Satu Mimpi

Novel Winter Warriors karya David Gemmel sejatinya bercerita tentang kepahlawanan. Namun, di sela jalan cerita, ada satu hal yang paling saya ingat adalah pembicaraan tentang mimpi.

Adalah Kebra, sang pemanah jagoan tapi sudah sepuh dan Conalin seorang bocah yatim piatu yang kepincut berat kepada Kebra.

Keduanya memiliki kondisi yang unik. Kebra adalah seorang tentara yang mengabdikan dirinya untuk raja. Dia tak sempat berkeluarga dan berketurunan karena sibuk dengan pekerjaannya.

Di sisi lain, Conalin sungguh mendambakan hadirnya sosok seorang ayah. Diam-diam, dia menemukan sosok ayah tersebut pada diri Kebra.

Seringkali keduanya terlibat dalam pembicaraan yang panjang di antara pelarian mereka dari kejaran tentara-tentara jahat. Tak jarang, mereka pun membicarakan tentang mimpi.

Rupanya, arti mimpi berbeda bagi orang yang sudah sepuh seperti Kebra. Mimpi bagi Kebra sudah tak ada artinya lagi. Penyebabnya adalah sudah terlalu banyak mimpi yang dimilikinya, sudah diraihnya, atau pun sudah gagal untuk meraihnya. Manakala seseorang sudah tua, maka sudah terlambat untuk memiliki mimpi.

Barangkali kondisi tersebut bagi orang tua adalah ‘zona kematian’. Istilah ini pertama kali saya dengar dari David Suzuki. Secara sederhana, barangkali zona kematian adalah satu masa ketika manusia sudah menyadari bahwa usianya tidak lama lagi. Hidup dijalani begitu saja tanpa banyak harapan dan keinginan. Pada periode ini, David lebih mengutamakan atau mementingkan hal-hal yang paling penting dalam kehidupan seperti hubungan keluarga dan kebersamaan.

Barangkali pembahasan mengenai David Suzuki akan dituliskan terpisah agar tulisan ini tidak terlalu jauh melenceng. Sebaiknya kita kembali ke mimpi Kebra dan Conalin.

Seperti sudah dituliskan di atas, bagi Kebra mimpi sudah tidak ada artinya lagi. Termasuk mimpinya untuk memiliki keluarga dan keturunan. Dia sudah meninggalkan jauh di belakang mimpi itu. Namun, kehadiran Conalin rupanya memberikan sedikit warna lain bagi Kebra.

Conalin, si anak yatim piatu ini sedang tumbuh. Dia sangat berani untuk melindungi teman-temannya dari kejaran dan kungkungan iblis jahat. Selayaknya anak-anak menjelang remaja, rasa ingin tahunya pun sangat besar. Dia ingin belajar memanah dari Kebra, dia pun ingin belajar menunggang kuda, juga dari Kebra. Perihal memanah seingat saya dia tidak begitu jago, tapi ihwal menunggang kuda bisa dikuasainya dengan sangat cepat kendati harus dibayar dengan kesakitan di paha dan punggungnya.

Di antara latihan itulah satu ketika Kebra berkata kepada Conalin, bahwa setiap orang harus memiliki setidaknya satu mimpi. Dengan satu mimpi tersebut, maka kehidupan yang dijalani menjadi jauh lebih menarik. Penyebabnya adalah karena mimpi memungkinkan adanya cita-cita, ada tujuan yang ingin dikejar dan diraih.

Entah disengaja atau tidak, nasihat untuk Conalin tersebut justru mengingatkan Kebra agar memiliki mimpinya sendiri. Diam-diam, dia mengoreksi pemahamannya tentang mimpi. Semula dia mengira bahwa usianya yang lanjut tidak memungkinkan baginya untuk memiliki mimpi. Namun, hadirnya Conalin dan nasihatnya sendiri kepada bocah itu rupanya telah menimbulkan satu mimpi baru di dalam diri Kebra.

Nah, sobat semua, berapa banyak mimpi yang kau punya? Saya kira tidak ada batasan jumlah mimpi yang kita miliki. Sepertinya semakin banyak mimpi semakin bagus, bukan?

Justru yang tidak disarankan adalah manakala kita tidak memiliki mimpi satu pun. Oleh sebab itu, biarpun cuma satu, genggam dan raihlah satu-satunya mimpi itu.

Selamat menggapai mimpi.

 

2 thoughts on “Satu Mimpi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *