung Ancol pun membeludak. Akibatnya ya itu tadi, antrian mengular di tiap wahana.

Saya malas ke sana lagi. Tapi kalau kawan-kawan penasaran, ya datang saja ke sana, kalau bisa jangan pas akhir pekan atau libur nasional dan siapkan duit agak lumayan jangan lupa, ya….