<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>unclegoop[dot]com &#187; bayangan</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.com/tag/bayangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.com</link>
	<description>melintas batas ruang dan waktu</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 02:43:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Bayangan</title>
		<link>http://unclegoop.com/2011/10/28/bayangan/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2011/10/28/bayangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 04:41:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[bayangan]]></category>
		<category><![CDATA[langkah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1731</guid>
		<description><![CDATA[Kamu seperti bayang-bayangku, turut ke mana pun aku melangkah…. Adalah A, dan ini ceritaku tentangmu. Undangan merah jambu itu masih tergeletak di meja. Plastik pembungkusnya masih terbungkus rapi. Aku tak merasa perlu untuk sekadar membukanya. Inisial namamu, A, dan ahhh, bahkan tak kuperhatikan siapa pasanganmu. Hanya dari deretan alamat yang kuhapal di luar kepala, telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/10/beach-beautiful-beauty-dawn-of-a-new-day-girl-light-Favim.com-40526.jpg"><img class="size-medium wp-image-1736 aligncenter" title="beach-beautiful-beauty-dawn-of-a-new-day-girl-light-Favim.com-40526" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/10/beach-beautiful-beauty-dawn-of-a-new-day-girl-light-Favim.com-40526-300x184.jpg" alt="" width="300" height="184" /></a></p>
<p>Kamu seperti bayang-bayangku, turut ke mana pun aku melangkah….</p>
<p>Adalah A, dan ini ceritaku tentangmu.</p>
<p>Undangan merah jambu itu masih tergeletak di meja. Plastik pembungkusnya masih terbungkus rapi. Aku tak merasa perlu untuk sekadar membukanya.</p>
<p>Inisial namamu, A, dan ahhh, bahkan tak kuperhatikan siapa pasanganmu. Hanya dari deretan alamat yang kuhapal di luar kepala, telah membuatku mengerti, paham, bahwa kamu bukan untukku. Barangkali untuk selamanya.</p>
<p>Di sebuah kelas, sepuluh tahun yang lalu.</p>
<p>A, kamu duduk di belakangku. Apa yang biasa kamu lakukan kalau guru memberi pelajaran yang membosankan?</p>
<p>Terkadang aku suka mencuri pandang, dan heiii, apa yang kamu lakukan? Kamu memandangku. Hahaha, penawar kebosanan macam apa itu?</p>
<p>Dan bagaimana bila aku bosan? Ugh, jujur aku pun ingin balas memandangmu.</p>
<p>Lalu, kenapa pula kita harus saling pandang sembunyi-sembunyi?</p>
<p>Karena, A, kamu dan aku tahu, ada yang tak terucapkan di antara kita. Sebuah rasa yang menelusup begitu laten yang menghangatkan hati kita manakala kita bersama.</p>
<p>Rasa itu, A, tak pernah kau ucapkan, tapi aku tahu. Rasa ini, A, ada di dalam hatiku bersemayam di sana dan kamu pun tahu biarpun aku hanya diam.</p>
<p>Lalu, kita pun berpura-pura.</p>
<p>Kita bersandiwara seolah tak ada suatu apa yang terjadi antara kita. Kepopuleranmu perlahan membelenggumu, memborgolmu begitu erat dan mendudukkanmu di pucuk ketenaran. Kamu, A, adalah bisik-bisik di setiap bibir gadis yang merekah di sudut kantin.</p>
<p>Aku adalah bunga yang tumbuh di pinggir. Aku terlampau sibuk dengan rumput dan tak menyadari hadirmu yang begitu dekat. Aku silau oleh matahari. Maka aku menatapnya dan barangkali aku buta. Tapi, aku merasa, A, hanya, aku tak kuasa untuk berkata.</p>
<p>A, bukankah kamu jengah dengan semua bunga cantik yang mencoba-coba menarik hatimu itu? Kamu berjalan pongah, yang, ahhh… itu justru malah membuat mereka semakin terperangah.</p>
<p>Kenapa, A, kenapa kamu betah denganku, mencuri pandang kala bosan mendera? Bunga-bunga cantik itukah penyebabnya? Kukira iya, kamu bosan dengan tingkah polah mereka.</p>
<p>Lalu, kenapa aku, A? Aku yang bahkan acuh padamu. Berjalan diam dalam kesendirianku, tafakur dalam sunyiku. Kendati memang aku menutupinya dengan tertawa bersamamu, bercanda. Senyum itu, A, bukan untukmu, itu untuk hatiku sendiri yang takkan kubagi.</p>
<p>Dan mungkin kamu tahu itu, maka kamu cukup dengan memandangku dan bersamaku setiap waktu. Aku pun telah puas, manakala aku merasa kamu masih di belakangku dan memandangku.</p>
<p>Kita berdekatan tapi tak pernah bersentuhan. Kamu adalah bayangan, yang tak bisa kusentuh, semakin aku mendekat, berkas cahaya membuatmu mulur lalu memanjang dan semakin sulit kujangkau.</p>
<p>Sekarang aku sadar, bahkan waktu pun tak kuasa untuk memisahkan bayangan itu. A, kamu masih di belakangku, bahkan saat ini ketika aku menerima surat undangan darimu.</p>
<p>Selamat, A.</p>
<p>Ditulis atas pesanan dari seorang sahabat yang centil <img src='http://unclegoop.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2011/10/28/bayangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Balik Bayang</title>
		<link>http://unclegoop.com/2008/11/10/di-balik-bayang/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2008/11/10/di-balik-bayang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 16:50:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[bayangan]]></category>
		<category><![CDATA[bercerita]]></category>
		<category><![CDATA[cantik]]></category>
		<category><![CDATA[menari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[Akheela menatap tembok di taman belakang rumahnya dengan penuh perhatian. Di sana, pada sebuah sudutnya terdapat bayangan tembok lain dari rumah tetangga. Sudut itu menjadi gelap; sedikit lembab dan mungkin berjamur yang bahkan mampu membuat cat di bagian itu terkelupas. Bayangan itu sepertinya akrab dengan Ila, begitu biasa gadis kecil itu dipanggil. Memang, sebenarnya Ila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2008/11/girl-shadow.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-367" title="gadis menari" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2008/11/girl-shadow-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a>Akheela menatap tembok di taman belakang rumahnya dengan penuh perhatian. Di sana, pada sebuah sudutnya terdapat bayangan tembok lain dari rumah tetangga. Sudut itu menjadi gelap; sedikit lembab dan mungkin berjamur yang bahkan mampu membuat cat di bagian itu terkelupas.</p>
<p style="text-align:justify;">Bayangan itu sepertinya akrab dengan Ila, begitu biasa gadis kecil itu dipanggil. Memang, sebenarnya Ila adalah gadis di balik bayang-bayang. Dan ini kisahnya:</p>
<p style="text-align:justify;">Hujan bukan lagi gerimis, lebat boleh dibilang begitu. Dua gadis kecil itu masih juga bermain dengan penuh tawa senang. Mereka tak sadar bahwa di balik pintu dapur yang terbuka seorang Ibu mengawasi dengan cemas.</p>
<p style="text-align:justify;">â€œIla, cepat ke mari, nak. Hujan, nanti kamu sakit.â€</p>
<p style="text-align:justify;">â€œBentar, ma, Ila masih ingin bermain bersama kakak.â€</p>
<p style="text-align:justify;">Tak sabar, diambillah sebuah payung oleh Ibu itu. Dengan menarik daster biru mudanya sampai ke lutut, dihampirinya kedua gadis kecil itu.</p>
<p style="text-align:justify;">â€œAyo, Ila, nanti kamu terkena flu, sudah cepat atau nanti mama adukan ke papa.â€</p>
<p style="text-align:justify;">â€œTetapi, maâ€¦. â€œ</p>
<p style="text-align:justify;">Tak kuasa Ila untuk sekedar menolak perintah itu. Sebelah tangannya digandeng oleh mamanya dan diseret ke kamar mandi, kemudian dimandikan dengan air hangat. Adapun kakaknya, masih juga belum beranjak dari tengah taman bermain lumpur; bermandikan air hujan, basah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ila telah hangat kini. Minyak kayu putih dioleskan ke sekujur tubuhnya; sweater tebal membungkus erat tubuh bagian atasnya. Adapun pada kakinya, sebuah selimut kembang-kembang melindungi dengan sempurna.  Dia duduk di ranjangnya, sesekali bersin dan melalui jendela dia bisa melihat kakaknya masih juga bermain hujan. Iri, entah kenapa rasa iri itu menyeruak begitu perlahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesekali bersin terdengar dari mulut Ila; hidungnya pun mendadak mampet dan pusing tak lupa hinggap di kepalanya. Begitu berat. Masih ditambah dengan iri yang mengusik-usik hatinya. Tak salah kiranya bila menyebut Ila begitu tersiksa dengan semua keadaan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">â€œKamu ngga papa, Ila?â€</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah suara berat dan berwibawa: ayah Ila. Beliau masuk ke dalam kamar dengan langkah yang tegap, tenang. Semakin mendekati ranjang di mana Ila terduduk pucat. Sebelah tangannya terangsur ke pelipis Ila. Disibakkan poninya dengan jemari tangan yang kukuh itu; menggunakan punggung tangannya papa Ila mencoba mengukur, mengira-ira suhu tubuh Ila.</p>
<p style="text-align:justify;">â€œKamu demam, nak. Itulah akibatnya bila berhujan-hujanan. Papa kan sudah selalu bilang.â€</p>
<p style="text-align:justify;">Ila masih terdiam seribu bahasa. Dilayangkan pandangannya kembali ke kakaknya yang masih bermain hujan. Tangan ayahnya sudah tidak berada di pelipisnya, tetapi rasanya masih ada di sana. Wibawanya begitu kuat dan tak mungkin bisa dilawan olehnya yang mungil.</p>
<p style="text-align:justify;">Dunia bagi Ila, menyempit. Dia hidup di bawah ketiak ayah dan ibunya. Hari-harinya adalah menelusuri jejak kakaknya, di balik bayangannya. Meski tak pernah bisa, tak juga bisa dia meniru, mendapatkan apa yang kakaknya dapatkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ila begitu murung bila mengingat semua itu. kebebasannya terpasung di bawah kendali ayah dan ibunya. Kebebasan yang dengan sangat bertolak belakang bisa didapatkan kakaknya dengan mudah.</p>
<p style="text-align:justify;">â€œPapa, kenapa Ila tak boleh bermain hujan seperti kakak?â€</p>
<p style="text-align:justify;">â€œKarena kamu mudah sakit, Ila, begitu mudah sakit.â€</p>
<p style="text-align:justify;">â€œTetapi, Paâ€¦.â€</p>
<p style="text-align:justify;">â€œSudahlah, Ila, jangan membantah terus, kasihan mama bila harus repot merawatmu.â€</p>
<p style="text-align:justify;">Bila sudah begitu, Ila kemudian terdiam. Tak ada lagi kata yang terucap. Semua yang ingin keluar dari mulutnya tertelan kembali. Begitu banyak yang ingin diucapkannya, tetapi kemudian hanya helaan nafas yang tertahan untuk menyembunyikan sedu sedan.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Ila, apa yang dilakukan oleh ayah ibunya adalah tidak adil. Kakaknya bebas melakukan segala hal. Tetapi Ila? Selalu dan terus diawasi, dipantau di bawah lirikan tajam mata ayah dan ibunya. Bukan kondisi yang menyenangkan, tak juga bisa dikatakan membahagiakan. Meski di sudut hatinya pun dia tahu, orang tuanya melakukan itu semua demi dirinya jua. Tubuhnya yang rapuh, rentan terhadap penyakit.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah kemudian Ila bersalah menjadi rapuh? Bila ternyata kedua orang tuanya tidak pernah memberikan sebuah ruang untuknya. Ruang di mana dia bisa belajar menjadi kuat, tidak rentan; kokoh tak mudah patah menajadi serpihan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak bisa dikatakan salah pula kedua orang tuanya. Rasa kasih dan sayang telah mendorong beliau berdua untuk menjaga Ila lebih dari seharusnya. Siapa tahu, mereka ingin agar anaknya tak mudah terserang flu dan demam.</p>
<p style="text-align:justify;">Jembatan pengertian di antara mereka mungkin tidak pernah sempurna dibuat. Ada sebuah jeda seperti elipsis yang masing-masing pihak mesti mengisinya dengan pengertiannya sendiri-sendiri. Sebuah dunia baru terbentuk di dalam diri Ila.</p>
<p style="text-align:justify;">Dunianya sendiri, begitu Ila akan menyebut bagian dari dirinya yang tak akan dibagi kepada siapapun. Entah ada apa di sana hanya dia yang tahu. Dunia di mana dia akan menari, bernyanyi dan bercerita. Jangan mencoba mengganggunya, atau mencoba melihat dunianya yang satu ini. Karena dia menari, bernyanyi dan bercerita di balik bayang.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya, barangkali satu saat matahari akan bergeser dan membuka wilayah gelap itu, seperti apa yang Ila saksikan kini di tembok belakang rumahnya. Aih, di sana ternyata banyak semut berbaris rapi, ada pula sepasang kupu-kupu yang  hinggap di bunga. Dan bunga itu, begitu cantik, secantik Ila yang entah kenapa tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">Bilakah?</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="gadis bayangan" href="http://www.weeklyreader.com/readandwriting/content/binary/girl%20shadow.jpeg" target="_blank">asal gambar</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2008/11/10/di-balik-bayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Bulan Separo</title>
		<link>http://unclegoop.com/2008/06/24/saat-bulan-separo/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2008/06/24/saat-bulan-separo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 01:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[jendela dunia]]></category>
		<category><![CDATA[bayangan]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis]]></category>
		<category><![CDATA[nikmati]]></category>
		<category><![CDATA[purnama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Ada hikmah di balik listrik mati Kebiasaan menikmati berbagai perangkat yang sangat tergantung listrik, menjadikan saya alpa pada beberapa hal. Nyaman sekali bila listrik tersedia dan semua perangkat yang terhubung pada listrik bisa bekerja maksimal. Saat yang sama, saya lupa bahwa banyak hal lain, gratis yang tidak membutuhkan listrik. Kapan terakhir Anda menikmati sinar lembut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Ada hikmah di balik listrik mati</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kebiasaan menikmati berbagai perangkat yang sangat tergantung listrik, menjadikan saya alpa pada beberapa hal. Nyaman sekali bila listrik tersedia dan semua perangkat yang terhubung pada listrik bisa bekerja maksimal. Saat yang sama, saya lupa bahwa banyak hal lain, gratis yang tidak membutuhkan listrik.</p>
<p style="text-align:justify;">Kapan terakhir Anda menikmati sinar lembut rembulan? Pernahkah mengamati, bagaimana pergerakan rembulan? Sekedar mengingatkan â€“bila tidak salah- diawali bulan mati, bulan sabit, bulan separo dan purnama. Purnama adalah puncak, sebelum kemudian bergerak kembali menjadi bulan separo, bulan sabit dan diakhiri bulan mati.</p>
<blockquote><p>Melingkar penuh, seperti purnama</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Di sudut desa, pada sebuah perempatan. Biasanya sebuah lampu yang menempel di tiang listrik, akan menyala terang di sana. Saat listrik tidak menyala, perempatan akan gelap. Sinar rembulan yang jatuh menimpa pohon pisang, menimbulkan bayangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dedaunan pisang bergerak ditiup angin. Seperti tangan-tangan yang menggapai cahaya. Gerakannya lembut, syahdu, berirama. Indah namun menyembunyikan misteri. Dalam gelap, bayangan akan menjelma menjadi tubuh-tubuh tanpa nyawa, menyeramkan!</p>
<p style="text-align:justify;">Umbra dan penumbra terbentuk di bumi. Berkas cahaya menelusup di antara dedaunan dan dinding-dinding rumah. Telusurilah, dan temukan rembulan sebagai sumber cahaya tersenyum-senyum. Cantik, malu-malu dan sesekali bersembunyi di balik awan.</p>
<blockquote><p>Anggun, malu-malu seperti pipi gadis yang merona</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Masuklah ke dalam rumah! Ada lilin, apinya bergerak dihembus angin. Cahaya kembali bermain-main. Bayangan terbentuk dari perabot, jatuh di dinding. Sepertinya tubuh-tubuh tanpa nyawa kembali bangkit. Mengggapai-gapai laksana arwah penasaran yang sudah bergentayangan selama ribuan tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Suara yang ada adalah keheningan. Pada jeda yang pasti, hanya detak jarum jam yang terdengar. Tetap, ajeg seperti metronom penjaga nada. Jangan heran bila kemudian terbawa pada suasana. Perenungan mendalam, menelusup di relung-relung kesadaran, kenangan, harapan. Namun, bisa juga menjadi irama yang meninabobokan, mengantar pada lelap pasca lelah tubuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Bayangan, harapan, bergentayangan menelusuri dinding. Sebagai jeda, selain cahaya lampu. Istirah dari cahaya televisi, redup layar monitor. Saya kira, mati listrik menawarkan variasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti kesedihan, di antara kebahagiaan. Saat sedih, begitu berarti kebahagiaan. Bak sakit di tengah-tengah sehat. Tatkala sakit, begitu nikmat sehat.</p>
<blockquote><p>Kehilangan hanyalah milik mereka yang &#8220;merasa&#8221; memiliki</p></blockquote>
<p>Kebahagiaan, sehat bukanlah milik kita. Kesedihan, sakit adalah karunia. Bentuk cinta, pengingat bahwa tak ada yang abadi. Tak ada jaminan, tak ada milik kita.</p>
<p>Seandainya bisa, tentu berharap listrik tak pernah mati. Menyala terus, disibukkan selalu dengan layar monitor, debat dan gosip di televisi. Meski saat itu, barangkali kita lupa bahwa ada rembulan yang cantik di atas sana. Mungkin ketika itu, tak pernah kita dengar detak jarum jam.</p>
<blockquote><p>Menikmati semua, merasakan, memaknai, bisakah?</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2008/06/24/saat-bulan-separo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
