Tentang Kebablasan

Beberapa waktu yang lalu Presiden Joko Widodo mengeluhkan tentang demokrasi kita yang sudah kebablasan. Kompas pun menuliskan isu ini cukup panjang dan berseri dalam beberapa hari. Tak ketinggalan ulasan dari beberapa orang pakar pun mewarnai diskusi tentang demokrasi yang kebablasan tersebut. Tulisan ini pun tak ketinggalan ingin membahas mengenai kebablasan, tapi tenang, tidak seserius demokrasi yang kebablasan.

Saya hanya ingin berbagi mengenai Continue reading “Tentang Kebablasan”

Bagaimana Pikiran (Seharusnya) Bekerja?

Parachute movement

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah: mestinya pikiran bekerja seperti parasut.

Parasut itu dalam bekerja mesti terbuka. Jika dia gagal terbuka, maka penggunanya akan jatuh bebas ke bumi.

Pun demikian halnya dengan pikiran, harus bisa menangkap berbagai anasir baik yang cocok atau pun yang tidak sesuai.

Jalan terbaik yang bisa dilakukan agar pikiran terbuka adalah dengan tidak pilih-pilih. Artinya tidak memilih segala sesuatu hanya yang sesuai dengan pikiran kita. Misalnya berita-berita yang sesuai dengan kita, paham-paham yang sesuai dengan kita, gaya yang sesuai dengan kita, suku yang sesuai dengan kita, bahasa yang sama dengan kita dan lain-lain.

Cara termudah untuk membuka pikiran adalah dengan membaca, mendengar, melihat dan merasakan berbagai hal yang selama ini tidak pernah kita rasakan. Contoh paling gampang adalah dengan mulai membaca media yang selama ini tidak pernah kita baca. Semakin kontroversial dan semakin bertentangan dengan kita semakin bagus.

Dengan begitu, diharapkan Anda akan memiliki pemahaman yang utuh baik itu yang sesuai dengan pemahaman kita atau pun yang berseberangan. Dengan begitu, diharapkan Anda akan sedikit bersabar agar tidak reaktif, agar mencerna segala informasi, agar tidak buru-buru emosi,  agar pada ujungnya menjadi pribadi yang lebih arif.

Bila Anda khawatir dengan membaca, mendengar, melihat dan merasakan berbagai hal yang berbeda, maka sebaiknya Anda tidak terjun karena Anda barangkali belum tahu bagaimana menggunakan parasut sehingga sebaiknya jangan sekali-kali mengambil risiko.

Selamar beraktivitas semoga parasut Anda terbuka lebar dan terjun Anda menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan.

Salam

Sumber gambar dari sini

Saat Anda tak suka dengan pekerjaan

Banyak orang yang tak menyukai pekerjaannya sekarang. Barangkali Anda termasuk satu di antaranya.

Banyak alasan kenapa seseorang tak betah dengan profesinya. Salah satu contohnya adalah karena lingkungan pekerjaan yang tidak nyaman. Bos Anda adalah seseorang yang menyebalkan, teman Anda pun tak menyenangkan, Anda benci dengan toilet di kantor, dll.

Permasalahannya, Anda tak bisa dengan gampang untuk berpindah pekerjaan. Hal ini disebabkan karena keahlian Anda sudah pas dengan posisi Anda sekarang. Selain itu, tak banyak lowongan pekerjaan yang sesuai untuk Anda.

Anda pun kemudian harus menyesuaikan diri dan menerima keadaan. Betapa tidak menyenangkannya pekerjaan Anda, namun karena berbagai sebab Anda tetap harus menjalaninya. Konsekuensi dari hal tersebut adalah sebisa mungkin Anda melakukan adaptasi. Pada saat yang sama, Anda juga berlatih menerima berbagai kondisi yang tak sesuai dengan keinginan Anda. Adaptasi dan menerima, kita rasanya sudah terbiasa dan ahli untuk melakukannya, bukan?

Tak jarang Anda merasa iri melihat profesi orang lain dan betapa mereka menikmatinya. Menjadi pramugari sepertinya menarik, menjadi penulis rasanya sungguh membanggakan, tukang rokok kok tampaknya damai dan bisa bersantai. Diam-diam Anda memimpikan pekerjaan tersebut, sudah timbul keinginan dalam diri Anda untuk beralih profesi.

Saya memiliki pengalaman menarik manakala menyaksikan seorang pramugari beraksi.

Seperti juga Anda, saya pun membayangkan sungguh menyenangkan menjadi seorang pramugari yang bisa terbang ke mana pun, melihat tempat-tempat baru, bertemu banyak orang, selalu rapi, bersih dan wangi. Saya dengar gajinya pun menggiurkan nilainya. Siapa yang tak tertarik dengan segala hal tersebut?

Saya baru tahu betapa beratnya pekerjaan pramugari dalam penerbangan antara Padang-Jakarta beberapa waktu lalu.

Saat itu pesawat sudah mengangkasa dan tiba masanya bagi para pramugari untuk menyajikan makanan kepada para penumpang. Kebetulan saat itu memasuki daerah yang cuacanya buruk. Terang saja pesawat pun bergejolak menyesuaikan dengan kondisi sekitar.

Di dalam pesawat, saya yang duduk dan sudah memasang sabuk pengaman kencang-kencang pun merasa khawatir dan takut. Bila tak malu, ingin rasanya saya berteriak atau membaca doa keras-keras.

Nah, pada kondisi tersebut, pramugari yang mendorong trolley makanan itu tetap melakukan aksinya. Mereka berdiri dengan tak tenang, sesekali harus memegang kursi. Terlihat begitu repot saat ingin menuangkan minuman atau mengambil makanan. Di tengah semua itu, mereka harus tetap tersenyum saat melayani para penumpang yang ketakutan.

Saya kira sungguh tak mudah dan susah dilakukan saat Anda takut, ingin berteriak, dan barangkali gemetar, namun harus tetap tersenyum dengan manis.

Saat pekerjaan kita terasa berat, barangkali tiba saatnya untuk melihat pekerjaan orang lain. Bukan hanya menyaksikan berbagai hal yang menyenangkan, namun intip juga berbagai tantangan yang harus mereka hadapi.

Saya kira, tak ada pekerjaan yang mudah.

Rahasia di balik warung

Warung-warung kecil di pinggir jalan itu sangat bermanfaat untuk saya. Di sana, manakala saya haus, langsung bisa memesan teh botol atau air mineral dengan mudah. Bila tak ada lagi yang bisa saya hisap, sebatang atau sebungkus rokok pun selalu tersedia di warung itu. Setelah selesai merokok dan perlu permen, ini pun tersedia di warung semenjana itu.

Apakah Anda merasakan juga manfaat warung-warung kecil tersebut? Saya perhatikan banyak yang bergerombol di warung tertentu untuk sekadar merokok, ngopi, atau ngobrol. Seringkali, ada pula papan catur dan semua orang berkerumun memperhatikan permainan yang berlangsung.

Di lingkungan kantor saya, ada empat warung sejenis. Semua menjual barang yang seragam. Metode, peralatan, dan komoditas yang dijual pun tak berbeda. Nah, yang membedakan di antara keempat warung tersebut adalah pelanggan yang datang. Oh iya, kegiatan yang dilakukan di empat warung tersebut pun kurang lebih sama.

Sering saya bertanya-tanya, apakah di antara mereka tak saling bersaing?

Sebagai contoh di lingkungan kerja saya tersebut, dengan jarak kurang dari seratus meter dan ada empat warung model begitu, saya duga persaingan akan sangat ketat. Saya bayangkan mereka saling bersaing dengan sangat sengit dan mungkin saling menjatuhkan.

Rupanya saya keliru, di antara mereka tak ada persaingan yang saya khawatirkan tersebut. Sebabnya adalah, mereka berasal dari daerah yang sama. Beberapa pedagang bahkan memiliki hubungan persaudaraan.

Mereka adalah para perantau yang jauh dari tempat asalnya. Di Jakarta mengadu nasib dengan keahlian dan lahan yang terbatas. Modal yang mereka miliki tak banyak, ide yang ada di kepala pun tak cukup banyak pilihan.

Kendati semua keterbatasan itu barangkali menjadi kendala bagi mereka, namun tak menyurutkan niat untuk berbagi lahan dan rezeki dengan teman sedaerah atau saudara. Barangkali kopi yang mereka sajikan hanya kopi sachet-an murah, namun tak ada salahnya sesekali kita nikmati.

Jadi, kapan kita ngopi bareng di warung-warung itu?

Saat Pemimpin Belajar dari Artis

Sore itu seperti biasa saya sedang tekun membuka-buka halaman koran langganan ketika sampai pada sebuah halaman yang menampilkan pasangan Cagub-Wagub Jokowi dan Ahok. Pada saat itu memang sedang masa kampanye Pilkada DKI Jakarta putaran kedua.

Menurut saya, yang menarik dari gambar Jokowi dan Ahok adalah bagaimana gaya Jokowi. Beliau menggunakan baju kotak-kotak legendarisnya itu, sepatu kanvas, dan celana jeans. Batin saya, ini orang kok ngga mengikuti pakem, sih, bukankah biasanya pasangan cagub-wagub akan berpose separuh badan, berdampingan, kemudian menggunakan busana-busana resmi, semacam jas, atau busana daerah?

Melihat gambar Jokowi tersebut, saya baru sadar, ini justru seperti pasangan penyanyi. Haha.

Busana nyeleneh seperti yang sudah disebutkan di atas, pose seluruh badan, posisi yang tak berdampingan, dan kalau tak salah ia bersedekap. Pendek kata, apa yang disajikan benar-benar beda. Barangkali, Jokowi dan Ahok atau tim suksesnya memang belajar dari artis-artis kala membuat poster pertunjukan. Bisa jadi, kan? Continue reading “Saat Pemimpin Belajar dari Artis”

Dan Millman, Pelatih yang Menulis

Francis Bacon menulis, “Kita mendaki tinggi sekali dengan sebuah tangga melingkar.” Sementara itu, Issac Bashevis menulis, “Hidup adalah novel Tuhan, biarkanlah Tuhan yang menulisnya.” Memang, siapa yang bisa menebak liku-liku jalan yang mungkin ditempuh hidup kita? Yang bisa kita lakukan sebagai penulis adalah mencoba, mengerahkan usaha, menabur benih, dan menuai panen apa pun yang diberikan dengan penuh suka cita dan syukur.

Di SMA dan perguruan tinggi, Dan Millman lebih dikenal sebagai seorang atlet daripada seorang penulis. Bakatnya terpendam, sampai kemudian ia menyadari, bahwa ia menyukai menulis. Baginya, ada sesuatu yang menarik saat ia memahat kata-kata—menambang permata dari alam bawah sadar yang kreatif—yang membuat waktu seakan terbang.

Senjata Dan adalah keyakinan bahwa ia mempunyai sesuatu yang layak dikatakan, dan harapan, bahwa ia bisa mengatakannya dengan baik. Ia berangkat, berbekal lebih banyak cinta daripada bakat, menempuh perjalanan menuju keberhasilan sastra.

Dan harus menjalani tahun-tahun yang sulit karena ia tak tahu banyak bagaimana cara menulis sebuah cerita. Ia pun kemudian mengikuti pelajaran korespondensi, di mana ia mulai belajar bagaimana menulis sebuah cerita.

Dari latihan senam ia tahu, bahwa noda bekas luka di siku lebih penting daripada bakat turunan, bahwa bakat harus dilatih, bukan hanya dilahirkan.

Saat menjalani masa sulit tersebut, dia berpegang pada lima aturan menulis dalam hidup: muncul; perhatikan; katakan kebenaranmu; lakukan yang terbaik; jangan melekat pada hasil.

  1. Muncul berarti duduk di kursi di hadapan komputermu atau di depan notesmu.
  2. Perhatikan berarti melihat, mendengarkan, menyentuh, membaui, merasakan kehidupan dan menulis untuk kelima indera, lalu baca tulisanmu, perhatikan kelemahannya dan perbaiki pekerjaanmu.
  3. Katakan kebenaranmu berarti menulis dengan caramu sendiri, karena tak ada orang lain yang menulis persis sepertimu.
  4. Lakukan yang terbaik berarti terus-menerus menulis ulang sampai kau yakin tidak bisa memperbaiki satu kalimat lagi atau satu kata lagi. Kemudian, singkirkan tulisan itu sebentar sebelum kau membuat konsep yang lebih baik lagi.
  5. Jangan melekat pada hasil berarti kau tidak bisa mengendalikan hasilnya, hanya usahamu yang bisa kau kendalikan—bahwa usaha itu sendiri merupakan keberhasilan. Bahkan, Michael Jordan pun tidak bisa mengendalikan apakah lemparannya masuk ke dalam keranjang atau tidak. Ia hanya bisa mengendalikan apakah ia melempar bolanya atau tidak.

Selanjutnya mengenai keberhasilan penjualan bukunya ia bercerita, bahwa sebuah buku yang sukses harus dijual, bukan hanya satu kali, tetapi delapan kali: pertama, kau harus menjual buku itu pada dirimu sendiri (jika bukan kau, siapa yang akan bergairah membaca bukumu?). Lalu kau menjualnya kepada agen, yang harus menjualnya kepada seorang penerbit, yang harus menjualnya kepada dewan editor dan penerbit yang menjualnya kepada tim penjualan supaya mereka dengan penuh semangat menjualnya kepada toko buku. Berikutnya, toko buku menjualnya kepada publik. Akhirnya, dan yang terpenting, pembaca menjualnya ke pembaca lain melalui mulut ke mulut.

Dirangkum dari, Chicken Soup for the Writer’s Soul, Halaman 70-75.