Suatu malam di depan warnet

Beberapa malam yang lalu, pekerjaan saya adalah mendampingi istri untuk mencetak tugas dari kantornya di warnet. Situasi kafe internet yang tak bersahabat dan begitu ramai membuat saya hanya terkatung-katung menunggu di luar.

Dari luar, saya bisa dengan mudah melihat ke dalam. Di sana ada sekitar 32 komputer yang dijajar rapi. Pada tiap komputer, duduk seorang atau ada juga yang berdua. Mereka kebanyakan adalah remaja belasan, bahkan ada yang masih di bawah sepuluh tahun. Dari sekian banyak pengunjung, saya hanya melihat seorang bapak yang duduk tak nyaman.

Saya tak tahu apa saja kegiatan masing-masing orang di depan tiap monitor. Namun, semua terlihat serius dan kadang riuh, sesekali ada juga yang saling berteriak. Dugaan saya mereka ini sedang bermain game online.

Saat ini, aktivitas bermain dalam jaringan tersebut saya rasa mudah sekali ditemukan di warnet. Bahkan, barangkali adalah kegiatan utama yang dilakukan para pengunjung. Sebuah kegiatan yang sejujurnya menghalangi mereka yang memerlukan internet untuk keperluan lain.

Seperti halnya istri yang ingin sekadar mencetak tugasnya harus menghampiri penjaga dan meminta bantuan untuk print. Dahulu, kondisi tersebut cukup diatasi dengan memakai salah satu komputer dan print sendiri. Kondisi yang saat ini tak mungkin lagi dilakukan karena semua komputer sudah diakuisisi oleh remaja-remaja tanggung untuk bermain game.

Pernah juga saya melihat serombongan remaja putri yang kebingungan karena ingin mencari bahan untuk tugas sekolahnya di internet, namun tak mendapatkan komputer setelah mereka masuk ke sebuah warnet. Serombongan yang lain kebingungan karena harus antri lama untuk mencetak lima lembar pekerjaan rumah.

Saya kira, hal ini bisa menjadi peluang bagi Anda yang ingin berbisnis. Buatlah sebuah warnet yang tak memberi izin kepada pengunjung untuk bermain game online. Warnet tersebut hanya membuka akses untuk game online pada waktu-waktu tertentu saja. Di luar itu, warnet diperuntukkan bagi mereka yang ingin berselancar normal di internet, mengerjakan tugas, mencari bahan, belajar, mencetak dan lainnya kecuali game online.

Hal lain yang saya saksikan sepanjang beberapa waktu saya berdiri di depan warnet tersebut adalah adanya ibu-ibu yang kebingungan mencari anaknya. Wajah beliau tampak gusar, bahkan ada yang marah dan berteriak-teriak dari luar warnet menghardik putranya agar segera pulang.  Lain saat, ada pula yang was-was karena sudah beberapa kali memasuki warnet langganan putranya namun tak juga menemukan sosok yang dicari.

Apakah perlu ada sebuah peraturan yang mengatur warnet untuk membuka atau tidak membuka akses ke game online pada waktu tertentu? Misalnya saja manakala waktunya anak-anak seharusnya belajar, maka warnet tersebut harus menutup semua akses ke game online.

Saya kurang suka dengan tambahan peraturan sebenarnya, namun kasihan juga melihat orang tua yang kebingungan mencari anaknya di depan warnet.

Izin untuk Nak Joko

Jokowi_dan_JK

Hari ini, calon presiden Joko Widodo mendeklarasikan calon wakil presidennya, yaitu Jusuf Kalla. Pemberitaan mengenai hal itu pasti sudah banyak dan mungkin membuat bosan.

Namun, dalam rangkaian deklarasi Capres dan Cawapres Joko Widodo, ada satu adegan yang mengharukan.

Di televisi, banyak gambar yang disajikan, namun ada sekilas adegan yang terekam jelas di benak saya. Barangkali rangkaian gambar ini pun tak menarik perhatian banyak orang. Jadi, suatu kebetulan saja kalau saya sampai melihatnya.

Siang itu, selepas para pemimpin partai memberikan pernyataan, tibalah giliran Jokowi untuk meminta izin. Dia meminta izin untuk mendeklarasikan pencapresannya dan sekaligus pengumuman siapa yang akan terpilih sebagai wakilnya.

Setelah berpidato sebentar, Jokowi kemudian segera berjalan dengan cepat meninggalkan rumah Ketua Umum PDIP, Megawati.

Nah, saat itulah momen yang tak sengaja itu terekam. Mendadak, cameramen mengambil gambar deretan para ketua umum yang masih duduk di kursi.

Pandangan mereka jauh, melihat ke punggung Jokowi, seperti mengantar kepergian Jokowi.

Bagi saya, momen yang sejenak ini terasa istimewa. Saya kemudian teringat para orang tua yang sedang mengantar kepergian anaknya.

Seperti orang tua yang melepas anaknya untuk bersekolah pertama kali di pintu gerbang. Selayaknya orang tua yang mengantar anaknya ke terminal bis karena akan bekerja di kota lain.

Para orang tua itu saya duga lebih senang bila anak-anaknya tetap berada di rumah dalam pelukannya. Lebih senang bila tetap berada di bawah pengawasannya. Lebih senang bila berada dekat.

Namun, para orang tua itu kemudian harus ikhlas. Anaknya tak akan selamanya ada di dalam rumah. Dia perlu keluar untuk sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang berguna untuk masa depannya.

Anak adalah persembahan orang tua untuk dunia, untuk masa depan. Meski orang tua tak pernah tahu apakah anaknya akan berhasil atau tidak, akan kembali atau tidak. Orang tua tetap mendorong, merestui, dan mendukung dari belakang, sampai anak itu bisa, sampai anak itu berhasil.

Bagi saya, sekelumit adegan tersebut dan maknanya yang sewenang-wenang saya berikan, entah kenapa menimbulkan haru.

Sila baca juga puisi karya Kahlil Gibran ‘Anakmu bukan Anakmu’ di sini

Gambar dipinjam dari sini

Narasi: di Jakarta Setelah Isya

Arloji saya menunjukkan pukul delapan malam. Waktu yang terlalu dini untuk menjemput istri yang baru keluar dari pabriknya pukul sembilan.

Saya pun berhenti di sebuah toko kelontong, seperti malam kemarin sekadar membunuh waktu dengan meminum segelas kopi. Ya, di toko kelontong itu memang menyediakan kopi.

Toko itu terdiri dari dua los yang berada di pinggir perumahan elit di Jakarta Utara. Di sana disediakan berbagai keperluan warga perumahan. Barangkali karena lebih murah, maka banyak juga warga perumahan yang datang untuk membeli air minum dalam galon dan gas. Biarpun di kompleks perumahan ada semacam minimart, namun toko kelontong itu tetap eksis.

Sewaktu hendak meminum kopi, saya mula-mula memegang gelasnya. Terasa demikian panas, saya pun membatalkan tegukan pertama.

Tiba-tiba, seorang gadis kecil, barangkali usia tujuh tahun mendekat. Sepertinya dia anak dari penjual kelontong.

“Permisi, Om, geser dulu ya, saya mau tidur.” Saat itu saya duduk di bangku kayu panjang yang agak lebar dekat dengan meja.

sleeping-1311784_640

“Oh, iya.” Jawab saya pendek, kemudian saya membawa kopi ke meja seberang yang juga dilengkapi dengan bangku agak sempit namun lebih panjang. Gadis kecil itu dengan cekatan membantu saya memindahkan tumpukan koran dan sebungkus rokok punya saya yang sedang dibaca dan lupa tak saya bawa serta.

Selanjutnya, dia kembali ke bangku yang pertama yang agak lebar itu dan membersihkannya. Di sana semula ada termos, kardus, dan remah-remah makanan ringan.

Setelah bersih, dia menempatkan bantal kecilnya di salah satu ujung bangku. Dengan trengginas, dia menempatkan tubuh mungilnya berbaring di bangku itu.

Saya memandangi si gadis kecil dengan khawatir kalau-kalau dia terjatuh.

Mula-mula dia berbaring telentang, memandangi langit malam yang terhampar luas di atasnya. Sebuah pesawat terbang tinggi, hanya lampunya yang berkedip-kedip, tampak di kejauhan.

Tak lama, ia berbaring miring menghadap ke saya. Barangkali karena dingin, ia meringkukkan tubuhnya, melipat lutut sampai ke perut. Saya kembali melirik, matanya mengerjap jenaka melihat ke arah saya, kemudian terpejam. Saya kira sudah tertidur.

Tak lama, dia kembali mengubah posisinya. Sekarang membelakangi saya, hanya punggungnya yang tampak. Saya kembali mengira dia sudah tertidur.

Sebuah sepeda motor dengan knalpot menggelegar datang mendekat. Gadis kecil itu seperti terlonjak dan kaget. Syukurlah, dia tak sampai jatuh.

Namun, kemudian dia berdiri. Merengek ke ibunya dan mulai menangis. Dia bilang sudah mengantuk dan hendak tidur. Ibunya yang sedang melayani pelanggan, mengacuhkannya.

Si gadis kecil melihat karpet plastik telah tergelar di ruang sempit di dalam toko. Di sana kakak lelakinya telah terlelap, dia pun menyusul tidur di sebelah kakaknya itu.

Tak lama, sepertinya dia sudah tidur. Ibunya masuk, melangkahi tubuhnya, mengambilkan uang kembalian untuk saya. Televisi di kaki gadis itu masih menyala, beberapa baju yang tergantung tak rapi berada di sebuah sudut, berjejalan dengan barang-barang dagangan yang lain.

Saya pergi meninggalkan toko itu. Di kejauhan, suara penceramah di masjid mendakwahkan tentang keimanan. Di langit, bulan mulai menampakkan dirinya, tak penuh, hanya terlihat sedikit.

Picture


Si Kecil dan Makanannya

Apakah si kecil putra atau putri Anda sulit makan?

Katanya janganlah lekas putus asa manakala si kecil melakukan gerakan tutup mulut itu. Hal ini karena kecukupan nutrisi bagi sang buah hati sangatlah penting.

Hal yang pertama dilakukan adalah mencari apa sebabnya si kecil susah makan, biarpun makanan yang disajikan menarik, nikmat, serta sehat baginya.

Bisa jadi si kecil bosan dengan menu yang biasa, atau tekstur makanannya yang tidak sesai. Hal lain, bila si kecil sedang tidak sehat atau tumbuh gigi, seringkali juga mengalami kesulitan saat harus makan. Ruang makan yang Continue reading “Si Kecil dan Makanannya”

Cinta Anak pada Saat yang Tidak Tepat

Seringkali, kita harus memberikan dan menunjukkan rasa cinta dan sayang, bahkan ketika Anak melakukan perbuatan yang kurang menyenangkan.

Pagi itu seluruh keluarga sedang bersiap-siap untuk beraktivitas. Kiki, gadis kecil 3 tahun, pun sibuk dengan mainannya. Mendadak terdengar suara ribut karena kucing yang sepertinya sedang kesakitan. Saat ibu menengok pada sumber suara, terlihat Kiki sedang mengangkat kucing itu dengan menarik ekornya.

Kiki seperti tertangkap basah. Antara takut dan malu, ia menatap ibu. Ahhh… syukurlah Ibu tak sampai marah. Ia berkata, “Sini, Sayang….”

Gadis mungil itu pun berlari, menghambur ke pelukan ibunya dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya. Ia menyesali perbuatannya. Continue reading “Cinta Anak pada Saat yang Tidak Tepat”

Ibu-ibu

Saat melihat ibu-ibu yang sedang ngerumpi apa yang terpikir?

Barangkali terlintas di benak, sebuah kesia-siaan belaka.

Saya pun dulu berpikir begitu. Di kontrakan ada dua ibu rumah tangga yang tugas utamanya adalah membesarkan putrinya. Di pagi hari, kendati tak bekerja, namun ibu ini terlihat cantik, pun anaknya. Mereka tampak sehabis mandi bersama.

Saat ibu lain yang bekerja sudah dandan rapi dengan seragamnya atau pakaian kerja, dua ibu itu hanya memandangi mereka ini. Apabila yang lain beranjak pergi, maka keduanya masih di rumah, ngemong dua putrinya. Mereka saling bercerita.

Pada sore hari, saat saya pulang dari pabrik, kembali saya lihat keduanya. Masih juga sibuk dengan putri masing-masing, mendorong sepeda roda tiga ke sana kemari. Terkadang, mereka berdua bercakap-cakap, masih sambil mengawasi putrinya.

Ibu rumah tangga, dalam pikiran saya dulu, sejujurnya saya pandang sebelah mata. Fungsi mereka tak lebih dari sumur, dapur, dan kasur. Kalau pun boleh ditambahkan, maka itu adalah nongkrong dan ngerumpi tak kunjung usai.

Batin saya, “Kasihan suami mereka.”

Kemudian saya membaca mengenai derita ibu rumah tangga. Adalah Catharine yang pekerjaan utamanya untuk mengasuh putranya dan punya sambilan sebagai penulis. Dari sini, terbukti pendapat saya semula tersebut keliru.

Rupanya ibu-ibu itu memerlukan teman untuk berkomunikasi. Mereka perlu bicara dengan sesamanya. Berbagi apa saja, terutama mungkin  tentang bagaimana membesarkan anak dan melayani suami.

Tentu bukan hal yang mudah, bukan, apabila harus melihat ibu lain sibuk berangkat kerja, sementara mereka harus tetap di rumah menunggui putra-putrinya.

Ibu-ibu itu ngerumpi di antara mereka karena mereka membutuhkannya. Mereka butuh bersahabat. Persahabatan mereka terjalin karena kebutuhan, bahkan terkadang tercipta karena rasa putus asa.

Sudahkah pagi ini kau lihat serombongan ibu-ibu ngerumpi, sobat?

Layang-layang

“Tentang kebebasankah ini?” Tanyamu curiga, “Seperti layang-layang putus terbang terbawa angin.” Kamu menambahkan dengan sedikit bumbu sok tahu kali ini.

Sayang sekali, kawan, tak ada yang benar dari tebakanmu itu. Sebaliknya, ini justru mengenai kungkungan, penyanderaan.

Hanya hikayat tentang sebuah layang-layang yang tersangukut di tiang listrik. Pada kabel-kabelnya yang hitam.

Di sana, ia bergerak-gerak seiring hembusan angin yang juga menggoyang-goyangkan ranting pohon Belimbing dan Palem di bawahnya. Sedikit benangnya yang masih tersisa juga menjuntai berkibaran ditiup angin.

Benang dan layang-layang itu seolah ingin berkata, “Bebaskan aku, kuingin terbang membumbung tinggi ke langit, memagut awan.”

Tapi benarkah? Benarkah itu jeritan benang dan layang-layang? Maaf barangkali ini menjadi kisah yang sedikit ragu dan tak yakin.

Karena, bukankah layang-layang itu adalah sebuah pertanda, simbol dan sinyal?

Jeritan kanak yang tak bebas bermain menerbangkan layang-layangnya. Jalanan sempit di depan rumah tak cukup luas untuknya berlari ke sana kemari membawa lari layang-layang mengulur benang.

Angkasa yang semestinya luas telah menyempit dibatasi kabel-kabel listrik dan telepon. Pucuk-pucuk atap rumah yang angkuh atau sekadar lantai dua yang sesak, penuh dengan jemuran baju, celana, cawat dan kutang.

Maaf, nak, kaki mungilmu tak terlatih berlari. Tak biasa lecet dan terjatuh. Kamu tak bisa membawa lari layang-layangmu. Kami membatasi gerak kakimu dengan jalanan yang sempit. Kami membelenggu tingkah polah layang-layangmu dengan atap dan kabel-kabel.

Maka, cukuplah bermain di dalam rumah ya, sayang. Di depan televisi melihat selebriti pasang aksi. Gerakkanlah jemarimu jangan lelah menggenggam stick PS dan hancurkan lawanmu dalam permainan penuh denyar dan warna. Atau, marilah kita ke mall, mandi bola dan naik komidi putar yang harga tiketnya membuat mata papa berputar-putar.

Mau, kan?

Sridewanto Edi/030609